Pendekar Pengendara Petir

Pendekar Pengendara Petir
Chapter. 353. Para Dewi Yang Baik


__ADS_3

“Ha ha ha! …” Setelah tertawa keras Gou Long melanjutkan cibirannya, “Aku sangat bangga padamu, andai kau tidak diselamatkan oleh orang yang menjadi incaran dari ras baik hati ini dan eksistensi terkuat dari golonganmu, maka kau pasti akan mengeram ribuan tahun lagi dalam dimensi itu.”


Bing Feng terlihat masam, akan tetapi kemudian raut wajahnya kembali datar dan dingin, seperti orang yang tidak peduli pada apapun.


“Sudah, tidak perlu kau menyindir. Apa kau akan keluar?!” tanya Bing Feng.


“Tidak, aku akan kembali mengurung diri selama tiga sampai empat hari. Ini adalah pil Nona Xue dan pedagang jalanan tuan Wan Mabrur. Pil mereka akan segera aku racik, karena permintaan mereka sedikit berbeda, juga jenis pil-nya yang agak tidak sama. Ini harus disegerakan dan tidak boleh ditunda,” jawab Gou Long.


“Baik, silahkan saja! Aku merasa sangat nyaman dengan kehidupan seperti ini tanpa harus melakukan pekerjaan apa pun.” Kali ini, Bing Feng terlihat menyengir kecil saat berkata-kata.


Sebelum benar-benar kembali masuk ke ruang penyulingan Gou Long bertanya, “Apa Huo Twako dan yang lainnya datang berkunjung mencariku ke sini?” Tapi kemudian Gou Long teringat bahwa ia tidak pernah memberitahukan pada mereka ia telah kembali. “Sudah! Lupakan saja, itu benar-benar tidak perlu.” Siluet bayangan Gou Long menghilang ke dalam ruang penyulingan.


***


Kehidupan nyaman, tentram Hua Mei dan Eira sebagai dua Dewi dari Kahyangan di gurun tempat suku primitif tinggal, tidak sepenuhnya nyaman, hal ini karena sumber daya kultivasi yang sedikit terbatas bagi Hua Mei.


Orang-orang itu memang penduduk suku primitif, akan tetapi mereka juga bukan orang-orang bodoh secara totalitas dan tidak bisa berpikir sama sekali.


Ingat! Manusia ini adalah makhluk yang cerdas dan berada pada tingkatan tertinggi dalam urusan predator kehidupan.


Hanya saja pada prosesnya, setiap orang memiliki pola dan timeline yang berbeda-beda. Kadang ada anak yang baru berusia satu digit angka tapi telah bisa berpikir layaknya orang-orang yang berusia dua atau tiga digit angka.


Atau dengan kata lain, pola pikir manusia akan terus berevolusi seiring dengan berbagai hal yang terjadi.

__ADS_1


Hal seperti itu sudah sangat wajar terjadi pada pola pikir suku primitif. Apalagi sebagian dari penduduk suku primitif jelas mengetahui ranah kultivasi Hua Mei dan Eira yang rendah.


Baiknya, setelah dua pekan berlalu, Eira telah merasakan peningkatan ranah yang sangat drastis, bukan saja ia telah menembus ke Ranah Raja Siluman bahkan secara perlahan kristal esensi kedua siluman juga terbentuk dengan sendiri, bahkan itu terus naik seperti kultivasi siluman selama empat ratus tahun.


Dengan kata lain, kristal kedua dari esensi siluman dalam tubuhnya sama dengan ranah kultivasi siluman kelas kedua. Setelah perubahan dan lonjakan tenaga dalam Eira, mereka kembali bisa menipu penduduk suku primitif agar terus percaya bahwa mereka berdua adalah Dewi dari Kahyangan.


Alasan yang sangat masuk akal, apalagi ketika Hua Mei menjelaskan, “Sebagai para Dewi, kami harus menekan tenaga dalam dan ranah kultivasi serendah mungkin. Kalau kami tidak menekan, maka kalian semua akan mati.”


“Tekanan yang dihasilkan oleh kultivasi para Dewi sudah tentu kalian tidak sanggup menahannya.”


Kedua wanita cantik itu sangat pandai bermain peran dan menipu semua penduduk tanah gurun. Satu sisi Hua Mei menjelaskan dengan penjelasan yang masuk akal, di sisi lain, Eira yang memberi contoh.


