
“Apa Saudara Gou yakin?” tanya Gak In Liang khawatir, dia sendiri tidak yakin bisa mengalahkan Bok Wan Tek.
Namun kekhawatiran itu segera ditepisnya, setelah melihat pembawaan Gou Long yang seperti itu, terlebih lagi sorot mata, dan gerak tubuh dari Gou Long terlihat sangat percaya diri.
“Ha ha ha! Jangan khawatir, orang ini berani berbicara omong kosong pada wanitaku, lagi pula aku juga ingin mencoba kekuatan dari orang yang dikatakan akan bisa mencapai Ranah Surgawi pada usia muda.” Jawab Gou Long, seraya terus menatap tajam pada Bok Wan Tek.
“Bagus! Sifat ini sangat kusukai, berani bersaing denganku, dan berani menyukai wanita yang disukai oleh orang bermarga Bok ini, kau pantas jadi lawanku. Bocah aneh! Kau boleh langsung menyerang!” tantang Bok Wan Tek.
Andai Bok Wan Tek sadar diri, dan dapat melihat orang yang dia tantang adalah seniman bela diri yang bisa membunuh orang dengan tersenyum. Dia sungguh akan menyesali tantangan tersebut.
“Kalian mundurlah sebentar!” perintah Gou Long pada Hua Mei dan Murong Qiu dengan lembut, dia juga segera melepaskan sebuah pukulan telapak pada Bok Wan Tek, ingin mencoba landasan tenaga dalam lawannya.
“Whossshh!”
“Booooomm!”
Getaran dan ledakan hebat terjadi akibat pukulan yang dilepaskan Gou Long, dan ditepis dengan pukulan yang sama oleh Bok Wan Tek.
Begitu perkelahian pecah antara Bok Wan Tek dan Gou Long, yang lain juga ikut bertarung.
Itu adalah Sen Sin-Hiong yang tidak memberi aba-aba lagi pada Gak In Liang, dia langsung bergerak dengan pedang di tangan menyerang. Tidak berani menyerang dengan jurus pukulan atau hanya dengan kepalan tangan, Sen Sin-Hiong sadar sepenuhnya yang akan dia lawan adalah murid pertama dari Kui Ong Cinjin.
“Buat apa mengkhawatirkan orang lain, dirimu sendiri yang harus kau khawatirkan.” Teriak Sen Sin-Hiong.
Hawa pedang dengan ganas menyertai teriakannya, yang kemudian disambut dengan hawa pedang yang keluar dari pedang Gak In Liang, tidak terlihat kapan pemuda itu mengeluarkan pedang.
Namun gerakan tangkisan dan hawa pedang yang muncul dari pedangnya terasa panas dan menyengat, seakan dapat melelehkan logam keras sekalipun.
“Refleks dan gerakan yang sangat bagus!” Puji Sen Sin-Hiong yang melihat gerakan tangkisan Gak In Liang.
“Huh! Kau bukan murid Sekte Pedang, tidak pantas bagimu menilai permainan pedangku!” balas Gak In Liang sengit, dia juga melanjutkan dengan gerakan balas menyerang.
__ADS_1
Permainan pedangnya cepat dengan deru angin yang mengaum bagai teriakan Naga dan juga meningkatkan suhu udara yang terasa sangat panas. Permainan pedang ini semakin sempurna setelah dipadukan dengan gerakan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi.
Gerakan serangan tebasan menyilang ke arah leher, tusukan ke jantung, bawah ketiak dan rongga-rongga sendi otot. Setiap serangan pedangnya, yang dituju adalah sudut-sudut sempit dari tubuh lawan, dengan gerakan cepat dan akurat.
Sen Sin-Hiong, walaupun bukan murid Sekte Pedang, namun ia juga pengguna ilmu pedang yang digabungkan dengan jurus-jurus pukulan telapak.
Sebentar saja, pertarungan mereka berdua menjadi sangat seru, itu karena Sen Sin-Hiong tidak bisa melepaskan pukulan telapak, setiap kali dia berniat melepaskan pukulan telapak, ujung pedang Gak In Liang, tiba-tiba muncul dengan gerak tusukan ke tengah telapak tangannya.
Sen Sin-Hiong, pada akhirnya hanya bisa berfokus pada permainan pedangnya sendiri. Adu mata pedang sudah berkali-kali terdengar dari pertarungan mereka berdua.
