Pendekar Pengendara Petir

Pendekar Pengendara Petir
Bab. 74. Pedang Teratai Salju


__ADS_3

Bunyi pedang beradu keras tiada hentinya terdengar dalam pertarungan ini, entah sudah berapa kali mereka saling mengadu pedang. Namun, sampai saat ini keduanya masih sama kuat dan belum nampak tanda-tanda akan ada yang kalah.


Pertarungan ini benar-benar menjadi sangat menarik, bukan karena cuma adu antara dua ahli pedang tapi juga adu antara dua pedang Ranah Surgawi.


Setelah sekian lama bertarung, dan belum membuahkan hasil Ye Xuan mulai memainkan ilmu pedang andalannya. Ilmu Pedang Pengejar Roh, segera saja dikembangkan Ye Xuan, dia menggunakan puncak tenaga dalam bergerak gesit dan lincah, berusaha mencari celah yang bisa dimanfaatkan dari lawan.


Begitu ilmu pedang ini dimainkan perbedaan nyata segera terlihat di kancah pertempuran. Gerakan Ye Xuan menjadi lebih lancar dan cepat, rasa percaya diri tumbuh karena penggunaan ilmu pedang ini, dia terlihat seperti orang yang berbeda.


Sementara itu, Qiau Lien mulai terdesak sejak Ye Xuan menggunakan ilmu pedang tersebut. Namun, ketenangan masih tergambar jelas di wajahnya, dia sangat percaya dengan keampuhan pedang sendiri.


Qiau Lien berusaha untuk keluar dari desakan dan hawa pedang Ye Xuan, lalu dia sengaja mengadu pedang yang sudah dialiri dengan tenaga dalam.


“Tringgggg!”


Bunyi logam pilihan yang saling beradu kembali terdengar keras dan bergema.


Khawatir terhadap kondisi pedang, mereka berdua sama-sama bergerak mundur dan saling memperhatikan mata pedang masing-masing. Kesempatan ini juga dimanfaatkan oleh Qiau Lien untuk menarik nafas dan mengisi kembali hawa murni yang terbuang.


Setelah memperhatikan mata pedang sejenak Qiau Lien kemudian berkata, “Ilmu Pedang yang hebat, aku semakin ingin mengetahui teknik berlatih ilmu pedang itu.”


“Nona Qiau terlalu percaya diri, padahal nona jelas terlihat sedang terdesak,” jawab Ye Xuan cepat.

__ADS_1


“Ha ha ha! … Saudara Ye jangan terlalu yakin dulu, pertarungan ini masih permulaan, mari kita mulai lagi,” balas gadis itu, kemudian langsung bergerak menyerang Ye Xuan.


Serangan Qiau Lien kali ini langsung dibuka dengan Jurus Ilmu Pedang Tunggal Keluarga Qiau. Begitu Qiau Lien memainkan jurus warisan keluarga Qiau, pertarungan ini kembali terlihat seperti semula, sangat berimbang antara keduanya.


Boleh dikatakan Jurus Pedang Tunggal Keluarga Qiau ini, jurus yang hanya digunakan sekali setelah melakukan berbagai gerakan tipuan, jurus serangan utama sangat jitu dan mematikan, baik itu berupa bacokan atau tusukan.


Para penonton kembali takjub, kedua orang yang bertarung ini boleh dikatakan sebagai maniak yang sama seperti Gou Long, kalau Gou Long maniak dalam segala jenis ilmu silat. Maka, mereka berdua ini adalah maniak sejati ilmu pedang.


Keduanya saling mengambil keuntungan dari jurus-jurus dan gerakan lawan, yang perempuan unggul dalam hal kelincahan dan kecepatan gerakan, sedangkan yang laki-laki unggul pada pondasi tenaga dalam. Ini terlihat jelas dari hawa pedang yang dikeluarkan pihak laki-laki lebih tebal dan perih.


Setelah bertarung lebih dari tiga ratus gerakan, akhirnya tanda-tanda kekalahan sudah terlihat juga, baik kondisi tubuh dan rambut mereka yang sudah sama-sama berantakan, nafas sepenggal-sepenggal, bulir-bulir keringat yang terus menetes sehingga mencetak bentuk tubuh mereka berdua.


Juga robekan pakaian bekas tebasan pedang di mana-mana walaupun tidak melukai tubuh mereka berdua. Ini adalah Ye Xuan, yang tampaknya akan segera kalah dalam pertarungan ini.


