
Nasib naas yang diterima kedua orang itu tidak lain karena mental bertarung mereka telah jatuh, saat melihat hilangnya dua pembantu kuat yang tertelan kegelapan.
Rasa takut muncul, dan terbesit keinginan untuk melarikan diri, dalam perasaan takut begitu mereka berdua tidak bisa berpikir jernih, padahal sejak awal bertarung mereka telah melihat kecepatan Gou Long di atas rata-rata.
Percuma saja kabur dari pemuda itu, sangat mudah bagi dia menangkap mereka kembali.
“Bukk!”
“Bukk!”
Gou Long melemparkan keduanya begitu saja di atas tanah bersalju, ia menghilangkan mode Transformasi Roh dan menarik kembali Domain serta Jurus Penjara Es miliknya.
Qiau Lien bangkit, mengepalkan tangannya di depan dada, “Terima kasih Adik Long! Cici tidak tahu harus bagaimana membalas hutang budi ini kelak,” ujarnya.
Ketiga Penatua pelindung Qiau Lien juga bangkit berdiri, melakukan hal yang sama seperti apa yang telah dilakukan Qiau Lien serta mengucapkan beberapa patah kata terima kasih pada Gou Long.
“Tidak perlu berterima kasih, Lien Cici! Kelak Adik ini akan ada hal yang ingin minta bantuan dari Ayah Cici atau Patriark Klan Qiau.” Gou Long menjawab sekenanya, dia teringat permasalahan Hauri.
Tanpa sadar tangan kirinya digerakkan mengelus otot deltoid di tangan kanan, “Tiga tahun sudah aku tidak pernah memanggilmu dan juga melihat dirimu,” batin Gou Long berkata-kata, ada kerinduan pada makhluk yang selalu menemaninya saat ia dalam kesusahan dan kesendirian.
“Pendekar Gou! Bagaimana dengan mereka berdua?” tanya salah satu dari tiga orang Tetua pelindung Qiau Lien, memecah lamunan Gou Long.
__ADS_1
Tertawa kecil, Gou Long berkata, “Mereka berdua bisa kita urus nanti, bukankah akan sangat tidak sopan jika Junior ini tidak mengenal ketiga Penatua?”
Qiau Lien dan tiga orang Penatua tersebut ikut tersenyum, satu persatu para Penatua itu memperkenalkan diri.
Orang yang terlihat gagah dan lebih muda dibandingkan dua yang lain bernama Qiau Ku Seng, sedangkan yang sedikit lebih tua darinya bertubuh tambun bernama Qiau Wan Cong, dan orang terakhir yang terlihat paling kuat serta bijaksana yaitu Qiau Bei Hu.
Setelah saling memperkenalkan diri, mereka melihat pada dua sosok yang yang tadi dilemparkan Gou Long, Qiau Lien dan ketiga Penatua pelindung sebelumnya tidak benar-benar memperhatikan kondisi dari dua orang itu.
Keduanya, masing-masing sebelah kaki dan tangan dipatahkan Gou Long, urat besar tertotok sehingga mereka tidak bisa berteriak ataupun bergerak, nafas berat terdengar dari keduanya, menahan rasa sakit yang tak terhingga.
Entah jenis totokan apa yang dilakukan anak muda itu, bukan hanya membuat kedua orang yang terkapar di atas tanah tidak bisa bergerak, berteriak ataupun berkata-kata, namun mereka dapat melihat siksaan yang mendatangkan rasa ngilu dari wajah keduanya.
Patahan kaki atau tangan bagi seniman bela diri bisa mereka tahan dengan mudah, tidak akan mendatangkan raut wajah seperti kedua orang itu.
“Lanjutkan saja Penatua Qiau! Jangan meragu, Junior ini selalu dapat membedakan antara budi dan dendam, antara kawan dan lawan,” ujar Gou Long, coba menghilangkan rasa takut dari mereka padanya.
“...” menganggukkan kepalanya, Qiau Bei Hu berkata, “Maaf kalau perkataan orang tua ini sedikit lancang! Apa tindakan ini tidak terlalu kejam Pendekar Gou?” ia menunjuk kedua orang yang terkapar kesakitan tidak bisa meraung ataupun berkata-kata di atas tanah bersalju.
