Pendekar Pengendara Petir

Pendekar Pengendara Petir
Chapter. 215. Bahaya Mengancam


__ADS_3

Sehari tinggal Gunung Teratai, segera terasa perbedaan yang nyata, dapat dirasakan Yu Jiang, Yu Yihua dan Duan Hong Ya, aura Langit dan Bumi yang sangat melimpah di Gunung Teratai memberi manfaat tak terhingga bagi ketiganya.


Fondasi kultivasi mereka terasa meningkat pesat, walau belum mencukupi untuk menembus ke Ranah Surgawi, menerobos Ranah Surgawi bagi seorang kultivator benar-benar harus memperoleh pelecut khusus, dan juga fondasi kultivasi yang sangat dalam, setidaknya harus bisa mengumpulkan dasar kultivasi puluhan tahun.


Lagi pula itu hal yang mustahil akan memicu proses penerobosan ranah, dengan hanya sehari berkultivasi di tempat yang melimpahnya aura Langit dan Bumi.


Pada saat makan malam, Yu Jiang tidak dapat menahan rasa penasarannya bertanya, “Gunung ini... menurut penjelasan dari Penguasa Kota Tian Yu, Gu Chuisan, saat kita membelinya, aura Langit dan Bumi yang dihasilkan tidak melimpah seperti ini, bukankah kata beliau aura di sini sama seperti aura Langit dan bumi yang dimiliki Sekte kelas kedua? Apa yang terjadi?”


Menanggapi pertanyaan itu, Feng Yueyin menghentikan makannya sejenak, “Bukankah pengaturan Long Gege sangat menarik? Dia berhasil menyulap Gunung ini menjadi luar biasa seperti ini.” Jawab Feng Yueyin, tersenyum misterius.


Duan Hong Ya, ikut penasaran dan bertanya, “Memangnya apa yang dilakukan Master Paviliun terhadap Gunung ini?”


“Jangan lupakan jerih payahku!” Leng Kun memotong cepat, “Master Paviliun hanya orang kaya yang menyediakan banyak sumber daya untuk kemajuan Gunung ini, sedangkan jerih payahku memasang Array, dan mengaturnya dengan baiklah yang menjadi faktor melimpahnya aura Langit dan Bumi di sini.” Lanjut Leng Kun, menyombongkan diri.


Raut wajah dan sorotan mata yang memperlihatkan kebanggaan akan betapa mahirnya ia mengatur Array terlihat jelas.


“Iya! Iya! Leng Twako hanya jadi beban saja di sini, Leng Twako cuma numpang tidur, makan dan malas-malasan.” Canda Feng Yueyin, raut wajahnya memperlihatkan senyum manis.


“Ha ha ha!...” Riuh tawa meledak di saat makan malam itu.


Acara makan malam itu menjadi benar-benar terhenti, karena tanya jawab dan ledakan tawa mereka, masing-masing telah meninggalkan makan mereka.


Membeliakkan matanya, Leng Kun berkata, “Setiap kesempatan kau selalu saja meremehkan kualitas dari Twako mu ini, padahal hampir di setiap waktu kau selalu bersama Twako.” Balas Leng Kun Lembut, kembali kebanggaan terlihat dari auranya.


“...” Feng Yueying tidak bisa berkata-kata, raut wajahnya memerah. Ia menyesalkan lelucon yang telah ia perbuat pada Leng Kun.

__ADS_1


Semua orang juga tahu, perkataan itu secara jelas menggambarkan betapa kedua orang itu seperti sepasang kekasih, ke mana-mana selalu bersama.


Memecah situasi yang canggung, pada kesempatan itu, Yu Yihua yang akan menjadi kepala bidang alkemis di sana, tiba-tiba bertanya, “Leng Twako ahli Array dan Formasikah? Kalau iya, tolong Leng Twako atur seperangkat Array perapian yang bagus di ruang pemurnian, usahakan Array Tingkat Surgawi! bisakah?” pinta Yu Yihua, sekaligus menuntut kepastian.


Yu Yihua sadar, walaupun ia memiliki tubuh Intuisi Khusus, namun cara meracik pil dengan tubuh tersebut belum pernah dipelajari dan dilatihnya, jadi untuk tahap awal kemajuan Gunung Teratai, ya! Harus menggunakan cara lama dengan bantuan Array api.


