Pendekar Pengendara Petir

Pendekar Pengendara Petir
Chapter. 225. Akhir Pertarungan


__ADS_3

“Huh! Tak perlu kau mengasihaniku… Mau bunuh lekas bunuh!” Bok Tong Wa mendengus, coba menyembunyikan rasa takut menanti ajal yang kian dekat.


“Ha ha ha…”


“Tidak! Kematianmu tetap yang paling terakhir.” Gou Long berfokus menonton, mengabaikan Bok Tong Wa, “Tidak perlu kau memanas-manasiku, orang bermarga Gou ini tidak mengubah keputusan yang sudah dibuat.”


Beberapa siluet bayangan mendatangi dan berdiri di sisi Gou Long, mereka adalah para penghuni Gunung Teratai yang baru saja berhasil menembus Ranah Surgawi.


“Kedatangan kami terlambat! Master Paviliun telah menyelesaikan semuanya dengan sangat rapi.” Leng Kun tersenyum cerah, dia juga ikut menjeplok di sisi Gou Long.


“Terima kasih! Pil pemberian Master Paviliun benar-benar mujarab, Nona Muda Keluarga Yu ini tidak pernah bisa membayangkan akan menembus Ranah Surgawi dalam usia yang sangat muda, padahal usia Nona Muda ini hanya terpaut beberapa bulan saja dari Master Paviliun.” Yu Yihua mengepalkan tinju di depan dada, ia sangat berterima kasih atas kebaikan Gou Long.


“Master Paviliun! Apa yang akan kita lakukan pada kedua mayat itu?” Duan Hong Ya ikut menimpali, melihat kedua mayat yang masih membeku, ia tidak ikut duduk.


“Ha ha ha…”


“Saudara Tua! Biarkan begitu saja! Aku mempunyai pengaturan sendiri pada kedua mayat tersebut, ambil saja cincin penyimpanan mereka, terkhusus cincin penyimpanan Patriark Tong, ada barang yang sangat kubutuhkan di dalamnya.”


Duan Hong Ya berjalan ke arah mayat Tong Kak San yang masih membeku, melelehkan bekuan es dan mengambil cincin penyimpanannya, dia juga melakukan hal yang sama pada mayat Ouyang Sikuan.


Berjalan kembali ke tempat Gou Long dan Leng Kun duduk menjeplok, tatapan mata mengejek ditujukan Duan Hong Ya pada Bok Tong Wa, “Apa yang ingin Master Paviliun lakukan padanya?” menyerahkan cincin penyimpanan pada Gou Long, lalu bertanya apa yang bisa ia lakukan terhadap Bok Tong Wa.


“Biarkan saja dia menjadi penonton, orang itu sedang berusaha keras melawan racun milikku…” Gou Long tersenyum, “Dia belum tahu, setiap hasil racikanku, upil dan tanah liat saja bisa menjadi racun.”

__ADS_1


“Ha ha ha…” semakin ia teringat kejahilannya saat memberikan upil pada orang lain, semakin Gou Long tertawa besar.


Leng Kun, dan Yu Yihua, menatap Gou Long heran, mereka tidak tahu arah serta maksud dari perkataan Gou Long, sementara Duan Hong Ya tersenyum masam. Ia paham betul apa yang dikatakan Gou Long.


Tidak dapat menahan rasa penasaran, Leng Kun bertanya, “Apa maksud perkataan Master Paviliun?”


“Lupakan saja! itu hanya pengalaman yang telah berlalu.” senyuman masam dari wajah Duan Hong Ya tidak luput di mata Gou Long.


Sementara itu, jalan pertempuran di sana menjadi tambah berat sebelah. Kematian dua orang Patriark dan juga kedatangan orang-orang ini tidak luput dari perhatian mereka yang sedang bertarung.


Sejak awal bertarung memang daya tempur kedua Siluman yang terikat kontrak dengan Gou Long sangat hebat, pertarungan mereka seperti mempermainkan ke empat orang lawannya.


Saat ini, melihat kedua Patriark mereka telah mati, semangat juang para Penatua runtuh, baik Eira dan Siauw Xiezy memanfaatkan situasi tersebut, keduanya juga tidak mau berlama-lama lagi dalam pertarungan yang jelas akan dimenangkan.


“Rubah Betina! Mari kita berlomba, siapa duluan yang berhasil membunuh kedua lawan masing-masing.” Siauw Xiezy menantang Eira bertaruh. Sama dengan halnya Eira, yang sampai saat ini belum mengetahui kondisi khusus miliknya sendiri, yaitu rubah peranakan Roh Suci. Siauw Xiezy juga tidak mengetahui hal tersebut.


