Pendekar Pengendara Petir

Pendekar Pengendara Petir
Chapter. 161. Serigala Lain


__ADS_3

Kesepuluh orang yang telah mengatur pola Array jebakan itu adalah, Bok Wan Tek, Sen Sin-Hiong, Sun Bu Pin, Fang Go Sun, Coh Jiu Nio, Mo Tai Kay, Lin Husen, Wan Han Sia, Ho Koan Beng dan Cia Keng Hong.


Di antara 10 orang tersebut, semua seniman bela diri yang tahu sifat Bok Wan Tek tidak akan memasukkan dia ke dalam daftar orang-orang yang harus mereka lawan. Dengan meniadakan Bok Wan Tek maka orang terkuat yang harus mereka pikirkan adalah Sen Sin-Hiong.


Sen Sin-Hiong, dia murid Sekte Phoenix Suci yang memiliki ambisi besar, kalau Bok Wan Tek si pemalas, maka Sen Sin-Hiong ini kebalikannya, dia jelas bukan seorang pemalas, tapi sifat licik dan curang sudah mendarah daging, sehingga dialah orang pertama yang menerima ide malas dari Bok Wan Tek.


Saat ini, boleh dikatakan yang memimpin Pola Array Jebakan ini, Sen Sin Hiong lah orang yang memegang peran utama, dengan menunggu di situ sehari lagi, otaknya yang licik dan curang telah memikirkan apa yang bisa mereka peroleh selama 12 jam ke depan.


“Bisa memeras 200 orang seniman bela diri selama 12 jam ke depan, bukankah ini keuntungan yang lebih baik dari sekedar berpetualang selama 30 hari,”


“Salahkan mereka sendiri yang tidak langsung keluar, kenapa melihat kami yang berkultivasi di sini malah ikut berkultivasi di dalam area yang sudah kami pasang Array.” Pikir Sen Sin-Hiong.


Tenggat waktu satu jam yang diberikan akhirnya berlalu, “Nah! Waktu bagi kalian berpikir telah habis, sekarang yang memilih untuk memberikan cincin penyimpanannya silahkan berteriak, yang tidak berteriak berarti ingin mencoba telapakku,” Sen Sin-Hiong memberikan pengumuman dengan lantang.


“Yang mau bekerja sama dengan kami akan segera kami buka pintu keluar Array ini untuknya, juga sebaiknya langsung keluar dari Tanah Suci Para Pendekar. Jangan berlama-lama dan membuang nyawa secara percuma di sini! Ha ha ha...” Lanjut Sen Sin-Hiong.


Tak lama setelah Sen Sin-Hiong memberikan pengumumannya, seniman bela diri dengan Ranah Langit tahap awal dan tahap menegah merasa percuma saja melawan, mereka sadar diri. Lantas satu persatu mereka menyerahkan cincin penyimpanan pada murid-murid Sekte Phoenix Suci.


Jumlah mereka tak kurang dari 70 orang, setelah itu satu persatu mereka juga langsung keluar dari Tanah Suci Para Pendekar. Kalau dipikir-pikir, orang-orang ini sangat malang, niat hati menentang bahaya, memperoleh keuntungan dan sampai saat terakhir masih bisa tersenyum bahagia.


Namun di penghujung akhir saat akan keluar malah dirampok orang lain, termasuk harta yang telah ada dalam cincin mereka sebelum masuk ke Tanah Suci Para Pendekar ikut dirampok.

__ADS_1


Akan tetapi, pilihan ini masih lebih baik dari pada mati di tangan murid-murid Sekte Phoenix Suci, ataupun mati sebelum bisa keluar dari sana. Akhirnya keuntungan yang mereka peroleh hanyalah pengalaman bertahan hidup di sana selama 28 hari.


Sementara sisa 28 orang lain memilih diam dan mencoba peruntungan dalam pertarungan satu lawan satu, mayoritas ini adalah seniman bela diri dengan Puncak Ranah Langit.


Namun sayangnya, malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih, yang membedakan dalam pertarungan satu lawan satu ini bukanlah ranah kultivasi, tapi Array jebakan ini terlalu sempurna.


Orang yang mengatur Array ini juga sangat hebat. Sebagian besar seniman bela diri dari 28 orang itu mati karena bertarung dengan Sen Sin-Hiong dan kawan-kawannya yang dibantu oleh ilusi dari Array jebakan.


***


Gou Long, Hua Mei dan Murong Qiu tidak melanjutkan perjalanan di Tanah Suci Para Pendekar, terlebih lagi sumber daya yang mereka peroleh juga sudah melebihi dari yang mereka harapkan.


