Pendekar Pengendara Petir

Pendekar Pengendara Petir
Chapter. 310. Semua Telah Bertekad


__ADS_3

Setelah sekian lama, akhirnya mereka semua telah kembali pada kenyataan. Satu persatu mereka memberi hormat pada Patriark Song Generasi ketiga. 


Mereka semua saling beramah-tamah sesaat, kemudian Gou Long sekali lagi memberi penghormatan pada pada semua orang, dia tampil ke muka dan mulai berceramah singkat.


“Para senior sekalian, hari ini junior mengumpulkan semua senior di sini hanya dengan satu tujuan. Semua orang di sini juga sudah merasakannya, terlalu lama terbelenggu pada Ranah Kultivasi Puncak Surgawi. Kita semua ingin melepaskan diri dari belenggu tersebut.”


“Beberapa tahun yang lalu, junior memperoleh informasi tentang ranah yang lebih tinggi, juga terkait bagaimana agar kita bisa ke Alam tersebut.”


Semua orang di sana, terlihat menganggukkan kepala, mereka setuju dengan ceramah Gou Long yang belum tuntas. Pemuda itu kemudian mengeluarkan dua pedang lainnya yang mirip dengan pedang di tangan para Patriark dan Matriark.


Gou Long menyerahkan salah satu pedang tersebut pada Kakek Awan Putih, sedangkan yang satu lagi dipegangnya. “Para Patriark sekalian mungkin hanya tahu, bahwa pedang ini berjumlah sepuluh dan berfungsi sebagai kunci untuk membuka Tanah Suci Para Pendekar.


Setelah menarik nafas dalam, Gou Long mengacungkan pedang di genggamannya ke langit. “Hal yang para Patriark pahami sebelumya, tidak dapat disalahkan juga tidak dapat dibenarkan. Lihatlah, faktanya di tangan junior juga ada pedang kesebelas yang sama persis dengan pedang para Patriark miliki.”


Para Patriark yang sebelumnya belum pernah diperlihatkan Gou Long tentang pedang tersebut, kembali menghitung, dan mereka menemukan fakta yang benar di balik perkataan Gou Long.


Sementara itu, Kui Ong Cinjin, Matriark Li, It Hong Taysu, Hua Cui Sian tersenyum lebar. Mereka sudah tidak sabar untuk segera membuka portal tersebut.


Namun, hal selanjutnya yang diucapkan Gou Long membuat semua orang terkejut. Kecuali, Hau Mei, Ding Jia Li dan Kakek Awan Putih. 


“Junior mengumpulkan para senior sekalian dengan maksud membuka portal ke Alam yang lebih tinggi dan tingkatan kultivasi yang lebih tinggi. Tapi–” Gou Long menghentikan perkataan dan melihat semua orang tajam, ia melihat ada tekad dalam sorot mata semua orang.


“Tapi, portal yang akan kita buka ini, benar-benar Alam yang kita sendiri tidak tahu bagaimana dan apa saja yang ada di sana. Kemudian hal yang paling penting adalah … Junior rasa kita semua di sini pernah masuk ke dalam portal teleportasi. Saat tiba di Alam lain, sudah tentu kita pasti akan saling terpisah-pisah, sekalipun kita saling bergandengan tangan saat masuk.”

__ADS_1


“Begitu juga dengan portal yang akan kita buka ini. Saat tiba di seberang, pasti akan terpisah-pisah. Andai beruntung, kita bisa saja terlempar pada satu tempat yang sama, akan tetapi ini sangat kecil kemungkinannya. Jadi apakah para senior sekalian telah mempersiapkan mental dan keyakinan yang pasti untuk masuk ke Alam tersebut?”


“Ingat, kesendirian dan tidak bisa bergantung pada orang lain saat di Alam itu nanti merupakan hal yang pasti. lagipula Alam ini adalah dunia yang sangat luas, bukan alam kecil seperti Tanah Suci Para Pendekar.”


Gou Long sedang mencari kepastian atas sorot mata yang diperlihatkan para Patriark itu sebelumnya. Walau sempat terkejut, semangat dan keinginan mereka tetap tinggi. 


