
Ye Xuan segera bergerak maju setelah mendengar He Fei mengutusnya sebagai petarung kedua.
Tanpa menunggu He Fei melanjutkan ucapan, Ye Xuan segera saja berkata, “Nona boleh langsung mengajukan lawan yang pantas denganku, aku tidak sebaik Saudara He Fei yang tidak menggunakan senjata, aku Pendekar Pedang Sejati, kuharap Nona menyiapkan lawan yang juga menggunakan pedang.”
Hua Yan Ran lantas menyahuti perkataan itu. “Saudara Ye jangan terlalu terburu-buru, aku khawatir saudara Ye akan kalah hanya dalam beberapa gerakan saja.”
“Kawanku yang akan bertanding denganmu, dapat aku pastikan lebih kuat dari Susu, dia juga seorang Pendekar Pedang–”
“Ranran! Jangan kau takuti dia terlalu dini, biarkan dia langsung merasakan saja jurus-jurus pedangku nanti dalam pertarungan nyata.” Salah seorang gadis dari kelompok Hua Yan Ran memotong percakapan tersebut.
Gadis itu kemudian bangkit berdiri dan langsung bergerak ke arah Ye Xuan.
“Qiau Lien! Kau tidak boleh kalah, perlihatkan saja Jurus Pedang Tunggal Keluarga Qiau padanya,” ucap Hua Yan Ran.
Tidak salah ketika kelompok ini dikategorikan sebagai kelompok para gadis-gadis cantik dari Sekte Naga Langit. Hua Yan Ran, Ying Susu, dan yang saat ini akan bertarung dengan Ye Xuan, Qiau Lien dan juga dua gadis lainnya yang ikut bersama kelompok ini.
Mereka benar-benar gadis-gadis rupawan dengan kecantikan yang memiliki keunikan tersendiri. Qiau Lien yang akan segera bertarung terlihat anggun, dengan postur yang imut-imut kecil. Namun, lekuk tubuh yang berisi tercetak di balik pakaian.
Raut wajahnya terlihat sempurna, bulat bagaikan bulan purnama, dilengkapi dengan hidung yang mancung, bibir kecil tipis serta kulit putih kemerahan.
Dengan senyuman mengembang dari bibi mungil, Qiau Lien menghadapi Ye Xuan lalu berkata, “Saudara Ye keluarkan pedangmu, kalau saudara tidak memiliki pedang Ranah Surgawi saudara Ye pasti tidak akan menang. Sebaiknya saudara Ye menyerah dari sekarang saja.”
“Ahhh! Gadis ini sangat cantik, senyumannya saja sudah membuat hatiku jadi tak karuan begini. Hemm, si batang kayu(He Fei) itu bisa menaklukan hati adik Qiu.”
__ADS_1
“Aku yang sangat tampan, aktif dan kreatif, Bagaimana mungkin harus kalah dari si batang kayu? Akan aku taklukkan gadis ini baik ilmu silat, juga hatinya …” pikir Ye Xuan yang terpesona dengan senyum manis dari Qiau Lien.
Entah keberanian darimana yang merasuki Ye Xuan, mungkin bakat uniknya yang mudah bergaul dan tidak malu-malu dalam hal apapun, mendorongnya untuk mengeluarkan kata-kata berikut, “Nona Qiau apa sudah memiliki tambatan hati? Hemm, bagaimana kalau kita bertaruh dalam taruhan. Maksudku, kita bertaruh antara aku dan Nona Qiau saja.”
Semua yang hadir di tempat itu terpana dengan keberanian ucapan Ye Xuan, ia tanpa malu-malu bertanya terhadap status anak gadis orang. Padahal di masa itu bertanya hal tersebut pada seorang gadis di depan umum seperti ini merupakan hal yang tabu.
He Fei yang menganggap perkataan Ye Xuan sangat tidak pantas, lantas bergegas ke sisi Ye Xuan, diketuknya kepala Ye Xuan dengan keras lalu ujarnya, “Apa yang kau katakan, kau sangat tidak tahu malu, lekas minta maaf pada Nona Qiau.”
“Sangat menarik, baru hari ini aku berjumpa dengan laki-laki yang memiliki keberanian seperti ini. Akan kucoba saja dulu bagaimana dia akan menyelesaikan masalah yang banyak orang anggap tabu ini,” pikir Qiau Lien.
“Tidak apa-apa saudara He!” seru Qiau Lien.
