Pendekar Pengendara Petir

Pendekar Pengendara Petir
Bab. 48. Maukah Kau Jadi Muridku


__ADS_3

“Bagus, sangat bagus ... jangan terganggu dengan kami, teruslah berkultivasi.” Penatua Zhou menjadi senang, ketika murid-murid yang dilatihnya menjadi lebih fokus kembali.


“Ha ha ha ... Patriark Song, kau keliru! Murid yang berada di bawah bimbinganku saat ini bukan empat orang saja. Kalau kukatakan, aku yakin Patriark akan muntah darah.” Penatua Zhou, tersenyum misterius.


“Sadis Tua! Apa kau masih menyimpan rahasia lain? Kau mempersiapkan segala sesuatu dengan tepat untuk kompetisi kali ini, dan benar-benar tidak mau mengalah. Sadis tua rupanya sudah tidak mau berlaku setengah-setengah ....”


“Mana bocah tersebut? Ingin ku melihatnya.” Antusiasme yang ditunjukan Patriark Song terlihat, dari cara dia berbicara dan sorot mata yang berbinar tajam.


“Hemm, sudahlah! Mari kita tidak membahas tentang bocah itu. Semakin ku ingat, semakin membuat geram,” keluh Penatua Zhou.


“Kenapa bisa seperti itu? Apakah dia durhaka? Apa kau mengambil murid seorang bocah yang tidak dapat kau atur? Sehingga dia membuat hatimu geram seperti ini.” Dengan rasa penasaran Patriark Song bertanya.


“Bukan ... bukan seperti itu, bocah tersebut bakat langka yang hanya muncul selama seribu tahun. Ia murid yang baik ... kau salah paham. Aku geram pada Biro Penegak Hukum dari sekte yang kau pimpin. Murid ku itu baru satu hari di sekte, hanya karena kesalahan kecil, sudah dikirim ke Hutan Seribu Ilusi, dan sampai sekarang belum kembali.”


“Coba kau pikir, kalau di masa mudaku kejadian seperti ini terjadi, apa Biro Penegak Hukum tidak akan rata dengan tanah? Ku yakin Biro Penegak Hukum pasti akan dihapuskan dari Sekte Naga Langit,” tutur Penatua Zhou, ia menyesalkan keputusan tergesa-gesa dari Pengurus Bai tempo hari.


“Ooo ... jadi, bocah yang buat keributan di perpustakaan tempo hari murid mu. Tidak heran! Tidak heran! Mungkin akan lahir Sadis Kecil di Dunia Persilatan ini. Aku juga yakin dia masih hidup, yang memancing prahara besar penerobosan Ranah Langit tempo hari di Hutan Seribu Ilusi pasti dia, ha ha.”


Ucapan Patriark Song seperti penekanan atas keheranannya sendiri, lalu dia tertawa senang yang mengejutkan He Fei dan kawan-kawannya yang sedang berkultivasi.


He Fei dan kawan-kawannya bangkit, memberi hormat pada Patriark Song. Saat itu, memang sudah lebih dari setengah dupa mereka berkultivasi, sehingga Kakek Zhou tidak memarahi mereka lagi.

__ADS_1


Memberi salam penghormatan bagi Patriark Song, dengan berani, dan tabah Hua Mei lantas bertanya, “Benarkah Long Gege masih hidup, Patriark?”


“Aku juga tidak tahu, hanya saja yang kukatakan adalah fakta, penerobosan Ranah di Hutan Seribu Ilusi dua bulan yang lalu, itu memang Puncak Ranah Bumi ke Ranah Langit, walaupun badai prahara yang di ciptakan seperti orang yang menerobos Ranah Surgawi.”


“Tapi, untuk menerobos Ranah Surgawi, badai seperti itu masih kecil. Kau mengerti maksudku bocah?” tanya Patriark Song sekaligus menjelaskan sedikit pemahaman tentang Ranah Surgawi, bagi mereka.


“Kalian siapkan makan terlebih dahulu, kita akan makan bersama-sama di sini,” perintah Kakek Zhou, yang segera dituruti oleh keempat muda-mudi tersebut.


***


Hati Gou Long, menjadi sedikit lebih ringan saat itu. Ini tidak lepas dari keberhasilan menunaikan hasrat balas dendam terhadap si Pembunuh, juga pemulung dari kitab Jurus Pedang Angin dan Petir, sehingga dia kembali bisa berjalan santai seperti empat hari yang lalu.


