Pendekar Pengendara Petir

Pendekar Pengendara Petir
Bab. 69. Diantara Untung Dan Buntung


__ADS_3

Gou Long terus memperhatikan pertarungan antara Hauri dan Roh Iblis Salju tersebut. Baik Hauri maupun Roh Iblis Salju sama-sama gesit, tapi gerakan Hauri lebih mantap dan bertenaga. Pertarungan sengit sudah hampir berjalan selama dua dupa.


Sedikit banyak Gou Long mulai paham, Roh Iblis Salju ini memang hanya setingkat dengan siluman kelas kedua. Namun, nafas salju yang dilepaskan Roh Iblis itu sangat korosif.


Pohon yang terkena nafas salju pada awalnya hanya membeku, perlahan mulai mengering dan mati dalam keadaan masih membeku. Hal yang luar biasa, baik daun maupun kulit luar terlihat seperti telah dibakar dengan api yang sangat panas. Sedangkan pohon dan daun yang jatuh dari dahan-dahan itu mengering dalam balutan salju.


“Pantas saja, Hauri mengatakan aku bukanlah lawan dari si Iblis. Nafas beku iblis ini hanya bentuk luar saja, di balik nafas beku, iblis ini menggunakan Api Sejati yang bersifat dingin. Sehingga sangat beracun dan korosif.”


“Apalagi, aku tidak akan sempat membuat Segel Pengunci Jiwa Tingkat Lanjut dalam keadaan bertarung seperti itu.” Gou Long berpikir, sambil terus memperhatikan pertarungan.


Ketika teriakan aba-aba dari Hauri memecahkan lamunan Gou Long. “Sekarang! Posisimu tepat berada di titik buta dari iblis ini, lekas lepaskan Segel Pengunci Jiwa Tingkat Lanjut.”


Gou Long seketika itu juga bergerak gesit dan lincah, dengan gerakan tangan yang akurat dia melepaskan pukulan telapak yang telah disiapkan sejak awal. Telapak yang berisi Jurus Segel Pengunci Jiwa Tingkat Lanjut tersebut dengan tepat mengenai kepala bagian belakang dari Roh Iblis Salju.


Tidak terlalu susah untuk melepaskan pukulan segel kepada roh yang berada di luar wadah, karena tidak ada proses menarik roh itu dari wadah.


Di Hutan Hujan Salju, saat itu terbentuklah lingkaran bola besar yang transparan, berwarna kehijauan. Kemudian dengan perlahan memadat dan terus mengecil.


Di dalam bola segel itu, Roh Iblis Salju mengetuk-ngetuk serta memukul dengan sekuat tenaga setiap sudut dinding dari bola segel yang terus mengecil. Gou Long berusaha terus fokus mempertahankan segel itu, agar tidak hancur oleh pukulan dan ketukan dari Roh Iblis Salju.

__ADS_1


Ini sangat berbeda antara menyegel makhluk yang melawan dengan makhluk yang tidak melawan sama sekali. Pengalaman pertama Gou Long menyegel jiwa, yaitu ikan emas yang sama sekali tidak melawan.


Sementara itu, saat ini yang disegel Gou Long adalah Roh Iblis setara dengan siluman kelas kedua. Makhluk ini terus melawan, dan berusaha memecahkan bola segel yang dicetak dengan hawa murni.


Gou Long awalnya berdiri serta terus mempertahankan hawa murni, akhirnya tidak tahan. Lalu dengan dalam, dia menghirup hawa langit dan bumi. Posisi Gou Long saat ini telah duduk bersila.


Dari ubun-ubun kepala Gou Long terlihat sebentuk asap kelabu keluar.


Bola segel dari hawa murni pada awalnya berwarna kehijauan, sekarang telah berubah dan berwarna kebiruan.


Bola yang sempat berhenti mengecil, sekarang kembali mengecil.


Ini seperti adu tenaga dalam saja, yang kualitas tenaga dalamnya rendah pasti akan kalah. Roh Iblis Salju yang sedang disegel Gou Long, walaupun dia setara dengan siluman kelas kedua. Namun, tenaga dalam, jelas hasil kultivasi iblis selama ratusan tahun.


