
Mendengar ucapan Feng Yueyin, raut wajah para hadirin kembali berubah, ada yang senang dengan berita tersebut, ada juga yang lebih teliti terhadap ucapan itu.
Seperti halnya yang dilakukan Ding Jia Li, ia tidak tahu siapa yang dimaksud dengan Siauw Xiezy oleh Feng Yueyin “Siauw Xiezy? Siapa itu Siauw Xiezy? Apa Siluman tadi kah?” tanyanya.
“Iya itulah Siauw Xiezy, Long Gege yang memberi nama Siluman tadi dengan sebutan tersebut…” Feng Yueyin tersenyum kecil, teringat akan kekonyolan Gou Long.
Saat semua orang masih terlihat khawatir, hanya Hua Mei dan Murong Qiu yang terlihat tidak khawatir, mereka pernah melihat Gou Long mengikat kontrak jiwa dengan Siluman, setidaknya mereka tahu, Siluman tersebut bukan sekedar patuh begitu saja pada Gou Long.
Namun keduanya tetap diam, membiarkan Feng Yueyin untuk terus melanjutkan ucapannya.
“Siauw Xiezy berkata, bahwa apapun yang terjadi dengan Long Gege, walau ia tidak tahu secara pasti, namun setiap kali peningkatan tenaga dalam terjadi atau Long Gege berada pada hal-hal berbentuk musibah, maka ia dapat merasakannya. Ia terikat dalam hal itu dengan Long Gege.” Feng Yueyin menjelaskan.
“Ya sudah kalau memang begitu halnya tidak perlu dikhawatirkan, perkataan dari Siauw Xiezy sudah pasti benar. Ingat! Para Siluman memiliki egoisme tinggi, buktinya ia masih setia pada Paviliun Gunung Teratai, ini menjelaskan ucapan dari Siauw Xiezy sudah pasti benar.” Kui Ong Cinjin menyahuti.
“Sanchai… Sanchai… Lolap juga setuju dengan apa yang Cinjin katakan.” It Hong Taysu juga menguatkan.
Para Patriark lain juga setuju dengan pemahaman dari dua orang terkemuka itu, terlebih ucapan dari It Hong Taysu, sudah pasti memiliki kapasitas yang tidak bisa sembarang disanggah.
Kelegaan dalam hati semua orang telah kembali, Matriark Li berbisik pada Feng Yueyin, “Nona Feng! Matriark ini ingin memakai aula pertemuan kalian sebentar, ada pertemuan penting yang ingin Matriark ini bahas dengan para Patriark.”
Hal yang sama dilakukan oleh Patriark Klan Hua, dia ingin menyampaikan apa yang pernah ia bicarakan dengan Gou Long sebelumnya pada beberapa orang penting yang hadir di sana sekarang.
Leng Kun dan Feng Yueyin saling bertatapan dan mengangguk, “Pertemuan ini cukup sampai disini saja, ruang aula pertemuan akan dipakai para Patriark untuk bermufakat, generasi muda dan seniman bela diri lain, menginap lah di Gunung Teratai malam ini…”
“Para wanita silahkan mengikuti Nona Feng dan Nona Yu, sedangkan para laki-laki ikut aku, kami akan mengantar kalian ke tempat peristirahatan para tamu.” Ujar Leng Kun.
__ADS_1
Sekejap saja aula menjadi sepi dan hanya menyisakan beberapa orang Patriark. Segala yang pernah disampaikan Gou Long tempo hari, Patriark Klan Hua dan Matriark Sekte Teratai Biru saling melengkapi dalam memberi penjelasan.
Lalu mereka bersepakat akan menyampaikan hal itu pada para Patriark lainnya yang bersangkutan saat Kompetisi Besar Daratan Tengah.
***
Sekte Lembah Tengkorak mengalami kemajuan sangat pesat selama setahun ini, bahkan Sekte tersebut telah menyaingi Sekte Naga Langit di Daerah Selatan.
Faktor pertama yang membuat pamor mereka naik, karena sedikit melemahnya Sekte Naga Langit pasca terjadi insiden akhir kompetisi Sekte tahun itu, juga karena mata-mata golongan hitam berhasil menyusup dengan baik bahkan menjadi Penatua Sekte Naga Langit selama bertahun-tahun.
