Pendekar Pengendara Petir

Pendekar Pengendara Petir
Chapter. 125. Bersalah


__ADS_3

Tapi... Jalan setapak yang semalam dilaluinya menghilang secara misterius, padahal Gou Long dengan jelas melihat dan melalui jalan tersebut. Kejadian yang sebenarnya adalah Gou Long tidak mengetahui area lapang dari Hutan Bambu yang dimasukinya merupakan hutan buatan dengan pola Array pertahanan.


Para Biksu yang mengendalikan hutan tersebut sengaja mengurung Gou Long di sana, bukan karena niat jahat mereka, namun bagi mereka Gou Long terlihat seperti musuh yang telah mencemarkan Gunung Qingzhu.


Hal ini bukan tanpa alasan, mereka melihat Gou Long minum arak di tempat itu semalam. Bagi para Biksu, minum arak dan makan daging merupakan hal yang tabu, dan semua orang di dunia persilatan juga mengetahui hukum tidak tertulis ini.


Andai Gou Long tidak minum arak, mereka akan membiarkan Gou Long keluar dari hutan tersebut bahkan akan menghampirinya dan membimbingnya ke puncak di mana berdiri Kuil Budha Emas.


Setelah berputar-putar mencari arah yang tidak kunjung didapatkan Gou Long menjadi uring-uringan, dia akan membuka jalan baru dengan cara menebang beberapa pohon bambu di tempat tersebut.


Lantas saja dia membentuk pedang pendek dari pemadatan energi, dan mulai bergerak menebang pohon-pohon bambu tersebut. Namun, pohon-pohon ini seperti hidup, setiap kali Gou Long akan menebang itu bergeser dengan sendiri, kejadian seperti itu berulang selama seperempat jam.


Terjebak dengan kondisi seperti itu membuat Gou Long tambah kesal, “Hutan bambu keparat! Kuratakan saja semuanya!” teriak Gou Long.


Para Biksu yang mengerakkan hutan ini dapat mendengar teriakan Gou Long, namun mereka terkesan meremehkan perkataan Gou Long, karena belum pernah ada dalam sejarah Kuil Budha Emas yang berhasil meratakan hutan buatan ini.


Menebang dari atas tanah tidak bisa, Gou Long meloncat tinggi ke atas dengan ilmu meringankan tubuhnya, dia seperti burung yang hinggap di atas dahan-dahan kecil pohon bambu, kemudian melesat ke pucuk pohon bambu.


Tidak berhenti sampai di situ saja, sekali lagi Gou Long menutul kakinya, dengan momentum tersebut tubuhnya melesat tinggi.


Dari ketinggian Gou Long dapat melihat Hutan Bambu yang tiada berujung, dengan menarik nafas dalam, dia melepaskan dua Pukulan Telapak Arhat besar ke bawah, tingkat daya hancur dari kedua pukulan ini sama seperti saat Gou Long melepaskannya di Gunung Naga tempo hari.


Hanya daya luncurnya saja yang berkurang, karena ketinggian yang digunakan Gou Long berbeda dengan ketinggian saat di Gunung Naga.

__ADS_1


Dua buah telapak besar turun ganas dan menghantam Hutan Bambu yang berada tepat di bawahnya.


“Whhhoooooooosshh! Whhooooossh!!”


“BOOOOOOOMM! BOOOOOOOOOMM!”


Ledakan keras menggetarkan bumi, serta menciptakan lubang besar di atas tanah, bahkan getaran itu terasa sampai ke puncak Gunung Qingzhu. Sebagian kecil Hutan Bambu hancur porak-poranda, pegas dan alat yang mengatur gerakan hutan sebagian ikut macet.


Ratusan murid Kuil Budha Emas yang sedang berlatih di halaman depan menghentikan aktivitas mereka, murid-murid ini kemudian saling menatap satu sama lain, dalam hati sama bertanya-tanya.


“Entah siapa yang sangat berani membuat kekacauan di Gunung Qingzhu!...”


“Apa yang kalian lamunkan! Lanjutkan latihan kalian!” suara teriakan terdengar, berbarengan dengan melesat beberapa siluet bayangan ke arah suara ledakan tadi. Murid-murid itu dengan patuh kembali melanjutkan latihan mereka, teriakan itu adalah perintah dari 5 orang paman Guru mereka.


