
Melihat Kakek Zhou bangkit dan berjalan keluar, “Duan Tua juga harus keluar! Temani Guru ku, nanti Junior akan menyusul.” Lirih Gou Long.
“Eumm!” Duan Hong Ya bangkit dan berjalan keluar.
Sekarang Gou Long masih menunggu jawaban yang diberikan Patriark Klan Hua yang terlihat masih sedang berbicara dengan para tetua Klan Hua.
Patriark Klan Hua mengerutkan keningnya, sebagian besar para Penatua Klan Hua tetap ingin mendengar pembicaraan tersebut, tidak menunggu ucapan dari Patriark Klan Hua, lantas Gou Long berkata, “Yang ingin Junior ini sampaikan, apa pun ceritanya hanya boleh dibicarakan empat mata, memaksakan sesuatu yang tidak boleh kita ketahui hanya akan mencelakai diri sendiri.”
Sindiran dan teguran yang diucapkan Gou Long langsung mengenai sasaran, para Penatua tersebut merasa malu sendiri.
Tanpa berkata-kata, wajah kelam membesi menahan malu, satu persatu para Penatua Klan Hua bangkit dan keluar dari aula pertemuan.
Suasana di dalam aula menjadi sepi, hanya menyisakan kedua orang itu saja, Gou Long mengedarkan kesadaran spiritual, dia tidak menemukan adanya aura keberadaan orang lain di sana.
Bangkit dari tempat duduk, dan berjalan ke hadapan Patriark Klan Hua, “Aku tidak berniat jahat!” ucap Gou Long, di tangannya telah muncul sebatang pedang, dan itu dikenali oleh Patriark Klan Hua.
“Pedang itu…” Patriark Klan Hua ingin bertanya namun, ia menelan kembali ucapan yang hampir keluar, seperti memikirkan perkara yang sangat rumit.
“Tepat seperti yang Patriark Hua pikirkan…” Gou Long tersenyum dia tahu apa yang dipikirkan Patriark Hua, “Ini adalah pedang milik Patriark Tong dari Sekte Awan Berkabut, dan aku tidak akan mengelak, aku lah yang membunuhnya…”
Melihat Gou Long tersenyum, Patriark Hua seperti merasakan adanya ancaman, dia hampir bangkit dan bertarung dengan Gou Long, namun ucapan Gou Long kembali menghentikan gerakannya, “Tahan Patriark Hua, dengarkan semua ucapan Junior ini!”
“Hufft! Tidak bermaksud bermusuhan, tapi mengeluarkan pedang, bahkan seperti berniat merebut pedang yang sama dari diriku.” Ucap Patriark Hua, mengejek. Hawa tenaga dalam dikeluarkannya, bahkan itu terasa pada kulit Gou Long.
Masih tersenyum Gou Long berkata, “Dendam yang terikat antara Junior dengan Patriark Sekte Awan Berkabut hampir semua seniman bela diri Daratan Tengah mengetahuinya, apakah menjadi aneh jika Junior ini membunuhnya? Walaupun kabar yang tersiar berbeda dengan kenyataan.”
“Lalu apa kedua yang lain juga kau yang membunuh mereka?” tanya Hua Cu Sian, tampang wajahnya masih terlihat bermusuhan.
__ADS_1
“Iyaa!” Gou Long berkata sejujurnya, lalu ia melanjutkan, “Salahkan mereka sendiri yang berani membawa beberapa orang coba untuk mengusik ketenangan Gunung Teratai…” Sorot mata Gou Long menajam, seakan siapapun yang berani mengganggu ketenangan Gunung Teratai akan mati.
“Tapi itu tidak penting, yang ingin kubicarakan dengan Patriark Hua semuanya adalah bentuk persahabatan.” Lanjut Gou Long.
“Bagaimana itu bentuk persahabatan! Kau mengeluarkan pedang, dan menceritakan pembunuhan.” Sengit, Patriark Hua masih belum mengendurkan kewaspadaan.
Sadar berlama-lama seperti ini hanya akan menyusahkan diri sendiri, “Tahukan Patriark di atas Ranah Surgawi masih ada ranah kultivasi lain, yaitu Ranah Kaisar?” tanya Gou Long, wajahnya masih tersenyum.
“Apa maksudmu? Jelaskan secara gamblang.” Patriark Hua terlihat lebih melunak, rasa penasaran lebih besar dari rasa bermusuhan.