Perbedaanya, kalau empat hari yang lalu dia berjalan santai untuk memancing pergerakan dari musuh. Sekarang dia berjalan santai karena ingin mengulang dan berlatih kembali. “Kitab Delapan Belas Telapak Penakluk Naga.”


“Kau ini, siluman kok cemburu, yang kau pikir hanya Manager Lan dan Manager Lan terus. Hush, diam lah, aku ingin berlatih Delapan Belas Telapak Penakluk Naga, setelah aku baca beberapa kali, ternyata jurus ini sangat hebat dan rumit, juga banyak perubahan yang belum dapat aku pahami.”


Lalu Gou Long mengabaikan Eira, seluruh indra tubuh difokuskan pada Kitab Delapan Belas Telapak Penakluk Naga. Jurus pertama Naga Meraung Menyesal, Gou Long mulai mempelajari jurus pertama.


Selama satu jam lebih, Gou Long bergerak seperti gambar yang tercetak di buku itu, tapi tenaga dalam yang membentuk pusaran seperti Naga yang meraung, tak kunjung terbentuk.


“Salah, bukan begitu ... gerakan mu salah. Tenaga dalam mu tidak cocok dengan raungan Naga yang seperti angin. Ganti gerakan agar Raungan Naga berbentuk petir.”

__ADS_1


Seorang Kakek tua dengan setelan putih-putih tiba di situ dan terus membimbing Gou Long terhadap jurus yang sedang dipelajarinya. Hampir lebih dari satu jam Kakek itu terus membimbing Gou Long sampai dia berhasil menguasai jurus tersebut.


Raungan Naga yang dihasilkan Gou Long berbentuk pancaran kilatan petir yang membentuk seperti retakan di udara.


Setelah merasakan kelelahan dari latihan jurus pertama, Gou Long menyadari ada yang membimbing sejak tadi lalu dia berpaling kearah kanan. Disitu duduk bersila seorang kakek yang berwajah bijaksana.


Gou Long, berterima kasih serta memberi hormat. “Salam senior, aku yang muda bernama Gou Long, terima kasih atas bimbingan senior,” ujar Gou Long.


“Tidak perlu banyak peradatan, bocah! Hemm ... bagaimana kalau kau ikut bersamaku dan menjadi murid pewaris ku.” Tiba-tiba saja, orang tua tersebut berkata seperti itu yang segera sangat mengejutkan Gou Long.


“Kenapa kakek ingin aku menjadi murid sekaligus pewaris mu, Kek?” Gou Long bertanya penasaran.


“Karena bakat sepertimu hanya satu dalam seribu tahun,” jawab kakek itu, sambil tersenyum ramah.


“Tapi, aku tidak bisa, Kek! Dalam waktu dekat akan ada kompetisi di Sekte ku, aku juga harus meminta izin pada guruku, jikalau aku berguru padamu lagi.” Gou Long menolak ajakan kakek tersebut, secara halus.


“Baiklah, aku tidak akan memaksamu, bagaimana kalau aku membimbing jurus yang kau latih ini selama perjalananmu? Kalau tidak salah arah yang kau tuju Sekte Naga Langit, kan?”


Kakek tersebut menawarkan bimbingan jurus yang dengan cepat dijawab oleh Gou Long. “Kalau itu yang kakek inginkan, maka akan sangat bermanfaat bagiku. Hemm, terima kasih banyak kek! Jadi, kakek ini sendiri, bernama siapa kah?”


“Ha ha ha ... kau bertanya namaku, bocah! Panggil saja aku dengan Kakek Awan Putih, sudah sangat lama ... bahkan, aku tidak mendengar orang menyapaku dengan nama asli. Hanya Awan Putih yang sangat melekat padaku,” jawab Kakek Awan Putih, menjelaskan jati dirinya secara singkat.

__ADS_1


“Baik sekali, sudah cukup basa-basi, mari kita lanjutkan perjalanan.” Kakek Awan Putih menutup percakapan.


Gou Long tidak membantah, dia ikut berjalan mengikuti kakek tersebut. Gou Long dapat melihat kakek tersebut juga berjalan dengan santai seperti yang Gou Long lakukan. Namun anehnya, jarak perpindahan kakek itu sepeti orang yang menggunakan ilmu meringankan tubuh.


__ADS_2