Pendekar Pengendara Petir

Pendekar Pengendara Petir
Chapter. 204. Rencana


__ADS_3

“Beliau tidak menjelaskan secara pasti, namun pertanyaan yang beliau ucapkan saat itu seakan-akan mengisyaratkannya,”


“Gege masih ingat, saat itu beliau meminta untuk memeriksa tulang Gege. Sebelum beliau memeriksa tulang Gege beliau bertanya, ‘Apa sicu seorang senior yang telah berhasil melepaskan diri dari belenggu Ranah Surgawi?’ pertanyaan ini terus coba Gege selami selama ini...” Gou Long berhenti berkata-kata sejenak, menarik nafas dalam.


“Besar kemungkinan, It Hong Taysu mengetahui adanya Ranah yang lebih tinggi di atas Ranah Surgawi, dan rahasianya belum kita pahami,”


“Ini sama halnya dengan apa yang terjadi pada Jia Li ‘er, muncul Ranah Semi Surgawi, padahal sebelumnya belum pernah ada seniman bela diri yang melangkah ke Ranah Itu, bahkan tidak ada seniman bela diri yang memikirkan Ranah Semi Surgawi,”


“lalu menurut pemikiran Gege, ranah di atas Ranah Surgawi ini berhubungan erat dengan alam asalnya Huari...” Gou Long mengeluarkan Pedang Peri Ilusi.


“Coba Jia Li ‘er pikirkan! Bagaimana bisa muncul pedang dengan bentuk dan pola yang sama juga memiliki fungsi yang sama, pastilah ada rahasia lain yang belum kita mengerti.” Gou Long mengakhiri ucapannya, serta menyerahkan Pedang Peri Ilusi pada Ding Jia Li.


Menerima pedang tersebut, “Guru juga memiliki pedang yang sangat mirip dengan pedang ini, saat Pembukaan Tanah Suci Para Pendekar, bukankah pedang-pedang seperti ini dipakai sebagai kuncinya dengan memasukkan ke dalam sepuluh lubang lain!?” tanya Ding Jia Li sekaligus ingin mengetahui pendapat Gou Long.


Setelah puas melihat, Ding Jia Li mengembalikan Pedang Peri Ilusi pada Gou Long.


“Bukan sepuluh lubang, di puncak tugu batu itu ada lubang lainnya, ketika sebelas lubang dimasukkan pedang, maka akan terbuka portal ke dunia peri, penjelasan ini makhluk dalam pedang yang menjelaskan.” Jawab Gou Long, menerima kembali Pedang Peri Ilusi dari tangan Ding Jia Li.


“Jadi... Kita pergi ke Lembah Gunung Berkabut untuk memastikan adanya lubang kesebelas di puncak tugu batu itu?” Ding Jia Li bertanya, menyimpulkan keseluruhan percakapan mereka.


“Tepat!...” jawab Gou Long, dia kembali berpikir jauh, membayangkan bagaimana itu alam kekuatan dengan makhluk-makhluk yang memiliki pemahaman tingkatan lebih tinggi dari Ranah Surgawi, dan bagaimana Tingkatan Kultivasi di atas Ranah Surgawi.

__ADS_1


Sebenarnya ini bukanlah hal yang aneh, sebagai contoh para siluman yang memiliki tingkatan di atas siluman kelas ke-1, yaitu tingkatan Raja Siluman, kemudian di atas tingkatan Raja Siluman adanya makhluk dengan status Roh Suci.


Begitu juga dengan tingkatan Kultivator. Hanya saja, seniman bela diri pada masa itu dan masa-masa sebelumnya, belum ada yang memiliki pemahaman Ranah Kultivasi yang lebih tinggi dari Ranah Surgawi.(Thornya yang belum nyebutin kali ya!)


“Gege!...” sapa Ding Jia Li, memecah lamunan Gou Long, “Apa yang Gege pikirkan?” rasa penasaran gadis itu meningkat, sedang bercakap-cakap Gou Long malah hanyut dalam pikirannya sendiri.


“Gege memikirkan betapa serunya berpetualang di negeri lain, walau nyawa di ujung pedang. Tapi Gege...” Gou Long terlihat ragu untuk berkata, “Haaaah!” menghela nafas panjang, “Gege juga memikirkan kalian berdua, Jia Li ‘er dan Mei ‘er, kita akan bersama-sama berpetualang di negeri itu kelak...”


“Tapi syaratnya Jia Li ‘er harus bisa menerobos ke Ranah Surgawi, begitu juga dengan Mei ‘er, Gege harus memaksa ia untuk meningkatkan kultivasi dan menerobos Ranah Surgawi secepatnya.” Gou Long mengakhiri ucapannya.


