Pendekar Pengendara Petir

Pendekar Pengendara Petir
Chapter. 347. Bertarung Dengan Raksasa I


__ADS_3

Raksasa yang sebelumnya bertarung dengan Gou Long memperlihatkan rasa senang, pukulan tadi seperti tidak dipedulikannya. 


Salah satu dari kawannya yang sempat ia marahi, berkata-kata dalam bahasa yang tidak dipahami Gou Long dan delapan orang lain yang sedang bersembunyi di kejauhan sana.


“Apa yang aku katakan padamu sebelumnya?! Kurcaci ini pasti akan kembali.” Raksasa itu tertawa terbahak. Menyombongkan kebenaran dari ucapanya terdahulu.


Raksasa yang ingin memangsa Gou Long tidak peduli. Dia melihat Gou Long tajam, sedikit perasaan heran muncul. “Hanya berpisah empat hari, Kurcaci ini telah bisa bertahan dari tatapan tajam mata ku. Bahkan dia terlihat sangat santai,” pikir si raksasa. 


“Bodoh! Apa kalian berdua tidak menyadari keanehan dari Kurcaci ini?! Sekarang coba kalian tekan dia dengan tatapan mata kalian berdua!” minta raksasa pada dua orang kawannya. 


Dalam jarak sepuluh tombak ketiganya menekan Gou Long secara bersamaan.


Namun, seketika itu raut keterkejutan tidak dapat disembunyikan oleh mereka bertiga. “Aneh sejak kapan kurcaci ini bisa menjadi begitu kuat, dia bisa dengan santai menghadapi tekanan mental dari tatapan mata kita,” masing-masing raksasa bermonolog dalam hati.


Gou Long di sana, tersenyum lebar dan jahat. “Transformasi Roh!” digunakan Gou Long dengan pilihan roh ketiga. Tidak ada perubahan pada bentuk tubuh atau hal lain pada diri pemuda itu. Tapi, cahaya merah terang serta percikan-percikan kilatan petir terlihat menyelimuti seluruh tubuh si pemuda.


Dalam keheranan ketiga raksasa itu, Gou Long tiba-tiba menghilang dari pandangan ketiganya, dengan Teknik Memindah Jasad, ia berpindah-pindah tiga sisi dan menghadiahkan kepada tiga orang raksasa masing-masing satu pukulan telapak dalam Jurus Tiga Belas Pukulan Tapak Penghuncur Tulang. 


Mendapatkan pukulan secara mendadak, ketiga raksasa itu, sedikit berhati-hati. Membalas dengan jurus-jurus bilah angin.


“Boomm!” Dentuman besar terjadi, Gou Long tersurut mundur lima tombak lagi. Ketiga raksasa hanya bersurut satu tombak, sekarang jarak mereka menjadi empat belas tombak.


Saat debu masih mengepul tinggi.


“Sekarang! ….” 


Teriakan Gou Long terdengar di antara dentuman ledakan pukulan. Itu adalah aba-aba bagi tim penyerangan untuk mengeroyok para raksasa.


Dua tarikan nafas selanjutnya, lima siluet bayangan manusia lain telah bergerak dan menyerang para raksasa dengan ganas. Hawa Kaisar Qi yang besar, menekan, meluap dan menyesakkan nafas terpancar dahsyat di sana.


Masing-masing segera menyerang dalam bentuk tim, seperti yang telah mereka rencanakan. Mereka juga dengan sangat rapi membuat para raksasa itu terpisah. Sehingga pertarungan terbentuk dalam tiga gelanggang, dengan jarak masing tiga puluh tombak dari Rumput Naga Bumi.

__ADS_1


Tim keempat dari kelompok Jiang Huzi juga segera melesat ke posisi Rumput Naga Bumi. “Aku akan coba menjalin hubungan dengan rumput ini. Keselamatanku, aku pasrahkan pada kalian berdua,” ujar Jiang Huzi.


Setelah mendapatkan anggukkan ringan dari Xin Qiang dan Liu Changhai, Jiang Huzi langsung duduk bersila, dan fokus pada tugasnya.


Di tiga sisi dalam jarak lima puluh tombak, pertarungan sengit terjadi.


Ketiga raksasa menyadari, manusia kerdil dalam pandangan mereka yang pertama kali ke tempat itu empat hari yang lalu, kembali dengan delapan kawannya. Mengeroyok mereka serta berniat mengambil Rumput Naga Bumi yang telah mereka rawat berbulan.


Ingin menyerang kelompok yang sekarang merawat, tapi itu sangat sulit dua kurcaci yang menyerang mereka benar-benar tidak lemah. Bahkan tiga orang raksasa itu terdesak hebat.


