Pendekar Pengendara Petir

Pendekar Pengendara Petir
Chapter. 251. Terjun Membantu


__ADS_3

Sang Patriark menatap semua murid-murid Sekte Lembah Es Utara yang tertekan berat.


“...” Tidak berusaha menjawab atau menanggapi setiap ucapan Gou Long, dia melepaskan Domain Ranah Surgawi miliknya. 


Itu memang bisa mengimbangi, tapi itu tidak dapat melindungi semua murid-murid Sekte Lembah Es Utara. Patriark Pan hanya bisa menggeram marah, dan berkata, “Pendekar Gou! Baiklah, kau bisa pergi dari sini. kami pasti tidak akan mengusutnya lebih lanjut.”


Gou Long tersenyum, ia tahu itu hanya perkataan di mulut saja, pada kenyataannya dalam hati, Patriark Pan ataupun para Penatua Sekte Lembah Es Utara masih berniat mengejarnya.


Tapi bagi Gou Long, dia tidak peduli akan hal itu, ia sangat yakin dengan kemampuannya untuk menenangkan diri.


“Patriark Pan memang orang yang sangat berbudi,” Gou Long mengeluarkan pil penyembuh dari cincin penyimpanannya, melemparkan pada Patriark Pan, “Hanya itu yang bisa aku berikan kepada kalian, selamat tinggal.”


Suara yang menghilang, siluet bayangan orangnya juga ikut menghilang, disana hanya terlihat percikan kecil dari tenaga dalam elemen petir yang dikeluarkan Gou Long.


Seiring dengan menghilangnya si pemuda, Array domain yang menekan semua murid-murid Sekte Lembah Es Utara ikut menghilang. Patriark Pan dan Penatua Sekte bernafas lega.


“Baru sekarang orang tua ini melihat seorang pendekar muda yang memiliki tingkat tenaga dalam sangat tinggi. Heran! Entah bagaimana dia berlatih.” Patriark Pan termangu-mangu di tempat, bergumam takjub akan ke kehebatan Gou Long.


Dia melemparkan pil pemberian Gou Long pada para Penatua Sekte, “Segera pulihkan diri kalian!” berlalu dari sana, melesat mengikuti arah menghilangnya Gou Long.


Berhasil meninggalkan Sekte Lembah Es Utara tanpa harus membunuh orang-orang disana, melegakan hati Gou Long. Dia bergerak cepat dan sebat, terus menggunakan Teknik Memindah Jasad. 


Menjadi orang baru di Daerah Utara, Gou Long kabur tanpa tahu arah yang pasti. Yang jelas cara dia melarikan diri ini tidak melulu dengan satu arah lurus, Gou Long tahu cara yang terbaik agar tidak terkejar dengan menghilangkan aura dan berpindah-pindah arah.


Terus melesat seharian, sungai besar dengan jarak lima puluh tombak terbentang di depannya, jauh di seberang sana Pulau lain terlihat. Gou Long belum mengetahui keunikan Daerah Utara dengan banyaknya pulau-pulau kecil layaknya pergantian kota di daerah lain. 


Berada di Pulau lain pemuda itu sudah melihat adanya kota lain, namun ia tidak memilih masuk ke Kota, Gou Long meloncat tinggi ke atas mencari hutan terdekat.


Dia ingin coba masuk kembali ke ruang hampa, “Teknik Kultivasi Ruang Angkasa.” ini masih terngiang di telinga dan benak Gou Long. Beberapa kali mencoba hal-hal unik di Kota malah berujung munculnya masalah yang tidak terpikirkan.

__ADS_1


Dengan dasar pengalaman seperti itu, agar tidak terjadi gangguan, hal-hal unik ini lebih baik dilakukan di dalam gua saja.


Tidak mendapatkan gua, Gou Long melesat kesalahan satu pohong yang paling besar dan rimbun, ia duduk bersila di atas dahan dibalik dedaunan lebat pohon.


Mengumpulkan niat, berkultivasi.


“Whosshh!”


Lubang hitam kegelapan muncul melahap Gou Long. Benang penghubung dengan dunia luar sangat mudah ia dapatkan. Sebentar saja ia coba mengikuti dan keluar dari ruang hampa lagi, saat itu Gou Long telah kembali ke sisi sungai semula.


“Apa mungkin membuka dan menutup ruang hampa ini tanpa harus berkultivasi?” batin Gou Long.


