
Semua orang bersorak dan minum!
Kepala penuh bintang, dan bulan terbenam di langit.
Di antara hampir sepuluh ribu pembudidaya, lebih dari setengahnya sudah mabuk serta tidak sadarkan diri, dan sisanya masih minum dengan gembira. Pesta yang berlangsung seharian berakhir ketika setiap tamu undangan satu persatu izin undur diri.
Di puncak Gunung Teratai, ini adalah area yang baru saja dialih gunakan, dua kamar megah di sana telah berganti nama, Kamar Putri Hua dan Kamar Putri Ding.
Sementara, di halaman depan kamar itu, kursi dan meja berjejer rapi, para kerabat masih bersenda gurau di sana bersama kedua pengantin wanita, sambil menunggu Gou Long yang masih melayani para tamu di aula bawah.
Bwee Siang dan Na Hong-Hong tiada henti mengoda Ding Jia Li, begitu juga Murong Qiu dan Hua An. Saat resepsi pernikahan tadi siang keempat perempuan inilah yang menjadi pengiring pengantin wanita.
Para kerabat ini, tahu seluk beluk hubungan Gou Long dengan Hua Mei secara jelas, namun mereka tidak pernah tahu bagaimana awal mula hubungan antara Ding Jia Li dengan Gou Long terjadi, bahkan termasuk Li Lan Sian, Na Hong-Hong dan Bwee Siang.
Ding Jia Li tidak pernah menceritakan awal pertemuannya dengan Gou Long pada siapapun. Sehingga Bwee Siang dan Na Hong-Hong yang penasaran terus menerus mengoda Ding Jia Li seharian ini.
Rona merah wajah Ding Jia Li jelas lebih terlihat jika dibandingkan dengan Hua Mei. Ding Jia Li terus menerus mengelak dari godaan mereka semua.
Na Hong-Hong, bahkan sangat berani, saat ia bertanya, “Jia Li Suci, apakah engkau pernah melakukan itu … sebelumnya dengan kakak ipar?” Na Hong-Hong sengaja memonyongkan bibir saat bertanya.
Bwee siang tidak dapat menahan tawa, melihat apa yang dilakukan Na Hong-Hong.
Saat itu, Ding Jia Li merasa akan segera selamat dari rasa malu yang ia derita, saat siluet bayangan Gou Long tiba di sana. Ding Jia Li mengabaikan pertanyaan Na Hong-Hong, dan menyongsong kedatangan Gou Long.
__ADS_1
Namun, kejadian selanjutnya benar-benar tidak seperti yang ia harapkan, Gou Long tertawa lebar. “Apakah Jia Li ‘er sudah tidak sabar untuk bertarung denganku?”
Pemuda itu tidak berhenti begitu saja, sambil memeluk pinggang Ding Jia Li dengan tangan kanan, ia terus melesat ke arah Hua Mei. “Hmm, siapa pertama di antara kalian berdua yang akan bertarung beberapa ronde dengan ku?!”
Godaan yang dilemparkan Gou Long tersebut lantas saja menjadi kehebohan besar di sana, kerabat mereka semua tertawa besar oleh karena ucapan itu.
“Kakak ipar! Ceritakan pada kami bagaimana awal mula engkau berkenalan dengan Jia Li Suci,” pinta Na Hong-Hong, semua orang di halaman tersebut sama menganggukkan kepala, tak terkecuali, Murong Qiu, Hua An, Li Lan Sian, dan orang-orang dari Klan Gou, seperti Gou Chen dan Gou Ing-ing.
Berdiri diapit dua wanita cantik, sambil melingkarkan tangan pada pinggang keduanya, Gou Long tersenyum nakal. “Ha ha ha …” tertawa sejenak, ia pun berkata, “Kalian tahu, Putri kedua ini … tidak pernah bisa melupakan ku, dia bersikap sok jual mahal … padahal itu murni ketidaksengajaan, saat aku mandi di sungai, Putri ini telah duluan berada di sana–”
“Ge–” Ding Jia Li ingin protes, tapi bibirnya di tekan Gou Long dengan jari telunjuk tangan yang tadinya dilingkarkan di pinggang Hua Mei.
