Pendekar Pengendara Petir

Pendekar Pengendara Petir
Chapter. 191. Ketulusan Hua Mei


__ADS_3

Gou Long juga melihat Ding Jia Li yang pada awalnya akan menjumpai dia, sekarang malah berbalik lalu mengembangkan ilmu meringankan tubuh meninggalkan halaman Asosiasi Alkemis begitu saja.


“Jia Li ‘er, tunggu! Kau mau ke mana?” teriak Gou Long, mencoba menahan gerakan Ding Jia Li.


“...” Tak ada jawaban dari Ding Jia Li, mata tajam Gou Long dan Hua Mei melihat jatuhnya butiran air mata yang terkena hembusan angin dari lesatan gerak ilmu meringankan tubuh Ding Jia Li.


Ingin melesat mengejar, namun Hua Mei masih memegang erat tangan Gou Long. Jeda sesaat itu, lebih dari cukup bagi seorang kultivator untuk terus melesat dan pergi menjauh. Siluet bayangan Ding Jia Li sudah tidak terlihat lagi di kejauhan sana


Hua Mei menyadari gerak tubuh Gou Long yang terasa sedikit menyentakan lengannya, “Gege! Cici tadi itu siapakah? Gege juga punya hubungan spesial dengan Cici tadi?” tanya Hua Mei, tersenyum lembut, tidak tampak sorot kecemburuan dari pupil matanya yang berwarna biru.


Gadis ini memang sejak dulu saat awal berjumpa dengan Gou Long, tidak akan mempermasalahkan dengan siapa saja Gou Long akan berhubungan, bahkan dia sempat akan rela berbagi cinta dengan Murong Qiu dulunya. Walau hal itu tidak pernah terjadi, karena Murong Qiu telah memantapkan hatinya pada Senior tertua mereka He Fei.


Hua Mei ini adalah gadis dengan tipikal orang yang tidak peduli, yang penting dia sendiri bisa selalu bersama Gou Long, hal lain-lain hanya urusan kecil yang tidak perlu dipusingkan sama sekali.


Saat pertama kali Gou Long memperkenalkannya dengan Huari, juga tidak terlihat kecemburuan dari Hua Mei, padahal jika dipikir dengan seksama, bagi gadis lain, orang terkasihnya selalu ditemani oleh seorang gadis saat apa pun dan di mana pun, pasti akan muncul setitik kecemburuan.


Namun begitulah Hua Mei, dibalik sifat manjanya, dia selalu bisa memilah-milih hal yang baik dan tidak baik bagi dirinya sendiri.


“...” Gou Long tidak menjawab, hanya menghela nafas panjang, “Haaaah!...” lalu menganggukkan kepala pelan.


Hatinya terasa sangat tertekan, memang pertemuannya dengan Ding Jia Li merupakan insiden yang tak terduga, sehingga mengharuskan ia untuk bertanggung jawab atas insiden tersebut.


Walau bagaimanapun Gou Long mencari-cari alasan, tak dapat dipungkiri Gou Long, hati kecilnya yang terdalam juga mencintai gadis tersebut, pesona dari Ding Jia Li membekas dalam di hati Gou Long.


Teringat saat tidak sengaja mandi di sungai, dan melihat tubuh bagian atas Ding Jia Li, teringat saat-saat memabukkan gara-gara energi Kultivasi Ganda, teringat setiap kata-kata yang diucapkan Ding Jia Li yang bernada ketus, namun nada dan raut wajah yang ditunjukkan Ding Jia Li berbeda, itu seperti orang berkata “Jinak-jinak merpati.”

__ADS_1


Terbayang akan itu semua, wajah Gou Long sedikit memerah.


“Haaaah!” kembali Gou Long menghela nafas panjang.


“Gege!...” sapa Hua Mei lembut, “Kejarlah Cici itu! Tahukah Gege perempuan sangat senang kalau laki-laki mau mengejarnya!” lanjut Hua Mei, dia lalu melepaskan pegangan pada tangan Gou Long.


“Jangan berlama-lama lagi Gege, sana kejar!” perintah Hua Mei, seraya memberikan kecupan hangat di pipi Gou Long.


Mengabaikan semua orang yang menatap mereka berdua, Gou Long mendekatkan diri sedekat-dekatnya dengan Hua Mei, hingga jarak wajah mereka berdua hanya beberapa inci saja, Hua Mei bahkan dapat merasakan hembusan nafas Gou Long yang menerpa wajahnya.


Gou Long menatap mata Hua Mei yang berwarna kebiruan, lama dan dalam seakan mencari sebuah kepastian dari apa yang baru saja didengarnya.


“...” Tidak perlu sebuah kepastian, sorot mata Hua Mei selalu seperti itu, lembut dan penuh pengertian, itu telah menjelaskan semua yang ingin dicari Gou Long.