Proses pemadatan dan pengecilan bola segel dari hawa murni itu hampir berjalan selama empat dupa. Keringat di dahi Gou Long semakin banyak, asap yang mengepul di atas kepala juga semakin tebal. Posisi duduk Gou Long yang bersila perlahan mulai terangkat dan melayang.


Ini adalah saat-saat paling kritis dari proses adu tenaga dalam itu sendiri. Andai Gou Long kalah maka bola segel itu akan hancur lalu tenaga dalam Gou Long akan membalik serta akan memberi luka dalam yang sangat fatal bagi Gou Long.


Andai dia menang, maka ini adalah suatu keberuntungan yang tak terhingga. Karena dapat menyegel Roh Iblis Salju yang sudah mengkultivasikan Api Sejati berhawa dingin.

__ADS_1


Hauri terus melihat, berjaga, mempertebal dan menyebarkan hawa keberadaan agar tidak ada makhluk yang berani mendekati tempat tersebut. Ini benar-benar saat yang sangat kritis, kalau ada satu makhluk saja yang menepuk Gou Long, maka dapat dipastikan dia akan cacat seumur hidup.


Hauri sendiri tidak pernah memprediksi bahwa proses penyegelan Roh Iblis Salju ini akan menjadi sangat lama serta menguras hawa murni Gou Long. Namun dia pun takjub dengan pondasi hawa murni Gou Long yang sangat luas.


Gou Long yang berada pada posisi kritis semakin fokus, setiap ada kesempatan bernafas, ia akan menarik nafas dengan panjang. Warna kebiruan saat ini bukan hanya terlihat dari bola segel tapi juga dari seluruh tubuh Gou Long.


Pada akhirnya, dia memaksakan kehendak. Gou Long berteriak keras, “Padatkan dan mengecil lah!”


Seiring dengan teriakan itu hawa murni Gou Long terlihat semakin tebal, sambil masih duduk bersila dia menambahkan beberapa segel baru pada pola bola segel yang sedang mengecil.


Setelah ditambahkan beberapa pola segel baru, proses pengecilan bola segel itu terlihat semakin cepat. Roh Iblis Salju tersebut seperti tidak rela tersegel begitu saja, dia meraung-raung dengan keras. Suara raungannya bahkan terdengar di luar bola segel.


Pada akhirnya Gou Long berhasil terus memperkecil bola segel sampai seukuran telur puyuh. Di dalam bola segel bening itu saat ini Roh Iblis Salju hanya bisa duduk pasrah, dia telah kalah sepenuhnya.


Gou Long segera menyimpan bola bening itu ke dalam botol giok. Pertarungan adu tenaga dalam tadi terlalu menguras hawa murni. Ini lebih melelahkan daripada pertarungan-pertarungan yang pernah di lalui Gou Long sebelumnya.


Dengan nafas yang sedikit tersengal, lantas Gou Long bangkit dan berdiri, lalu dia berkata pada Hauri, “Kau tunggulah di sini beberapa saat lagi, aku akan berkultivasi sebentar. Ini sungguh tidak akan lama.”


Gou Long tidak menunggu jawaban Hauri, dia sengaja mempercepat pengisian Hawa Murni dengan mengeluarkan satu kristal esensi Siluman kelas kedua. Kemudian dia duduk berkultivasi menyerap energi langit dan bumi di hutan itu, juga menyerap Hawa Murni yang terkandung dalam kristal esensi siluman.

__ADS_1


Hauri sangat setia menunggui Gou Long. Sebenarnya, tadi dia ingin protes. Tapi, setelah melihat kondisi Gou Long yang kembang kempis seperti kakek tua sekarat dan vitalitas daya hidup sudah habis, niat protes itu diurungkan.


Gou Long duduk bersila menghimpun energi alam dalam durasi waktu yang hampir mencapai enam dupa. Ketika dia buka kedua mata, gelap malam telah menutupi seluruh hutan tersebut.


__ADS_2