Lamunan Gou Long buyar, tidak jauh dari sana di kedalaman hutan, suara adu pukulan dan dentingan adu pedang terdengar.


“Pertarungan sengit? Tadi tidak ada suara pertarungan di hutan ini.” Cepat Gou Long melesat ke arah itu.


Dia tidak langsung terjun, terlebih dahulu bersembunyi, sudut pandang yang luas, sang pemuda melihat tiga orang Ranah Surgawi Tahap Menengah, mengapit seorang gadis Puncak Ranah Langit di tengah-tengah.


Luka dan pakaian yang robek memenuhi keempat orang itu, perkelahian itu jelas tidak terjadi di hutan itu sejak awal, melainkan mereka melarikan diri, dan terkejar sehingga terjadi perkelahian lagi.


“Serahkan saja barang yang menjadi hak milik orang-orang daerah Utara ini kembali pada asalnya. nyawa kalian akan terjamin!” orang yang berdiri di luar mencemooh.


“Paman! Kau sangat tidak tahu malu! Bahkan menjual harta dan keponakan sendiri pada orang-orang sesaat Utara ini,” teriak Gadis yang diapit oleh tiga orang Ranah Surgawi Tahap Menengah, sorot mata berkilat penuh amarah.


Gou Long terus menonton pertarungan tersebut, saat si Gadis di tengah-tengah berbicara, Gou Long seperti pernah bertemu dengan gadis itu.


Tidak hanya sekali, bahkan beberapa kali, memeras otak sebentar, “Bukankah Itu dia? Aku tidak tahu nama gadis itu, namun pernah aku melihatnya bersama mendiang Cici Ranran.”


“Sstt!” tidak menunggu lagi, dia tahu siapa yang harus ia bantu, Gou Long bergerak melesat.

__ADS_1


“Whoosshh!”


Setelah melepaskan dua Pukulan Telapak Arhat yang membuat para penyerang kelompok si Gadis berpencar, Gou Long berdiri di sisi gadis tersebut.


“Siapa yang membokong?” teriak salah satu dari penyerang, berang karena pekerjaan mereka diganggu.


Namun, ia tidak memerlukan jawaban, karena sekarang di depan sana terlihat seorang pemuda yang berdiri di sisi si Gadis.


“...” Tidak langsung menyerang, masih bisa mengontrol hati yang memanas, keempat orang  itu baik yang tadi bertarung atau yang berdiri di luar gelanggang pertempuran meneliti Gou Long sejenak, berkesan meremehkan dan mengejek, orang yang disapa Paman oleh si Gadis bertanya, “Siapa kau? Kenapa mengganggu urusan kami? Apa kau juga ingin mati?”


Mereka telah melihatnya, ranah kultivasi anak muda itu Puncak Ranah Surgawi, sama dengan mereka. Sehingga tidak muncul rasa khawatir di hati, “Apa yang bisa dilakukan seorang pemuda Puncak Ranah Surgawi saat berhadapan dengan empat orang Puncak Ranah Surgawi yang telah bertahun-tahun berkutat di sana serta memiliki fondasi kultivasi yang sangat luas.”


Gou Long mengabaikan mereka, berpaling pada si Gadis, “Nona! Selamat bertemu kembali.”


Si Gadis belum bisa mencerna seluruh kejadian dan bantuan tadi, dia belum mengenali Gou Long, dan masih coba mengingat paras dari pemuda yang berdiri di sisinya 


Merasa diabaikan, orang yang disapa Paman sangat marah, “Keparat! Kau berani mengabaikanku?”


“Sst!”


“Whusshh!”


Dengan kipas unik yang tiba-tiba dikeluarkan, ia mengayunkan pelan, angin keras menerjang ke arah tiga orang Ranah Surgawi Tahap Menengah, si Gadis dan Gou Long.


“Huft! Saat aku mengabaikanmu, itu artinya kau hanya semut di mataku, angin pukulan coba-coba seperti ini tidak ku pandang sama sekali, walau hanya sebelah mata,” ucap Gou Long mencemooh.


Ringan! Gou Long mengayunkan tangannya perlahan, hawa pukulan telapak berwarna hitam pekat meluncur.


“Whoosshh!”

__ADS_1


Angin pukulan dari ayunan kipas terlahap ke dalamnya.


__ADS_2