
Sore hari menjelang malam, di warung arak Kota Bingchuan, dua orang tamu lelaki terlihat duduk menyepi di pojok kanan dekat dengan pintu keluar.
Dari posisi mereka, orang-orang yang berlalu lalang di jalanan dan orang yang keluar-masuk warung arak sangat mudah terlihat, kedua orang yang duduk di sana, walau terlihat tenang namun mereka berdua selalu mengedarkan kesadaran spiritual ke jalan dan sekitar warung arak tersebut.
Kedua orang yang menyepi ini terlihat mencolok, pasalnya, masing-masing mereka memiliki keunikan tersendiri, yang terlihat lebih tua ialah seorang laki-laki paruh baya, dengan warna kulit putih dan bening seperti giok salju.
Warna kulit putih seperti itu sangat mudah untuk mendatangkan daya tarik tersendiri bagi perempuan, walaupun usia lelaki itu telah beranjak paruh baya.
Sementara yang lainnya, yaitu seorang pemuda terlihat sangat tampan, dia masih sangat muda usianya hanya baru dua puluh satu tahun. Walau kedua orang ini terlihat mencolok dan menarik, tetap saja tidak ada seorang perempuan penghibur pun dari warung arak itu yang berani mengganggu mereka.
Keduanya telah duduk di warung itu sejak siang tadi, seperti sedang menunggu sesuatu, tapi entah apa itu. Percakapan yang terjadi antara keduanya pun sangat lirih, sehingga orang-orang tidak ada yang bisa mendengar.
Namun demikian tidak ada orang yang peduli dengan sikap keduanya, merupakan hal yang biasa bagi orang-orang daerah Utara duduk berlama-lama di warung arak, menikmati setiap tegukan yang menghangatkan tubuh dari Arak Anggur Lidah Api Utara.
“Tidak ada yang menyangka baik kita yang di sini atau orang-orang di Daratan Tengah sana, gadis itu bahkan memiliki Tubuh Yin Abadi, mata Patriark Klan Qiau sangat tajam, ia bahkan telah melihat tubuh tersebut ada pada putrinya sejak gadis itu masih berusia belasan tahun,” ujar si Pemuda. Ini entah pembahasan topik yang keberapa, mereka bicarakan dari sekian lama dan banyak topik pembicaraan keduanya.
“Iya…” Jawab si lelaki paruh baya, “Aku yang merupakan penduduk Utara dan terbiasa dengan berbagai jenis keunikan dari kultivasi es pernah kulihat, tapi aku juga tidak dapat melihat tubuh gadis itu memiliki intuisi khusus seperti tersebut.”
__ADS_1
Lelaki paruh baya itu menghela nafasnya, kemudian ia berandai-andai, “Sangat disayangkan, Sekte Lembah Es Utara tidak memiliki satu gadis pun dengan Intuisi khusus seperti itu, kalau ada, akan kujadikan ia sebagai murid penerus langsung dariku.”
Si lelaki muda tersenyum, “Patriark Pan jangan bersusah hati! Kelak akan muncul keberuntungan seperti itu di Sekte Lembah Es Utara. Bahkan mungkin saja sudah ada, hanya saja belum terlihat, karena ia belum mencapai Ranah Surgawi.”
“Benar! Benar!” Lelaki paruh baya yang disapa dengan Patriark Pan kembali ceria, “Karena Pendekar Gou menyinggung tentang pencapaian Ranah Surgawi, aku juga ingin minta pada Pendekar Gou agar bersedia meracik Pil Kondesat Ranah Surgawi sebagai bantuan kecil untuk Patriark ini, dalam hal bahan-bahannya, kami bersedia menyediakan.”
“Kenapa Patriark Pan minta Junior yang meraciknya?” tanya pemuda yang tidak lain Gou Long adanya.
