Pendekar Pengendara Petir

Pendekar Pengendara Petir
Chapter. 96. Kehadiran Musuh Kuat


__ADS_3

Chung Munna dan Chung Bau Im yang berkuda di depan tiba-tiba menghentikan laju kuda mereka berdua, tindakan mereka berdua mau tidak mau juga diikuti oleh Han Zhong yang bertindak sebagai kusir kereta.


Padahal baru setengah hari mereka keluar dari Kota Heitu, dan mulai memasuki hutan lebat yang mereka sendiri tidak tahu ujungnya. Hutan inilah yang menjadi perbatasan antara Daratan Tengah dengan Daerah Selatan.


Di depan mereka saat itu telah menunggu sebanyak 12 orang pesilat dari Organisasi Ordo Setan Hitam, tingkatan kultivasi mereka rata-rata di Ranah Langit tahap menengah. Melihat orang-orang yang menghadang lebih kuat dari yang tadi pagi dibunuhnya, Gou Long segera tampil ke muka.


“Baru tadi pagi aku membunuh gerombolan dari kalian, kini jumpa jenis yang sama lagi. Kalian sungguh tidak ada yang sayang nyawa! Menguber-uber kami sampai ke hutan ini!” seru Gou Long mengejek mereka semua.


“Ha ha ha!....” suara tawa yang bergema terdengar di hutan tersebut.


“Kali ini akan berbeda... Organisasi pusat sampai harus mengutusku kemari, rupanya hanya untuk mengajarkan anak kecil jalan menuju ke neraka.”


Begitu suaranya berakhir, dari atas melesat turun seseorang dengan jubah hitam serta bertopeng, bentuk topengnya menyerupai seperti paruh burung elang. Topeng yang dikenakannya tidak dapat menutupi kepala botak orang tersebut.


Gou Long segera dapat merasakan hawa tekanan dan hawa kematian yang besar dari orang ini, hati kecilnya berkata.


“Bahaya! Tekanan yang diberikan orang ini sangat besar, aku jelas dapat merasakannya. Tekanan ini sama besar dengan tekanan yang dimiliki Penatua Mu Yuan dari Sekte Naga Langit,”


“Dari topeng yang dipakainya, dia sejajar dengan yang melukaiku tempo hari, ini adalah topeng paruh elang,”


“Tidak ada waktu untuk mengurangi jumlah musuh, yang 12 orang di belakang si botak ini, semuanya di Ranah Langit tahap menengah. Kali ini aku terpaksa harus mengekspos Eira dan Hauri.”

__ADS_1


Gou Long lantas berpura-pura tidak sanggup bertahan dari hawa tekanan si Botak itu, lalu dia melesat ke belakang beberapa loncatan.


“Baru sedikit aku menekanmu, kau sudah tidak tahan... Ha ha ha!” ejek si Botak dari Ordo Setan Hitam.


Gou Long mengabaikannya tanpa malu dia berkata dengan lirih pada Han Zhong, “Paman Han bawa mereka terus bergerak menurut tujuan kita, tempat ini akan kubereskan dengan cepat, nanti akan kususul, hawa tekanan yang di lepaskan si botak itu bisa membuat Chung bersaudara dan Nona Suma pingsan,”


“Hauri! Eira! Keluarlah!” teriak Gou Long, baik dari rombongan Alkemis dan para pencegat dapat mendengar suara teriakan Gou Long.


Seketika itu juga di depan mata semua orang muncul dua makhluk baru yang luar biasa. Yang satu rubah berekor sembilan dengan warna putih terang dan gambar bulan sabit di dahinya, itu jelas siluman kelas ke-1. Yang satu lagi perempuan yang sangat cantik, walau hanya sesaat telah menyihir semua mata yang melihat kecantikannya.


Yang paling terkejut sudah barang tentu orang-orang dari Guild Alkemis yang baru sekarang mengetahui, bahwa rubah putih imut yang selalu bersama Gou Long dan pernah di elus-elus oleh Nona Muda mereka adalah siluman rubah.


Namun, baik keterkejutan ataupun perasaan tersihir segera sirna karena lanjutan dari ucapan Gou Long, “Kawal kepergian mereka, 12 orang itu berani mengganggu perjalanan kalian bunuh di tempat!” tegas Gou Long.


