Pendekar Pengendara Petir

Pendekar Pengendara Petir
Chapter. 97. Pendeta Sesat Pembawa Petaka


__ADS_3

Beradu pukulan dan tendangan sekian lama, tapi lawan yang dihadapinya tidak terluka oleh pukulan telapak yang tepat mengenai ulu hati, mau tidak mau perasaan heran muncul di hati si Botak.


“Bocah ini sangat aneh, kultivasinya jelas di Ranah Langit tahap menengah. Entah kenapa aku tidak bisa menghajarnya sampai mampus pada pukulan tadi, bahkan sampai saat ini belum tampak tanda-tanda kelelahan darinya. Ini aneh apa mungkin bisa terjadi Ranah Surgawi sepertiku tidak bisa memberi pukulan mematikan bagi dia!”


Gou Long sendiri yang telah melihat jurus-jurus yang dimainkan si Botak itu lantas berkata, “Hai Botak! Buka saja topengmu itu, aku sudah bisa menebak siapa kamu sebenarnya... Ha ha ha! kau pastilah legenda kaum hitam yang berjuluk Pendeta Sesat Pembawa Petaka!”


“Tidak heran Ordo Setan Hitam berani mengacau di daerah selatan ini, dedengkot macam kau termasuk petingginya!”


Senyum melebar dari wajah Pendeta Sesat Pembawa Petaka, “Sudah tahu siapa aku, kenapa tidak lekas meminta ampun? Walau nyawamu tak bisa diselamatkan, tapi akan kuberikan kau kematian cepat... Ha ha ha!” ujar Pendeta Sesat dengan sombong.


“Hemm, Ini belum tentu... Mungkin kamu yang akan mati duluan, terima dulu beberapa jurusku!” teriak Gou Long. Dia tidak memberi peringatan, dengan cepat bergerak dalam langkah Walet Menunggang Angin dan kedua tangan memainkan jurus-jurus 13 Pukulan Penghancur Tulang.


Gerakan Gou Long cepat serta membawa kesiur angin yang mengibar-ngibarkan lengan bajunya. Mendapat serangan dadakan Pendeta Sesat kembali memainkan jurus-jurus telapaknya, gerakan mereka berdua cepat dan sangat akurat, mata orang biasa pasti tidak akan bisa mengikuti gerakan mereka.


Kekuatan yang diperlihatkan Pendeta Sesat sangat kokoh, namun bagi Gou Long yang sudah pernah bertarung dengan Penatua Mu Yuan, dia tidak merasa kesusahan dalam menghadapi si Pendeta Sesat ini.


Teringat pada teman-teman perjalanan yang sudah berangkat di depan, Gou Long segera mempercepat intensitas pertarungan, baik tenaga dalam dan kecepatan tidak ditahannya sama sekali, tenaga dalam yang digunakan Gou Long hampir 90 persen dari tenaga dalam yang dia miliki.


Namun begitu, pertahanan yang diperlihatkan si Pendeta Sesat sangat rapat, jurus telapak yang dia mainkan semakin lama terasa semakin hebat saja, saat ini tidak hanya puluhan bayangan telapak yang terlihat memenuhi udara, bahkan seperti ratusan bayangan telapak yang menekan dengan tenaga dalam sempurna bermain-main di udara.

__ADS_1


Pendeta Sesat ini benar-benar seorang ahli dalam hal ilmu silat tangan kosong, diantara ratusan bayangan telapaknya, kadang terlihat bayangan Gou Long yang berkedip tiada henti terus balas menyerang.


Pertarungan ini terlihat seperti Pendeta Sesat yang akan memperoleh kemenangan. Namun, andai yang melihatnya para kultivator Ranah Surgawi, mereka akan tahu bahwa ratusan bayang telapak dari pendeta sesat hanya bentuk pertahanan saja.


Pilihan jurus 13 Pukulan Penghancur Tulang yang dipilih Gou Long ketika menyerang tadi sangat tepat. Jurus ini memang jurus unik yang sangat ampuh untuk berhadapan dengan lawan-lawan yang menggunakan teknik pertahanan tingkat tinggi ataupun yang menyembunyikan pertahanannya yang lemah dengan ratusan jurus serangan telapak seperti yang sedang dimainkan Pendeta Sesat ini.


Pada satu kesempatan, Gou Long mengubah bentuk tonjokan dengan telapak yang terbuka serta menyambut telapak lawanya dengan telapak juga.


“Bagaimana kalau kita adu tenaga dalam saja...” ujar Gou Long ketika telapak mereka saling bertemu, raut wajahnya terlihat dingin. Gou Long sendiri langsung mengempos tenaga dalam pada kedua telapaknya.