Yang paling terdesak sudah pasti raksasa yang bertarung dengan Gou Long dan Bei Cheung. Gou Long dengan Teknik Memindah Jasad serta pukulan-pukulan penghancur tulang yang terus dengan konsisten dimainkannya. 


Itu memberikan daya rusak hebat bagi si raksasa. Sebelumnya, itu memang tidak terlalu menyakitkan karena Gou Long membagi kepada tiga orang raksasa di saat bersamaan. Sekarang, Gou Long bisa memfokuskan pada si raksasa secara totalitas seluruh kekuatannya. Daya rusak yang ditimbulkan sudah pasti lebih keras dan berat.


Raksasa itu mengerang dan menggeram keras. “Kurcaci keparat ini sangat menyakitkan!” Sambil berteriak jurus-jurus bilah angin dipukulkan tanpa jeda. 


Namun, kecepatan Gou Long saat memindahkan jasad pada tingkat kultivasi Ranah Kaisar Tahap Menengah sangat berbeda dengan sebelumnya.


Orang itu, sangat pandai memasang talisman/jimat peledak di gelanggang pertempuran secara rahasia. Sehingga raksasa itu menjadi sangat berhati-hati ketika ingin berpindah tempat.


Memang terasa tidak banyak pertarungan secara nyata yang diperlihatkan Bei Cheung. Tapi bantuan kecil ini sangat bermanfaat.


Setelah sekian lama bertarung, Gou Long merasa itu terlalu membuang banyak waktu secara percuma, dia telah sadar dalam pertarungan ini yang paling baik adalah tim mereka berdua. Sedangkan tim lain masih terlihat berimbang.


“Saudara Bei, aku akan mempercepat penyerangan. Kita bunuh yang satu ini dahulu, kemudian kita bergabung dengan yang lain.” Gou Long terus menyerang si raksasa dengan pukulan telapak. 


“Terserah Gou Laote saja.” Bei Chung menjawab, sambil memasang jimat peledak dan melepaskan pukulan tangan kosong.


Gou Long mengubah gaya bertarung, ia mengeluarkan Artefak palu hitam berat. Dalam pikiran Gou Long Artefak ini mungkin paling baik di antara Artefak lain yang ia miliki.


Itu memang palu berat dan besar, tapi jurus yang dimainkan si pemuda adalah Jurus Pedang Angin dan Petir.

__ADS_1


Sebelum benar-benar memainkan jurus-jurus itu, Gou Long telah terlebih dahulu membuat domain petir.


“Segel Suci! Domain Petir!”


Uniknya, pada domain ini yang disuntikkan Gou Long bukanlah tekanan Kaisar, tapi ia menekan dengan tekanan Naga.


Array petir yang tercetak di ketinggian, serta guntur yang terlihat memercik kecil bergabung indah dalam balutan warna merah terang dan cerah. 


Menggelegar dan memekakkan telinga.


Itu sungguh mendatangkan rasa kejut, bukan hanya si raksasa yang terkejut. Bahkan Bei Cheung yang bertarung bersisian dengan Gou Long juga ikut terkejut.


Gerakan si raksasa memang cepat dalam bentuk pukulan atau tonjokan dan elakan. Tapi, untuk berpindah-pindah tempat layaknya Gou Long sangatlah sulit dengan tubuh besar mereka. Apalagi sekarang berada di bawah tekanan Domain petir yang dipadukan dengan tekanan Naga.


Si raksasa menjadi panik gila, pukulan dan tabokannya menjadi lebih ganas dan mengeluarkan kesiur serta serangan bilah angin tajam. 


Gou Long memperlihatkan seringai jahat. “Sekarang saatnya bagimu untuk mampus.”


Begitu kalimat itu jatuh, tubuh si pemuda telah berpindah di kaki belakang raksasa. Satu ayunan palu dalam jurus pedang petir membelah langit, telah memecahkan betis kiri si raksasa.


“Aaarrgghh! ….”


Raungan keras tak kalah dari gelegar guntur diteriakkan si raksasa. Itu sangat menyakitkan saat otot betisnya pecah.


Saat sang raksasa berputar, dan akan menobok Gou Long dengan telapak besarnya. Anak muda itu mengelak mudah, dan berlarian di atas tangan besar raksasa. Ketika sudah tiba di siku, masih dengan jurus yang sama, palu besar Gou Long menghancurkan otot lengan kanan.


“Aaarrgghh! ….” 


Teriakan kedua dan lebih keras terdengar. Itu terasa sangat menyayat hati. Seperti orang yang meluapkan rasa sakit tak tertahankan.


Gou Long melesat mundur, dan menghentikan serangannya sejenak. Dalam seringai sadis ia menikmati teriakan penuh rasa sakit itu.

__ADS_1


__ADS_2