
Gou Long yang mendapatkan serangan gabungan kedua orang itu segera bergerak dengan Jurus Walet Menunggang Angin, sedangkan tangannya memainkan tongkat emas dengan Jurus Tongkat Pengguncang Langit.
Gabungan kedua jurus itu sangat efektif meredam tebasan cepat Siangkoan Hong. Tangan kiri Gou Long juga tidak dibiarkan berdiam begitu saja, dia melepaskan pukulan-pukulan Telapak Arhat yang berhawa dingin yang membekukan udara dan menghambat gerakan pedang Oey Gang.
“Ilmu pedang yang sangat cepat dan akurat...” ujar Gou Long.
Sangat aneh memang, selagi bertarung melawan dua orang top sekte, Gou Long masih sempat berbicara dan memuji ilmu pedang lawannya.
Setelah beberapa kali mengadu jurus baik Oey Gang maupun Siangkoan Hong menjadi heran serta berpikir.
“Ini sangat aneh, saat itu aku bertarung dengannya, aku belum merasakan hawa dingin yang membekukan ini, dia sekarang bahkan membekukan dan memadatkan udara sehingga gerakan pedangku terhambat dan kaku,”
“Sementara itu tongkat emas yang dimainkannya terus memancarkan hawa panas petir dan menyambar tiada henti, apa mungkin tenaga dalam seseorang seperti ini?”
Tidak jauh berbeda dengan Oey Gang, Siangkoan Hong juga berpikir.
“Ini jurus tongkat yang sangat aneh, ada ledakan halilintar di setiap keprukan tongkat itu, hawa udara di sini juga tidak masuk, akal kadang sangat panas dan kadang sangat dingin,”
“Apa ini mungkin, atau jangan-jangan ini ulah makhluk perempuan yang kulihat tempo hari, mana makhluk itu sekarang? Ah, keparat ini tidak boleh terus dibiarkan merajalela.”
“Saudara Oey! Tingkatkan intensitas serangan, bocah ini mungkin masih memiliki bantuan lain. Kita harus cepat, sebelum bantuannya datang.” Ujar Siangkoan Hong menerka Gou Long di bantu oleh seseorang yang pernah dilihatnya beberapa hari yang lalu.
Kedua orang itu segera meningkat tenaga dalam dan kecepatan gerakan mereka, gerakan rahasia dari jurus ilmu pedang masing-masing yang bahkan belum pernah mereka gunakan, kali ini turut dimainkan.
Hawa pedang yang ganas, tekanan tongkat emas yang meletupkan petir, udara dingin yang membekukan. Kancah pertempuran kali ini terasa sangat komplit, walaupun dua orang yang bertarung dengan Gou Long sudah memeras rahasia terdalam dari ilmu silat masing akan tetapi mereka hanya baru bisa mengimbangi Gou Long.
Perasaan heran saat ini jelas terlihat dari gambaran wajah kedua lawan Gou Long. Perasaan tersebut tidak hanya tergambar dari wajah mereka berdua, namun juga bagi kawan-kawan Gou Long yang asik menonton pertarungan itu.
Mereka semua akan berpikir sama.
“Dari penampilannya, dia masih di tingkat kultivasi Ranah Langit tahap awal, namun ini sangat aneh, bukankah daya tempurnya setara dengan ranah surgawi. Bagaimana dia berlatih sampai bisa sekuat ini.”
__ADS_1
“Hahaha...” Gou Long tertawa mengejek.
“Apa yang terjadi dengan ucapan dan kata-kata yang kalian keluarkan sebelumnya? Ada apa dengan tampang kalian saat ini, kenapa terlihat bodoh begitu...” Gou Long melanjutkan ejekannya.
“Rupanya murid top dan elite sekte hanya begitu saja, tidak ada yang benar-benar hebat dari kalian berdua. Ahh! Akan kuberi sedikit keringanan, aku tidak akan menggunakan senjata lagi...”
Benar saja, seperti yang diucapkannya. Gou Long menyimpan senjata tongkat emas dan kemudian dia mengganti gerakan jurus-jurus ilmu silat.
Yang dimainkan Gou Long saat ini adalah Jurus 18 Telapak Penakluk Naga. Begitu jurus ini dimainkan, kancah pertempuran menjadi tambah kacau. Pancaran hawa tenaga dalam yang dapat menyesakkan nafas terasa sampai menjangkau teman-teman Gou Long yang sedang menonton.
Campuran hawa panas dan dingin ini seperti mendapatkan induk yang tepat ketika dimainkan dengan Jurus 18 Telapak Penakluk Naga.
Setiap debu yang mengepul ke atas berubah menjadi kristal es dan berputar pesat di udara, seperti ribuan amgi yang dilemparkan banyak orang.
Bagusnya, baik Oey Gang maupun Siangkoan Hong sudah melapisi badan mereka dengan hawa murni, sehingga ribuan kristal es itu tidak melukai mereka.
Bagi Gou Long dengan tidak memakai senjata adalah sebuah keringanan terhadap lawan-lawannya, akan tetapi orang yang menonton dan bertarung dapat merasakan itu bukanlah sebuah keringanan.
Gou Long tidak mengetahui fakta ini, tenaga dalam elemen petirnya memang sudah sangat hebat, sekarang bertambah dengan hawa dingin dari hasil serapan Roh Iblis Salju, yang secara tidak langsung juga ikut meningkatkan hawa panas elemen petirnya.
