
Patriark Pan tersenyum melihat kelakuan Pek Cie Lam, “Apa Saudara Pek tidak bisa menunggu di sini sampai perkara yang ingin dikerjakan oleh Pendekar Gou selesai secara menyeluruh?” ia coba bernegosiasi.
“Tidak bisa!” tegas, jawaban dari Pek Cie Lam, kemudian ia melanjutkan, “Aku bukan orang yang bodoh, tempat yang kalian tuju itu, tempat yang sangat berbahaya, konon terpapar racun dari tempat tersebut tidak ada penangkalnya sama sekali…”
Cuaca dingin es, membayangkan racun yang tidak ada penangkal, bulu kuduk Pek Cie Lam merinding berdiri, “Andai kalian mati di sana, sudah pasti aku tidak mendapatkan bayaran yang kusetujui sejak awal. Serahkan bayaran ku, dan kita berpisah di sini,” ujarnya, mengakhiri ucapan dan menuntut bayaran.
Berbeda dengan Gou Long, ia tidak terlalu peduli pada orang bermarga Pek ini, mau orang ini menunggu atau tidak, bukan masalah bagi Gou Long, permasalahan emas juga bagi Gou Long sudah seperti mencongkel upil hidung.
“Hemm! Masuk akal.” Gou Long menjawab singkat, ia juga terlalu muak pada manusia dengan tipikal seperti Pek Cie Lam, lantas Gou Long mengeluarkan sepuluh keping emas dan menyerahkannya pada si Landak Karet Salju.
“Ini bayaranmu, seperti yang kujanjikan, aku juga memberikan hadiah lebih satu keping emas padamu,” ujar Gou Long, dalam hati ia berkata-kata, “Cukup kali ini saja aku berurusan dengan manusia macam kau.”
“Tidak perlu menunggu lagi! Orang tua bermarga Pek boleh segera berlalu dari sini,” lanjut Gou Long, mengusir Pek Cie Lam secara halus.
“He he he…” terkekeh senang, Pek Cie Lam berkata, “Pendekar Gou! Aku menantikan orang sepertimu memakai jasaku lagi.”
Gou Long pura-pura tidak mendengar ucapan dari Pek Cie Lam, ia menoleh ke arah Patriark Pan, “Mari Patriark Pan! Kita menuju ke sana sekarang juga, untuk berjaga-jaga, sebaiknya kita berpisah dan mengamati dari dua sisi yang berbeda.” Ia melihat Patriark Pan menganggukkan kepala, tanpa harus dijelaskan ia paham maksudnya.
“Pendekar Gou! Utamakan keselamatan dirimu, kita pakai taktik memancing harimau meninggalkan sarang, serang! Lari! Serang! Lari! Lakukan ini dari dua sisi yang berbeda.”
Keduanya tertawa membayangkan apa yang mereka kerjakan saat ini.
Saat akan melesat, Gou Long teringat hal yang sedikit ia lupakan, “Patriark Pan! Kupinjamkan milikku ini padamu sementara waktu, aku takut dari mereka ada yang mengenali Patriark Pan kelak.” Ia menyerahkan topeng pengganti wajah yang biasa ia gunakan, serta sebotol Pil anti racun.
“Pendekar Gou sungguh orang yang memikirkan detail hal kecil,” puji Patriark Pan, seraya mengambil pemberian Gou Long, lalu melesat ke arah berlawanan, dan menghilang di kegelapan malam.
Ditinggal sendirian di Gunung es tersebut, ia tersenyum licik, “Ini juga salah satu cara agar nama mereka semakin terkenal, dan orang-orang daerah Utara akan waspada pada mereka. Entah bagaimana perkembangan mereka saat ini di Daratan Tengah dan daerah Selatan?”
Gou Long mengganti pakaiannya dengan setelan hitam-hitam khas milik Organisasi Ordo Setan Hitam, lengkap dengan topeng paruh elangnya. Lalu ia juga melesat dan menghilang di kegelapan malam.
***
__ADS_1
Sekte Racun Utara yang tersembunyi dan tenang di tengah-tengah Pulau kecil yang diapit oleh empat Gunung Es, mendadak terjadi keributan besar.
Itu tidak lain karena sesosok bersetelan bagaikan Raja Siluman kelelawar hitam besar mengobrak-abrik bangunan mereka malam itu.
Semua berawal dari teriakan peringatan.
“Orang-orang Sekte Racun Utara! Tempat strategis ini telah kami tentukan sebagai markas utama kami di daerah Utara ini, sedangkan kalian…” Suara keras bergema, menggetarkan pulau dan terdengar jauh.
