
Semenjak mengikat perjanjian dengan Suma Xiulan, Gou Long bepergian dengan rombongan para Alkemis tersebut, pakaian petani yang dikenakan Gou Long juga sudah diganti dengan pakaian yang diberikan oleh Chung Munna. Hanya wajahnya saja yang masih ditutupi dengan tanah liat.
Ini adalah setelan yang biasanya dipakai para Alkemis, setelan ini termasuk juga seperangkat jubah berwarna biru yang tersulam lambang Alkemis Ranah Bumi tepat di dada. Dari setelan tersebutlah yang memudahkan masyarakat untuk mengetahui ranah para Alkemis.
Perjalanan bersama ini telah mereka jalani selama tiga hari lebih, setelah melewati berbagai bukit dan hutan menurut perkiraan Han Zhong/Paman Han, mereka akan tiba di kota Heitu tepat pada sore hari keempat.
Selama perjalanan ini Gou Long selalu duduk bersama Han Zhong, mereka bergantian menjadi kusir kereta. Chung Munna dan Chung Bau Im berkuda di depan dan bertindak sebagai pembuka jalan.
Karena sering berbicara dengan Han Zhong, Gou Long mengetahui fakta baru bahwa Han Zhong bukanlah seorang Alkemis. Dia tinggal di Guild Alkemis sebagai pelindung sekaligus guru dari Suma Xiulan, sehingga tidaklah mengherankan ketika dari rombongan itu hanya dia yang berhasil mencapai Ranah Langit tahap awal.
Pilihan dari Suma Xiulan untuk mengikat perjanjian dengan Gou Long juga mendapatkan manfaat lain bagi mereka, setidaknya Gou Long selalu memasak makanan yang enak selama perjalanan itu, dia memiliki waktu yang cukup untuk mempersiapkan makanan bagi mereka semua. Lagi pula semenjak penyergapan terakhir gagal, perjalanan ini belum menunjukkan tanda-tanda bahaya yang menghadang.
***
Sore hari itu, di depan gerbang Kota Heitu tampak sedang mengantre para pendatang yang akan memasuki Kota, tidak ada penganiayaan ataupun jenis tindakan sewenang-wenang lainnya yang dilakukan para penjaga kota kepada para pendatang ini. Yang menunjukkan bahwa Penguasa Kota ini pasti orang yang adil dan tegas.
Di antara antrean panjang ini, terlihat rombongan kereta kuda dan orang yang memakai jubah para Alkemis, mereka adalah rombongan dari Suma Xiulan. Para penjaga gerbang kota yang mengenali jubah Alkemis, segera mendatangi rombongan tersebut.
“Mari tuan-tuan sekalian!” ajak salah satu dari penjaga gerbang kota.
“Pekerjaan sebagai Alkemis sangat dihargai di kota ini, tuan-tuan tidak perlu mengantre di sini, silahkan langsung saja masuk ke kota.” Lanjut petugas tersebut.
__ADS_1
Rombongan itu segera keluar dari antrean dan memasuki Kota Heitu tanpa rintangan yang berarti.
Kota Heitu adalah kota terakhir yang terletak di daerah Selatan sebelum mencapai hutan perbatasan yang menghubungkan antara daerah Selatan dengan Daratan Tengah, boleh dikatakan kota ini adalah pinggiran dari daerah selatan. Namun demikian, kota ini sangat ramai karena orang yang datang dan pergi selalu bergantian setiap harinya.
Tepat menjelang magrib, rombongan Alkemis tersebut akhirnya berhenti di sebuah warung makan yang menyediakan penginapan. Chung Bau Im bergerak cepat dengan memesan 3 kamar untuk mereka berlima, Suma Xiulan, Han Zhong, Gou Long dan Chung Munna segera saja bergerak ke salah satu meja kosong di dekat jendela, Chung Bau Im yang baru siap memesan kamar juga ikut bergabung dengan mereka.
Suasana warung ini sangat ramai, apalagi di ujung depan lurus di antara deretan meja dan kursi mereka menyediakan panggung pementasan. Terlihat seorang gadis cantik sedang memainkan kecapi, jari-jari panjangnya bergerak indah dan cepat bermain-main dengan setiap senar nada yang mengeluarkan bunyi lagu santai.
Setiap nada lagu yang dimainkannya, memberikan kenyamanan tersendiri bagi para pelanggan warung tersebut. Gou Long awalnya tidak terlalu perhatian dengan gadis yang memainkan kecapi tersebut, kemudian setelah gadis itu memainkan beberapa nada lagu, dia mulai mengubah nada lagu ini menjadi sebentuk nada pengiring.
