Pendekar Pengendara Petir

Pendekar Pengendara Petir
Chapter. 121. Niat Jahat


__ADS_3

Sifat ini ditunjukkan oleh beberapa orang generasi muda Klan Hua yang berhasil melatih kultivasi sampai pada tingkatan Ranah Langit tahap puncak, mereka menganggap para Tetua dan Patriak Klan Hua terlalu pilih kasih pada pendatang baru ini.


Sekalipun anak-anak muda ini tahu serta mengenal bahwa yang diistimewakan oleh Patriak Klan adalah anak dari Patriak generasi sebelumnya.


Pemuda dan pemudi Klan Hua yang cemburu serta tidak senang pada Hua Mei di kepalai oleh Hua Chen dan Hua Jiang, bersama mereka mengikut 2 orang perempuan dan 1 orang laki-laki lain dari Klan Hua yang selalu menempel ke mana pun Hua Chen dan Hua Jiang pergi.


Hua Chen dan Hua Jiang telah berlatih keras selama ini sehingga berhasil naik ke Ranah Langit tahap puncak, sedang 2 perempuan yang mengikuti mereka, Hua Fen dan Hua An memiliki ranah kultivasi yang setara dengan Hua Mei, yaitu Ranah Langit tahap awal.


Begitu juga dengan pemuda terakhir Hua Gong, yang memiliki tingkatan Kultivasi Ranah Langit tahap awal.


Karena memang rasa tidak suka sudah muncul sejak awal, di pagi hari ketiga setelah Hua Mei mulai menetap di area rumahnya yang dulu, lima orang ini mendatangi dengan alasan berlatih tanding, padahal niat mereka untuk menghina Hua Mei.


Hua Mei saat mereka datang, memang sedang berlatih dan memainkan beberapa jurus pedang dengan pedang kayu, yang tersusun berjejer di halaman berlatih itu.


“Sepupu Mei! Apa asyiknya berlatih sendirian? Bagaimana kalau Sepupu Mei berlatih tanding dengan Sepupu An atau Sepupu Fen, jikalau Sepupu Mei merasa mereka berdua terlalu lemah, Sepupu Jiang siap melayani Sepupu Mei!” ujar Hua Chen yang memecah konsentrasi dan latihan dari Hua Mei.


“Baik! Kalau memang para sepupu ingin berlatih, Mei ‘er akan berusaha sekuat tenaga memuaskan keinginan sepupu sekalian.” Jawab Hua Mei.


Murong Qiu yang sedang berkultivasi di kamarnya ikut keluar mendengar percakapan tersebut, kemudian melesat ke sisi halaman berlatih.


“Sepupu Mei ingin berlatih dengan siapa?” Tanya Hua Chen sambil mengulum senyum.


“Sepupu Chen boleh memilih sesuka hati yang menurut Sepupu Chen cocok untuk berlatih dengan Mei ‘er!” ujar Hua Mei menyerahkan pilihan lawan sepenuhnya pada sepupunya.

__ADS_1


Hua Mei tidak menyadari bahwa sepupunya ini berniat mencelakainya, begitu juga sebaliknya, mereka hanya melihat ranah kultivasi Hua Mei, sehingga berkesan meremehkannya, padahal selama sebulan ini fondasi kultivasi Hua Mei sedang berkembang dengan pesat di bawah pelatihan Kakek Zhou.


“Kulihat tadi ayunan pedang dan kesiur angin dari jurus pedang Sepupu Mei jitu dan akurat! Bagaimana kalau Sepupu Jiang yang akan bertukar beberapa jurus denganmu?”


“Baiklah! Tidak masalah sama sekali bagi Mei ‘er! Karena Mei ‘er lebih muda dari Sepupu Jiang, maka Mei ‘er yang akan menyerang terlebih dahulu. Sepupu Jiang bersiaplah!” Ujar Hua Mei seraya menghadap ke arah Hua Jiang.


“Sepupu Mei tidak perlu berlaku sungkan! Boleh menyerang sesuka hatimu!” jawab Hua Jiang.


“Lihat Serangan!” teriak Hua Mei.


Dengan menggunakan pedang kayunya Hua Mei menyerang Hua Jiang dengan ganas, di tidak bergerak mendekat ke arah Hua Jiang, tapi Hua Mei menggunakan hawa pedang dan menyerang Hua Jiang dengan hawa tersebut.


Tidak mengalah begitu saja, Hua Jiang memusatkan tenaga dalamnya pada kepalan tinju tangan, dan menonjok hawa pedang dari Hua Mei. Namun, pada percobaan pertama ini, Hua Jiang telah kecele.


