Pendekar Pengendara Petir

Pendekar Pengendara Petir
Chapter. 144. Harta Peninggalan


__ADS_3

Gadis yang bernama Ding Jia Li ini adalah seorang ahli formasi dan segel, melihat pola segel yang mengikat peti tersebut, dia berputar beberapa kali, sambil memperhatikan lebih jelas setiap tiang-tiang yang mengeluarkan rantai gaib tersebut.


“Setiap tiang ini mengikat satu siluman kelas ke-2, sedangkan pola Array ini harus dibuka secara bersamaan, apa kalian yakin bisa mengalahkan 4 siluman kelas ke-2 dalam waktu singkat? Karena...”


“Karena, yang terkuat pasti terikat bersama peti ini sekaligus menjadi pelindung utama dari peti ini.” Ding Jia Li menjelaskan pada rekan-rekannya.


“Jia Li coba kau jelaskan lebih detail siluman apa yang terkuat itu?” tanya Bwee Siang.


“Yang jelas ini siluman Naga kelas ke-1.”


“Masing-masing kami akan melawan satu siluman kelas ke-2, sedangkan dirimu dan Na Hong-Hong yang akan bertarung dengan Siluman kelas ke-1,” ujar Bwee Siang.


“Rasanya tidak akan lama, kami yakin bisa mengalahkan siluman kelas ke-2 dalam 20 gerakan, kemudian kami akan ikut mengeroyok siluman kelas ke-1, bagaimana?” Bwee Siang melanjutkan serta menjabarkan pemikirannya.


Na Hong-Hong dan Ding Jia Li melihat ke arah 3 murid Sekte Teratai Biru lainnya, mereka menganggukkan kepala tanda setuju.


Ding Jia Li berjalan mendekati peti yang terantai secara gaib, dan mengerak-gerakkan tangan mengatur berbagai pola, “Terbukalah!” teriaknya.


Setelah membuka segel itu, dia sendiri melesat mundur dua tombak ke belakang, kawan-kawannya yang lain juga mengikuti tindakan Ding Jia Li.


Mereka dapat melihat, rantai gaib yang mengikat peti tersebut perlahan menghilang, peti itu sendiri juga berubah mengecil dan membentuk bola kristal kecil dengan cahaya kuning yang menyilaukan mengalahkan semua cahaya obor di ruangan tersebut.


Begitu juga dengan 4 tiang Array, benda itu terus memendek seperti tertelan ke dalam lantai. Semua ini terjadi dalam waktu yang bersamaan.


Kemudian, 4 siluman kelas ke-2 muncul di sana, menyusul di belakangnya siluman Naga kelas ke-1. Seperti yang mereka rencanakan, murid-murid dari Sekte Teratai Biru ini segera memilih lawannya masing-masing.


Pertarungan sengit pun pecah di dalam ruangan tersebut.

__ADS_1


Gou Long yang dari awal sampai saat ini terus melihat apa yang dikerjakan, oleh murid-murid Sekte Teratai Biru ini saat itu berada dalam keadaan terpana, seperti ada hal gaib yang menariknya.


Cahaya kuning terang itu seperti terus-menerus memanggilnya, dengan sedikit menguatkan tekad dia segera dapat menenangkan hati kembali. Gou Long memperhatikan jalannya pertempuran, menurut perhitungan Gou Long itu sudah berjalan 10 gerakan.


Dia dapat melihat kristal kecil yang mengeluarkan cahaya kuning tersebut terabaikan, memanfaatkan situasi kekacauan ini, Gou Long keluar dari tempat persembunyiannya dan melesat ke arah bola kristal tersebut.


Na Hong-Hong dan Ding Jia Li yang sedang bertarung dengan Siluman Naga kelas ke-1, menyadari pergerakan yang dilakukan Gou Long.


“Jia Li! Pemuda itu bergerak ke arah benda yang kita inginkan, kau urus pemuda itu, aku dapat menahan siluman ini untuk sementara waktu!” Teriak Na Hong-Hong, secara spontan.


“Berhati-hatilah!” Ujar Jia Li, seraya meninggalkan siluman tersebut dan melesat ke arah bola kristal kecil.


Gou Long dan Jia Li tepat berada di depan kristal kecil itu pada saat bersamaan, dengan salah satu tangan mereka berdua juga bersamaan hampir menggenggam bola kristal tersebut.


Suatu keajaiban segera terjadi pada Ding Jia Li dan Gou Long. Waktu seakan-akan telah berhenti bagi mereka berdua, mereka dapat melihat siluman dan murid-murid Sekte Teratai Biru yang sedang bertarung berhenti bergerak.