“Bukankah lebih baik langsung membunuh keduanya daripada membuat mereka tertotok kesakitan seperti ini?” Qiau Bei Hu melanjutkan, raut wajah ragu dan enggan masih tergambar di wajahnya.
Memegang dagunya, Gou Long tersenyum kecil, “Perasaan welas kasih dari Penatua Qiau dapat Junior maklumi, namun apakah Penatua Qiau melupakan…” Pemuda itu tidak melanjutkan ucapannya, dia menarik nafas sejenak dan menatap mereka satu persatu, “Andai apa yang terjadi di sini kebalikannya…”
__ADS_1
“Coba Penatua Qiau bayangkan!” lagi-lagi ia tidak melanjutkan, terlihat menerawang jauh seperti orang yang sedang membayangkan kejadian yang berkebalikan dari apa yang terjadi saat ini.
“Pertama; Dua orang dari Penatua pelindung mati, yang tersisa hanya Lien Cici dan salah satu dari kalian bertiga. Menurut penjelasan Lien Cici sebelumnya, mereka mengincar Pedang Teratai Salju, namun pedang tersebut tidak mereka dapatkan…” ujar Gou Long, melanjutkan apa yang dipikirkannya.
Cara ia menjelaskan apa yang dipikirkan dan diterawang, terlihat begitu menghayati, membuat orang yang melihat ekspresinya ikut ke dalam pola pikir Gou Long, sehingga mendatangkan rasa mencekam di hati mereka. Mereka ikut memikirkan seperti yang ia pikir.
“Lien Cici begitu cantik! Mereka orang-orang sesat yang menghalalkan segala cara, sedangkan apa yang mereka dambakan tidak terpenuhi, lalu Paman Penatua sendiri dalam keadaan tertotok…” Gou Long kembali menatap wajah mereka satu persatu, pucat pias, “Aihh! Junior tidak dapat melanjutkannya.”
Gou Long sangat puas, telah berhasil menggiring orang tua yang berpikiran naif ini pada pola pikirnya terhadap para penjahat yang selalu tamak pada harta orang lain.
Rasa tamak itu tidak akan pernah hilang kecuali saat orang tersebut benar-benar mendapatkan apa yang ia inginkan atau saat melihat kematian yang hanya berada di ujung hidung.
Qiau Bei Hu tidak dapat berkata-kata lagi, dia terus memikirkan apa kejadian yang tadi dibayangkan Gou Long.
“Lalu… Sekarang apa yang akan kita perbuat pada mereka?” Penatua yang bernama Qiau Ku Seng bertanya, orang ini masih berdarah muda, sehingga sifatnya sedikit banyak seperti Gou Long, tidak peduli dengan rasa sakit kedua orang yang tertotok.
“He he he…” Gou Long terkekeh, menunjuk Sun Wu Xiang, “Orang ini, jelas pesuruh dari Sekte Racun Utara, bahkan bisa saja termasuk salah satu dari orang-orang dengan jabatan tertinggi. Yang mengincar Pedang Teratai Salju sudah pasti bukan orang ini, tapi Sekte tempat ia bernaung.”
“Ah! Orang tua ini mengerti maksud dari apa yang Pendekar Gou katakan,” ujar Qiau Ku Seng, dia sendiri melanjutkan penjelasan Gou Long yang terputus, “Gagal dengan gerakan pertama, mereka pasti akan mencoba gerakan yang kedua…”
“Jangan katakan, Pendekar Gou berniat menyerang lawan yang sedang menunggu kabar dari gerakan pertama mereka ini?” Qiau Ku Seng coba menebak alasan Gou Long tidak membunuh kedua orang tersebut.
__ADS_1
Tersenyum kecil, Gou Long menjawab, “Berbicara dengan orang yang berjiwa muda memang lebih cepat saling memahami pola pikir masing-masing. Aku memang berniat seperti itu, dari pada menunggu lawan mengejar dan mendatangkan penyakit buat diri sendiri, lebih baik kita melawan dan menyongsong penyakit itu.” Gou Long mengakhiri ucapannya.
“Adik Long tidak pernah berubah ya! Tiap kali turun tangan harus tuntas dan tidak setengah-setengah.” Qiau Lien memuji tindakan Gou Long, wajahnya tersenyum kagum.