Sejak memahami konsep mengosongkan sebagian wadah dalam dantian serta mengeluarkan sebagian tenaga dalam, dan juga berkat penjelasan Hauri tentang perpaduan lingkaran tenaga dalam, Gou Long lagi-lagi membuktikan bahwa dia memang maniak ilmu silat sejati.
Selama pertarungan ini dia terus mencoba menerima hawa tenaga dalam lunak yang di mainkan Oey Gang, sehingga setelah sekian lama bertarung, dia dapat menerima tenaga dalam lunak lawan tanpa terluka serta tidak menghambat jalur meridiannya. Gou Long benar-benar mengambil keuntungan dari pertarungan ini.
Walaupun tenaga dalam lunak itu tidak dapat dipadukan dengan tenaga keras, karena konsep perpaduan lunak dan keras membutuhkan kultivasi khusus dan sumber tenaga dalam lunak yang tiada habisnya.
Pertarungan itu telah berjalan hampir 4 jam, dan sudah terlalu berlarut-larut, pakaian Oey Gang dan juga Siangkoan Hong sudah sangat basah oleh keringat, nafas mereka sudah sangat ngos-ngosan. Ini sangat berbeda dengan Gou Long yang setelah sekian lama bertarung malah bertambah perkasa dan dikdaya.
Stamina kedua lawan Gou Long terkuras sangat cepat hal ini tidak lepas dari pergantian hawa panas dan dingin secara terus menerus sehingga tidak dapat ditebak oleh mereka berdua.
Pada akhirnya karena Gou Long merasa tidak ada keuntungan yang dapat dia peroleh lagi dari mereka berdua, Gou Long berniat segera mengakhirinya.
__ADS_1
“Lihatlah kondisi kalian berdua, hahaha... Sudah seperti anjing kurapan di pasar, tidak tampak elite dan top lagi dari kalian berdua,” ejek Gou Long.
“Bersiaplah! ini gerakan terakhir, sekaligus akan ku kirim kalian berdua keluar dari pra kompetisi..”
“Hahaha....” Gou Long tertawa dengan keras yang menggetarkan hati mereka semua.
“Sampai jumpa lagi...” ujar Gou Long.
Kemudian bunyi “Blip dan Crussshh” kembali terdengar di penghujung senja itu, token teleportasi mereka berdua dihancurkan Gou Long.
Sebelum benar-benar berteleportasi, Siangkoan Hong masih sempat berteriak “KEPARAT! AKAN KU PASTIKAN KAU MENYESALI PERBUATANMU INI...” teriakan penuh dendam.
Gou Long hanya tersenyum simpul mendengar teriakan itu, lalu dia segera menghadap ke arah He Fei dan yang lainnya. Hua Mei yang tidak mau berlama-lama lantas segera saja berlari melesat kedalam pelukan Gou Long, dia menangis di dada Gou Long melepaskan kesedihan yang sudah berhari-hari ditahannya.
Dengan terbata-bata Hua Mei berkata “Long Gege!... Pe-pedang pemberianmu telah patah..”
Gou Long terus membiarkan Hua Mei menangis dalam pelukannya, saat Gou Long merasa Hua Mei sudah lebih tenang, Gou Long memegang kedua pundak gadis tersebut dan mendorongnya dengan lembut keluar dari pelukan.
Sambil menatap kedua bola mata Hua Mei, Gou Long berkata “Tidak apa-apa itu hanya artefak kelas rendah, Long Gege sudah menyiapkan hadiah yang lebih bagus untukmu...”
Gou Long lalu memberikan cincin penyimpanan yang berisi Kitab Jurus Telapak Keluarga Hua dan sepasang sarung tangan sutra emas artefak Ranah Surgawi pada Hua Mei.
“Ini Long Gege rebut paksa dari seorang perempuan sombong, yang berwajah sangat mirip denganmu kemarin, tak disangka isinya luar biasa...”
“Dengan kemampuan tempur Long Gege bukan hal sulit bagi Long Gege merebutnya.” Tutup Gou Long dengan mengedepankan kekuatan tempurnya agar Hua Mei tidak terlalu banyak bertanya.
Hua Mei mengambil cincin penyimpanan itu dari tangan Gou Long, terlihat sekilas dia memperhatikan isi di dalamnya. Kemudian raut kegembiraan tergambar di wajah cantiknya.
Hua Mei sepenuhnya percaya Gou Long merebut itu dari Cicinya, dia juga percaya Gou Long bisa merebut itu dengan mudah setelah melihat sendiri pertarungan Gou Long terakhir tadi.
Dalam kegembiraannya secara spontanitas tiba-tiba saja Hua Mei bergerak dan mengecup Gou Long di pipi kanannya.
__ADS_1
“Terima kasih Long Gege, dengan ini kedongkolan hatiku terangkat sudah, Long Gege sangat baik...” ujarnya dengan wajah yang sudah memerah malu, lalu Hua Mei segera melesat ke sisi Murong Qiu.
Setelah beramah-tamah sebentar. Gou Long, He Fei, dan yang lainnya berkultivasi di tempat itu, mereka baru bisa keluar dari sana esok hari, tepat di hari ke-15.