“Mataku, walau hampir memasuki usia tua namun tidak buta, aku telah melihat Pendekar Gou menyerahkan Pil tersebut pada gadis bermarga Qiau itu, agar ia bisa menerobos Ranah Surgawi, dan karena ia berhasil menembusnya, Tubuh Yin Abadi dalam diri gadis tersebut terbangkit. Aih! Pedang Teratai Salju dan Tubun Yin Abadi, sungguh perpaduan yang sempurna, hanya bikin iri saja…”
Patriark Pan menghela nafas, “Pil tersebut terlihat baru berusia tiga tahun, dan menurut penjelasanmu sebelumnya, kau terjebak di ruang hampa selama itu. Lalu yang paling penting, bau badan dan jari-jarimu Pendekar Gou, itu berbau herbal. Penciuman hidung paruh baya ini tidak akan berbohong…”
“Baiklah! Hal itu mudah, setelah operasi ini Junior bersedia kembali ke Sekte Lembah Es Utara sementara waktu, dan meracik Pil tersebut sebagai balas budi atas bantuan Patriark Pan kali ini,” ujar Gou Long, pemuda itu juga ikut menghela nafas panjang.
“Aih! Tak disangka, hanya karena alasan agar gadis dan orang-orang Klan Qiau tidak ikut dalam operasi ini, aku terpaksa mengorbankan salah satu dari koleksi Pil Kondesat milikku, sekarang ini malah berbuntut panjang dan harus menetap lebih lama di daerah Utara.” Gou Long bergumam.
Patriark Pan meneguk araknya, ia menyembunyikan senyum kecil karena keluh kesah Gou Long tadi, “Pendekar Gou! Ketika sudah berniat membantu harus tulus, tidak perlu berkeluh kesah lagi.” Patriark Pan menasihati Gou Long.
__ADS_1
“Emm!” Gou Long mengangguk kecil, “Patriark Pan! Hari semakin beranjak, ini bahkan hampir gelap, apa orang suruhan Patriark Pan tidak akan datang?” Pemuda tersebut bertanya, mengganti topik pembicaraan, sekian lama menunggu, ia kembali fokus pada tujuan kedatangan mereka di Kota Bingchuan.
“Tenanglah! Orang itu memang terkenal dengan julukan suka terlambat, tapi ia bukan orang yang tidak menepati janjinya,” jawab Patriark Pan tenang, ia terus meneguk arak, dan mengecap lidah, “Arak bagus!” pujinya.
Sehari yang lalu Patriark Pan mengirim merpati pos pada kenalannya tersebut serta minta bertemu di Warung Arak Anggur Lidah Api Kota Bingchuan, dan orang tersebut menyetujuinya melalui balasan surat dengan cara yang sama.
Gou Long menjadi lebih sabar menunggu, setelah mendapat penjelasan seperti itu dari Patriark Pan, ia juga ikut kembali menikmati araknya.
Memang kedua orang ini hadir di Kota Bingchuan karena Gou Long ingin menyelesaikan masalah dari Klan Qiau secara tuntas, dia berniat mencari pahala agar mempermudah minta bantuan buka kunci portal ke alam peri, Patriark Qiau juga salah satu pemilik Pedang Kunci Portal.
Dan saat ini, Gou Long serta Patriark Pan sedang menunggu orang ketiga, salah satu kenalan Patriark Pan, seorang ahli membaca peta serta tahu setiap pelosok daerah Utara.
Demi keberhasilan rencana itu, Gou Long benar-benar membutuhkan si pembaca peta ini. Patriark Pan benarlah penduduk asli Utara, namun ia sendiri tidak terlalu pandai membaca peta, daerah Utara sangat berbeda dengan Daratan Tengah, yang menjadi permasalahan daerah Utara adalah banyaknya Pulau-pulau dan perairan, salah membaca peta, mereka bisa tersesat ke pulau yang lain.
Melihat Gou hanya berdiam saja, “Tidak perlu tergesa-gesa!” ujar Patriark Pan, kembali ia melanjutkan, “Lagipula orang yang ingin kau lindungi juga sekarang sangat terjamin keamanannya, mereka tidak akan terlacak oleh Sekte Racun Utara.”
“...” Gou Long mengangguk ringan, seperti orang yang telah hanyut dalam kehangatan arak, ia bahkan mengetuk-ketuk jari di meja batu itu.
__ADS_1
Senyum Patriark Pan mengembang, dari kejauhan ia telah melihat siluet orang mendatangi ke arah mereka. Dia sangat kenal cara berpakaian kenalannya itu.
“Pendekar Gou! Orang yang kita tunggu sudah tiba.” Ia menunjuk ke arah orang yang sedang melesat sebat ke arah mereka.