“Kalian tahu! Sejak saat itu, Putri kedua ini, terus menerus mengejarku, dia tidak pernah bisa melupakan ku.” Gou Long menambahkan bumbu lain dalam ceritanya.
Semua orang jelas tertawa keras mendengar cerita konyol Gou Long. Ding Jia Li hanya bisa mengutuk dalam hati. “Awas saja kau, Gege! Akan kubuat kau bergetar lutut esok pagi,” batinnya.
“Gege … sudah cukup! Gege terlalu mabuk, sehingga berbicara ngelantur begitu.” Hua Mei mengingatkan Gou Long, lembut. Lagi-lagi gadis itu memperlihatkan kepantasannya sebagai Putri pertama/Istri pertama. Walau usianya lebih muda dari Ding Jia Li, tapi kesabaran dan ketulusan Hua Mei tidak bisa disaingi Ding Jia Li.
“Iya … hari ini, merupakan hari bahagia kita bertiga, Gege hanya sedikit ingin mencandai kalian berdua,” Gou Long membela diri, tangannya kembali dilingkarkan ke pinggang kedua Putri itu.
Melirik keduanya bergantian, nakal Gou Long berbisik pada Ding Jia Li, “Gege tahu, Jia Li ‘er sedang menyusun rencana pertarungan panas, mimpi indah musim semi ….”
“Kalian berdua sangat menggemaskan.” Gou Long mencubit hidung Hua Mei gemes, ujarnya, “Gege akan mendatangi kamar mu yang pertama,” menoleh ke kiri, pada Ding Jia Li. “Jia Li ‘er yang kedua.”
__ADS_1
Li Lan Sian berjalan ke depan mereka bertiga. “Ini adalah hari indah dan bahagia kalian, Mei ‘er dan Jia Li ‘er, sebaiknya segera kalian masuk kamar dan beristirahat, tunggulah suami kalian di sana!” Li Lan Sian mengingatkan kedua gadis itu, lembut. Dia melihat Gou Long tajam. “Dan kau, sejak hari ini, murid ku telah resmi ku serahkan padamu, awas saja kalau kau berani menyia-nyiakannya.”
“Tidak berani! …” Gou Long menggoyangkan telapak tangannya, serta memperlihatkan senyum nyengir kuda.
Kedua Putri mengangguk, mereka berpamitan pada semua kerabat keluarga. Sementara Gou Long, terus menemani orang yang masih ada di halaman itu, setengah jam berlalu, lalu semua orang memberikan alasan kelelahan dan kembali ke kamar masing-masing.
Padahal ini hanyalah akal-akalan para orang tua dan anak muda kerabat semua, Gou Long juga tahu, mereka tidak ingin mengganggu malam bahagianya.
Kemudian, Gou Long berkelebat dalam sekejap, bergerak ke Kamar Putri pertama; Hua Mei. Saat ia muncul di dalam kamar, Hua Mei sedang duduk di tepi ranjang.
Gou Long terpesona pada kecantikan Hua Mei, tanpa basa-basi, memprovokasi pakaian yang menutupi Hua Mei dengan jari.
Hua Mei mengerucutkan bibir merahnya dan menundukkan kepala, tidak berani menatap mata panas Gou Long.
“Angkat kepalamu.” Gou Long meletakkan jarinya di dagu Hua Mei, dan saat dia mengangkat kepalanya, mata Gou Long menunjukkan obsesi tingkat tinggi, lalu dia berbisik, “Mei ‘er, kamu sangat cantik ketika kamu tidak menggunakan riasan. Aku tidak berharap kamu menjadi lebih cantik setelah merias wajah.”
Hua Mei tersenyum dan berkata, “Mulut yang buruk–”
Sebelum Hua Mei selesai berbicara, dia mengerang pelan. Kemudian, matanya yang indah tiba-tiba melebar, tetapi Gou Long menundukkan kepala, dominan dan mencium bibir merah terang Hua Mei dengan ganas.
Hua Mei, menutup matanya yang indah sambil mengepakkan bulu mata yang panjang dan melengkung, merespons ciuman Gou Long dengan tersentak-sentak.
Gou Long meletakkan Hua Mei di ranjang, menundukkan kepalanya ke telinga Hua Mei, dan berbisik pelan, “Malam ini akan menjadi momen yang tidak akan pernah kamu lupakan.”
__ADS_1