Pendekar Pengendara Petir

Pendekar Pengendara Petir
Chapter. 165. Tidak Ada Yang Pantas


__ADS_3

Dengan kematian tiga pilar utama mereka, semangat bertarung dari murid-murid Sekte Phoenix Suci yang tersisa 7 orang itu lenyap seluruhnya. Sehingga, 11 orang murid Sekte Pedang Suci dengan mudah membunuh mereka semua.


Kesepuluh orang tersebut tewas tanpa dapat menikmati rencana sempurna mereka.


Gou Long dan Gak In Liang segera memungut cincin penyimpanan dari mayat-mayat tersebut.


Mereka mengeluarkan isi dari cincin-cincin itu begitu saja tanpa mencari area tersembunyi terlebih dahulu, dan langsung membagi hasil jarahannya seperti perjanjian mereka sebelumnya.


Baik Gou Long ataupun Gak In Liang sengaja memamerkan dan membagi jarahan begitu saja, karena mereka menyadari ada beberapa aura yang mengintip dan berusaha memperoleh keuntungan dari pertarungan mereka.


Tapi, sampai saat pertarungan berakhir dan mereka membagi jarahannya, sosok-sosok yang bersembunyi serta menonton tidak berani menunjukkan diri.


Gou Long tidak peduli dengan orang-orang yang terus bersembunyi, dia mendatangi Hua Mei dan Murong Qiu, “Mari kita keluar dari tempat ini sekarang juga! Tidak perlu menunggu satu dua hari lagi akhir dari gerbang ini ditutup seluruhnya,” ajaknya.


Tangan Gou Long juga menyodorkan cincin penyimpanan kepada mereka berdua, “Buat kalian saja! Sejujurnya apa yang kudapatkan sebelumnya lebih banyak jika dibandingkan dengan jarahan ini.” Lanjut Gou Long sambil menyengir kuda, seperti orang yang meremehkan hasil dari apa yang diperoleh orang lain di Tanah Suci Para Pendekar.


Kedua gadis itu tidak menolak pemberian Gou Long, namun Murong Qiu tetap menggerutui Gou Long, “Cara kerjamu sungguh bagus, barang-barang yang menurutmu sampah, selalu saja kau berikan pada kami, kalau terus-menerus seperti ini, aku sebagai Cici angkat dari Mei ‘er tidak akan menyetujui perjodohan kalian kelak.”


“Ha ha ha! Kedepannya akan Junior bawa hantaran yang megah ketika pesta itu terjadi.” Jawab Gou Long asal, dia terus saja melesat masuk ke dalam portal dan keluar dari tanah suci para pendekar.


Hua Mei berusaha menutup raut wajahnya yang memerah dan ikut melesat menyusul Gou Long, kemudian baru Murong Qiu juga ikut menyusul.


Gak In Liang juga tidak menunggu lebih lama, “Mari kita juga meninggalkan tempat celaka ini! Ha ha ha...” dia tertawa dengan maksud mengejek orang-orang masih mengintip, kemudian bersama 12 orang rekan-rekannya melesat ke dalam portal.


Whoossshh!

__ADS_1


Di Lembah Gunung Berkabut, terlihat banyak tenda-tenda yang didirikan oleh para rombongan dari 7 Klan Besar dan 6 Sekte Utama dan rombongan lainnya, rombongan yang terdiri dari Penatua atau Patriak mereka sendiri itu sedang menunggu anggota mereka keluar dari Tanah Suci Para Pendekar.


Gou Long, Hua Mei dan Murong Qiu keluar bersamaan, Hua Mei dan Murong Qiu kemudian berpamitan pada Gou Long. Mereka tidak lupa berpesan pada Gou Long agar berkunjung ke Klan Hua, kemudian terus melesat menghadap Patriak Klan.


Orang-orang Klan Hua belum ada yang keluar dari sana, Hua Mei dan Murong Qiu lah yang pertama. Gou Long dapat melihat kedua gadis itu berbicara dengan Patriak Klan.


Tepukan hangat bersahabat dari arah belakang mengalihkan penglihatan Gou Long, “Mari kita ke sana! Guru yang mulia dan Senior It Hong Taysu berserta rombongan Kuil Budha Emas telah menunggu kita di sana.” Suara Gak In Liang terdengar menyertai tepukan tadi.


“Silahkan Saudara Gak dan para Senior dari Sekte Pedang Suci memimpin.” Ujar Gou Long.