“Sedangkan kalian, kami hanya memberikan dua opsi, Pertama; semua seniman bela diri mati! Dan yang kedua anak-anak serta perempuan masih memiliki jalan hidup…”
“Dengan Syarat, beritahukan dan sebarkan kekuatan kami, kami adalah Ordo Setan Hitam…”
“Ha ha ha…” tawa keras menyertai peringatan itu.
Lalu…
“Booomm!” ledakan keras terjadi, salah satu dari bangunan besar diratakan dengan pelepasan Pukulan Telapak Besar berwarna hitam pekat, gelegar guntur terus mengiringi laju dari Pukulan Telapak besar tersebut.
Murid-murid yang sempat keluar dari gedung itu masih bisa selamat, namun paparan dari elemen petir hitam panas itu juga membuat mereka terluka dalam parah.
Sebelum melakukan ini, Gou Long sudah terlebih dahulu melihat seluruh manusia yang tinggal di dalam bangunan tersebut, ia telah menandai bangunan-bangunan yang ditinggali oleh para perempuan dan anak-anak yang tidak berlatih ilmu bela diri.
Bergerak di malam hari dengan tenaga dalam Puncak Ranah Surgawi, sangat mudah bagi Gou Long membereskan para penjaga gerbang dan penjaga tembok benteng Sekte Racun Utara, membunuh semua penjaga secara sembunyi-sembunyi, baru kemudian ia melancarkan aksinya.
“Boomm!”
“Jeddaaarr!”
Kali ini banyak yang berhasil selamat, mereka telah keluar dari bangunan-bangunan dan siap untuk bertarung.
Hampir seribu orang lebih murid-murid Sekte Racun Utara telah berkumpul.
__ADS_1
“Keparat mana yang berani mengacau Sekte ku?” teriakan keras terdengar berikut munculnya Patriark Sekte Racun Utara, beserta delapan orang Penatuanya, mereka semua Puncak Ranah Surgawi. Orang yang mengeluarkan suara tadi masih berusaha mencari-cari posisi si pembuat kekacauan di Sektenya.
Gou Long tidak peduli dengan teriakan keras tersebut, mulutnya tidak berhenti dan terus memancarkan suara keras yang membuat orang-orang Sekte Racun Utara takut gemetaran.
“Kami Ordo Setan Hitam akan menguasai daerah Utara, kalian para semut tidak kami butuhkan, hanya kematian yang cocok untuk kalian…” Perkataan ini terus di ulang-ulang Gou Long, layaknya orang bernyanyi, sementara tangannya baik kanan maupun kiri terus menerus melepaskan Pukulan Telapak Arhat besar dari ketinggian tempat ia melayang.
“Whoosshh!”
“Whoosshh!”
“Jeddarrr!”
“Jeddarrr!”
Hawa pukulan, guntur halilintar keras yang memekakkan telinga, serta nyanyian yang menggetarkan hati. Perpaduan itu semua seperti kehadiran Iblis pembawa malapetaka bagi mereka.
Gunung Es di jarak lima ratus tombak ikut bergetar keras.
Jeritan kematian tiada henti terdengar di Pulau kecil terpencil tersebut. Kebanyakan yang menjadi korban dari perpaduan tiga hal itu adalah murid-murid yang masih di Ranah Langit Tahap Awal, mereka tidak tahan, muntah darah, dan mati karena gejolak hawa murni yang tidak stabil.
“Keparat hentikan nyanyian busukmu itu!” teriak Patriark Sekte Racun Utara, beberapa pukulan yang dilepaskan Gou Long dari ketinggian dapat ia halau. Sehingga mengurangi jumlah korban yang timbul dari Sektenya.
“Para Penatua! Bentuk formasi racun, akan ku serang dia dari ketinggian.” Patriark Sekte Racun utara memberi perintah, ia mengatur strategi perang.
Kedelapan penatua segera mengikuti perintah Patriark mereka. Cepat Formasi ini sangat berguna, mereka berhasil menahan setiap pukulan yang dilepaskan Gou Long dari ketinggian, namun begitu, korban terus berjatuhan dari murid-murid Sekte Racun Utara yang tidak tahan oleh paparan pukulan tenaga dalam Gou Long.
“Aaarrgghh!”
“Aaarrgghh!”
Teriakan ini terdengar hampir disetiap sudut.
__ADS_1
Baru kemudian itu terhentikan ketika Patriark Sekte Racun Utara melayang terbang dan mulai bertarung satu lawan satu dengan Gou Long.