Pendekar Pengendara Petir

Pendekar Pengendara Petir
Chapter. 389. Sikap Arogan


__ADS_3

Han Qiong adalah orang yang terus didengar Gou Long sebagai calon penantang kuat sekaligus bakal calon pemenang dari Kompetisi Keterampilan Alkimia. Sementara untuk kompetisi lain, Gou Long tidak terlalu peduli.


Dia sangat yakin bahwa Mo Xiaohu, Baili Kucheng dan Pang Dongming sudah mengetahui lawan-lawan tangguh mereka sendiri tanpa harus ada peringatan dari ia lagi.


Mereka orang-orang pribumi Dunia Kaisar Peri, mereka jelas lebih tahu segala hal rintangan jika harus dibandingkan dengan pengetahuan Gou Long yang notabene merupakan penduduk baru di Dunia Kaisar Peri.


Perut yang penuh, informasi sangat sempurna juga telah mereka peroleh. Gou Long merasa tidak memiliki kepentingan lagi di lantai bawah rumah makan dan penginapan tersebut.


Tersenyum cerah, dia menatap Hua Mei dan Eira bergantian. “Bagaimana kalian berdua akan membagi kamar?”


Suara lirih dan nakal Gou Long hanya terdengar di meja mereka saja. Hua Mei memerah jengah, coba menutupi rasa malu, sedikit memelototi Gou Long. “Gege berbagi kamar dengan diri sendiri saja! Mei ‘er akan berbagi kamar dengan Cici Eira.”


Memang kondisi dan situasi saat itu menjadi serba salah dan runyam, ingin menuntaskan hasrat yang sudah berpekan terpendam akan menjadi sedikit kurang leluasa karena adanya Eira. Ya, pada akhirnya hal paling baik yaitu tetap membiarkan Hua Mei bersama Eira.


Gou Long berdamai dengan keadaan. “Hemm, baiklah! Begitu lebih nyaman. Lagi pula, jarak antara kamar kita sangat berdekatan, dan hanya dipisahkan oleh dinding tipis. Mari kita beristirahat saja di kamar masing-masing. Kalian naik duluan, Gege akan mengurus proses administrasinya.”


Eira dan Hua Mei mengangguk pelan, keduanya bangkit dan langsung naik kelantai dua. Suara tawa cekikan Hua Mei dan Eira terdengar di telinga Gou Long, entah apa yang mereka berdua bisikkan.


Pada saat kedua gadis itu telah menghilang di lantai dua, Gou Long menggerakkan tangan pelan. Kemudian, kesadaran spritual dari Gou Long menyebar dan membentuk penghalang kedap suara antara lantai satu dengan lantai dua. Dengan begitu, Eira dan Hua Mei tidak dapat mendengar apa yang terjadi di lantai satu.


“Ha ha ha! ...” Gou Long tertawa lantang, karena tingkah eksentrik itu, banyak pasang mata secara langsung menatap tajam ke arahnya. “Aku tahu, sudah sejak tadi banyak pasang mata serakah terus memperhatikan aku–”

__ADS_1


Dia sengaja menghentikan perkataan, dan melihat tajam pada setiap pasang mata yang menatap ke arahnya, Gou Long menggelengkan kepala. “Sayang sekali, tidak ada dari kultivator ini yang memiliki tatapan tajam dan menekan seperti yang aku rasakan tadi.”


Itu adalah sebentuk perkataan yang bernada sangat sombong dan merendahkan orang lain. Ucapan tersebut persis seperti orang yang melemparkan bunga api ke dalam tumpukan jerami, sekejap saja api amarah meluap dengan cepat.


Apalagi, orang-orang itu sejak awal sudah tidak suka dengan tawa congkak yang diperlihatkan Gou Long, ditambah dengan perkataan yang sangat merendahkan, menjadi hal pantas orang-orang berlaku impulsif pada Gou Long.


“Anak muda, nyalimu sangat besar. Apakah engkau telah makan jantung Naga hati Phoenix?! Kualifikasi apa yang engkau miliki sehingga berani begitu bernyali untuk berbicara arogan di sini?!”


Banyak orang membenar perkataan tersebut, hal itu sangat cocok dengan niat hati semua orang. Otomatis dengan adanya perkataan bernada ancaman yang dimulai oleh satu orang, yang lain ikut menyuarakan perkataan dengan nada sama dan tidak kalah mengancam.