Kemudian cahaya terang yang keluar dari bola kristal itu bertambah terang, dan menciptakan sebuah kubah gaib yang menutupi Gou Long dan Ding Jia Li, sehingga keduanya tidak dapat melihat apa yang terjadi di luar kubah ini.


Sementara itu, saat apa yang terlihat dalam pandangan Gou Long dan Ding Jia Li berhenti bergerak sebenarnya meleset jauh, pertarungan itu terus berlanjut tidak ada yang berhenti.


Pertarungan antara Bwee Siang dan rekan-rekannya yang lain, tidak berjalan seperti apa yang mereka rencana, mereka sudah bergerak 20 gerakan, namun belum bisa mengalahkan siluman kelas ke-2.


Murid-murid Sekte Teratai Biru ini semuanya merupakan pengguna pedang dan mengandalkan ilmu meringankan tubuh mereka yang sangat tinggi. Akan tetapi siluman yang mereka hadapi merupakan siluman ular kelas ke-2 yang memiliki sisik tebal juga gerakan yang tidak kalah cepat dengan mereka.


Siluman ular-ular ini tidak kalah jauh pamornya dengan Siluman Naga kelas ke-1, untuk sesaat murid-murid Sekte Teratai Biru terlihat kerepotan.


Yang paling terdesak dan tertekan, sudah pasti Na Hong-Hong yang berhadapan dengan Siluman Naga.

__ADS_1


Siluman Naga ini bahkan sesekali berkata merendahkan Ras Manusia, “Anak manusia, kalian sangat percaya diri dan berani mati melepaskan rantai segel yang mengunciku selama ribuan tahun,”


“Seandainya Peri keparat itu tidak mengunciku, aku akan bisa naik ke Ranah Raja Siluman, dan era para Ras Naga yang perkasa akan kembali ke puncak kejayaannya,” Siluman ini mulai membual.


“Anak manusia! Kalau kau ingin selamat jadilah budakku!” lanjut siluman itu merendahkan Na Hong-Hong.


Gadis ini tidak peduli pada setiap perkataan Siluman Naga kelas ke-1 ini, dia lebih fokus pada setiap jurus pedang dan serangannya, terus terdesak Na Hong-Hong berteriak pada Bwee Siang, “Bwee Siang! Pimpin Formasi Pedang Tiga Serangkai! Dan salah satu dari kalian bantu aku di sini!”


Bwee Siang dengan patuh mundur ke belakang, sedangkan tiga rekannya terus menyerang 4 siluman ular kelas ke-2 tersebut.


Lalu mereka juga ikut mundur ke belakang Bwee Siang, ketika mendengar kata-kata yang di ucapkan gadis tersebut, “Sekarang kalian bergabunglah dalam formasi!”


Dengan patuh dua dari tiga gadis ikut bergabung dalam formasi, sementara satu yang lainnya melesat berpindah membantu Na Hong-Hong yang sedang bertarung dengan Siluman Naga.


Tidak butuh waktu lama bagi Bwee Siang dan kedua orang temannya yang lain untuk mengalahkan Siluman-siluman Ular kelas ke-2 ini, dengan mengandalkan Formasi Pedang Tiga Serangkai.


Jurus Putaran Pedang Bunga Teratai yang mereka keluarkan dalam formasi pedang, dengan cepat membunuh dua ekor Siluman Ular, kulit yang keras tercacah hancur dan memutuskan kepala siluman tersebut.


Dua siluman ular lainnya mati dengan jurus yang berbeda, itu adalah jurus 100 pedang terbang, bayangan pedang dari hawa murni tercetak di dalam formasi, dengan satu gerakan ayunan tangan, Bwee Siang membinasakan keduanya sekaligus dan terpaku di lantai ruangan.


Kulit dari Siluman-siluman ular yang sebelum sangat susah ditembus, dengan gabungan tenaga dalam pada formasi, menjadi sangat mudah ditembus seperti orang menusuk tahu dengan lidi.


Setelah membunuh keempat siluman tersebut, mereka membatalkan formasi karena terlalu menguras energi, lalu dengan memasukkan sebiji pil penambah energi ke dalam mulut, mereka bergerak membantu Na Hong-Hong dan gadis satunya lagi.


_________


Yang pernah baca, novel terjemahan Wu Dong Kian Kun dan Record Of Mortal Journey To Immortality akan merasa scene ini sedikit sama dengan keduanya, ya ini memang terinspirasi dari sana.

__ADS_1


Selamat malam jumat, jangan lupa baca alkahfi.. juga silahkan lanjut sendiri chapter 145 sebelum Author ini lanjutkan nanti! Ha ha ha, silahkan traveling ria terhadap apa yang terjadi pada Gou Long dan Ding Jia Li.


__ADS_2