Gak In Liang segera melesat lalu diikuti oleh rekan-rekannya, Gou Long yang mengikuti mereka dari belakang tiba-tiba merasakan keanehan, lantas ia menghentikan gerakannya.


Keanehan ini tidak hanya dirasakan oleh Gou Long, namun semua seniman bela diri di sana dapat merasakannya, para Patriak dan seniman bela diri Ranah Surgawi yang pernah melihat keanehan seperti ini segera saja menyadarinya.


Itu adalah aura langit dan bumi yang tiba-tiba saja memadat serta langit yang mulai gelap kemudian munculnya badai kilat yang sangat mengerikan. Saat itu waktu hampir memasuki malam hari, kilatan-kilatan petir berwarna emas ganas terlihat jelas.


“Murid Sekte mana yang akan menerobos?”


Suara-suara bising dan bertanya-tanya mulai terdengar di Lembah Gunung Berkabut. Semua orang melihat dan mencari-cari orang yang sedang duduk berkultivasi, ingin mengetahui siapa yang akan menerobos Ranah Surgawi.


Tapi, yang dicari tidak terlihat, ini sangat aneh.


Gou Long juga sangat penasaran siapa yang akan menerobos, menurut perhitungannya ini pastilah orang-orang yang baru keluar dari Tanah Suci Para Pendekar.


Begitu juga seniman bela diri lain yang baru saja keluar dari Tanah Suci Para Pendekar, masing-masing mulai melihat rekan-rekannya. Namun sekian lama mencari tidak terlihat orang yang berkultivasi dan bersiap menerima ujian kesengsaraan dari langit dan bumi.

__ADS_1


Sementara hawa dan udara yang pekat tambah pekat, gelegar guntur petir terlihat semakin ganas.


Masih merasa bingung, tiba-tiba saja Gou Long menyadari, kristal berwarna kuning dari dantiannya mengeluarkan energi yang melonjak, kehangatan mengalir deras dan memenuhi setiap meridian.


Wibawa dan keagungan terpancar dari tubuh Gou Long, dia lantas saja duduk bersila.


It Hong Taysu, Kui Ong Cinjin telah menyadari itu adalah Gou Long yang menerobos Ranah Surgawi, mereka lantas melesat dalam jarak 10 tombak dari Gou Long, dan menjaga proses penerobosan ranah Gou Long.


Kakek Zhou yang juga hadir bersama rombongan Klan Hua ikut melesat, dan kemudian mengikutinya juga Patriak Klan Hua atas permintaan Hua Mei.


Keempat orang ini berdiri dan membentuk sisi empat dengan masing-masing menjagai satu sisi.


“Cinjin! Lolap masih teringat, kau berniat mengangkat bocah ini sebagai muridmu sebulan yang lalu, sekarang kau telah melihat anak ini bahkan akan menerobos Ranah Surgawi dalam usianya yang masih 18 tahun, apakah masih merasa pantas untuk menjadi guru dari bocah ini?” tanya It Hong Taysu.


“Tidak berani! Tidak berani! Rasanya tidak ada seniman bela diri yang pantas menjadi guru bocah ini dari Daratan Tengah... Ha ha ha! Sudahlah, tak perlu diungkit lagi hanya bikin malu saja.” Jawab Kui Ong Cinjin, sambil tertawa terbahak-bahak.


Gou Long yang duduk bersila di tengah-tengah segi empat orang yang menjaganya, terangkat tinggi dan melayang 10 tombak ke udara dalam posisi masih bersila.


Cahaya kuning yang memancar dari seluruh tubuhnya membuat ia dapat dikenali dengan mudah oleh semua orang yang hadir di sana.


“Ahhh! Siapa dia? Bagaimana mungkin orang dengan usia seperti dia bisa melangkah ke Ranah Surgawi?”


“Lihat! Belum pernah ada orang yang menerobos Ranah Surgawi sambil melayang seperti itu.”


“Kalau dia berhasil melewati ujian kesengsaraan ini, dia telah menciptakan sejarah baru, orang dengan Ranah Surgawi termuda.”

__ADS_1


“Lihat! Kilatan-kilatan petir yang muncul juga berbeda dengan yang lain, biasanya berwarna perak atau hitam, kali ini kenapa berwarna emas?”


Suara-suara keheranan terus terdengar di Lembah Gunung berkabut, kejadian ini tidak pernah terbayangkan dalam benak siapa pun.


__ADS_2