
Tempat yang ini dituju Gou Long ini dinamakan dengan Kota Es Spiritual, di sana terdapat pemandian umum yang berkhasiat meningkatkan kualitas kekuatan spiritual seniman bela diri.
Konon, sumber air spiritual yang tidak ada habisnya di Kota itu berasal dari batu giok spiritual yang sangat besar. Besarnya bahkan mencakup seluruh pulau tersebut dan kemudian berpusat pada Gunung utama penyokong Pulau itu.
Luar biasanya, penduduk Utara tidak ada yang menambang Giok Spiritual tersebut, mereka lebih memilih untuk menjadikan Kota tersebut pusat dari segala kesenangan dari daerah Utara.
Setengah harian, Kapal perahu yang sesuai dengan kriteria keinginannya akhirnya muncul juga, saat itu yang menunggu di sana bukan hanya Gou Long, ada beberapa orang lain juga yang terus berdatangan.
Kapal ini bisa dikatakan besar dan mewah, tarifnya yang juga lumayan mahal, Gou Long sadar, percuma saja untuk menegosiasikan tarif pelayaran dan pelayanan dari Kapal ini, mereka tidak menerima segala jenis negosiasi.
Kapten dan kru kapal ini sangat percaya diri dengan daya tarik dari kapal mereka, ini terbukti walau dengan tarif yang berkesan mahal, peminat mereka dan bahkan bersedia menunggu lama juga sangat banyak.
Saat giliran antrian naik ke kapal, Gou Long mengantri tepat di belakang sepasang muda-mudi, yang berusia belasan tahun, mereka terlihat seperti kakak beradik atau sepupuan.
Keributan kecil terjadi saat antrian pembayaran tiba giliran mereka, ini tidak lain karena si pemudi minta pada kru kapal untuk sedikit menurunkan harga bagi mereka berdua.
Ya! Memang begitulah adanya setiap transaksi, jika yang dilakukan oleh para kaum hawa, maka pasti akan terjadi tawar menawar harga. Dan itu terjadi hampir sepuluh menit lamanya, Gou Long menjadi tidak sabaran.
Ia maju mendekati kru tersebut, “Paman! Biarkan mereka berdua naik kapal ini, tagihan keduanya aku yang membayar.”
Kru petugas tersenyum, “Apa saudara muda yakin? Biaya kapan ini sangat mahal.” Ia menegas, tidak ingin Gou Long terbebani dengan biaya yang menjadi tiga kali lipat gara-gara menanggung dua orang lainnya.
“Tidak apa-apa Paman,” ujar Gou Long meyakinkan.
Sementara kedua Kakak beradik itu hanya melihat saja bisik-bisik yang terjadi antara Gou Long dengan petugas kapal, mereka tidak tahu apa yang dibicarakan keduanya.
Mendapatkan kepastian dari Gou Long, Kru petugas, melirik kedua muda-mudi itu silih berganti, “Kalian masuklah, biaya perjalanan kalian telah ditanggung Tuan Muda ini.” Ia menyerahkan kunci nomor kamar pada keduanya, itu nomor yang bersisian.
Keduanya mengambil kunci kamar, berbalik pada Gou Long, mengepalkan tangan di depan dada, “Terima kasih banyak!” ucap keduanya serentak.
Gou Long hanya mengangguk ringan, dan menatap keduanya berlalu melesat ke kapal tersebut.
__ADS_1
“Berapa biaya perjalanan untuk tiga orang paman?” tanya Gou Long.
“Satu orang delapan keping emas tuan muda, dan untuk tiga orang, itu semua berjumlah dua puluh empat keping emas,” jawab petugas itu.
Tersenyum, Gou Long mengeluarkan kepingan emas seperti yang diminta petugas tersebut, “Iya! Harga ini memang sangat mahal,” Gumamnya.
Seraya menyerahkan kunci nomor kamar Gou Long, Sang Petugas berkata, “Hal ini menjadi sangat wajar Tuan Muda, lihatlah kapal ini besar dan mewah, biaya pelayanan di dalam juga kelas satu, kemudian resiko yang kami terima sudah tentu tidak kecil, secara tidak langsung kami juga harus menyewa beberapa seniman bela diri sebagai pelindung kapal…”
Dia mendekatkan mulutnya ke telinga Gou Long, “Walaupun begitu, tuan muda tidak perlu khawatir, Kapten serta Wakil Kapten kapal ini adalah orang-orang hebat dengan tingkat kultivasi Puncak Ranah Surgawi.” Petugas itu berbisik lirih, dengan mata berbinar penuh kekaguman. Berharap suatu saat juga bisa menjadi seniman beladiri Puncak Ranah Surgawi.
Gou Long mengangguk kecil, ia juga melesat naik ke kapal, jika percakapan itu terus berlanjut, orang-orang yang mengantre di belakangnya juga akan marah-marah karena percakapan yang tidak penting antara ia dengan petugas tadi.
Di atas kapal ia tidak peduli dengan keramaian, Gou Long mencari pelayan kapal, dan minta diantarkan ke nomor kamar miliknya, nomor kamar delapan puluh sembilan. Pelayan yang ramah mengantar Gou Long.
