
Tak jauh di depan sana, Gou Long terlihat berdiri menyunggingkan senyum seringai Iblis, di tangannya sebatang pedang berwarna hijau pekat, pedang yang sangat beracun. Baju anak muda itu penuh dengan percikan darah dari korban-korban yang telah dipenggalnya.
Bok Tong Wa sudah tidak mau melihat lagi, dia telah mendapat jaminan waktu, “Sebaiknya aku terus berusaha menghilangkan racun dalam tubuhku, keparat ini sendiri yang memberikan kelonggaran padaku.” Batinnya.
Tong Kak San terlihat sangat geram, begitu juga dengan Ouyang Sikuan, kerugian pihak mereka sangat besar, dari tiga puluh orang hanya bersisa tujuh orang saja, sekarang bagi mereka hanya ada pertarungan hidup dan mati, tidak ada lagi niat untuk meratakan Gunung Teratai.
Mata dari tujuh orang itu jelalatan mencari-cari yang manakah Eira dan Siauw Xiezy, di depan mereka hanya terlihat Gou Long.
“Apa bocah keparat ini hanya menggertak?”
“Bagaimana cara ia membunuh dua puluh tiga orang dari kami dalam waktu yang relatif singkat?”
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu muncul dalam benak setiap orang, karena mereka hanya melihat Gou Long sendirian saja di sana.
“Ha ha ha… Aku tahu apa yang kalian cari!” senyum ejekan semakin mengembang di bibir Gou Long, “Baiklah! Ini kulakukan agar kalian tidak mati penasaran.”
“Plok! Plok!” menepuk keras tangannya dua kali, “Siauw Xiezy! Eira! Keluarlah, perang gerilya sudah berakhir, sekarang babak kedua, dua lawan satu, masing kita memiliki dua lawan. Yang sudah keracunan ini biarkan jadi penonton.”
“Ha ha ha…”
Dari lubang-lubang itu keluar dua makhluk kecil, Siauw Xiezy bahkan seperti sengaja membuat ukuran tubuhnya sebesar Eira.
“Tak perlu bermain-main, perlihatkan saja wujud asli kalian!”
__ADS_1
Menatap tajam enam orang yang masih bisa bertarung, “Kalian terlalu fokus mengedarkan kesadaran spiritual padaku, sehingga kedua makhluk ini tidak dapat kalian temukan, he he he…”
Eira dan Siauw Xiezy memperlihat wujud asli mereka, “Whosshh!” dua wujud Siluman besar dan membengkak muncul di sana, Gou Long berjalan santai, duduk di salah satu jepitan besar Siauw Xiezy seperti orang duduk di atas batu.
Setiap kata-kata Gou Long mengena betul di hati mereka, “Penatua Gou sangat pandai menyembunyikan kepandaian, bahkan dua siluman hebat, mau tunduk pada Penatua Gou, andai Patriark Tua ini tahu, akan lebih banyak pasukan yang Patriark tua ini bawa ke Gunung Teratai.”
Tong Kak San sadar, meminta ampun dan mencari selamat saat ini adalah perkataan yang sia-sia, lebih baik mengucapkan kata-kata penyesalan karena persiapan yang ia dan kawan-kawannya bawa kurang matang.
“Patriark Tong sangat cerdas! Namun kecerdasan ini sangat telat datangnya, saat ini aku sudah tidak berniat memberi ampun pada kalian, terlebih setelah kalian melihat kedua makhluk itu, semakin banyak orang tidak tahu tentang mereka berdua semakin baik bagi Master ini.”
Mengalihkan tatapan mata pada Patriark Klan Ouyang, “Kau sungguh tua bangka yang sangat bodoh! Putra kesayanganmu yang tidak berharga itu, sangat tidak pantas untuk diperjuangkan,” ujar Gou Long.
“Ha ha ha…”
“Bukankah kau sekarang menyadari ketololanmu? Atau kau bahkan tidak menyesalinya sama sekali? Hanya demi anak sampahmu itu, nyawamu sendiri harus ikut melayang, bahkan Klan Ouyang juga terancam menghilang.” Lanjut Gou Long mengejek Patriark Ouyang.
