
Ketegangan terlihat pada gerak tubuh Ding Jia Li, ia menebak-nebak apa yang akan diucapkan Gou Long, hati Ding Jia Li terasa ketar-ketir, raut wajah yang sempat putih memucat sekarang terlihat memerah, perasaan malu telah terlebih dahulu menyerangnya.
Kecantikannya terlihat semakin kentara karena wajah yang memerah itu.
“Apakah Gege akan membicarakan hubungan kami?” batin Ding Jia Li.
Rasa penasaran juga terlihat dari kedua murid Li Lan Sian lain, Bwee Siang dan Na Hong-Hong, harap-harap cemas, masih menebak, “Apakah Ding Jia Li menjalin hubungan dengan pemuda itu?” pikir keduanya.
Gou Long terus menatap semua orang satu persatu, berhenti tepat di saat tatapan itu bertemu tatap dengan mata Ding Jia Li, wajah Ding Jia Li yang memerah tidak dapat disembunyikan dari sorot mata tajam Gou Long.
Tersenyum menyeringai, seperti mempermainkan Ding Jia Li, “He he he!” kekeh Gou Long hanya diperdengarkan pada gadis itu, ia mengirim dengan hantaran tenaga dalam, “Apakah Jia Li ‘er merasakan ketar-ketir, serta degup jantung yang meledak-ledak tak terhingga di dalam dada? Bagaimana kalau Jia Li ‘er sedikit lebih menikmatinya? Apakah ini terlalu memalukan bagi Jia Li ‘er?”
“...” Gou Long jelas tidak mendapatkan jawaban dari gadis tersebut, namun wajah yang semakin memerah, serta gemetar tubuh gadis itu, walau hanya sedikit terlihat di mata tajam Gou Long.
Tersenyum semakin lebar, menghadap pada Li Lan Sian, “Matriak Li! Perkara ketiga ini, aku yakin Matriak Li sudah bisa menebaknya!” wajah Gou Long yang sebelumnya tersenyum, menjadi serius saat berkata-kata.
Hal itu membuat Matriak Li ragu terhadap apa yang ingin dibicarakan pemuda tersebut, “Penatua Gou tidak menjelaskan apa yang ingin Penatua Gou sampaikan, Matriak ini bukanlah cacing dalam perut Penatua Gou.” Sindir Li Lan Sian, wajahnya tersenyum.
Ibu Guru Ding Jia Li ini benarlah pribadi yang terlalu blak-blakan, sejak awal bertemu Gou Long, tiada henti ia menyindir Gou Long.
“Apa orang yang jujur seperti dia semua? Semua yang akan ia bicarakan tidak mau ia sembunyikan, kalau tidak berkata secara gamblang, pasti kena sindiran.” Batin Gou Long.
Tak dapat dipungkiri, Gou Long juga merasakan getaran dalam hati, membicarakan tentang hubungan spesial kita dengan seseorang di depan orang lain, rasa malu tetap akan muncul, walau itu seorang yang sangat berkuasa.
__ADS_1
Menarik nafas panjang dan dalam, coba menentramkan hati, “Hemm! Baiklah, Junior ini akan berbicara sejujurnya, cepat atau lambat maksud ini juga harus Junior sampaikan...”
Menjeda kata sesaat, kembali Gou Long menarik nafas panjang, “Junior memiliki hubungan yang sangat spesial dengan murid Matriak Li, yang bernama ‘Ding Jia Li’ pada kesempatan ini, Junior juga melamar Nona Ding untuk menjadi istri dari Junior!”
Setelah berkata seperti itu, ada kelegaan besar dalam jiwa Gou Long, ia seperti telah mengangkat satu beban sebesar Gunung yang telah menindihnya.
Masih pada posisi berdiri, Gou Long berjalan sedikit lebih ke tengah aula, “Kletak!” peti besar muncul dari cincin penyimpanan Gou Long, ia membuka peti itu, cahaya terang emas menyilaukan mata terpampang.
Itulah salah satu dari lima peti berisi emas yang sebelumnya tidak dikeluarkan Gou Long, peti yang awalnya berjumlah dua puluh peti saat ditemukan Gou Long di Tanah Suci Para Pendekar, lima belas dari peti itu telah ia simpan di Paviliun Gunung Teratai.(Ch. 169)
“Ini sebagai hantaran awal dari Junior, kelak saat utusan lain dari Junior datang akan membawa hantaran yang lebih berguna dari pembuka ini.” Lanjut Gou Long, mengakhiri perkataannya.
Aula itu sejenak hening...