Dengan peningkatan kultivasi ke Ranah Raja Siluman serta memiliki kristal esensi cadangan siluman kelas kedua, bukan hal yang sulit bagi Eira menekan, menaikkan dan mengurangi tingkat ranah kultivasi.


Walau pada satu sisi, kebaikan secara perlahan mulai muncul di kedua belah kubu. Kedamaian dan saling rela terus berbagi oasis yang terdapat di sana membuat kehidupan terus damai.


Hua Mei dan Eira akhirnya harus berdamai dengan keadaan, ini adalah Hua Mei yang bernegosiasi. Setelah menimbang ribuan kali serta landasan kultivasi Eira yang telah meningkat pesat, mereka setidaknya telah memiliki pegangan untuk menekan dua orang kepala suku.


Itu terjadi tepat sepekan setelah Eira mengetahui ranah kultivasi-nya meningkat. Hua Mei dan Eira memanggil kedua kepala suku dan ke rumah mereka yang telah disediakan oleh suku-suku tersebut.


Ini adalah pertemuan yang dilakukan hanya dengan empat orang saja ….


Hua Mei bahkan  meminta Eira untuk melakukan antisipasi sejak awal, dengan memasang tekanan Raja Siluman sebagai pembatas dari dalam.

__ADS_1


Setelah terlebih dahulu tersenyum lebar, Hua Mei meminta pada kedua kepala suku untuk tidak melakukan penghormatan secara berlebihan. Bahkan Hua Mei meminta mereka duduk bersila, dan tidak perlu melakukan sembah simpuh padanya.


“Kedua pemimpin suku! Tahukah kalian kenapa kami memanggil kalian?!” Hua Mei bertanya dalam lagaknya yang berwibawa dan agung.


“Ampun para Dewi! Kami tidak tahu, entah kesalahan perihal gerangan apa yang kami perbuat sehingga menimbulkan kemarahan dari para Dewi.” Kedua kepala suku menjawab penuh penghormatan dan sedikit rasa takut.


Hua Mei antara tidak bisa menahan tawa dan tertawa melihat sikap keduanya. “Tidak, kalian tidak bersalah sama sekali ….”


Kedua kepala suku masih menunggu kelanjutan dari perkataan Hua Mei. “Bagaimana kalian menilai apa yang telah aku perbuat pada kalian selama dua pekan ini?” tanya Hua Mei. Dia mengharapkan jawaban yang bersahabat dari keduanya.


Keduanya saling pandang sejenak, kemudian salah satu dari mereka menjawab, “Kedua Dewi sangat baik, bukan saja peperangan yang terjadi secara bertahun-tahun antara kedua suku dapat para Dewi damaikan. Bahkan para Dewi dengan mudah mengatur agar Oasis dapat digunakan bersama dan tidak perlu terjadi pertikaian.”


“Apa hanya begitu saja?!”


Sekali lagi mereka saling pandang ….


Sekarang yang satunya lagi menjawab, “Tidak Dewi, yang sebelumnya hanya bentuk kontribusi, perbuatan baik para Dewi juga terlihat dengan cara-cara yang ramah saat berbicara dengan kami, tidak melakukan kekerasan dan menghukum kami karena alasan yang tidak jelas. Juga tidak pernah memperlihatkan sisi kejam, layaknya para Dewa-Dewi yang diceritakan pendahulu kami.”


Hua Mei tersenyum cerah, ini adalah suatu pertanda baik. Setelah menghela nafas panjang, ia bertanya, “Bagaimana kalau kami pergi dari tempat ini?! Apakah kalian akan kembali berperang?!”


“Kami tidak berani Dewi, apalagi setelah melihat anak-anak yang baru beranjak dewasa telah saling bermain serta mengikat persahabatan. Jika kami kembali berperang, maka ini hanya akan menyiksa mereka.”


“Bagus sekali, Kalian bahkan telah melihat kebahagian dalam diri anak-anak, lalu … bagaimana kalian akan meningkatkan kekuatan jika kalian tidak saling bertarung?!” Hua Mei mulai bertanya dengan pertanyaan sangat penting serta mendatangkan kekhawatiran pada dirinya.

__ADS_1


__ADS_2