Setiap kali mereka berdua tersurut mundur, masing-masing saling melihat mata pedang, takut gompal.
Sementara di sisi lain, Gou Long yang bertarung dengan Bok Wan Tek, terlihat jelas keunggulan nyata dari sisi Gou Long. Itu karena tenaga dalam Gou Long menang berkali-kali lipat dari pada Bok Wan Tek.
Orang ini walau dikatakan sangat berbakat, namun sampai saat ini dia masihlah seorang dengan kultivasi Puncak Ranah Langit. Bagi Gou Long yang sudah terlalu sering bertarung dengan orang-orang Ranah Surgawi, melawannya sama seperti kucing yang mempermainkan tikus.
Gou Long berkali-kali melepaskan pukulan telapak, dengan mengganti-ganti energi yang keluar dari telapaknya, kadang terasa panas dan kadang terasa dingin yang membuat Bok Wan Tek sangat kebingungan. Dan hal yang paling membuat ia kerepotan adalah pukulan telapak yang dipadukan dengan Teknik Memindah Jasad.
Bok Wan Tek menjadi sangat tertekan, dia terus menggeram sepanjang pertarungan. walaupun tertekan, semua pukulan Gou Long sampai saat itu masih bisa dielak atau dibuyarkannya dengan pukulan telapak yang tak kalah hebat.
Namun karena kalah jauh tenaga dalam, setiap kali berhasil membuyarkan pukulan telapak Gou Long, kerugian besar diderita Bok Wan Tek. Wajahnya saat ini terlihat sangat pucat.
Darah dalam dadanya berkali-kali terasa ingin keluar lewat mulut setelah menyambut pukulan telapak dari Gou Long.
“Saudara Bok! Sekarang siapa yang lebih pucat? Ha ha ha.. Apa aku masih pantas bersaing denganmu? Atau sebaliknya, sekarang coba kita balik pertanyaannya... Apa kau pantas bersaingan denganku?” ejek Gou Long. Tangannya tidak berhenti, kembali melepaskan pukulan-pukulan yang sama pada Bok Wan Tek.
Pemuda itu jelas tidak sempat menjawab pertanyaan Gou Long, sekali dia buka mulut, maka pasti darah akan meluncur dari mulutnya, apalagi pukulan-pukulan Gou Long mulai berdatangan lagi.
“Whhooosshh!”
“Booooomm!”
__ADS_1
Itu adalah pukulan keseratus yang dilepaskan Gou Long, dengan nafas yang sudah kembang kempis serta keringat yang membasahi baju, Bok Wan Tek menggigit bibir menyambuti pukulan Gou Long.
Kali ini dia kalah, dan tidak sanggup bertahan lagi, adu pukulan itu membuat ia tersurut satu tombak ke belakang.
Wajah yang sudah pucat kian memucat, setelah terbatuk-batuk, Bok Wan Tek memuntahkan sekepal darah.
“Khuk! Khuk Khuk!”
Gou Long tidak ingin berlama-lama lagi membuang-buang waktu dengan pertarungan seperti ini.
“Nah! Ini terlalu membosankan, sudah saatnya bagimu untuk menghadap Raja Neraka.” Ujar Gou Long, dia tidak menunggu Bok Wan Tek menelan pil penyembuh.
Dengan cepat Gou Long membentuk segel tangan.
“Segel Suci! Domain Petir!”
“Segel Suci! Naga Petir Kirin!”
Tangan Gou Long digerak, Naga Petir dengan cepat melesat ke arah Bok Wan Tek, “Selamat tinggal!” ujar Gou Long sambil menyeringai.
Bok Wan Tek melihat Naga dari energi petir dengan cepat melesat ke arahnya berniat mengelak, namun dia tidak pernah membayangkan Naga itu akan terus mengejarnya.
Dalam keadaan kelelahan dan terluka dalam seperti itu dua kali dia dapat mengelak dari kejaran Naga Petir.
“Whhhoosshh!”
“Gleeegggaaarrr!”
Ledakan guntur keras terdengar ketika Naga Petir dengan telak mengenai badan Bok Wan Tek, dia hangus dan mati seketika itu juga.
Sementara pertarungan yang lain untuk sesaat terhenti karena ledakan petir itu, baik murid-murid Sekte Pedang Suci dan Sekte Phoenix Suci sama ngeri melihat Gou Long yang sedang menyeringai setelah membunuh Bok Wan Tek.
__ADS_1