Tak lama setelah nada itu berubah, ikut mengiringi nada tersebut oleh seorang kakek tua yang berkata-kata dan bercerita, baik nada dari kecapi dan cerita dari kakek itu sangat sejalan dan saling melengkapi.
Yang menjadi fokus Gou Long bukanlah keserasian mereka, melainkan cerita yang dibawakan kakek itu adalah cerita tentang dua berita besar yang terjadi di daerah selatan baru-baru ini. Kakek itu menceritakan dengan sangat jelas, orang yang mendengarnya seperti melihat sendiri kejadian itu.
Gou Long terus menyimak kisah yang dibawakan kakek tersebut, ketika beliau melanjutkan dengan kisah kedua. Ini adalah kisah dari pandangan sepihak saja, dimana dia menceritakan tentang seorang anak murid dari Sekte Naga Langit yang tersesat dengan melatih dan berkultivasi hawa Yin.
Kesesatan dari murid itu terus berlanjut dengan memporak-porandakan Sekte dan mengacaukan turnamen Sekte sehingga turnamen itu berakhir tanpa ada pemenangnya.
Kakek tersebut juga turut menceritakan tentang kehebatan dari murid sesat itu. Hati Gou Long yang mendengarkan kisah yang dibawakan si Kakek terasa bagaikan di aduk-aduk, beruntungnya wajah Gou Long yang di oleskan tanah liat, sehingga tidak ada yang bisa menebak ekspresinya.
Namun, kisah yang diceritakan kakek itu terhenti oleh suara tawa yang menggelegar, bahkan ikut menggetarkan lantai dari warung tersebut.
__ADS_1
“Ha ha ha!...” suara tawa itu lama, dan menekan irama nada dari kecapi yang dipetik gadis penghibur tersebut.
“Braakk!”
“Berhentilah bercerita omong kosong! Aku menonton dengan mata kepalaku sendiri turnamen yang di selenggarakan oleh Sekte Naga Langit seminggu yang lalu...”
Seorang pengunjung warung yang sudah mabuk berat, menggebrak meja dan membantah cerita yang dibawakan si Kakek tersebut, pengunjung itu juga yang sebelumnya memperdengarkan suara tawa yang menggelegar itu.
Gou Long seperti memperoleh dewa penolong, dengan bantahan dari pengunjung yang sedang mabuk itu. Situasi di dalam warung makan sekarang berubah sepenuhnya, saat ini fokus semua orang tertuju pada laki-laki yang sedang mabuk berat tersebut, baik gadis yang memainkan kecapi serta kakek yang bercerita telah menghentikan aktivitas mereka.
Semua orang seakan ingin mendengarkan kelanjutan kisah tersebut dari mulutnya, karena hanya orang bodoh yang tidak paham, bahwa orang yang paling jujur di dunia ini hanyalah orang yang mabuk. Ketika orang mabuk berkata, sudah pasti kebenarannya terjamin.
Akan tetapi, harapan dan kejadian berbeda jauh, orang itu malah tidak bercerita. Dia tertawa-tawa serta memaki para pengurus dan para penatua Sekte Naga Langit yang bodoh. Dalam keadaan mabuk begitu, dia masih sempat menjelaskan falsafah kehidupan.
Sambil mengeluarkan dan memegang pedang di tangan, yang membuat pengunjung warung ketakutan, laki-laki yang sedang mabuk itu berkata, “Apa yang salah dari kultivasi seseorang? Baik itu dingin atau panas, bukankah ini sama saja?...”
“Bukan kultivasinya yang sesat, tapi pribadi orangnyalah yang sesat, contohnya pedang ini...” laki-laki tersebut berhenti sejenak dan mengayun-ayunkan pedang di tangannya.
“Pedang ini kalau tidak digunakan untuk bertarung tidak akan berbahaya, kalau hanya digunakan untuk memotong ayam, bukankah ini hanya pedang pemotong ayam? Kalau di gunakan untuk membunuh manusia. Bukankan ini masih pedang yang sama?”
“Lantas apakah yang sesat? Pedang ini atau orang yang menggunakan pedang ini?...”
__ADS_1
“Mereka hanya melihat satu sisi kultivasi, padahal elemen panas petir yang dimainkannya lebih hebat. Dia bahkan bisa berjalan-jalan di atas elemen petirnya, dia seperti orang yang mengendarai petir...”
Setelah berkata-kata seperti itu, laki-laki tersebut sudah tidak sanggup menahan mabuknya lagi, dia terjatuh ambruk di atas lantai tak sadarkan diri. Beberapa pelayan warung seketika itu juga bergerak cepat lalu memapah pria yang mabuk berat tersebut ke kamarnya.