Pendekar Pengendara Petir

Pendekar Pengendara Petir
Bab. 39. Duka Lama


__ADS_3

Wajah Iblis Lengan Hitam, yang sudah pucat menjadi tambah pucat, melihat serangga yang ada di jepitan tangan Pengurus Bai.


Dia kenal akan jenis serangga itu, serangga eksotis yang sangat jarang ada di Dunia ini, itu jenis serangga api pemakan tenaga dalam, serangga api itu apabila dimasukan ke dalam tubuh, dia akan bergerak ke dantian yang merupakan pusat tempat berkumpul tenaga dalam di tubuh manusia.


Kemudian sedikit demi sedikit tenaga dalam akan di makan olehnya, kalau hanya di makan saja masih lebih baik, karena masih bisa hidup dalam jangka waktu tertentu, lalu tubuh dan tulang akan merosot serta mengering. Tapi, serangga ini punya sifat unik lain, dia akan mengorek-ngorek dantian pemilik tenaga dalam, seperti lalat yang mengorek luka.


Kabarnya, rasa sakit ketika serangga tersebut berjalan melalui meridian akan membuat orang tersebut sangat menderita. Seperti namanya, serangga api, dia berjalan dan membakar meridian orang yang menjadi korbannya.


Nah, apapun pilihannya, mau dihisap tenaga dalam atau dikorek dantian, sama saja bagi para pesilat, mereka lebih memilih mati dari pada tidak bisa bersilat dan berkultivasi. Andai serangga tersebut masuk kedalam tubuh, maka dapat dipastikan lebih menderita dari seratus tahun hasrat hati ingin menerobos ranah.


Entah jurus apa yang digunakan Pengurus Bai untuk memelihara dan mengontrol serangga tersebut.


“Iblis Lengan Hitam, apa kau yakin ingin mencoba serangga ini, dia juga belum makan selama bertahun-tahun, ha ha ha.” Sambil tertawa senang, Pengurus Bai berkata lembut pada Iblis Lengan Hitam.


Suara yang lembut dan menyenangkan itu bagi Gou Long seperti suara iblis sendiri, dingin dan kejam. Gou Long sangat yakin, apa yang akan dikerjakan Pengurus Bai, pasti akan berbeda dengan yang dipikirkan orang lain.


Saat pesilat lain berpikir Pengurus Bai hanya mengancam dan menakuti, tapi bagi Gou Long hal ini bukanlah sekedar ancaman. Pengurus Bai pasti akan memasukan serangga itu ke dalam tubuh Iblis Lengan Hitam.


“Mau menyiksa, lekas siksa. Jangan harap sepatah katapun akan ku ucapkan.” Lalu Iblis Lengan Hitam duduk diam di situ, mengabaikan mereka semua.


“Ha ha ha, sangat bagus ... kau memberiku kesenangan sejati.” Tertawa terbahak, Pengurus Bai bergerak mendekati Iblis Lengan Hitam, lantas dia menepuk tengkuk dari iblis tersebut.

__ADS_1


Untuk sesaat, semua pesilat dapat melihat Iblis Lengan Hitam dengan gagah dan tanpa takut duduk anteng menikmati serangga tersebut masuk ke dalam tubuhnya. Namun, sampai berapa lama kah dia bisa bersikap seperti itu?


Tidak butuh waktu lama, raut wajah Iblis Lengan Hitam segera berubah-ubah, terkadang meringis, terkadang nyengir masam. Dia terus berusaha menahan rasa sakit dengan tidak berteriak sedikitpun.


Pengurus Bai, melihat mimik wajah dari Iblis Lengan Hitam, tertawa senang sambil bertepuk tangan. Kemudian dia mengacungkan jempolnya ke Iblis Lengan Hitam. “Hebat! ... Sangat hebat, jarang ada yang bisa menahan hasrat meraka seperti yang kau tahan. Lantas ... bagaimana ekspresi mu kalau ku tambahkan satu serangga lagi?” Sambil memegang dagu, Pengurus Bai berkata seperti orang yang sedang berpikir keras.


Mendengar perkataan itu, tidak hanya si Iblis Lengan Hitam saja yang terkejut, semua hadirin juga terkejut, sehingga mereka bertanya-tanya; Berapa jumlah serangga api pemakan tenaga dalam yang dimiliki oleh Pengurus Bai? Sekte Naga Langit sungguh tempat berkumpulnya para Naga dan Phoenix.


Malam ini saja, mereka telah melihat dua orang yang jarang ada tandingannya. Bocah dengan elemen petir yang membunuh lawan seperti menyembelih ayam, dan Pengurus Bai yang berperilaku aneh dengan serangga eksotisnya.