Sebelum pelayan itu pergi, si Pemuda bertanya, “Nona pelayan sebentar! Perjalanan ke Kota Es Spiritual akan memakan waktu berapa lama kah?”
Tersenyum simpul dan ramah, pelayan itu menjawab, “Itu tidak lama Tuan Muda, andai tidak terjadi gangguan selama perjalanan itu hanya akan menghabiskan waktu dua hari perjalanan, namun jika, perompak menghadang itu bisa menjadi tiga hari perjalanan.”
“Satu hal lagi Nona, semua kebutuhanku Nona saja yang melayani dan mengantarnya ke kamar ini, aku tidak akan keluar dan tidak mau ada yang mengganggu,” pesan Gou Long, ia menyerahkan sekeping emas pada pelayan tersebut, “Ini hadiah untuk pelayan Nona padaku.”
Sendirian di kamar itu, Gou Long memperhatikan ruang itu sejenak, ranjang tidur yang ditutupi dengan tirai, di depannya ada ruang besar yang ditengah-tengah tersedia tiga kursi yang mengelilingi meja.
Gou Long berjalan perlahan, ia duduk di salah satu kursi, “Hauri!” lirihnya.
“Sstt!” siluet bayangan gadis peri cantik muncul di ruang itu.
“...” tanpa berkata-kata, begitu ia muncul, si Gadis langsung melesat cepat dan mengetuk kepala Gou Long keras, “Tuk!”
“Aww! Kenapa kau mengetuk kepalaku?” teriak Gou Long, kepalanya sedikit berdenyut pasca ketukan itu.
“Tuk!” lagi-lagi Hauri mengetuk keras kepalanya.
__ADS_1
Eira juga keluar dari cincin budak, melihat adegan itu ia terkikik, “Hi hi hi… Bagus Cici! Ketuk terus sampai benjol-benjol.” Eira menyemangati Hauri.
“Sudahlah! Terserah kalian berdua saja.” Lemas Gou Long berkata, dia tidak menuntut penjelasan lagi pada Hauri. Si Gadis peri juga menghentikan aktivitasnya.
“Bagus sekali pekerjaanmu kali ini,” Hauri mengacungkan tiga jarinya, “Tiga tahun kau tidak pernah memanggilku, ini sama seperti kau mengurungku lagi di dalam Peti selama tiga tahun.” Ia mengomel, kesal karena tidak melihat dunia selama itu.
Eira terkikik geli, mengejek Gou Long yang dipermainkan nasib. Ia tahu itu tidak dapat menyalahkan Gou Long yang tidak memanggil Hauri selama tiga tahun ini, toh anak muda itu sendiri juga terjebak di ruang hampa serta tidak bisa keluar dari sana.
Namun, si Rubah itu juga tidak berusaha menjelaskan kondisi tersebut pada Cici Hauri, ia menikmati kesengsaraan yang diterima Gou Long dari ketukan dan omelan si Gadis Peri.
Puas mengetuk kepala Gou Long, Hauri berjalan memilih salah satu kursi dan duduk berhadapan dengan Gou Long.
Perlahan-lahan senyuman muncul dari wajah Hauri, lalu itu berubah menjadi ledakan tawa keras. Benjolan besar dan merah tercetak di kepala Gou Long itu berjumlah lima benjolan, sepuluh ketukan keras tidak kurang diterima Gou Long tadi.
Ekspresi Hauri tidak terlihat menyesal, “Maaf! Tadi aku kehilangan kontrol, aku terlalu kesal padamu,” ujarnya, hanya sekedar basa-basi, itu bukanlah permintaan maaf yang tulus.
Baik Gou Long dan Eira memahami sikap yang yang ditunjukkan Hauri.
“Sudahlah, sejak awal aku juga telah memahami konsekuensi dari berhubungan dengan makhluk macam kalian berdua, tidak ada sifat manusiawi sama sekali,” Gou Long juga balas mengejek.
“He he he…” Hauri terkekeh geli.
“Kau hanya melihat sisi jeleknya saja, jika harus jujur, bukankah segala kepandaianmu dan keberuntungan kamu saat ini juga karena terus berhubungan dengan kami?” Hauri balas mengejek.
Gou Long tidak dapat membantah, andai ia tidak terikat dengan Hauri, mungkin saja ia hanya seniman bela diri kelas biasa, namun sangat ahli di bidang Alkemis.
“...” tidak membantah sama sekali, Gou Long mengalihkan percakapan, “Hemm! Bagaimana keadaanmu selama tiga tahun ini?” tanya Gou Long, coba mencairkan suasana yang sedikit memanas.
Menunjukkan sikap mengalah dan perhatian akan sangat mujur saat bersitegang dengan para gadis, baik itu bangsa manusia, peri atau pun para siluman.
Itu segera terbukti, sikap Hauri Kembali melunak, walau kesal di hati belum sepenuhnya terangkat.
__ADS_1
“Bukankah kau sudah melihatnya sendiri, aku sangat baik.” Ia tetap menjawab dengan nada ketus yang masih terasa.
“Haaah!” Gou Long menghela nafas panjang, kesabaran tinggi diperlihatkannya, ia menoleh ke arah Eira, “Kenapa kau tidak berusaha memberikan sedikit penjelasan pada Cici-mu?”