***


Ding Jia Li terus melesat bergerak secepat yang ia bisa, ingin meninggalkan tempat yang membuat hatinya terasa mau meledak, ingin rasanya dia menetap selamanya di Sekte Teratai Biru bersembunyi dan tidak pernah melihat dunia luas ini lagi, atau menghilang untuk selamanya dan tidak pernah kembali ke Daratan Tengah ini.


Di sela-sela kesedihannya ini, pikiran jernih kadang muncul dan kadang tenggelam dalam dirinya, keinginan untuk meninggalkan Daratan Tengah dibuangnya jauh-jauh, dia tidak akan meninggalkan Guru dan adik-adik perguruannya begitu saja, tapi sesaat kemudian niat itu telah berubah kembali, ketika teringat apa yang terpampang di depan matanya tadi.


Memang Ding Jia Li bersikap ketus, tapi bukankah Gou Long telah berkata akan bertanggung jawab, memang Ding Jia Li belum menunjukkan adanya tanda-tanda penerimaan Gou Long dalam hatinya, namun sebagai seorang laki-laki bukankah seharusnya Gou Long peka pada perasaan perempuan yang halus.


Sudah sepantasnya sebagai seorang laki-laki dia harus menyadari itu, bukankah perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk yang paling bengkok dari seorang laki-laki? Sehingga laki-laki tidak akan pernah bisa meluruskan hal-hal yang bengkok dari perempuan, kalau terlalu dipaksakan malah tulang itu akan patah.


Begitu juga dengan perasaan perempuan, termasuk itu rasa cemburu, bukankah sudah sewajarnya ia merasakan cemburu? laki-laki hanya bisa terus bersikap lembut dan berlaku bijaksana.

__ADS_1


Ya! Apa pun jenisnya, yang namanya perempuan sudah seharusnya menjadi makhluk yang harus selalu diperhatikan, disayangi, dicintai, dan dilindungi, sekalipun ia seorang kultivator yang sangat kuat dan perkasa, karena seorang kultivator dari jenis perempuan tetap saja ia perempuan.


Sekuat apa pun perempuan, kodratnya sebagai perempuan tidak akan hilang, yaitu tulang rusuk yang paling bengkok dari jodoh laki-lakinya. Ia akan cemburu, ia ingin memiliki laki-laki yang dicintainya, ia tidak ingin berbagi, dan ia ingin dicintai sebagai wanita satu-satunya dalam hidup sang lelaki. Egois memang! Namun begitulah adanya seorang perempuan.


Bertarung dengan pikiran yang tidak menentu, satu sisi ia membenarkan kecemburuannya, sedangkan di sisi lain ia juga tidak bisa menyalahkan Gou Long karena ia sendiri juga bersalah dalam menunjukkan sikap.


Bertanya-tanya apakah sikap yang diperlihatkannya selama ini salah? Ding Jia Li melupakan arah dari lesatan tubuhnya, dia hanya terus mengembangkan ilmu meringankan tubuh tanpa tujuan, entah seberapa jauh jarak tempuh yang telah dilaluinya.


Ding Jia Li baru berhenti setelah melihat sungai kecil yang bisa dilewati dengan beberapa kali lompatan oleh seorang kultivator, apalagi pecahan-pecahan balok es dari bekuan salju juga mengapung-apung di atas aliran air sungai. Saat itu hari juga telah memasuki waktu petang.


Mencoba menenangkan kembali kepala yang berdenyut dan memanas, Ding Jia Li berjongkok di sisi sungai, membasuh muka dan kepalanya.


“Cess!”


Dinginnya air sungai yang terkena wajah dan kepala ikut mendinginkan suasana hati Ding Jia Li yang sedih dan memanas, pikirannya menjadi sedikit lebih jernih, bangkit dari jongkoknya, “Haaaaaah!” Ding Jia Li menghela nafas panjang.


“He he he!...” suara tawa mengekeh terdengar dari samping kanannya.


“He he he!...” kembali kekeh itu terdengar, itu tawa seorang yang sudah memasuki usia tua, tapi kekeh itu bernada cabul, seakan ingin melahap Ding Jia Li.


“Sungguh kenikmatan tiada tara, dapat menjumpai angsa putih yang baru saja membersihkan diri di tepi sungai ini, dengan cuaca dingin seperti ini, akan sangat menyenangkan untuk dijadikan penghangat tidur.”


Mendengar tawa kekeh dan ucapan tersebut, Ding Jia Li memalingkan wajahnya ke arah kanan, dia sangat marah terhadap ucapan yang merendahkan martabatnya sebagai perempuan tadi.


Hati yang tadinya sudah dingin kembali memanas, wajahnya memerah menahan amarah, yang menambah kecantikannya di tengah-tengah salju yang kembali mulai berjatuhan di petang itu.

__ADS_1


__ADS_2