Chung bersaudara, Suma Xiulan dan Han Zhong segera akan melanjutkan perjalanan, 3 orang yang mencoba menahan mereka dalam sekejap dibinasakan Eira dan Hauri. 9 orang yang tersisa menjadi ragu-ragu, lalu dengan terpaksa hanya mengikuti dan membayangi dalam jarak tertentu.


Orang-orang itu telah menempatkan diri mereka pada posisi serba sulit, mengejar dan menghadang berarti mati, berdiam di tempat juga akan mendapatkan hukuman yang berat dari pimpinan.


Suma Xiulan sebenarnya ingin protes pada Han Zhong, dia tidak tega meninggalkan Gou Long yang akan berhadapan dengan si Botak bertopeng paruh elang dari Organisasi Ordo Setan Hitam, tapi Han Zhong dengan tegas menjelaskan.


“Hawa Yang dan tekanan yang dikeluarkan si Botak itu sangat kuat, kalian bisa muntah darah dan pingsan sambil berdiri hanya dengan berada di dekatnya. Jika itu terjadi malah akan mempersulit dan mengacaukan fokus saudara Gou yang sedang bertarung.”

__ADS_1


Karena penjelasan itu Suma Xiulan dapat menerima apa yang diatur Gou Long, dan mereka terus meninggalkan tempat itu dengan pengawalan dari Eira dan Hauri.


Setelah kepergian mereka semua, di situ hanya menyisakan Gou Long dan si Botak beserta 3 mayat yang tergeletak kaku di atas tanah.


“Huh! Baru Ranah Langit tahap menengah sudah berlagak sombong di depan Tuan Besar ini, kau pikir berapa jurus bisa menahanku? Apa kau kira aku tidak dapat mengejar mereka yang sudah berlalu dari sini setelah kau kubunuh?” ujar si Botak merendahkan.


“Aku yang berpura-pura saja kau sudah tertipu, kau ingin membunuhku? He he he!... Kau boleh mencobanya, aku hanya akan memberimu satu kalimat peringatan agar kau tidak merasa tertipu dan menyesal telah hidup. Ingat! Jangan tertipu oleh ranah kultivasi!.. Botak! Kau boleh menyerang duluan!” Gou Long membalas setiap ejekan dari si Botak sambil memperdengarkan suara tertawa dingin.


“Baik! Kau mampus saja bocah.” Dalam geramnya si Botak langsung menyerang Gou Long dalam jurus-jurus silat pukulan tangan kosong, setiap tonjokan dan pukulan telapaknya pasti membawa hawa tekanan yang besar, serta mendatangkan angin berkesiuran.


Jurus-jurus yang dimainkannya seperti jurus dari kaum pendeta, Gou Long dapat melihat jurusnya sama seperti dasar dari Pukulan Telapak Arhat, yang berbeda kalau pukulan Telapak Arhat melepaskan hawa murni yang berbentuk telapak ke arah lawan. Sedangkan jurus yang dimainkan si botak adalah pukulan langsung dengan telapak tangan yang telah dilapisi dengan tenaga dalam.


Puluhan bayangan telapak dengan hawa tekanan keras menekan Gou Long dari segala arah, gerakan tangan si Botak sangat cepat, serangan dari telapaknya tidak hanya cepat dan akurat tapi juga penuh dengan tipuan.


Pertarungan seperti ini sangat disukai Gou Long, pertarungan jarak dekat dengan mengadu kelincahan gerak tangan dan kaki. Tidak mau kalah Gou Long juga memainkan Jurus 18 Telapak Penakluk Naga, adu pukulan dan telapak tidak dapat dihindarkan, saling tangkis dan tonjok.


Andai ada yang menonton pertarungan itu, pasti tidak sedikit jurus-jurus tangan kosong baru yang akan diperoleh si penonton, tapi sayang pertarungan sengit dan seru ini tidak ada yang menontonnya.


Pada satu kesempatan satu pukulan telapak dari si Botak tepat mengenai ulu hati Gou Long, begitu juga sebaliknya, tendangan kaki Gou Long mengenai rusuk kiri dari si Botak.


“Buukkk!”

__ADS_1


Mereka sama-sama mundur ke belakang, namun baik Gou Long maupun si Botak tidak memiliki luka berarti yang mereka peroleh. Puncak tenaga dalam dari mereka berdua telah melindungi tubuh mereka dari serangan lawan.


__ADS_2