Pendekar Pengendara Petir

Pendekar Pengendara Petir
Chapter. 219. Strategi


__ADS_3

Raut antusias terlihat dari wajah Hauri, sedangkan Eira yang sebelumnya mengantuk bergerak lincah, dan Siauw Xiezy meloncat-loncat kegirangan.


Melihat ekspresi makhluk-makhluk itu, “Kita akan melakukan perang gerilya…” ujar Gou Long, menunjuk Siauw Xiezy, “Kau harus bekerja keras dari sekarang! Gali beberapa lubang dan buat kandang baru di dalam tanah bawah Gunung ini, culik satu-persatu dari mereka! Terlebih orang-orang yang memiliki fondasi kultivasi terendah, bukankah kau dapat merasakan dasar kultivasi mereka?”


“He he he…” tertawa lepas, “Aku yakin kau sangat ingin makan beberapa daging segar dari manusia-manusia tolol di Kaki Gunung.” Lanjut Gou Long, menggugah selera dari Siluman Kalajengking.


Hauri melihat Gou Long kagum, tak disangka sama sekali, kecerdasan Gou Long dalam mengatur strategi sedetail itu.


“Anak ini benar-benar bisa memanfaatkan keunggulan dari Siluman Kalajengking…” batin Hauri.


Terus memperhatikan Gou Long, “Aku ingin terus melihat bagaimana pemuda ini mengatur strategi untuk keahlian kami masing-masing.” Lanjut batin Hauri.


“Itu hal mudah bagiku! He he he…” terkekeh senang, Siauw Xiezy langsung keluar dari aula, tidak menunggu perintah lebih lanjut, ia telah menghilang masuk ke dalam tanah.


Gou Long menatap Eira, Hauri, dan Feng Yueyin,  “Pertarungan ini akan sangat melelahkan! Kita harus bertahan seharian penuh, menunggu sampai Leng Kun, Duan Hong Ya dan Yu Yihua selesai menerobos Ranah Surgawi…”


“Eira juga boleh membunuh sesuka hatimu esok atau lusa!” Ujar Gou Long, ia sadar Eira juga jenis Siluman yang harus dibiarkan berbuat sesukanya sesekali, “Kejam harus dibalas dengan kejam, salahkan mereka sendiri yang mencoba terus mencari perkara denganku.” Batin Gou Long, mulutnya secara tak sadar menyunggingkan senyum jahat.


“Apa yang kau pikirkan? Senyumanmu terlihat kejam.” Tanya Hauri.


“Tidak ada, aku hanya membayangkan nasib mereka yang mencari perkara dengan kita, sangat disayangkan harus berhadapan dengan dua Siluman buas.” Jawab Gou Long, menjelaskan apa yang ia pikirkan tadi.


“Ooo…”


“Lalu, bagaimana kamu mengatur caraku bertarung dengan mereka?” tanya Hauri.


“Ha ha ha…” sebelum menjawab Gou Long lagi-lagi tertawa lepas, “Apakah kau sudah melupakan spesialisasi yang paling hebat dari dirimu? Atau kau trauma? Sehingga tidak berani melepaskan spesialisasi mu itu...” jawab Gou Long samar, yang membuat Hauri menebak-nebak apa maksudnya.


“Jelaskan saja! Jangan berputar-putar.” Ketus Hauri, kerutan di tengah-tengah keningnya terlihat, betapa keras Hauri berpikir maksud dari Gou Long.

__ADS_1


“Kamu sangat pemarah, luapkan amarahmu saat kita berperang kelak,” tegur Gou Long, “Bukankah dirimu seorang ahli ilusi? Bagaimana kalau engkau memperkuat pertahanan Array dengan menciptakan kabut ilusi?” Gou Long tersenyum cerah.


“Rasanya dengan bantuan kabut ilusi yang engkau ciptakan, pergerakan dari bawah tanah oleh Siauw Xiezy, kemudian aku dan Eira yang akan menyerang secara berterang dan kejam di bawah kabut itu, kita bisa memukul mundur lawan dengan sangat mudah.” Gou Long menjelaskan strateginya secara gamblang.


“Ha ha ha…” Hauri tertawa.


“Kau terlalu meremehkanku, menciptakan kabut ilusi sangat lah mudah, semudah membalikkan telapak tangan.” Lanjutnya.


“Ku kira kamu juga sudah terikat perasaan manusiawi, ‘Sekali dipatuk ular, seumur hidup takut tali’ ha ha ha…” Gou Long membalas kembali ucapan yang pernah disematkan Hauri padanya.


