Pendekar Pengendara Petir

Pendekar Pengendara Petir
Chapter. 205. Pembunuh Bayaran


__ADS_3

“Jia Li ‘er! Keluar dari kereta sekarang juga!” teriak Gou Long memberi peringatan.


“Ssstt!”


“Whoossh!”


“Booomm!”


“Braakkk!”


Ding Jia Li dan Eira melesat cepat dari dalam bilik kereta, mereka juga telah merasakan aura lain dalam jarak lima puluh tombak, tepat setelah itu empat pukulan tenaga dalam tingkat tinggi menghantam dan menghancurkan kereta kuda dengan telak.


Puing-puing kayu dan salju yang memenuhi atap bilik kereta kuda berhamburan, merusak pemandangan indah tempat tersebut.


Sangat disayangkan kuda yang tidak berdosa itu terhantam tenaga pukulan tersebut, binatang itu tewas melesak ke dalam salju, darahnya dengan cepat membanjiri tanah salju pagi itu.


“Huft! Dasar para penjahat keronco, bisanya hanya membokong. Baru datang langsung menyerang, benar-benar kaum hitam yang tidak memakai peradatan,” ucap Gou Long, berbalik menghadap ke arah datangnya pukulan.


Ding Jia Li dan Eira juga melakukan yang sama.


Di depan mereka, siluet empat bayangan manusia serentak mendatangi, setiap pendatang ini memakai pakaian yang seragam, dalaman abu-abu ringkas kemudian dibalut dengan jubah kuning terang dan mencolok di atas tanah bersalju putih.


Lengkap dengan topeng hitam yang menutupi wajah mereka, dari bentuk tubuh empat pendatang ini salah satunya adalah sosok perempuan.


“Hi hi hi! ...” si perempuan tertawa lepas saat mendatangi dan melihat wajah Gou Long yang tampan. “Jika kutahu orang yang menjadi target kali ini adalah sosok pemuda tampan seperti dia, akan kupakai pakaian yang lebih menggoda dari ini,” ujar si perempuan genit.


Dari suara yang diperdengarkannya, perempuan itu berusia dengan kisaran tiga puluh tahunan, dia berdiri di sana seenak hatinya, genit dan menggoda, seperti tidak peduli pada penilaian orang lain pada dirinya.

__ADS_1


Sementara tiga yang lain, walaupun mereka memakai topeng, kumis tipis dan jambang bauk yang disisir rapi terlihat, sebagian dari bulu-bulu itu telah memutih yang menandakan orang-orang itu telah memasuki usia paruh baya.


Ketiga orang ini memiliki keunikan tersendiri, yang berdiri paling kanan terlihat sangat kurus dan tinggi, dalam balutan pakaian kuning itu dia lebih terlihat seperti tiang yang dibalut dengan rambu-rambu saat acara besar.


Kemudian yang ditengah-tengah, terlihat garang bagaikan singa dengan rahang besar dan otot-otot kekar, walau usianya telah memasuki paruh baya, namun balutan jubah kuning ketat tidak menutupi otot kekarnya, yang paling mencolok adalah lehernya yang besar padat seperti tembok besar kokoh yang tak mudah di robohkan.


Melihatnya, Gou Long segera menyadari, orang ini telah melatih tenaga Gang sampai puncak, perpaduan tenaga Gang dan tenaga murni orang ini pasti akan sangat merepotkan lawan-lawannya.


Sementara yang terakhir ini adalah sosok pendek, gemuk dan buntal, seperti seorang saudagar kaya raya, yang hidup senang bergelimang harta, atau malah lebih seperti seorang pejabat pemerintah kota yang terlalu banyak memakan upeti dari rakyat-rakyat kecil kesusahan, walau jelas orang ini bukan kategori keduanya.


Sekilas pandang Gou Long tahu, setiap orang-orang ini memilik ranah kultivasi yang berbeda, yang paling kuat sudah pasti orang yang mirip Singa Garang, dengan tingkat kultivasi Puncak Ranah Surgawi.


Menyusul, si Tinggi Kurus yang memiliki tingkat kultivasi Ranah Surgawi Tahap Menengah, si Gemuk Buntal dengan kultivasi Ranah Surgawi Tahap Awal, dan yang terakhir perempuan genit dengan tingkat kultivasi Puncak Ranah Langit.


Mendengar ucapan bernada genit. “Hooo! Kalian menargetkanku?” tanya Gou Long, kembali meneliti mereka semua satu persatu, orang-orang ini belum pernah didengar Gou Long sebelumnya, baik dari cara mereka berpakaian atau bentuk topeng mereka. “Kalian menargetkanku tapi kuda dan kereta yang kalian hantam terlebih dahulu,” heran Gou Long.


“He he he! ...” Orang yang berotot tertawa, maju selangkah dan mengambil sikap seperti orang yang telah berbuat salah. “Adik kami yang muda mencium adanya bau perempuan di dalam kereta, dia sangat tidak suka pada target yang sedang bersama perempuan, dia juga takut kami akan tergoda pada perempuan lain, jadi kami memutuskan untuk membinasakannya ....”


