Pendekar Pengendara Petir

Pendekar Pengendara Petir
Chapter. 192. Apakah Kau Sakit?


__ADS_3

Jauh dua puluh tombak di sana, Ding Jia Li melihat sepasang manusia yang sangat aneh, yang satu memakai pakaian putih, sedangkan kulit wajah dan seluruh tubuh yang membungkusi bagian tubuhnya hitam semua, seperti pantat kuali.


Sedangkan yang satunya lagi malah kebalikan dari pasangannya, dia memakai setelan pakaian berwarna hitam gelap, namun kulitnya sangat putih dan pucat tidak berwarna, seperti boneka salju kurus yang diberikan pakaian.


Orang yang mengekeh dan berkata dengan nada cabul tadi adalah si Hitam Legam, “He he he! Setelah dekat seperti ini, si angsa terlihat lebih nikmat.” Lanjut orang tua yang berkulit hitam legam.


“Huh! Sudah tua dan bau tanah masih belum tahu diri, bukannya bertobat serta memperbanyak berbuat baik, ini malah keluyuran memperbanyak dosa!” damprat Ding Jia Li, sengit dan penuh dengan amarah.


“Ha ha ha!...” yang berkulit pucat tertawa senang, lalu berpaling pada kawannya, “Nah! Kau dengar nasehat dari junior itu, bukannya membantuku agar aku bisa menambah fondasi Kultivasi Yin yang aku latih, kau malah keluyuran ke hutan sesat ini.” Si Putih pucat menggerutui.


“Kau yang gila! Sudah tahu temperatur suhu tubuhku ini panas terus, aku tidak tahan cuaca musim salju ini, tapi kau tetap memaksaku untuk membantumu! Lalu apa salahnya jikalau aku menikmati angsa empuk yang kita jumpai di sini sebagai penghangat tubuhku,” balas orang yang berwajah hitam legam seperti pantat kuali, tidak kalah sengit.


“Lagi pula, bukankah sebenarnya cuaca seperti ini lebih menguntungkan untuk kultivasimu?” ejek si Hitam legam, melanjutkan ucapannya.


“Buk!” tangan si Putih pucat entah kapan digerakkan, tiba-tiba saja dia menabok kawannya yang berkulit hitam, “Kau terlalu jauh mengejekku, padahal kita telah bersaudara puluhan tahun, dan kau juga tahu cuaca seperti ini tidak memberi manfaat apa-apa padaku...” keluh orang tua berkulit Putih pucat.


Melihat perdebatan mereka untuk sejenak, Ding Jia Li terpaku di tempat. Setelah memerhatikan keduanya dengan seksama, Ding Jia Li segera mengetahui baik yang berkulit pucat atau yang hitam legam, sama-sama tidak ada kebaikan dari mereka.


“Kultivasi mereka berdua jelas di atasku, selagi mereka sedang saling berbantahan, kutinggal pergi saja. Berkelahi dan menuruti panas hati gara-gara perkataan kurang ajar si Hitam legam itu hanya akan merugikanku saja.” Pikir Ding Jia Li.


“...” tanpa berkata-kata dia melesat dan meninggalkan kedua kakek yang sedang berdebat itu.


“He he he!...” sosok bayangan si Hitam legam sudah berdiri di hadapan Ding Jia Li, “Angsa yang sudah kutandai, mana mungkin kubiarkan lepas dari tanganku begitu saja...” ucapnya dengan suara seram dan menggidikkan.

__ADS_1


“Ingin kabur pun, harus memberikan kehangatan terlebih dahulu pada orang tua ini.” Lanjutnya, seraya menjilati bibirnya sendiri.


Melihat dan mendengar ucapan itu, Ding Jia Li bergidik ngeri, dengan menguatkan tekad hati, “Kau ingin kehangatan? Coba kau makan pukulan Telapak Lotus Api ku!” tangan Ding Jia Li melepaskan pukulan dengan gerakan telapak terbuka.


“Whoossh!”


Sebuah bayangan teratai berwarna biru dengan membawa hawa panas melesat cepat ke arah si kakek berkulit hitam legam.


“He he he!...” dengan masih terkekeh senang, orang tua berkulit hitam membalas pukulan yang dilepaskan Ding Jia Li seraya berkata, “Bagus! Bagus! Angsa yang kuburu benarlah angsa liar yang tidak mudah untuk ditangkap.” Dari tangan si hitam legam ini melesat sebuah telapak yang berwarna sangat gelap sama dengan warna kulitnya.


Bau amis dan aroma yang memabukkan juga menyertai bayangan telapak tersebut.


“Whoosshh!”


“Booomm!”


