
Tiba di Sekte Teratai Biru, para Junior perguruan Ding Jia Li segera mengenalinya, beberapa orang Junior perguruan yang ikut dengan Guru mereka, saat penobatan Gou Long sebagai Penatua Luar Asosiasi Alkemis, juga mengenal Gou Long.
Begitu Ding Jia Li dan Gou Long turun dari kuda, serta menyerahkan kedua kuda itu dalam perawatan tukang kuda sekte, junior-junior tersebut, datang menghadap dan menyapa Ding Jia Li, ia begitu dihormati oleh junior-juniornya.
Padahal mereka baru saja memasuki gerbang Sekte, halaman depan ini adalah arena berlatih para murid Sekte Teratai Biru.
“Salam Suci! Salam Penatua Gou!” ujar beberapa orang Junior Perguruan Ding Jia Li serempak, seraya mengepalkan tangan di dada.
“Eum!” Ding Jia Li menganggukkan kepala ringan, “Lanjutkan latihan kalian, Suci akan menghadap Ibu Guru/Subo!” perintah Ding Jia Li, lembut.
Walaupun tidak semua dari mereka mengenal Gou Long, namun berdasarkan percakapan rekan-rekan yang lain sebelumnya, sehingga mereka tahu, pemuda yang datang dengan Suci mereka itulah Penatua Gou dari Asosiasi Alkemis.
“Suci Ding Jia Li telah kembali! Dia kembali bersama Penatua Gou.”
“Iya! Kau pergi laporkan pada Suci Na Hong-Hong dan Suci Bwee Siang!”
Beberapa orang Junior lain dari Ding Jia Li berbisik, pergi memberi kabar kepulangan Suci Ding Jia Li pada Ibu Guru/Subo dan kedua Suci Bwee Siang serta Na Hong-Hong.
Na Hong-Hong dan Bwee Siang yang tidak berhadir saat penobatan Gou Long, sampai saat ini belum mengenal Gou Long, yang mereka tahu Ding Jia Li, menghilang saat acara penobatan tersebut, berdasarkan cerita dari mulut para Junior yang ikut bersama Suci Ding Jia Li dan Subo Li Lan Sian.
Mereka telah berpesan pada para Junior, andai Ding Jia Li terlihat di Sekte, agar segera memberi kabar pada mereka berdua dan Ibu Guru/Subo tentunya.
__ADS_1
Mendapatkan kabar kepulangan Ding Jia Li, Na Hong-Hong dan Bwee Siang bergegas mendatangi, namun, saat melihat Gou Long di sana, keduanya mengenal, itu adalah pemuda yang berebut harta peninggalan di Makam Panglima Peri dengan mereka.
Keduanya tanpa aba-aba, mengeluarkan pedang, melesat cepat ke arah Gou Long dengan serangan-serangan ganas.
Ding Jia Li menjauh dari sisi Gou Long, dia tahu apa yang dipikirkan kedua Juniornya itu, drama yang dia mainkan dengan Gou Long, serta ancaman Gou Long saat di Makam Panglima Peri masih terbayang di benak Ding Jia Li. Tersenyum simpul, ia menonton saja pertarungan yang tiba-tiba terjadi antara Gou Long dan kedua Juniornya.
“...” Tidak sempat berkata-kata, Gou Long sempat melihat senyum simpul Ding Jia Li, menganggap ini sebentuk pibu/latih tanding. Dia meladeni setiap serangan pedang yang dilancarkan kedua gadis tersebut.
Bwee Siang dan Na Hong-Hong yakin, pemuda ini menyandera dan menotok urat besar Saudari perguruan mereka, sehingga Ding Jia Li tidak bisa bertarung, perkataan pemuda itu akan memburu barang yang dia inginkan, benar-benar telah dibuktikannya, dengan mengejar sampai ke Sekte Teratai Biru.
Gou Long terus menyambuti setiap serangan ganas dari kedua gadis itu, dia juga telah membentuk pedang es pendek dari pemadatan tenaga dalam. Pertarungan itu seru dan sengit.
Gou Long hanya menghalau semua serangan kedua gadis tersebut, tidak membalas sama sekali. Sekian lama tidak bisa mengalahkan Gou Long, Na Hong-Hong berteriak pada junior lain, “Apa yang kalian lihat? Kenapa tidak membantu?”
“...” Ding Jia Li hanya menggelengkan kepala ringan, baru kemudian berkata, “Kalian akan terluka jika terjun ke gelanggang pertempuran, lebih baik perhatikan saja, kalian akan memperoleh pemahaman Ilmu Pedang yang lebih baik dengan hanya menonton saja...”