Juga, mengingat waktu yang sangat singkat, mereka harus bergegas ke gerbang keluar dari sana, ini adalah Gou Long yang terlalu banyak membuang waktu secara percuma di Kebun Herbal, setelah membereskan masalah dengan Siluman Kalajengking, dia malah kembali menetap di Kebun Herbal selama 5 hari.


Kalau Gou Long memilih menetap sementara, Hua Mei pasti akan ikut apa kata Gou Long. Ini seperti sebuah siklus yang saling berhubungan, Murong Qiu juga ikut seperti keinginan Hua Mei.


Gou Long sibuk dengan herbal-herbal yang dia pilih, kedua Gadis ini kemudian disuruh Gou Long untuk belajar kitab racun, Gadis kultivator, alangkah baik mereka belajar dan memahami racun. Ini sebagai pertahanan lain bagi mereka yang cantik dan molek dari mangsa hidung belang yang suka memakai racun.


Setelah 5 hari akhirnya mereka keluar dari Kebun Herbal, dengan bergerak cepat setelah 3 hari perjalanan, mereka sampai di depan Gerbang Keluar.


Dari kejauhan Gou Long, Murong Qiu dan Hua Mei telah melihat kubah biru yang muncul karena Array jebakan tersebut, mereka berputar arah dan mendekat ingin melihat siapa dalang dari Array tersebut.

__ADS_1


Kemudian, satu-persatu keluar seniman bela diri dari dalam Array tersebut dengan jeda waktu yang relatif singkat, mereka yang keluar memperlihatkan raut wajah lesu dan tidak bersemangat kemudian terus menuju gerbang keluar dan menghilang dari balik portal.


Menurut perhitungan Gou Long seniman bela diri yang keluar berjumlah 70 orang, lalu hening sejenak. Dan dilanjutkan dengan suara perkelahian sengit, serta jeritan kematian, itu juga terdengar 28 kali dalam rentang waktu hampir 3 jam lamanya.


“Mei ‘er, Saudari Murong sembunyikan jejak nafas, kita akan melihat keramaian di sini. Mungkin kita bisa mendapatkan banyak hal menarik dari kejadian ini.”


“Orang yang memasang Array ini benarlah seorang pemikir handal.” Ujar Murong Qiu.


“Tapi sayang! Serigala lapar lain malah ikut mengintai di sini.” Lirih Hua Mei ikut menimpali, dan tersenyum indah menatap Gou Long dengan pupil matanya yang berwarna biru.


“Hushh! Diamlah, lihat! Array ini mulai terbuka,” Bisik Gou Long mengingatkan mereka berdua. Ditatap seperti itu oleh Hua Mei, mau tidak mau juga membuat raut wajahnya yang putih memerah.


Dari dalam Array segera terlihat 10 orang yang sedang berkultivasi, “Apa kalian tahu siapa saja mereka? 10 orang itu jelas murid-murid Sekte Phoenix Suci.” Lanjut Gou Long bertanya dengan suara lirih, wajahnya kembali dipalingkan ke arah Array tersebut.


“Kami juga sama sepertimu, sejak di Daratan Tengah ini tidak pernah pergi melancong, kami selalu berada di Klan Hua, dan berfokus pada pelatihan diri, kami tidak kenal mereka.” Lirih Murong Qiu, menanggapi pertanyaan Gou Long.


Namun saat itu, Murong Qiu melihat Gou Long seperti tidak mendengar apa yang dia ucapkan, malah mulut Gou Long terlihat seperti digerak-gerakkan, dia sedang mengirim suara tenaga dalam pada orang lain, tapi siapa?


Dengan terus mengedarkan kesadaran spiritual sepanjang waktu, Gou Long tahu ada orang lain yang juga bertindak sama seperti mereka, mungkin mereka juga orang-orang yang tiba ketika Array itu masih terlihat seperti kubah biru karena sekarang di depan sana tidak terlihat lagi Array.


“Rekan seniman bela diri di belakang, kita sama-sama bersembunyi dan terus memperhatikan 10 orang di sana, mari bernegosiasi.”

__ADS_1


“Mata dari guru yang mulia sangat jeli, pantas saja beliau langsung berniat mengangkat saudara menjadi murid inti, kami murid-murid Sekte Pedang Suci sangat kagum,”


“Tunggulah di sana! Mari bernegosiasi.” Orang yang berbicara dengan Gou Long mengakhiri ucapannya.


__ADS_2