“Kematiannya sama dengan kematian Klan Ouyang generasi akan datang, menuntut balas atas kematiannya menjadi sangat pantas…”
“Tidak perlu banyak berbicara, pertarungan terbuka seperti ini, aku yakin bisa memperoleh kemenangan, dan kau telah menyatakan sendiri ini adalah babak kedua, ‘dua lawan satu’ orang gagah tidak akan menjilat ludahnya sendiri…”
“Peluang kemenangan kami masih sangat besar…” Ouyang Sikuan berkata tegas dan terlihat meyakinkan, membangkitkan semangat lima orang lainnya di sana.
“Pantas ia menjadi Patriark Klan Besar Daratan tengah ini, dia tidak pernah kehilangan kepercayaan diri. Dan bisa membangkitkan semangat bertarung yang lain dalam sekejap mata.” Batin Gou Long.
__ADS_1
Gou Long mengeluarkan kendi arak yang berisi sisa Arak Anggur Surgawi dan sudah dicampurnya dengan berbagai arak, menikmati setiap tegukan arak di bawah tatapan tajam enam orang musuh-musuhnya.
Gaya anak muda itu sangat santai, mengundang rasa geram di hati para Penatua, “Jadi babak kedua siapa yang akan kau pilih sebagai lawan?” tanya Ouyang Fan, dia tidak bisa menahan geram dalam hati melihat tingkah Gou Long.
“Ha ha ha…” tertawa keras, “Penatua Klan Ouyang sangat unik, begitu besarkan rasa rindumu dengan Raja Neraka? Jangan tergesa-gesa! Gunakan waktu hidup kalian yang sedikit lebih lama ini untuk menenangkan pikiran dan mengatur pernafasan karena kelelahan pasca pertarungan tadi…”
Masih santai meneguk araknya, “Yang pasti aku tidak akan memilihmu sebagai lawan, dua yang terkuat dari kalian harus menjadi lawanku!” Mengacungkan jarinya telunjuknya, Gou Long melanjutkan, “Sepuluh tarikan nafas, ya! Sepuluh tarikan nafas bagi kalian untuk berdiskusi.”
Sekarang Gou Long sepenuhnya tidak peduli sama sekali pada mereka, ia menatap Eira dan Siauw Xiezy bergantian, mengelus lembut keduanya, “Pekerjaan kalian berdua patut di apresiasikan. Ini, cobalah anggur ini, terasa sangat enak.”
“Tuangkan saja ke dalam mulutku…” Eira mengecap-ngecap lidahnya.
“Aku juga…” Siauw Xiezy ikut meminta.
Apa yang dilakukan ketiga makhluk berbeda itu menambah rasa geram pada keenam lawan mereka, “Bocah itu benar-benar memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi! Apa dia masih memiliki hal lain yang ia sembunyikan?” mau tidak mau Tong Kak San memikirkan kemungkinan itu.
“Tahan amarah kalian!” coba menenangkan situasi, Tong Kak San melanjutkan, “Penatua Gou sedang menekan mental kalian! Semakin kalian marah maka kalian akan lebih cepat kalah dalam bertarung. Lihat! Dia sangat tenang.” Tong Kak San memberikan contoh ketenangan diri dengan menyebut Gou Long sebagai Penatua, padahal sebelumnya menyebut Gou Long keparat.
Sikap seperti itu sangat penting untuk menambah moral bertarung bagi mereka.
Gou Long menyimpan kendi arak, “Nah! Sepuluh tarikan nafas bagi kalian untuk mengatur strategi telah berlalu,” menggosok dagunya yang tidak berjenggot, “Kalian mau bertarung sekaligus atau bertahap?”
“Rasanya tidak tepat kalau bertahap, tiga gelanggang pertarungan sekaligus lebih menghemat waktu. Lagi pula ini bukan kompetisi, penonton pun sudah kita miliki...” menunjuk Bok Tong Wa, “Kau boleh menonton terus, sambil menunggu ajal menjemput.” Ekspresi kejam dan sadis terlihat dari raut wajah Gou Long.
__ADS_1
Patriark Klan Ouyang dan Patriark Sekte Awan Berkabut maju ke hadapan Gou Long, “Kami akan bertarung melawanmu.”
Dengan majunya kedua Patriark dan memilih Gou Long sebagai lawan, para Penatua lain berlega hati, mereka memilih kedua siluman sebagai lawan, tak dapat membohongi diri, dalam hati mereka berkata, “Beruntung Patriark lebih dahulu memilih bocah gila itu sebagai lawan. Kami jelas bukan lawan dia, anak itu terlalu kuat bagi kami.”