Adu pukulan itu membuat Ding Jia Li terlempar ke belakang satu tombak, sementara si orang tua berkulit hitam, masih berdiri di posisi semula dengan menyunggingkan senyuman penuh ejekan pada Ding Jia Li.


Sadar kalah kekuatan, Ding Jia Li mengeluarkan pedangnya, Jurus Pedang Teratai biru dimainkan, dia bergerak lincah mencoba menusuk setiap ruang lowong yang ada ditubuh kakek berkulit hitam.


Permainan pedang teratai birunya lincah dan sebat, hawa pedang meraung-raung membawa serta warna biru dalam setiap tebasan atau tusukan yang ditunjukkan oleh Ding Jia Li, tidak percuma dia menjadi murid pertama dari Sekte Teratai Biru, dia bisa dengan mudah mempelajari situasi yang mendesaknya lalu mengembangkan diri dalam pertarungan.


Setiap tusukan ke arah leher, perut, dada, ataupun sendi-sendi lain dari si orang tua berkulit hitam, akurat dan tepat sasaran.

__ADS_1


Namun, semua usaha Ding Jia Li itu tidak cukup untuk melawan si kakek berkulit hitam, orang tua ini bukanlah samsak mati yang hanya mandah saja di tusuk dengan pedang, dia adalah legenda dunia persilatan golongan hitam, dengan ranah kultivasi Puncak Ranah Surgawi.


“Bakat yang bagus! Ilmu pedang yang bagus!” dari samping orang tua yang berkulit putih pucat memuji setiap gerakan Ding Jia Li, “Ha ha ha! Aku juga ingin mencoba beberapa jurus dari angsa putihmu, Iblis Hitam!” lanjutnya ingin bergerak ikut terjun ke gelanggang pertempuran.


“He he he! Tadi kau menolak, sekarang malah kepingin! Tidak! Aku tidak akan mengizinkanmu Iblis Putih, kalau kau berani ikut terjun ke sini, aku tidak akan menemanimu lagi!” jawab Iblis Hitam, mengancam.


Sambil menjawab ucapan dari Iblis Putih, si Iblis Hitam terus mengelak setiap tusukan dan tebasan pedang Ding Jia Li, dia menikmati pertarungan ini, bahkan seperti mempermainkan Ding Jia Li, dengan sesekali mencolek pipi putih Ding Jia Li, pertarungan seperti itu terus berlanjut hampir seratus gerakan.


Bosan dengan pertarungan seperti itu, si Iblis Putih berkata, “Cepat kau selesaikan saja, hari sudah hampir malam, kalau kau masih bermain-main, kubunuh saja mangsamu itu!” ancamnya.


Saat itu Ding Jia Li sudah sangat kelelahan, keringat sudah mulai merembes di wajahnya, mendengar ucapan dari Iblis Putih rasa takut menjadi mainan dari Iblis Hitam mulai hinggap di hati, terlebih lagi sejak si Iblis Hitam mulai mempermainkannya dalam pertarungan tadi, pernah beberapa kali ia mencoba bunuh diri, namun terus dihalangi oleh Iblis Hitam.


Mendapatkan ancaman, si Iblis Hitam bergerak sebat, sebuah totokan jari dengan tepat masuk di urat besar belakang leher Ding Jia Li, sehingga gadis ini tidak bisa bergerak dan kaku di tempat.


“Ha ha ha!...” si Iblis Hitam tertawa besar.


Dia bergerak berniat membopong Ding Jia Lia, Namun...


“Siiingg!” suara berdesing dan lesatan daun beku, menghentikan gerakan dari Iblis Hitam.


***


Gou Long mengejar Ding Jia Li secara membabi buta, dia tidak tahu arah yang diambil Ding Jia Li, bingung dengan arah yang ditempuhnya sendiri, Gou Long mengeluarkan Eira yang tertidur dalam jubah bajunya sejak pagi tadi.

__ADS_1


Sangat aneh! Siluman rubah ini hampir tidak pernah tidur, tapi kali ini dia meringkuk begitu saja dibalik jubah Gou Long. Dalam genggaman kedua tangan Gou Long, hal lain terlihat dari Eira, siluman ini seperti sedang sakit, bukankah ini aneh? Kenapa dia bisa sakit? Suhu tubuh Eira terasa panas di kulit telapak tangan Gou Long.


Penasaran, Gou Long membangunkan dia dengan paksa, Eira bangun dan bergerak naik ke atas bahu Gou Long, tapi ia gemetaran di sana, “Apa yang terjadi denganmu? Apakah kau sakit?...” tanya Gou Long, “Tapi mungkinkah makhluk yang berkultivasi bisa sakit, padahal tidak bertarung!” gumam Gou Long.


__ADS_2