Mereka bukanlah anak kecil, kenapa takut kesendirian. Mereka semua berada pada puncak kultivasi tertinggi di dunia ini, menunggu kesempatan naik pada tingkatan selanjutnya, mungkin hanya kematian yang mereka dapatkan. Apa salahnya mencoba daripada duduk diam dan menunggu kematian. 


“Itu hal sepele bocah, bukankah kita dulu sebelum sampai pada tingkatan ini juga berjuang dari titik terendah dengan darah dan air mata.” Kui Ong Cinjin menjawab penuh dengan keyakinan, ia jelas telah membangkitkan tekad yang lainnya.


“Iya, tepat. Kami telah memikirkan hal tersebut berulang kali. Mari kita buka portal itu.” Para Patriark lain ikut menimpa.


Terkait apa yang ia sampaikan itu, Gou Long sendiri juga telah memikirkannya berulang kali, dia juga telah berbicara tentang hal itu pada Hua Mei dan Ding Jia Li. 


Sehingga saat ia meminta kedua siluman yang telah melakukan kontrak jiwa dengannya mengecil, dan masuk ke dalam cincin budak tidak lain karena alasan itu. Gou Long ingin kedua siluman itu menjadi pelindung bagi istrinya di Alam seberang. 


Alasan keterlambatan ia tiba hari ini juga karena ia sedang berpesiar bersama kedua istrinya, menikmati masa-masa indah yang singkat. Ia juga telah mengeluarkan jiwa Hauri dari dalam pedang, dan telah ia simpan ke dalam botol giok. 


Saat ini tato pedang di lengan Gou Long telah menghilang, dan Pedang Peri Ilusi telah ia simpan di dalam cincin penyimpanan seperti Artefak lainnya.


“Baik, kalau semua senior telah bertekad maka, portal ini akan segera kita buka bersama-sama. Satu hal lagi, hampir saja junior lupa. Saat kita tiba di sana, prioritas utama adalah untuk terus hidup, semoga kita bisa bertemu kembali dengan selamat kelak.”


Semua orang telah mengingat dalam hati apa yang diucapkan pemuda itu.

__ADS_1


Kemudian mereka bergerak ke tugu batu, duduk bersila memfokuskan tenaga dalam ke dalam pedang. Posisi dari Patriark Tong(orang yang pedangnya direbut Gou Long) diisi oleh Kakek Awan Putih. 


Pada awalnya Gou Long mengajak tiga orang dari Sekte Naga Langit, Patriark Song dan Kakek Zhou. Namun, setelah mempertimbangkan dengan matang, kedua orang itu mau berfokus membangun Sekte Naga Langit. 


Sebelas pedang berwarna biru terang karena aliran tenaga dalam melesat masuk ke dalam lubang di tugu batu.


Tugu berputar keras, itu masih sama seperti saat mereka buka Tanah Suci Para Pendekar.


Berputar keras, lubang gaib terlihat muncul, itu adalah portal yang terbuka, sedikit berbeda saat pembukaan Tanah Suci Para Pendekar, pedang itu keluar dan membentuk lingkaran, dari lingkaran pedang muncul portal. Saat ini, pedang hanya berlaku sebagai kunci pemicu. 


Portal muncul dari tugu batu yang berputar. Sedangkan pedang tercabut dengan sendirinya dari lubang di sana. Semua orang tahu, portal yang seperti ini akan tertutup sendiri setelah satu dupa terlewatkan.


Mereka mengambil kembali pedang masing-masing, dan menatap portal yang terbuka. 


Sejenak saling lirik satu sama lain, belum ada yang berani masuk.


“Ha ha ha! …” Kakek Awan Putih tertawa besar. “Apakah kalian mulai meragu? Biarlah orang tua ini yang pertama kali masuk ke Alam tersebut.” 


Kakek Awan Putih tidak menunggu orang lain berbicara, ia berjalan santai dan masuk ke dalam portal.


“Bless!”


Siluet bayangan tubuh orang tua itu menghilang dan meninggalkan tatapan kagum dari dua belas pasang mata yang lain.

__ADS_1


__ADS_2