
Ye Xuan, bergerak cepat kembali ke Sekte Naga Langit. Dengan tingkatan kultivasi Ranah Surgawi Tahap Awal, boleh dikatakan Ye Xuan memiliki senioritas tersendiri di Sekte Naga Langit.
Sehingga, saat ia tiba di Sekte, murid dengan ranah kultivasi di bawahnya segera mengenali dan melaporkan kepulangan Ye Xuan pada pengurus administrasi sekte.
Ye Xuan hanya berbasa-basi sebentar, dia langsung melesat ke gedung Patriark.
Pekerjaan yang diterima Ye Xuan, terhitung sangat mudah, dia telah mengenal Patriark Song dahulu. Saat ia tiba di depan gedung Patriark, murid langsung Patriark Song, bergegas ke dalam ruang berlatih Sang Guru, melaporkan perihal kembalinya Ye Xuan.
Tidak lama menunggu, Patriark Song keluar dan meminta Ye Xuan, masuk ke ruangannya.
Percakapan singkat terjadi di dalam ….
Itu sudah pasti segala informasi yang disampaikan Gou Long tempo hari, tentang rencana Organisasi Ordo Setan Hitam yang berniat menyerang Sekte Naga Langit.
Patriark Song, sempat terkejut dan panik, tapi ketika Ye Xuan, mengatakan rencana penyerang yang telah bahwa mereka susun, ia terlihat lebih bersemangat dari siapapun.
Musyawarah cepat Sekte Naga Langit digelar ….
Liu Kang, Yang Chen, Bai Pengzhi, dan semua Penatua Sekte Naga Langit lainnya, akan membawa murid-murid pilihan saat hari penyerangan tiba. Mereka hanya tinggal menunggu kabar dari Gou Long dan He Fei.
***
He Fei dan Murong Qiu, berjalan santai dan mencolok saat pertama kali memasuki Kota Xia Yu, setelah empat tahun berlalu.
Walau itu telah lama berlalu, masyarakat Kota Xia Yu, masih mengenal Nona Murong. Apalagi saat itu, He Fei dan Murong Qiu yang pergi melepaskan penat dan lelah, masuk ke warung arak yang dulu sering disinggahi oleh Murong Qiu.
Suasana Kota Xia Yu, saat ini tidak sebaik dahulu, gelandang dan pengemis bertebaran di hampir seluruh ruas jalan Kota, ini sudah seperti kota mati saja.
Andai saat itu, orang-orang tidak mengenal Nona Murong, atau tidak dapat melihat ranah kultivasi si Nona, sudah pasti ia akan menjadi bahan godaan dan calon korban permainan pria hidung belang.
__ADS_1
Murong Qiu dan He Fei memilih tempat duduk di samping jendela.
“N-nona mau pesan a-apa?” si Pelayan yang mengenali Murong Qiu, menghampiri. Ekspresi terkejut bercampur rasa takut. Namun, tetap berusaha ramah saat menyapa, coba menyembunyikan perasaan yang sebenarnya.
Murong Qiu melihat gelagat dan rasa takut yang tercermin di wajah si pelayan. “Bawakan kami daging ayam dan arak terbaik, Paman!” Si pelayan mengangguk dan hendak berbalik. “Tunggu, kenapa wajah paman terlihat memucat?” Murong Qiu menarik lengan si Pelayan tepat sebelum ia menjauh.
“Tidak ada apa-apa, Nona.” Jelas sekali ia berbohong, keringat sebesar kedelai mulai berjatuhan di wajah pucatnya. He Fei bangkit dari tempat duduk, dengan sedikit pengerahan tenaga dalam ia menggertak si Pelayan. “Apakah orang-orang yang kalian takuti lebih berbahaya dari kami?”
Sedikit saja, ya! Ini memang secuil kecil dari pengerahan tenaga dalam. Namun, aura Ranah Surgawi yang terpancar darinya, membuat semua pengunjung warung arak gemetaran.
“T-tidak … t-tida–” saat pelayan tersebut berdiri semakin gemetaran.
Murong Qiu melepaskan pegangannya, ia juga menarik lengan He Fei yang menekan si Pelayan. “Sudahlah, He Gege! Biarkan ia kembali dan mempersiapkan makanan kita.”
He Fei patuh pada apa yang diucapkan Murong Qiu.