“Aku juga ingin mendengar, bentuk taruhan bagaimanakah yang akan diajukan oleh saudara Ye …” lanjut Qiau Lien sambil tersenyum manis, tidak terlihat perasaan marah dan terhina dari raut wajah Qiau Lien. Hal yang dengan segera saja membuat perasaan Ye Xuan terbang ke awan.
“Namun …” Sedikit Ragu, Ye Xuan berhenti sejenak dan memilih kata-kata yang menurutnya tidak akan membuat orang lain tersinggung.
“Seandainya Nona Qiau yang kalah, maka nona harus menjadikan diriku sebagai teman nona, teman yang akan menemani nona sampai akhir hayat.” Ye Xuan bernafas lega setelah memaparkan bentuk dari taruhannya.
Mendengar bentuk taruhan yang diajukan Ye Xuan hadirin kembali terpana, lalu suara tawa merdu terdengar menertawakan ucapan Ye Xuan.
“Ha ha ha! … Saudara Ye boleh memiliki keyakinan tinggi pada diri sendiri kemudian merasa aku tidak akan bisa mengalahkan mu. Namun, aku juga sangat yakin bisa mengalahkan saudara Ye.”
“Terlepas dari hal ini, aku menerima taruhan yang saudara Ye ajukan. Ha ha ha! ... Saudara Ye, bersiap-siaplah untuk kehilangan Teknik pedang, Saudara Ye juga boleh mencoba mengejar aku kelak, lalu jangan berlaku setengah-setengah, cobalah untuk menaklukkan hatiku .…”
__ADS_1
Jawaban yang diberikan Qiau Lien membuat rasa sesak di hati Ye Xuan menjadi lebih lega, lantas dia langsung mengeluarkan pedangnya sambil berkata, “Nona Qiau, boleh memulai serangan, aku tidak akan berlaku sungkan nantinya, walaupun yang aku lawan adalah seorang perempuan.”
Qiau Lien juga mengeluarkan pedangnya, itu adalah sebatang pedang pendek yang biasa dipakai kaum perempuan. Seperti yang diucapkannya di awal, itu jelas pedang Ranah Surgawi, hawa dingin yang dikeluarkan pedang tersebut terasa sampai menusuk tulang.
Pedang tersebut merupakan artefak tingkat tinggi yang ditempa dengan logam kuat serta terukir segel-segel sihir es. Hawa dingin yang membuat gigi bergemelutuk, itu efek dari sihir-sihir penguat elemen es. Qiau Lien yang sudah terbiasa menggunakan pedang ini, tidak membutuhkan pertahanan tenaga dalam untuk mengusir hawa dingin.
Itu merupakan keuntungan tersendiri bagi Qiau Lien, berbeda dengan orang-orang yang lain di situ. Terlebih He Fei, Ye Xuan, Murong Qiu dan Hua Mei. Ini pertama kali mereka melihat dan merasakan dinginnya udara yang ditimbulkan pedang, walau pada awalnya mereka terkejut, kemudian mereka segera bisa menolak hawa dingin itu dengan pertahanan tenaga dalam.
“Pedang yang sangat bagus .…” ujar Ye Xuan kagum.
“Bagi seorang ahli, artefak hanyalah sebuah pelengkap, kalau sudah ahli dalam ilmu pedang ranting kayu pun bisa mengeluarkan hawa pedang, kalau sudah ahli dalam senjata rahasia daun pun bisa menebas leher.” Ye Xuan teringat akan setiap ucapan He Fei tiap kali mereka berlatih tanding.
“Baru melihat pedangku saja saudara Ye sudah gemetaran, maaf! Bagiku kata-kata yang sudah diucapkan tidak bisa saudara Tarik kembali, “Lihat pedang!” teriak Qiau Lien
Dia bergerak indah dengan pedang pendek yang berhawa dingin. Hawa dingin terlebih dahulu sampai ke arah Ye Xuan baru kemudian pedangnya datang menyusul.
Serangan yang dilakukan Qiau Lien lincah dan cepat serta tidak ada gerakan yang sia-sia, serangannya selalu berkesinambungan antara satu gerakan dengan gerakan yang lain. Qiau Lien benar-benar seorang pendekar pedang yang hanya berlatih ilmu pedang.
Ye Xuan yang menerima serangan demi serangan pedang tanpa terputus, menjadi sangat antusias. Perasaan senang tiba-tiba saja muncul dari dalam hatinya. Lantas, dengan menampilkan senyuman di wajah, Ye Xuan bersuit nyaring.
“Suuitt!”
Bunyi suit melengking tinggi, kemudian diiringi dengan siluet bayangan Ye Xuan yang bergerak, membalas jurus-jurus ilmu pedang lawan.
__ADS_1