Gou Long paham, sikap yang diperlihatkan orang ini hanyalah bentuk ejekan padanya. “Huuuh! Hanya gerombolan orang-orang yang tak bermoral, kalian tidak pantas berbicara denganku apalagi menjadi lawan-lawanku.” Berkata seperti ini karena Gou Long mengetahui, orang-orang itu pastilah pasangan kekasih dengan satu orang perempuan dan tiga orang laki-laki.


“Hi hi hi! Adik tampan! Pantas atau tidak pantas itu urusan lain, kami hanya menjalankan perintah demi sesuap nasi dan penghidupan kami sendiri.” Perempuan genit tertawa cekikan dan menjelaskan tanpa perlu ditanya.


“He he he! ...” si Gemuk Buntal ikut terkekeh, “Adik tampan! Moral yang kau maksudkan itu, hanya berlaku padamu, tapi tidak bagi kami, kau belum mencoba mencicipi adik kami, kalau kau mencicipinya, kau tidak akan mau berpindah,” ujar si Gemuk, sambil menggosok-gosokkan tangan di perut buncitnya.


“Twako! Jangan terlalu banyak berbicara yang tidak penting, mari kita gasak saja dia. Lebih cepat kita kerjakan, maka upah kita akan lebih cepat masuk, kita bisa pulang dan menikmati kehangatan, dari pada harus berkeliaran mengejar keparat ini.” Si Kurus Tinggi ikut menimpali.


Selagi mereka berbicara, Gou Long telah mengambil bentuk Transformasi Roh, dengan rambut yang memutih dan pembawaan orang tua. “Kalian terlalu memualkan perutku, baik! Mau keroyokan atau sendiri-sendiri? Silahkan dimulai,” tantangnya.

__ADS_1


Tepat sebelum pertarungan dimulai. “Gege! Perempuan gatal ini, bagianku.” Ding Jia Li juga sudah mengeluarkan pedangnya, menunjuk lawan perempuan genit sebagai lawan. Ucapannya sekaligus menghentikan gerakan mereka semua.


Perempuan genit tersebut meneliti sosok Ding Jia Li sesaat, mengira tingkat kultivasi Ding Jia Li sama dengan dirinya. “Hi hi hi! ... Budak kecil! Cici ini akan dengan senang hati meladenimu, kalau kau mampus jangan salahkan Cici,” ejeknya.


Gou Long menatap Ding Jia Li sesaat, mengeluarkan botol giok berisi pil anti racun lalu memberikan itu pada Ding Jia Li. “Saat melawan para penjahat, kita harus berpikir seperti penjahat, bisa saja mereka kelak akan menggunakan racun, telanlah beberapa pil ini sebelum bertarung!” bisik Gou Long.


Karena tindakan itu, rasa kagum pada Gou Long muncul dari orang yang penuh dengan otot. “Ha ha ha!... Adik kecil! Kau sangat pantas menjadi orang yang kami buru, cara berpikirmu seperti penjahat kecil saja,” pujinya.


“Aku tak butuh pujian kalian,” ketus Gou Long, dia langsung bergerak menyerang.


Artefak yang dipakai Gou Long saat menyerang ini terlihat aneh, itu bukan pedang, juga bukan tombak, orang-orang ini tidak pernah melihat Artefak tersebut. itu adalah Artefak Palu Besar Hitam milik Iblis Hitam yang dikalahkan Gou Long saat di Tanah Suci Para Pendekar.


Setelah berhasil memurnikan Artefak tersebut, serta mengikatnya dengan tetesan darah, Gou Long belum pernah memakai Palu Hitam itu.


Ini bahkan lebih berat dari golok papan besi, karena berpikir melawan orang yang telah berhasil melatih tenaga Gang sampai puncaknya, Gou Long merasa Palu Besar ini lebih cocok untuk digunakan melawan mereka.


“Whussshh!” kesiur angin terdengar keras mengikuti ayunan palu berat Gou Long, “Buukkk!” palu itu melewati laki-laki berotot yang menghindar dari serangan Gou Long, sehingga hanya menghantam tanah bersalju dan meninggalkan retakan besar di atas tanah yang terpukul palu besar tersebut.


Tak tinggal diam, si Gemuk Buntal dan si Kurus Tinggi juga ikut terjun ke gelanggang pertempuran menyerang Gou Long dengan pukulan telapak.


“Whoosshh!” dua buah pukulan datang menggencet Gou Long, yang dibalas oleh Gou Long dengan tangan kirinya tanpa melihat arah datangnya pukulan. Gerakannya terlihat lambat saat melepaskan pukulan balasan, tapi pada kenyataannya itu sangat lah cepat.


“Whosshh!”


“Dhuuaarrrr!”


Ledakan keras terjadi karena beradunya pukulan Gou Long dengan dua pukulan lain, menggetarkan hutan dan menghamburkan butir-butir salju yang tersangkut di atas dahan-dahan pohon pek.

__ADS_1


Gelanggang pertempuran sesaat mengaburkan penglihatan mata karena hamburan salju, memanfaatkan kondisi, Gou Long bergerak memindahkan jasad, tepat berada di belakang si Gemuk Buntal, “Kau rasakan dulu pukulanku!” dingin dan menggidikkan suara yang di ucapkannya.


“Whossshh! Bukkk!” pukulan telapak keras tepat kena di punggung si Gemuk, yang membuat ia terpelanting keras.


__ADS_2