Gou Long yang melihat dua pukulannya memberikan kerusakan besar pada Hutan Bambu tersebut bersiap untuk melepaskan 2 pukulan lain dengan daya hancur yang lebih besar, tangannya bahkan sudah digerakkan sedikit, namun terhenti ketika suara teriakan lembut bergema dengan keras di Hutan ini.


Tak lama kemudian siluet bayangan manusia melesat dan terlihatlah lima orang Biksu yang berusia 50 tahunan. Tingkatan kultivasi kelima Biksu ini di Ranah Surgawi.


“Anak Muda! Kenapa tanganmu begitu ringan dan tidak segan merusak pohon-pohon yang sudah lolap rawat dengan baik?” salah satu dari lima Biksu tua itu bertanya.


Orang ini terlihat bijaksana dengan raut wajah lembut serta intonasi suara yang tidak menekan.


“Junior tidak berniat seperti itu senior! Junior hanya ingin segera bisa naik dan berjumpa dengan Ciangbunjin/Patriak dari Kuil Budha Emas, akan tetapi Hutan Bambu ini seperti hidup dan tidak mau memberikan jalan bagi junior ini! Dengan berat hati...” Penjelasan Gou Long terpotong dengan kehadiran 4 sosok lain dari arah samping.

__ADS_1


Keempat sosok Biksu yang datang ini berusia 30 tahunan, dengan tingkatan kultivasi Ranah Langit tahap puncak.


“Salam Paman Guru!” keempat orang itu berkata serentak seraya bersikap hormat menjatuhkan diri dengan lutut di atas tanah.


Salah satu dari mereka kemudian melanjutkan ucapannya, “Kami melihat junior ini semalam minum arak di sini, dia telah mencemari kesucian Gunung Qingzhu dengan perbuatannya itu, oleh karena perbuatan tersebut kami mengurungnya di dalam Array ini!” Biksu itu memberikan laporan yang memojokkan Gou Long.


“Anak muda! Bagaimana kau menjelaskan perkara ini pada Lolap?” pendeta yang berwajah lembut menuntut penjelasan Gou Long.


“Apa yang harus Junior jelaskan lagi! Junior tidak berniat mencari perkara atau berbuat jahat pada para senior di sini, junior hanya datang karena membawa pesan orang yang sudah mati.” Jawab Gou Long.


“Masih muda tapi sudah pandai bersilat lidah! Sebaiknya kau ikut Lolap langsung menghadap Ciangbunjin, biar beliau yang memutuskannya!” salah seorang dari lima Biksu lain yang berkata. Baik suara maupun raut wajah, Biksu ini terlihat berangasan.


“Hal inilah yang sejak awal sangat junior inginkan, para senior tidak perlu memaksa, silahkan para senior memimpin di depan!” jawab Gou Long sedikit mengalah, dia juga sadar telah berlaku sembrono di wilayah orang.


“Kalian berempat! Berjalan paling belakang!” perintah Biksu yang berangasan pada 4 orang murid keponakan mereka. Kemudian mereka berlima segera memimpin jalan menuju puncak Gunung Qingzhu.


“Baik Paman Guru!” jawab mereka serentak.


Melihat tindakan mereka yang menurut Gou Long terlalu sewenang-wenang batin Gou Long mengejek mereka.


“He he he!... Kalian terlalu berpikir picik, dasar kumpulan Hidung Kerbau! Kalian takut aku kabur! He he he.. Kalau aku berniat kabur, kuyakin tak ada satu pun dari kalian dapat menahanku! Akan ku ikuti saja dulu permainan ini.”


Gou Long juga berjalan mengikuti para Biksu yang memimpin jalan di depan, dia tidak berkata-kata, tapi sepanjang perjalanan ini dia terus menghafal setiap pola dan langkah kaki dari para Biksu ini yang bagi Gou Long terlihat aneh pada awalnya.

__ADS_1


Namun, Gou Long segera menyadari bahwa ini pola Array pertahanan delapan sisi yang sangat baik, walau tidak sehebat pola milik Leng Kun. Akan tetapi tetap saja akan menyulitkan orang yang terjebak di dalamnya.


Berjalan sebentar, mereka telah sampai di puncak tempat berdirinya Kuil Budha Emas. Kuil ini merupakan kumpulan dari bangunan-bangunan sederhana serta aula utama yang besar sebagai tempat para Biksu memanjatkan doa dan mendengar wejangan dari Ciangbunjin Kuil.


__ADS_2