Permainan yang dimainkan He Fei tadi terlihat sukses besar, He Fei dan Murong Qiu memang sudah menyadari banyak pasang mata melihat mereka dengan tajam.
Hal ini tepat lah seperti perkiraan Gou Long sebelumnya, boleh dikatakan, Kota Xia Yu memang sudah dikuasai oleh Keluarga Jin, Keluar Peng dan Keluarga Zhang.
Saat mereka mengenali Murong Qiu, niat membunuh muncul di hati. Namun, ketika He Fei memperlihatkan kekuatannya, mereka segera gatal-gatal ingin kembali ke Keluarga masing-masing secepatnya dan melaporkan hal tersebut.
Parahnya, Murong Qiu kembali berlagak polos seperti orang yang tidak tahu apa-apa. Saat pelayan mengantar makanan mereka, Murong Qiu bertanya, “Paman, apa para kerabat keluarga mendiang ayahku dulu masih tinggal di lorong jalan yang sama?”
Si Pelayan masih berpura-pura tidak tahu. “Maksud Nona …” pelayan tersebut memasang wajah bodoh dalam rasa takutnya.
“Keluarga Xia, Keluarga Peng, Keluarga Zhang dan Keluarga Jin. Aku ingin berkunjung ke sana, dan mempererat kembali hubungan yang dulu terputus.” Murong Qiu menjelaskan dengan santai.
Orang-orang yang mengamati Murong Qiu dan He Fei, terkejut mendengar ucapan dari si Gadis.
__ADS_1
Tidak mau berpikir jauh, dia segera melesat pergi. Ini begitu mendesak, tidak boleh ditunda untuk memberi laporan pada majikan.
Sementara si Pelayan menjawab apa yang ditanyakan Murong Qiu, He Fei tersenyum mengetahui perangkap dan calon mangsa mereka pergi akan memberi laporan.
Keduanya tidak peduli pada banyak pasang mata lain yang masih melihat, mereka menyantap makanan dengan lahap.
***
Di empat perkampungan berbeda dari Kota Xia Yu, perkampungan Keluarga Peng, perkampungan Keluarga Jin, perkampungan Keluarga Zhang, dan perkampungan Keluarga Xia.
Kejadian yang hampir sama terjadi di empat aula perkampungan. Hanya aula perkampungan Keluarga Xia yang terlihat antusias, bagaimana tidak?! Menurut laporan yang mereka terima Putri Kecil sahabatnya dahulu, telah ditemukan dan masih hidup.
Boleh dikatakan, hanya Keluarga Xia yang masih lurus di Kota Xia Yu, ya! Hal ini tidak lain karena jiwa tabib masih melekat dalam kehidupan mereka, walaupun mereka arogan, tapi tetap saja Keluarga Xia suka menolong.
Sementara di tiga aula keluarga lain, kegelisahan terlihat jelas. Mereka bukanlah orang yang bodoh, mereka masih ingat putri keluarga Murong dibiarkan pergi dalam keadaaan keracunan hebat oleh Kun Hong(pemimpin penyergapan) tempo hari.(Ch.17)
Dengan harapan si Nona kecil mati keracunan. Namun, mayat si Gadis tidak mereka temukan, hilang secara misterius.
Kini mereka benar-benar menyesal, telah melepaskan singa. Bukan saja si Gadis tidak mati, dia malah kembali ke Kota Xia Yu bersama seorang pemuda kuat Ranah Surgawi, sedangkan mereka hanya berada di Ranah Langit Tahap Menengah.
Mereka juga sangat yakin, kembalinya Murong Qiu ke Kota Xia Yu membawa tujuan menuntut balas, walaupun mereka menutup wajah saat kejadian itu, tapi bukan tidak mungkin si Gadis telah mengetahui mereka lah yang telah menyergap.
Apalagi, kematian Kun Hong sejak empat tahun lalu, orang itu mati di kota pinggiran daerah Selatan, dengan kostum hitam-hitam khas organisasi yang menyokong mereka.
Bukan tidak mungkin, ada kekuatan kuat yang juga membantu si Gadis.
Perasaan was-was telah lama ada di hati ketiga Kepala keluarga ini, tapi berusaha terus di halau, hingga ketenangan sempat hinggap, saat Murong Qiu tak kunjung ditemukan setelah tiga tahun.
Namun, hari ini berubah dalam sekejap, ketika laporan kembalinya si Gadis mereka peroleh.
__ADS_1