Benar seperti yang dipikirkan Ye Xuan pada awal pertarungan, bahwa di tangan seorang ahli ranting kayu bisa mematahkan pedang, tapi Ye Xuan belum bisa dikatakan seorang ahli pedang, dia masih seorang pendekar pedang.


Dia masih seorang pendekar pedang dengan tingkat kultivasi Ranah Langit Tahap Awal. Sehingga, wajar saja dia kalah karena sebatang pedang. Hawa dingin yang dikeluarkan pedang di tangan Qiau Lien sangat menguras tenaga dalam Ye Xuan.


Ye Xuan yang terus-menerus harus menahan hawa dingin dari pedang lawan dengan tenaga dalam, saat ini terlihat seperti pelita yang kehabisan minyak. Gerakan yang ganas dan cepat di awal tadi menghilang entah ke mana, sudah sejak gerakan ke tiga ratus lima puluh dia hanya bisa bertahan saja.


Hal ini tidak dapat menyalahkan Ye Xuan juga, walaupun sedikit bersikap sesuka hatinya di awal. Namun, pedang hawa dingin ini diluar perhitungan mereka. Pada akhirnya, tepat pada gerakan keempat ratus, Ye Xuan mundur ke belakang. Dia dengan gagah mengakui kekalahan.

__ADS_1


“Sudah cukup! Percuma saja aku terus bertarung dengan nona, aku jelas akan kalah …” ujar Ye Xuan jujur, dia berhenti sejenak dan mengambil nafas.


“Tapi … aku tidak kalah dalam ilmu pedang maupun tenaga dalam dengan nona, yang mengalahkanku adalah pedang di tangan nona.”


“Maukah Nona Qiau bercerita padaku tentang pedang di tangan nona …” tutur Ye Xuan penasaran.


Melihat sikap dan cara bertindaknya yang gagah, dalam hati Qiau Lien berujar, “Hebat! ... Sikapnya gagah, jujur dan sangat menarik, rasanya tidak salah kalau aku menceritakan sedikit tentang pedang ini agar dia tidak terlalu penasaran.”


“Bukankah sejak awal aku sudah memberi peringatan agar saudara Ye menyerah saja? Ha ha ha. Baiklah, tidak salah rasanya aku menceritakan sedikit saja tentang pedang ini.” Qiau Lien mulai bercerita.


“Pedang ini disebut dengan Pedang Teratai Salju, pedang ini selalu memancarkan hawa dingin sesuai namanya, apalagi hawa dingin itu aku perkuat dengan tenaga dalam bersifat dingin yang sudah aku latih sejak kecil.”


“Lihatlah! Gagangnya ada ukiran teratai, badan pedang yang dipenuhi dengan segel-segel penguat hawa dingin. Ini adalah maha karya dari seorang pendeta pada zaman duhulu kala, sudahlah aku juga tidak terlalu mengerti.”


“Namun, harus aku akui, saudara Ye benar … pedang inilah yang mengalahkan saudara. Tapi walaupun begitu kalah tetap kalah, Saudara Ye tidak boleh melupakan taruhan kita, ha ha ha ...” Qiau Lien mengakhiri ucapannya dengan tawa yang memperlihatkan deretan indah gigi putihnya.


He Fei dan yang lain juga tidak bisa berkata-kata atas kekalahan yang diterima oleh Ye Xuan. Baik He Fei sendiri ataupun Murong Qiu harus mengakui bahwa mereka tidak akan bisa mengalahkan Qiau Lien dengan Pedang Teratai Salju di tangganya.


He Fei kemudian maju dan berkata, “Ya! ... Ini adalah kemenangan kalian, kami tidak akan mengelak, tapi hasil saat ini masih berimbang. Seperti yang Nona Hua katakan, babak terakhir ini kami hanya mengandalkan Adik terkecil kami sepenuhnya.”


“Kami harap, Nona Hua berlaku lembut pada saudari kecil nona sendiri …” tutur He Fei mengakhiri ucapnya.

__ADS_1


Hua Yan Ran mengabaikan setiap ucapan dari He Fei, dia sepenuhnya berfokus pada Hua Mei. “Mei ‘er apa kau sudah siap berhadapan dengan Cici? Setelah bertahun-tahun pasti ilmu silatmu berkembang pesat, Cici sangat ingin merasakan beberapa tepukan darimu.”


Senyuman selalu menghiasi setiap perkataan yang di ucapkan, nadanya sangat lembut. Namun, semua orang dapat melihat raut dan soratan mata Hua Mei penuh kebencian pada Cicinya.


__ADS_2