“Baru Ranah Langit tahap menengah ingin mengadu tenaga dalam dengan Ranah Surgawi, bukankah ini cari jalan kematian lebih cepat!” ejek Pendeta Sesat. Dia sangat yakin dengan fondasi tenaga dalam yang lebih dalam dan luas dibandingkan Gou Long.


Hal ini tidak terlepas dari prinsip-prinsip kehidupan para pendeta yang welas asih. Begitu juga halnya dengan Pendeta Sesat Pembawa Bencana, sejak dulu dia lebih terfokus pada fondasi tenaga dalam yang luas dan dalam. Dari sinilah muncul keyakinan tinggi pada dirinya.


Namun, yang mengadu tenaga dalam dengannya adalah Gou Long, dialah satu-satunya pesilat masa itu yang telah berhasil membuka tiga dantian utama serta menstabilkannya. Dan jangan dilupakan! Orang ini juga yang telah menyerap Roh Iblis Salju sehingga bisa menggabungkan dua unsur tenaga dalam yang berbeda dalam tubuhnya.


Telapak yang saling beradu memulai dorong-dorong tenaga dalam antar keduanya, adu tenaga dalam dan saling dorong mendorong ini telah berlangsung setengah jam lamanya, tanah di bawah kaki masing-masing telah melesak sampai ke mata kaki. Mereka terlihat berimbang, keringat sama-sama menetes dari dahi keduanya.


Pendeta Sesat sangat yakin sebentar lagi daya tahan tenaga dalam Gou Long akan berkurang banyak, dan kemenangan sudah pasti diperolehnya. Tapi dia kecele, ketika dia melihat raut senyuman iblis di wajah Gou Long.

__ADS_1


Dalam penglihatan Pendeta Sesat sosok Gou Long tiba-tiba berubah, aura yang dikeluarkan lawannya terasa sangat agung seperti pembawaan orang tua yang telah hidup ratusan tahun. Rambut Gou Long juga sudah berubah memutih seperti perak, dengan hawa dingin yang menyesakkan nafas terasa sangat kental di situ.


Perubahan sosok Gou Long juga membawa perubahan pada pertarungan adu tenaga dalam itu. Tekanan hawa murni yang besar seketika menekan pendeta sesat dengan sangat dahsyat, Pendeta Sesat Pembawa Petaka dapat merasakan tekanan ini sangat aneh, kadang sangat panas dan kadang kala sangat dingin.


Memang yang dirasakan Pendeta itu adalah akal-akalan Gou Long, dia dengan sengaja bertranformasi roh sehingga meningkatkan kualitas tenaga dalamnya. Gou Long juga dengan sengaja mengganti-ganti dasar hawa murni yang dikeluarkannya, sehingga membingungkan lawannya.


Taktik ini segera berhasil, Pendeta Sesat kalah telak dalam adu tenaga ini, arus hawa murni yang besar membalik menyerangnya, tubuhnya terlempar jauh seperti layang-layang putus terus berhenti ketika menabrak sebatang pohon besar.


Tubuhnya terlihat kembang-kempis menunggu ajal yang akan menjemput, organ dalam hancur meridian dan dantiannya pecah, karena hawa murni yang membludak menyerang secara mendadak.


“Kau boleh mengucapkan kata-kata terakhir sebelum kematian.” Ujar Gou Long. Di tangan Gou Long terlihat pedang pendek dari pemadatan hawa murni elemen petir terus yang bercicit.


Setelah berusaha keras dengan nafas yang terputus-putus Pendeta Sesat berkata, “Di da-dalam cin-cin penyim-pananku... Ada token.. Kuil Budha Emas dari Daratan Tengah... Tolong sampaikan kematian dan permintaan maafku pada guru yang mulia..” penyesalan terlihat dari wajahnya yang menanti ajal.


Begitulah manusia, hidup berbuat sesuka hati saat mau mati baru muncul penyesalan di hati.


Sambil menganggukkan kepala Gou Long berkata, “Baik! Akan kupenuhi permintaan terakhirmu..” pedang dari pemadatan energi ditusukkan Gou Long tepat di jantung Pendeta Sesat.


Setelah mengambil cincin penyimpanan dan mengubur mayat Pendeta Sesat, Gou Long segera melesat mengejar rombongan kawan-kawannya.

__ADS_1


Gou Long yang menggunakan Teknik Terbang, tidak butuh waktu lama agar bisa mengejar, dari kejauhan dia sudah melihat 9 orang yang membayangi rombongan para Alkemis, masih dalam Mode Transformasi Roh dan dengan pedang pendeknya, Gou Long bergerak cepat serta berkedip-kedip membunuh kesembilan orang itu dengan mudah. Dia tidak lupa mengembat cincin penyimpanan mereka lalu membiarkan mayat mereka tergeletak begitu saja.


__ADS_2