Gou Long kemudian menjelaskan apa yang pernah ia bicarakan dengan Matriak Li sebelumnya, tidak ditutup-tutupi sama sekali, ia juga menjelas rencana untuk berpetualang di alam tersebut kelak.
Untuk menguatkan penjelasannya, Gou Long tidak sengan mengeluarkan Pedang Peri Ilusi miliknya, Patriark Hua yang melihat pedang lainnya ada pada Gou Long dan itu terlihat sangat mirip dengan pedang miliknya, terlebih lagi kemunculan pedang tersebut hanya setelah dipanggil Gou Long, dan bukan muncul lewat cincin penyimpanan.
Mau tak mau, Hua Cu Sian juga melunak, dan percaya pada setiap ucapan Gou Long.
“Maaf atas kesalahpahaman yang Patriark ini bawa. Pada waktunya, Patriark ini akan dengan senang hati menunggu, Ranah di atas Ranah Surgawi…” Ia terlihat merenung jauh. Belum pernah Patriark Hua membayangkannya.
Melihat Patriark Klan Hua antusias, Gou Long kembali berkata, “Terkait hal yang tadi telah kita bicarakan, Junior akan sedikit menyusahkan Patriark!...” Ia agak ragu untuk melanjutkan, menunggu bagaimana Patriark Hua berkata.
“Lanjutkan saja, Patriark ini pasti akan membantu secara menyeluruh.”
Mendapatkan kepastian, Gou Long melanjutkan, “Baik sekali! Junior ini tidak mau hal seperti tadi akan terulang saat Junior ini minta bantuan dari Patriark lain pemilik pedang yang sama. Memanfaatkan momen peresmian Paviliun Gunung Teratai, kelak Junior minta kesediaan Patriark Hua sebagai penyambung lidah…”
“Maksudmu… Patriark ini berbicara untukmu, menyampaikan maksud ini pada pemilik pedang yang lain?” Hua Cu Sian memastikan.
“Ha ha ha…” tertawa keras.
__ADS_1
“Itu hal mudah, kelak di hari peresmian Paviliun Gunung Teratai, Patriark ini akan menjadi penyambung lidahmu, dan berbicara secara rahasia dengan para Patriark lainnya.” Hua Cu Sian menyatakan kesediaannya.
Dengan begini Gou Long merasa banyak keuntungan yang ia peroleh dari Patriark Hua, dia segera mengakhiri dengan izin undur diri.
“Terima kasih Junior ini ucapkan! Junior akan undur diri, Guru yang mulia sudah menunggu kehadiran Junior di tempatnya sejak tadi.” Gou Long mengepalkan tangannya di depan dada.
“Silahkan Penatua Gou!”
Gou Long segera meninggalkan aula pertemuan.
Bertanya-tanya pada pengurus rumah tangga Klan, Sang Pengurus malah mengantar Gou Long ke rumah Hua Mei.
Kakek Zhou dan yang lain sudah menunggu di sana, “Salam Guru!” ujarnya, seraya memberikan sembah Murid-Guru pada Kakek Zhou.
“Bangkitlah! Tidak perlu banyak peradatan, kita semua orang sendiri.” Perintah Kakek Zhoi lembut.
Beramah-tamah dengan Hua Mei dan Murong Qiu, serta mendapatkan sedikit ledekan dari Murong Qiu. Di sana, di halaman rumah Hua Mei, suasana menjadi riuh dan ramai, mereka semua saling melepas rindu, dan bercerita banyak hal.
Gou Long dan Duan Hong Ya makan dan minum di sana, baru kemudian Gou Long menceritakan apa yang ia bahas dengan Patriark Hua. Murong Qiu, Hua Mei dan Duan Hong Ya sudah tentu ikut mendengar.
Ketika Gou Long mengeluarkan pedang milik Tong Kak San, Duan Hong Ya sekarang mengetahui, barang yang sangat dibutuhkan Gou Long adalah pedang itu.
Mendengar cerita Gou Long antusias juga muncul dari Kakek Zhou, “Long ‘er! Saat itu tiba kau juga harus mengajak Gurumu ini berpetualang ke negeri tersebut.”
Iming-iming Ranah Kaisar menjadi daya tarik tersendiri bagi setiap orang yang sudah mendengarnya.
Gou Long mengerti maksud hati Kakek Zhou, “Guru tenang saja! Saat itu tiba kita akan berangkat bersama, tapi… Entah berapa tahun lagi hal itu akan terealisasikan.”
__ADS_1