Permintaan Yu Yihua itu seperti menambah kembali kepercayaan diri Leng Kun, ia tambah terlihat bangga akan kemampuannya, “Itu hal yang sangat sepele, Array yang Nona Yu minta pasti akan siap hanya dalam hitungan hari.” Jawabnya, sombong.


“Maka, Yu Siomei ini akan sangat berterima kasih pada Leng Twako.” Balas Yu Yihua.


***


Aura yang melimpah dari Gunung Teratai, semakin hari terasa semakin bertambah, itu dapat dirasakan langsung oleh ketiga orang yang baru datang ke sana, padahal mereka baru dua hari berada di Gunung itu.


Namun sayangnya, aura itu tidak terlalu dapat dinikmati oleh Yu Jiang, baru dua hari tinggal di Gunung Teratai, kabar menghebohkan yang terjadi di Mansion Penguasa Kota Tian Yu juga telah menyebar ke sana.


“Saudara Gou!”


“Saudara Gou!”


Dengan adanya kabar tersebut, mau tidak mau Yu Jiang dengan segera mengatur persiapan untuk kembali ke Asosiasi Alkemis.


Dia tidak menunda waktu sedikit pun, pagi itu langsung kembali ke Asosiasi.


Kabar yang menghebohkan itu jelas tersebar ke hampir semua Kota yang berdekatan dengan Kota Tian Yu, para Patriak yang mengikat dendam dengan Gou Long memanfaatkan kehebohan tersebut bergerak menuju Gunung Teratai.

__ADS_1


Mereka memang tidak pergi sendiri, tapi mengutus para Penatua, Patriak Klan Ouyang yang mengikat dendam paling besar terhadap Gou Long, tidak menunggu kabar dari Organisasi pembunuh yang ia sewa, dia langsung mengirim lima orang penatua untuk memorak-porandakan Gunung Teratai.


Begitu juga Patriak Sekte Awan Berkabut, setelah mendapat malu, serta pamornya yang menurun drastis pasca kekalahan dari Gou Long, dia mendatangi sendiri Gunung Teratai juga membawa tiga orang Penatua bersamanya.


Tanpa sepengetahuan Gou Long sedang dalam perjalanan pulang, di Gunung Teratai saat ini juga telah berkumpul momok mengerikan dari dunia persilatan Daratan Tengah, mereka siap meluluh lantakkan Gunung Teratai.


Bukan hanya utusan dari kedua Patriak itu saja yang mendatangi Gunung Teratai, termasuk itu utusan Patriak dari Sekte Phoenix Suci yang mengirim enam orang penatuanya.


Ketiga kubu itu bahkan sempat bertemu secara tidak sengaja saat dalam perjalanan.


“He he he!” Patriak Sekte Awan Berkabut, Tong Kak San terkekeh, saat melihat banyaknya kubu yang mendatangi Gunung Teratai.


“Bocah keparat! Kau terlalu banyak mengikat permusuhan dan dendam, kau boleh saja menang di depan orang banyak, namun Paviliun Gunung Teratai yang sedang kau bangun ini pasti akan rata dengan tanah.” Batin Tong Kak San.


“Banggalah dengan kemenanganmu! Lalu menangislah karena kehancuran Paviliun yang belum sempat kau resmikan! Ha ha ha...” lanjut batin Tong Kak San, tanpa sadar wajahnya memperlihatkan senyum kemenangan.


Namun, saat mereka semua tiba di Gunung Teratai, apa yang telah mereka bayangkan sebelumnya sangat berbeda dengan apa yang ada di sana, seperangkat Array pertahanan yang sangat sempurna menghalangi niat orang-orang tersebut.


Awalnya Tong Kak San memaksa memukul Array tersebut sendirian, “Bangkk!” seperti seseorang yang memukul lempengan besi yang sangat tebal, alot dan lentur, tidak bisa ditembus.


Tong Kak San bahkan merasakan daya tolakan dari Array pertahanan tersebut.


Orang-orang yang tinggal di dalam Gunung Teratai dapat merasakan getaran akibat pukulan tersebut, mereka sadar ada orang yang mencoba menerobosnya, mereka membiarkan saja, bahkan berkesan tidak perduli.


Kemudian, getaran lain terjadi, berkali-kali. Itu karena Tong Kak San mengajak para Penatua yang dibawanya untuk coba menghancurkan Array tersebut dengan sepuluh pukulan beruntun.

__ADS_1


“Banggkk!”


Sepuluh kali gema dan getaran tersebut terjadi.


__ADS_2