Faktor kedua, terjadinya pergantian Patriark dari Sekte Lembah Tengkorak, ini sudah dideklarasikan dan disebarluaskan langsung oleh mereka. Patriark generasi terdahulu mereka dinyatakan tewas di Kota Heitu daerah pinggiran Selatan.(Ch. 95)
Yang mengambil alih Sekte Lembah Tengkorak saat ini adalah seorang perempuan paruh baya, penampilannya layaknya seorang Nyonya Muda, saat ia datang ke Sekte tersebut, ia memperlihatkan Lambang Tengkorak tanda sebagai penguasa dari Sekte tersebut.
Sementara Nyonya itu sendiri tidak jelas Ranah Kultivasinya, tidak ada seorangpun di Sekte Lembah Tengkorak yang bisa mengukur tingkat kultivasi dari Nyonya tersebut.
Sore hari itu…
Diawali dengan tawa yang menggetarkan Lembah Tengkorak, “Hik hik hik…” tawa mengikik dan mengidikkan bulu roma.
Orang-orang Sekte Lembah Tengkorak mendengar suara tersebut mendadak berhenti dari aktivitas masing-masing, mereka berduyun-duyun mendatangi tempat asal suara.
Siluet enam orang tiba-tiba terlihat berdiri di atas atap bangunan paling tinggi di Sekte Lembah Tengkorak.
Di tengah-tengah berdiri dengan pakaiannya yang serba mewah dari kain sutra pilihan, pakaian yang terlihat agak ketat namun sangat efektif dan tidak akan mengganggu gerakan dari si pemakai, pakaian dengan warna merah berapi-api.
__ADS_1
Sosok itu adalah seorang Nyonya Muda, ia sangat mendominasi dan genit serta pembawaan aura yang terasa kejam.
Sementara kelima lain semuanya gadis muda dan cantik, dengan corak pakaian yang terlihat memiliki warna yang sama, yaitu biru langit dan bernuansa menenangkan. Bunga-bunga kecil tersulam indah di pakaian mereka, baik si nyonya sendiri juga pakaian para gadis muda itu.
Begitu melihat murid-murid Sekte Lembah Tengkorak sudah berkumpul, Nyonya Muda tersebut melambaikan tangan membuat gerakan tanda perintah.
Salah satu dari empat orang gadis berpakaian biru maju ke depan satu langkah, “Sejak hari ini! Sekte Lembah Tengkorak telah berganti kepemimpinan, yang menjadi pemimpin adalah Matriark Dong!” teriaknya keras, tangan kanan yang diacungkan ke atas, di tangan itu terlihat Lencana Tengkorak Emas tanda pengenal Patriark sebelumnya.
“Yang tidak patuh, Mati! Atau… Kalian bisa mengajukan tantangan keberatan, namun setiap tantangan harus diakhiri dengan kematian, tidak ada kata mundur atau menyerah…” lanjut gadis tersebut mengancam.
“He he he…” Sang Nyonya terkekeh, “Siu Lan! Kau saja yang berbicara, nada suaramu lebih lembut. Xue Yan! Kau mundurlah, mereka bakal orang kita, tidak perlu terlalu kejam!”
“Baik Nyonya!” serentak kedua gadis menjawab.
Gadis yang memegang lencana kembali mundur, gadis lain yang disapa dengan Siu Lan maju satu langkah, “Kalian tidak perlu takut, nyonya kami selalu penuh pengampunan…”
“Percayalah! Di bawah kepemimpinan Nyonya Kami, Sekte Lembah Tengkorak akan mencapai puncak kejayaan…” Siu Lan, bergerak turun dari atas atap, di halaman gedung itu terdapat patung ukiran Singa, besar dan berat, “Siapa saja yang bisa memindahkan patung batu ini, dengan menggunakan tenaga Gang maka boleh mengajukan keberatan atas keputusan kami…”
Siu Lan berjalan ke depan patung itu, membuat kuda-kuda, dia mencontohkan, pelan dan pasti dia mengangkat patung tersebut dengan satu tangannya yang terlihat mulus.
“Braakk!” dengan mudah Singa batu diangkat Siu Lan.
“Asal kalian tahu saja, Patriark kalian yang sebelumnya Kun Hong telah tewas, dan sudah tentu bukan Nyonya yang membunuhnya, lagipula kalau kalian bisa berpikir jernih kalian sudah pasti bisa menerka siapa Nyonya kami ini…”
“Nah! Siapa saja yang keberatan silahkan mencoba!” Dia menurunkan kembali patung berat tersebut, “Kami pasti akan mendengarkan dan mempertimbangkan keberatan yang kalian ajukan.” Siu Lan tersenyum manis, melesat kembali ke tempat semula.
__ADS_1