Gou Long menanggapi dengan senyum ejekan. “Makan jantung Naga atau hati Phoenix?! Aku telah melakukan hal lebih berbahaya dari itu.”


Lantai satu dari rumah makan itu saat ini telah dipenuhi dengan cahaya kuning emas yang bercampur dengan cahaya merah. Perpaduan dua cahaya tersebut membentuk bianglala berwarna orange disertai percikan-kilatan petir kecil.


“Swoosshh!” Tekanan yang dikeluarkan Gou Long menyebar, menyesakkan nafas dan menggeserkan kursi beserta meja ke samping. Beberapa orang kultivator yang tidak tahan juga ikut tersurut ke sisi dinding.


Gou Long tertawa lantang, kemudian ia berkata, “Pada saat aku berkata tidak ada dari kalian yang memiliki tatapan mata menekan, ini bukanlah penghinaan. Aku hanya mengatakan fakta yang sebenarnya. Kalian merasa tersinggung, itu urusan kalian, bukan urusanku.”


“Nah, sekarang, kenapa masih tidak berani unjuk diri.” Gou Long kembali memperlihatkan senyum ejekan. “Apa kau pikir aku tidak tahu posisimu karena keramaian ini? Saudara benar-benar telah salah mencari mangsa.”


Lanjutan dari perkataan Gou Long itu sangat jelas dan kentara, ditujukan pada orang lain, bukan kepada orang-orang yang merasa tersindir oleh ucapan arogan Gou Long sebelumnya. Orang-orang juga telah menyadari kekeliruan mereka bahwa pemuda itu memang berisi, dan bukan hanya sekedar omong besar biasa.

__ADS_1


“Ha ha ha! ...” Tawa lantang terdengar, berlanjut dengan melesat keluar dua sosok manusia. Keduanya terlihat arogan dan gagah dengan menggenakan hanfu parlente bercorak hiasan Naga. “Anak muda, kami berdua yang sejak tadi melihatmu dengan tatapan tajam. Apa kau merasa risih dan tidak tahan?!”


Dua orang itu memang berpenampilan sangat parlente, apalagi dengan postur tubuh yang sedikit berisi serta wajah yang berminyak, seperti orang-orang yang kebanyakan lemak dalam tubuh. Kehadiran dua orang itu sekali lagi membuktikan prestisi dari warung ini, benarlah rumah makan elite dan termewah di Kota Yuan Long.


Gou Long melihat dua orang itu sambil mengernyitkan dahi. Dia tidak mau kalah gertak, dengan sudut mata yang diruncingkan, Gou Long melihat keduanya sedikit bergantian. “Huft, hanya dua orang perampok berkedok hartawan. Bagaimana mungkin aku merasa tertekan. Bagiku kalian hanyalah semut yang bisa kujepit dengan dua ujung jari.”


Dimaki Gou Long sebagai perampok, amarah keduanya meluap. Mereka adalah orang yang terbiasa dihormati orang lain. Wajah yang berminyak memerah menahan amarah, sehingga dalam pandangan Gou Long, keduanya terlihat seperti babi guling yang sedang panas-panasnya.


Keduanya berusaha keras menahan luapan amarah, bahkan sampai kepalan tangan terdengar keretekan.


Gou Long kembali tertawa lantang. “Apa? Kalian merasakan kemarahan yang meluap karena aku memaki kalian sebagai perampok berkedok hartawan?! Hufft, dasar tidak berotak. Apa namanya orang yang menginginkan harta milik orang lain dengan mengandalkan kepandaian kalau bukan perampok.”


Semakin berbicara, Gou Long semakin membuka kedok keduanya.


Setelah saling menatap satu dengan yang lain, keduanya bersepakat. “Anak muda itu harus segera ditutup mulut. Lidahnya terlalu tajam dan tidak boleh dibiarkan terus begitu.” Saling sehati ....


“Swoosshh!” Tanpa aba-aba sama sekali, dua hawa pukulan keras melanda Gou Long.


Anak muda itu ganda tertawa. “Bagus sekali, tidak bisa menjawab malah ingin membungkam. Aku akan melayani kalian.”


Kemudian, siluet bayangan Gou Long menghilang dari tempat semula. Dia telah mengembangkan Teknik Memindah Jasad, bergerak menyongsong dua pukulan lawan dengan kedua tinju.

__ADS_1


__ADS_2