Sang Ibu Guru juga sudah mendatangi, melihat Ding Jia Li tersenyum menikmati pertarungan, juga Gou Long yang tidak membalas serangan, padahal matanya yang tajam dapat menangkap setiap kekurangan dari serangan-serangan Bwee Siang dan Na Hong-Hong.
Li Lan Sian tahu, Gou Long menganggap ini sebentuk pibu, dan tentu saja memberi banyak keringanan pada kepada kedua gadis tersebut. Pada akhirnya Li Lan Sian berdiri di sisi Ding Jia Li, juga menikmati pertarungan itu.
Selama sepuluh menit itu mereka telah bertarung lebih dari lima puluh gerakan, rasa heran muncul dalam pikiran kedua gadis itu, “Aneh! Bukankah Ilmu Bela Diri yang ia tunjukan saat di Tanah Suci Para Pendekar sangat hebat? Sekarang ia bahkan tidak menyerang, dan hanya bertahan saja, lagi pula nafasnya juga tidak terlihat memburu...”
__ADS_1
Terus bertarung, pikiran lain juga muncul di benak Na Hong-Hong, “Menurut kabar para Junior, Ding Jia Li kembali bersama Penatua Gou, lantas di mana beliau? Apa mungkin pemuda ini yang menjadi Penatua Gou?”
Pola pikir yang tidak jauh berbeda juga muncul dalam benak Bwee Siang, Sekilas ia melihat Subo Li Lan Sian berdiri di sisi Ding Jia Li, menikmati pertarungan mereka, Bwee Siang segera menyadari adanya kesalahpahaman.
“Tahan Serangan! Hong-Hong, mari kita mundur! Ini mungkin kesalahpahaman.” Teriaknya memperingatkan Na Hong-Hong.
Na Hong-Hong dan Bwee Siang sudah cukup menyadari adanya kekeliruan, serentak keluar dari pertarungan, Gou Long juga telah menghilangkan kembali pedang dari pemadatan tenaga dalam.
Ia berjalan menghampiri Li Lan Sian, mengepalkan tangan di depan dada, “Selamat bertemu kembali Matriak Li.” Sapa Gou Long.
Li Lan Sian melakukan hal yang sama, “Selamat bertemu kembali Penatua Gou! Maafkan kelakuan ketiga muridku ini, mereka bertiga terlalu banyak merepotkan Penatua Gou!” tidak membeda-bedakan, maksud Li Lan Sian jelas, baik itu Ding Jia Li, ataupun Bwee Siang dan Na Hong-Hong yang asal menyerang tadi.
Ketiga gadis itu mendapatkan sindiran halus dari Subo mereka, tidak dapat menutupi rasa jengah, malu di depan Junior mereka yang lain, padahal ketiganya adalah panutan bagi para Junior Perguruan.
“Terima kasih juga kuucapkan pada Penatua Gou, yang sudi mengajarkan murid-muridku ini beberapa Ilmu Pilihan!” Li Lan Sian tersenyum, dia mengirimkan pesan suara pada Gou Long, “Terlebih lagi untuk muridku Ding Jia Li, Penatua Gou bahkan mengajar Ilmu paling bermanfaat dalam menyelesaikan masalah, ‘Ilmu berbohong.’ He he he...”
Li Lan Sian tersenyum, bibirnya terlihat mengejek pada Gou Long, namun tidak tampak sorot mata kemarahan dari pupil matanya.
“...” Sesaat Gou Long tidak bisa berkata apa-apa, dia heran! “Apa maksud dari Matriak Li berkata seperti itu? Apakah ini berhubungan dengan Pil yang aku berikan pada Ding Jia Li saat di Tanah Suci Para Pendekar!” batin Gou Long.
Menepis pikiran yang tidak menentu, “Itu merupakan hal yang biasa, generasi muda sering bertindak tanpa pikir panjang, karena kurangnya pengalaman, termasuk Junior ini sendiri, juga sering bertindak tanpa pikir panjang.” Ucap Gou Long menyahuti ucapan terima kasih dari Matriak Li.
__ADS_1
Ucapan itu juga sedikit meringankan rasa malu yang diterima oleh Ding Jia Li, Bwee Siang dan Na Hong-Hong.
Terkhusus kedua gadis terakhir mereka baru sekarang menyadari, Penatua Gou adalah pemuda itu, keduanya menatap Ding Jia Li, menuntut penjelasan dari gadis itu.