“Anak manusia…”


“Wahai anak manusia…”


“Tingkahmu semakin lama semakin berani saja…” sindir Hauri keras, “Beruntung peri suci ini baik hati. Kalau tidak begitu, kau pasti akan kusesatkan sekali lagi dalam ilusi mimpi.” Lanjutnya, sorot mata Hauri terlihat menajam.


“Haik! Aku hanya bercanda denganmu.” Balas Gou Long.


“Hi hi hi…” Feng Yueyin kembali mengikik geli melihat tingkat mereka.


Bangkit dari tempat ia duduk, “Sudah! Sudah! Cici Hauri dan Gege sangat lucu, musuh sudah di ujung hidung tapi masih bisa bercanda.” Tegur Gadis itu.


“Ini karena Gege yakin dengan strategi tadi, tidak perlu menunggu tiga orang yang sedang menembus Ranah Surgawi membantu, kita bisa membasmi kawanan yang di bawah sana, orang-orang itu bisa berfokus diri pada pemantapan kultivasi pasca menembus ranah,” jawab Gou Long.


“Candaan kecil perlu, agar kita tidak terlalu tegang.” Lanjutnya.


Hauri menganggukkan kepala, “Baik aku sudah mengerti sepenuhnya, nah akan kupersiapkan jamuan ilusi terbaik untuk mereka…”


Mendengar perkataan itu Gou Long tersenyum, “Lawan kita juga Ahli Ilusi, jangan kamu anggap remeh mereka!” mengingatkan Hauri, “Bahkan nama sektenya saja Awan Berkabut, merujuk dari nama itu, aku yakin mereka sudah terbiasa hidup dalam kabut ilusi.” Sambung Gou Long, mengakhiri percakapan.

__ADS_1


“Tenang saja, Ilusi dari kabut ilusi yang kuciptakan, jelas lebih baik dari mereka yang baru beberapa tahun belajar.” Ujar Hauri sombong.


Pantas ia menyombongkan diri, usia hidupnya lebih lama dari Tong Kak San ataupun Ahli Ilusi lain dari Sekte Awan Berkabut.


Tidak menunggu lebih lama, Hauri keluar dari ruang aula tersebut, ia melesat ke puncak paling tinggi dari Gunung Teratai, duduk bersila di situ dan mulai berkultivasi, perlahan kabut tipis muncul dari tubuhnya.


***


Tong Kak dan yang lainnya benar-benar merasakan manfaat dari aura Langit dan Bumi yang melimpah itu.


Kemudian, kulit Tong Kak San yang sensitif tiba-tiba merasakan aura Langit dan Bumi memadat, dalam tiga jam itu, di salah satu Bukit dari Gunung Teratai terlihat sambaran dan amukan ganas petaka Langit dan Bumi.


“Booomm!”


“Jeddaarrrr!”


Getaran keras disertai guntur dahsyat meluluh lantakkan Gunung Teratai.


Hal yang terjadi dua kali lagi di Bukit lainnya dari Gunung Teratai.


“Ah! Di sana ada yang menerobos Ranah Surgawi, ini pastilah orang tua yang kulihat kemarin, dia masih di Puncak Ranah Langit sebelumnya...” hati Tong Kak San berkata-kata.


“Lalu siapa yang menerobos lagi di dua bukit berbeda?” Gumam Tong Kak San, tanpa sadar ia berkata-kata menurut apa yang ada dalam hatinya.


Walau lirih, itu terdengar di telinga Penatua lain, mereka juga terkejut dengan padatnya aura Langit dan Bumi.


“Mungkin dua orang bocah muda lainnya, si Master Array dan si Pemilik Tubuh Tungku Abadi. Seingatku keduanya juga di Puncak Ranah Langit sebelumnya.” Ujar Hek Cu sedikit mengejutkan Tong Kak San.


“Jika hal ini benar, maka Bocah Gou itu akan menjadi lawan yang sangat kuat kelak, alangkah baik kita harus segera melenyapkannya. ‘Memelihara Kuda Nil,sudah barang tentu kelak Kuda Nil itu akan menyeretmu ke dalam air, dan membinasakan kamu'. Jangan pernah biarkan musuh berkembang walau hanya peningkatan dasar tenaga dalam.” Petuah Tong Kak San panjang.

__ADS_1


“Tepat seperti yang Patriark jelaskan, kami juga berniat melenyapkan Bocah itu hari juga…” ujar Pek Khong, mewakili dua yang lain.


__ADS_2