Mendengar taruhan keduanya Gou Long tersenyum, “Kalajengking bodoh kau akan kalah, Eira memiliki dasar kultivasi lebih baik darimu.” Batinnya.


Begitu taruhan disetujui, gerakan kedua siluman itu menjadi lebih sebat dan hebat, setiap serangan mereka membawa daya tekanan besar pada masing-masing lawan.


Siauw Xiezy dan Eira memiliki keunggulan tersendiri saat menggunakan ekor, yang satu memiliki serangan-serangan jarum jarak jauh, layaknya amgi. Sedangkan yang lainnya dengan ekornya yang berjumlah sembilan membelit dan menonjok layaknya pukulan-pukulan tangan kosong.


Lawan-lawan keduanya jelas sudah sangat keteteran, baik serangan pedang dan serangan pukulan yang mereka lepaskan selalu dapat dielakkan oleh kedua Siluman tersebut.

__ADS_1


Pada gerakan ke seratus dua puluh, Eira berhasil membelit kedua lawannya sekaligus, lalu dengan dua ekornya yang lain menyobek orang tersebut layaknya orang yang merobek kertas.


Darah berhamburan memenuhi salju putih, pembunuhan yang dilakukan Eira terlihat sangat sadis, Yu Yihua dan Leng Kun yang belum pernah melakukan pembunuhan tidak dapat menahan diri, rasa mual yang tertahankan melanda keduanya, mereka bergerak cepat berjalan ke akar-akar pohon lalu memuntahkan isi perut.


Gou Long menatap mereka berdua dengan senyuman, “Mereka berdua harus lebih sering bertarung dan berada pada situasi hidup dan mati kelak.” Batin Gou Long.


“Kalajengking bau! Aku menang! Ha ha ha… Kau harus menetap di Gunung Teratai selama lima tahun ke depan.” Ejek Eira pertarungannya benar-benar telah berakhir.


“...” Siauw Xiezy tidak menjawab, terus bertarung agar tidak terlampau jauh ketinggalan gerakan dengan Eira.


Lalu setelah lima gebrakan, Siauw Xiezy juga telah berhasil membinasakan kedua lawannya.


Itu adalah jarum-jarum dari ekornya yang berhasil dengan telak menembus sisa orang-orang yang masih hidup tersebut, yang satu tertusuk tepat di jantung, sedangkan yang lain tertusuk di tengkorak dan menembus hingga ke belakang kepala.


Baru sekarang Siauw Xiezy menyahut perkataan Eira, “Baiklah! Aku akan berfokus dengan kultivasi saja di Gunung ini, lagipula aku juga sangat akrab dengan batu yang memberikan aura melimpah terhadap Gunung ini.”


Gou Long bangkit, menepuk-nepuk baju bagian belakangnya sejenak, “Nah pertarungan ini benar-benar telah berakhir! Ambil semua cincin penyimpanan mereka, kubur mayat-mayat ini semua, kecuali para Patriark!” perintah Gou Long. Duan Hong Ya dan yang lainnya segera mengerjakan perintah Gou Long.


Gou Long berjalan pelan ke tempat Patriak Sekte Phoenix Suci yang terlihat kian memucat, “Sekarang giliranmu! Apa Patriak Bok memiliki permintaan terakhir?”


“Ha ha ha…” memaksakan diri untuk tertawa.


“Tidak ada yang akan Patriark ini ucapkan, lekas bunuh! Kau sudah berjanji akan menjaga keutuhan dari jasad Patriark ini sebelumnya, maka perkataan itu harus kau tepati.”

__ADS_1


“Baik! Hal itu tidak perlu Patriark Bok mengingatkan, sejak awal aku sudah berniat seperti itu. Nah! Sampai jumpa kembali kelak di depan gerbang Neraka.” Dalam gerakan yang sangat pelan jari tangan Gou Long perlahan menyentuh kening dari Patriark Sekte Phoenix Suci.


Sengatan petir halus merambat, dan merusak seluruh organ dalam Bok Tong Wa. selesai sudah! Ketiga Patriark yang berniat menghancurkan Gunung Teratai, semuanya mati. Butir-butir bunga salju kembali mulai berjatuhan, seperti pembersih yang akan membersihkan dan menutupi setiap tetesan darah di atas tanah Gunung Teratai.


__ADS_2