Ekspresi sangat ketakutan jelas tergambar di wajah Iblis Lengan Hitam, lalu dia mulai buka mulut, sebenarnya itu sebuah keputusan yang terlambat. Belum sempat terucap apapun, ketika mulutnya terbuka hanya teriakan keras yang dapat dikeluarkannya.


“Aaaarrgghh!”


“Aaaarrgghh!”


Dengan terputus-putus terbata, dalam keputusasaannya, Iblis Lengan Hitam memohon pada Pengurus Bai. “T-Tolong ... t-tolong ... c-cabut ... b-binatang ... t-terkutuk ... i-ini ... d-dari ... t-tubuhku ...” Setelah berkata seperti itu, dia mulai berguling-guling di atas tanah.


Rasa sakit itu bahkan dapat dirasakan oleh orang-orang yang melihatnya.


Gou Long, melihat penyiksaan seperti itu sedikit banyak juga merasakan kasihan, lantas dia berkata pada Pengurus Bai, “Mohon Pengurus Bai menarik kembali serangga itu darinya, Aku ingin bertanya beberapa hal pada iblis ini, setidaknya suara keparat ini ketika berbicara akan lebih jelas.”

__ADS_1


Permintaan itu segera dipenuhi oleh Pengurus Bai, dia bergerak lalu menotok beberapa titik di tubuh Iblis Lengan Hitam, sehingga iblis tersebut berhenti berguling-guling.


Kembali dia menempelkan telapak tangannya di tengkuk iblis itu, dengan menggunakan tenaga dalam hisapan, dia menghisap serangga tersebut. Para pesilat berdecak kagum dengan cara mengisap seperti itu, sungguh kontrol tenaga dalam yang sangat sempurna.


Setelah menunggu sejenak Gou Long mulai bertanya pada Iblis Lengan Hitam. “Dimana Kitab Lima Yang kalian sembunyikan? Katakan yang sejujurnya atau aku tidak akan minta ampunan lagi bagimu kelak.”


Pesilat yang mendengar pertanyaan Gou Long, merasa sedikit keheranan, begitu juga dengan Pengurus Bai, lantas dia memotong percakapan Gou Long. “Tunggu sebentar bocah! Apakah yang kau maksud, kitab itu sebenarnya ada pada mereka?”


“Aku juga tidak tau, dia yang lebih mengerti seluk beluk segala yang terjadi di sini,” jawab Gou Long singkat.


Keheranan, semua orang saat ini tidaklah dapat menyalahkan siapapun, para pesilat dan bahkan Pengurus Bai tidak tahu apa yang terjadi di tempat ini lima tahun yang lalu. Kisah yang terjadi di sini lima tahun lalu belum pernah diceritakan oleh Gou Long, termasuk pada Penatua Zhou.


“Tunggu! Bocah coba kau jelaskan dulu secara singkat sampai batas-batas yang kau mengerti.” Kembali Pengurus Bai menyanggah.


“Apakah kalian semua tau dan kenal dengan nama Sepasang Walet Biru? Kalau kenal mereka maka ini akan lebih mudah.”


Lagi-lagi suasana di tempat itu menjadi riuh dengan bisik-bisik, bisikan pesilat yang berusia muda bertanya pada orang-orang yang lebih tua. Para pesilat yang sudah berusia senja, walau berada di Ranah Bumi Tahap Puncak, mereka akan kenal dengan nama Sepasang Walet Biru.


“Hemm, seingatku mereka pesilat Ranah Langit Tahap Awal. Mereka pasangan suami-istri yang berasal dari daerah Utara, kemudian mereka menetap di daerah Selatan ini ... sudah lebih dari delapan belas tahun tidak pernah terdengar kabar dari mereka berdua.” Pengurus Bai menjawab, berpikir keras, lalu berhenti sejenak. “Apa hubungannya dengan mereka ... Gou Long ... Gou Han ... Su Lan ... aah, iyaa! Apakah kau putra mereka, bocah?” Dengan kegirangan dia memecah misteri di kepalanya sendiri.


“Ya! Mereka berdua orang tuaku ... lima tahun yang lalu, mereka bertiga datang kesini ... mereka meminta Kitab Lima Yang pada ayahku,” ucap Gou Long sendu, kemudian dia meneruskan. “Ayahku dan ibuku bahkan tidak tau apa itu Kitab Lima Yang. Karena mereka ini nyawa orang tuaku kembali ke pemilik nyawa di tempat ini ....”

__ADS_1


“Ha ha ha ...” tertawa sendu, Gou Long melanjutkan, “Bukankah Yang Maha Kuasa sungguh adil? Mereka datang sendiri kesini mengantar nyawa.”


“Baiklah! Sekarang giliran mu yang menjelaskan segalanya,” ujar Pengurus Bai pada Iblis Lengan Hitam sambil memainkan serangga api pemakan tenaga dalam di telapak tangannya.


__ADS_2