“Bocah perempuan ini hebat, di usianya yang akan menginjak 17 tahun bisa melepaskan hawa pedang dengan tingkat kekuatan seperti ini, aku tidak boleh terlalu meremehkannya!” batin Hua Jiang.


Setelah mendapatkan sedikit kerugian, Hua Jiang melesat cepat dan mengambil pedang kayu yang tersusun berjejer di halaman berlatih tersebut. Kemudian dia balas menyerang Hua Mei dengan hawa pedang sama seperti yang dilakukan Hua Mei sebelumnya.


Hua Mei bergerak lincah dan memainkan Jurus Walet Menunggang Angin, dengan jurus tersebut gerakan Hua Mei menjadi lebih gesit, bahkan seperti menghilang dari pandangan mata Hua Jiang.


Dalam sekejap saja Hua Jiang kembali terdesak, beberapa tutulan pedang dari Hua Mei hampir mengenai merindian di kaki dan tangan Hua Jiang, kesal dengan keadaan yang tidak menguntungkannya, Hua Jiang mengeluarkan tenaga dalamnya sampai 90 persen.


“Kraaaaak!” pedang yang di pegang Hua Jiang patah karena tidak sanggup menahan daya dari tenaga dalam si pemegang.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang! Hua Jiang mulai mengganti jurus-jurus ilmu silatnya dengan Jurus Telapak Keluarga Hua. Dengan mengubah permainan jurusnya, Hua Jiang juga berhasil mengubah suasana dari pertarungan ini.


Jurus-jurus Telapak Keluarga Hua segera menekan permainan pedang Hua Mei, sehingga dia kesusahan dalam melancarkan serangan balasan pada Hua Jiang.


Dalam satu kesempatan, Hua Jiang berhasil mencengkeram pedang kayu Hua Mei, dan Hua Mei sendiri dengan sengaja melepaskan pedang kayunya.


“Kraaaaak!” kembali bunyi pedang kayu patah terdengar.


Di luar pertarungan itu, Hua Chen menasihati Hua An, Hua Fen dan Hua Gong, “Kalian bertiga! Aku akan jujur, sepupu kalian itu bukanlah lawan kalian, hanya dalam 10 gerakan aku yakin dia dapat merobohkan kalian, kuharap kalian dapat berlatih lebih giat!” suara Hua Chen lirih ketika menasihati tiga orang tersebut.


“Kami akan selalu mengindahkan nasihatmu Kakak Chen!” jawab mereka serentak.


Kehilangan pedang, Hua Mei juga mengubah permainan jurus-jurusnya. Yang dimainkannya kali ini sama persis dengan jurus milik Hua Jiang, itu adalah Jurus Telapak Keluarga Hua. Dengan memadukan jurus tersebut dengan gerak langkah kaki Walet Menunggang Angin, baik telapak dan gerakan terlihat Hua Mei lebih unggul.


Di luar gelanggang pertempuran Hua Chen yang melihat gerakan Hua Mei, terkejut. Batinnya berkata, “Entah dari mana bocah itu mempelajari Jurus Telapak Keluarga Hua, padahal jelas dia tidak pernah berada di dalam Klan untuk waktu yang lama.”


Tidak lama setelah itu keterkejutannya segera berganti dengan rasa senang, Hua Chen dapat melihat Jurus Telapak Keluarga Hua yang dimainkan Hua Mei tidaklah sempurna, hanya tinggal menunggu waktu saja sebelum telapak Hua Jiang benar-benar kena dengan telak di tubuh Hua Mei.


Hua Jiang sendiri yang bertarung dengan Hua Mei juga dapat melihat apa yang dilihat oleh Hua Chen, bahkan di lebih jelas melihat segala kekurangan itu dibandingkan apa yang Hua Chen lihat.


Saat itu Hua Jiang sudah memfokuskan tenaga dalamnya dengan penuh ke telapak kanannya, dia berniat menyerang Hua Mei dengan telak agar Hua Mei terluka dalam dan tidak bisa berpartisipasi menjelajah ke Tanah Suci Para Pendekar.


Namun, niat hati dan kesempatan tidak selaras di saat itu, ketika di tengah pertempuran hadir Kakek Zhou secara tiba-tiba, dia berdiri tepat di antara dua orang yang sedang bertarung tersebut, sebelah tangan Kakek Zhou terlihat memegang tangan kanan Hua Jiang yang sudah dialirkan tenaga dalam penuh.

__ADS_1


__ADS_2