“Emm!” Ding Jia Li menganggukkan kepalanya, mengeluarkan roti kering dari cincin penyimpanan miliknya, “Gege! Belum makan kan! Ini makanlah!” menyerahkan roti kering pada Gou Long.


“Gadis kecil! Kau hanya teringat pada Gegemu saja, aku tidak kau tawarkan makan?” Eira tiba-tiba keluar dari balik jubah Gou Long, meminta makan.


Selagi asyik makan, Eira buka suara, “Bocah! Berbicara mengenai petualangan ke negeri lain, kurasa ini masih sangat lama, banyak hal yang tidak boleh kau lupakan dan harus kau selesaikan terlebih dahulu...”


“Aku sudah mengikutimu saat kau belum berpengalaman sama sekali di Dunia Persilatan, Apa kau tidak penasaran kenapa orang tuamu yang berasal dari Daerah Utara harus melarikan diri jauh ke Daerah Selatan? Apa kau tidak berniat menghentikan gejolak yang ditimbulkan Organisasi Ordo Setan Hitam? Dan yang paling penting, orang-orangmu di Paviliun Gunung Teratai harus dapat penghidupan yang layak, serta tidak ada yang berani memprovokasi Gunung itu...” berhenti sejenak, menjeda ucapannya.


“Hi hi hi!...” Eira tertawa mengikik, dia memiliki ide unik di dalam kepalanya, “Bocah apa kau mau mendengarkan saranku agar Paviliun Gunung Teratai menjadi sangat disegani?” tanyanya, ingin melihat tanggapan Gou Long.


Ding Jia Li menjadi sangat tertarik mendengar setiap kata-kata yang di ucapkan Eira, lantas menatap Gou Long lama dan dalam, juga ingin mengetahui tanggapan Gou Long.

__ADS_1


“Apa usulmu?” tanya Gou Long.


“Orang yang menjadi Gurumu si Tua Awan Putih, dia sudah jelas menjadi orang yang paling bosan di Daerah Selatan, karena tidak ada pekerjaan, dari pada dia tidak memiliki suatu hal yang bisa dikerjakan, kelak kau kembali ke Selatan dan ajak saja dia ke sini, jadikan ia sebagai Penatua Agung Paviliun Gunung Teratai.” Jawab Eira.


“Hemm! Bisa dipertimbangkan.” Ujar Gou Long singkat.


Ding Jia Li tertawa kecil melihat jawaban Gou Long, Eira sudah menjelaskan panjang lebar begitu, Gou Long hanya menjawab singkat.


“Nah! Sekarang beristirahatlah! Kita akan melanjutkan perjalanan kembali esok pagi!” perintah Gou Long, dia lantas mengambil sikap dan duduk bersila, menutup indra.


Setiap kali memiliki kesempatan untuk berkultivasi Gou Long, selalu mencoba mencari pemahaman pada penggabungan dua elemen berbeda, walaupun itu tidak pernah berhasil karena waktu kultivasi yang terlalu pendek. Mungkin untuk bisa memecahkan misteri penggabungan Yin dan Yang dia harus menutup diri selama beberapa waktu kelak.


Dua orang yang berkultivasi ditemani siluman rubah yang tidur malas sambil memukul-mukulkan ekornya di lantai bilik kereta, pemandangan ini terlihat sampai pagi tiba dalam bilik tersebut.


Hampir di saat bersamaan Gou Long dan Ding Jia Li membuka mata masing-masing menyelesaikan kultivasi, keduanya sama tersenyum saling menatap satu sama lain.


“...” Gou Long bangkit dan keluar dari bilik kereta, meninggalkan bunyi kernyit kecil di papan lantai yang di laluinya, dia berjalan tanpa menggunakan tenaga dalam, sehingga langkah kakinya menekan lantai bilik.


Mereka berdua, orang-orang dewasa yang mawas diri, Gou Long paham, saat pagi atau menjelang sore adalah waktu privasi bagi setiap gadis untuk sekedar berganti pakaian atau melakukan hal lain yang tidak ingin diperhatikan oleh pasangannya sekalipun.


Keluar dari bilik kereta, Gou Long melepaskan kembali Array yang dia pasang tadi malam. Dia berniat mencari anak sungai di sekitar tempat tersebut.

__ADS_1


Ketika kesadaran spiritual Gou Long menangkap beberapa aura lain dalam jarak lima puluh tombak dengan mereka.


__ADS_2