Bwee Siang dan Na Hong-Hong semakin tajam menatap Ding Jia Li, kedua gadis itu membeliakkan mata, kemudian tersenyum melihat Ding Jia Li yang semakin bersembunyi di sisi Sang Guru, ia tampak sangat salah tingkah, tidak tahu bagaimana harus berkata-kata pada dua orang yang sedang menatap dirinya.
Raut wajah yang kian memerah terlihat dari Ding Jia Li, padahal cuaca musim salju terasa sangat dingin, gadis itu benar-benar terserang perasaan malu.
Li Lan Sian tersenyum, “Penatua Gou secara berterang seperti ini berbicara terasa lebih baik, sehingga Matriak ini tidak harus menebak apa yang ingin dibicarakan Penatua Gou...”
“Penatua Gou melamar Jia Li ‘er pada Matriak ini, rasanya sangat pantas Matriak ini menerimanya, namun...”
“Namun, yang akan menjadi istri Penatua Gou kelak bukanlah Matriak ini! Hi hi hi...” Puas terkikik, Li Lan Sian melanjutkan, “Sehingga yang pantas untuk menjawab apakah bersedia atau tidaknya, Jia Li ‘er sendirilah orangnya, dia kelak yang akan hidup bersama Penatua Gou...”
__ADS_1
Sang Ibu Guru ini seperti sengaja membuat Ding Jia Li tambah malu saja, secara tidak sengaja ia menyuruh Ding Jia Li untuk berkata-kata, padahal saat itu Ding Jia Li, jangankan untuk berkata beberapa patah kata, untuk duduk saja dia sudah sangat gemetaran.
“Nah! Jia Li ‘er! Bagaimana tanggapanmu terhadap lamaran yang diajukan Penatua Gou?” Li Lan Sian menepuk ringan bahu Ding Jia Li, menyerahkan sepenuhnya pada gadis itu, walau dia tahu Ding Jia Li akan menjawab iya, atau akan menganggukkan kepala, tapi apa yang Li Lan Sian lakukan hanya sebentuk formalitas saja.
“...” gemetar terlihat jelas dari tubuh Ding Jia Li, sungguh rasa malu yang tak tertahan dirasakan gadis itu, anggukan kecil terlihat oleh semua orang yang hadir di sana, itu sudah lebih dari cukup sebagai jawaban pengganti kata, “Mau.”
Memaksakan kehendak hati dan tenaga dalam, menekan rasa malu, tanpa berkata, Ding Jia Li bangkit dan berlalu pergi begitu saja dari aula tersebut.
Tidak ada yang melarangnya, juga tidak ada yang menghentikannya, sikap yang ia tunjukkan hanyalah sikap yang sudah sering ditunjukkan anak gadis ketika dilamar.
Tidak menyimak pembicaraan lebih lanjut, seperti telah bersepakat, Bwee Siang dan Na Hong-Hong bangkit, mengepalkan tangan di depan dada, “Guru! Kami akan melihat Jia Li di belakang!” Bwee Siang berkata, mewakili mereka berdua.
Sedikit lambaian tangan dari Li Lan Sian, gerakan menyuruh mereka berdua pergi, “Pergilah!” perintahnya lembut.
“Penatua Gou telah melihat sendiri bagaimana tanggapan yang diperlihatkan murid kami, walaupun sebenarnya, sebelum melamar seperti ini Penatua Gou telah jelas mengetahui perasaan murid kami. Namun, kita sebagai orang-orang hidup bernorma harus tetap mempertahankan budaya hidup luhur yang telah di ajarkan pendahulu kita...” lanjut Li Lan Sian.
“Ha ha ha!...” ia tertawa lepas, mengingat apa yang mereka lakukan ini layaknya drama saja, drama yang dipentaskan pada acara pementasan, semua serba formal, bahkan untuk sekedar berkata-kata pun harus formal.
Semua yang ingin dibicarakan Gou Long berakhir baik, hampir tidak ada kendala.
“Junior telah memperoleh jawaban yang sangat memuaskan, dan jamuan yang sangat menyenangkan, kelak kalau kita berjumpa di mana saja, rasanya tidak harus seformal ini dalam berinteraksi, terima kasih Matriak Li! Junior juga akan undur diri.” Gou Long juga izin untuk berpamitan dari sana.
Matriak Li bangkit, mengepalkan tangan di depan dada, memanggil pengurus rumah tangga sekte. Ia tidak mengantar Gou Long, namun menyuruh pengurus tersebut menemani Gou Long.
__ADS_1