
Gou Long dapat melihat saat itu, gadis yang bercadar setelah menerima pukulan telak, jatuh seperti pelita yang kehabisan minyak, dan jatuhnya tepat ke dalam pelukan Hua Mei.
Terus bergerak sambil membantai, ketika tiba di sisi Hua Mei serta membunuh beberapa orang lagi, saat itulah perang kecil-kecilan yang terjadi hampir 4 jam lamanya benar-benar usai.
Berdiri di sisi Hua Mei, Gou Long melihat raut tidak percaya pada wajah Murong Qiu dibalik rona pucat wajahnya yang semakin memucat, Gou Long lantas ikut melihat pada gadis dalam pelukan Hua Mei, tidak dapat diselamatkan, organ dalam hancur hanya bersisa beberapa menit saja.
Baru kemudian dia melihat wajahnya, “Hahh! Itu dia!...” batin Gou Long terkejut, tanpa sadar menggelengkan kepala.
Gou Long melihat Hua Mei yang saat itu bergetar hebat, entah bagaimana gadis itu akan menghadapi kenyataan ini, hanya gadis itu sendiri yang tahu.
Lantas Gou Long ikut berjongkok di kaki Qiau Qinsi, kemudian menyalurkan tenaga dalamnya ke dalam meridian Qiau Qinsi melalui telapak kakinya, Gou Long tahu ada banyak hal yang ingin diucapkan gadis itu sebelum ajal menjemputnya.
***
Hua Mei, sebelum menyambuti Qiau Qinsi, dia mengetahui bahwa gadis itu sudah kehabisan segalanya, namun Hua Mei yang menyambutinya tetap menyalurkan tenaga dalam untuk mengurangi rasa sakit Qiau Qinsi.
Semua organ hancur, nafasnya satu-satu kembang kempis, kemudian saat Hau Mei melihat wajah Qiau Qinsi yang tidak memakai cadar lagi, dia tersentak terpaku di tempat, dengan pikiran yang kosong.
Tiba-tiba rasa benci muncul di hatinya, dia ingin bangkit dan menghempaskan sosok tubuh yang terluka parah dan sedang menantikan ajal dalam pelukannya, namun sudut matanya melihat tangan gadis itu dengan erat memegang sudut dari pakaiannya, yang menghentikan gerakan Hua Mei.
Pelukan Hua Mei menjadi sedikit lebih erat, tubuhnya juga bergetar hebat, karena menahan perasaan benci, dendam, dan tidak tega. Sosok tubuh Qiau Qinsi merasakan sakit akibat pelukan erat tersebut.
Ia membuka matanya yang terpejam, dan melihat orang yang memeluknya, senyuman mengembang di antara rasa sakit yang dia rasakan, tak disangka adiknya lah yang memeluknya saat ini.
Tangan kirinya diangkat pelan, lemah, dan kemudian menyibak rambut depan Hua Mei yang menutupi sebagian dari wajah Hua Mei yang pucat.
Hua Mei membiarkan saja setiap gerakan itu, sensasi seperti ini hanya pernah dirasakannya dulu sekali saat masih berusia 5-6 tahun.
Tangan lemah itu kemudian diturunkan sedikit, mengelus pipi lembut Hua Mei, “Ga-gadis ke-kecil Ci-cici ya-yang bo-bodoh!... Ma-maafkan Ci-Cici!...” ucapan yang terbata-bata dengan nada lemah dan lirih meluncur dari mulut yang memaksakan senyuman dalam keadaan seperti itu.
__ADS_1
Hua Mei untuk sesaat masih terdiam, rona pucat wajah semakin tebal, “Kenapa Cici melakukan ini semua? Cici sangat benci padaku, tapi kenapa saat-saat terakhir Cici mengorbankan nyawa untukku? Kenapa?...” lirih, ucapan Hua Mei seperti orang linglung.
Butir-butir air mata juga mulai jatuh di pipi Hua Mei.
Masih sambil mengelus lembut pipi Hua Mei yang mulai basah, “Ga-gadis bo-bodoh!...”
“Khuuuuk...” belum sempat menyelesaikan kata-katanya darah tumpah begitu saja dari mulut gadis itu.
Hua Mei menyeka darah yang keluar dari mulut Cicinya. Karena tindakan itu senyuman semakin mengembang di wajah pucat gadis yang sedang menanti ajal tersebut.
Tangan kirinya kembali diangkat, gerakan yang pelan dan lemah. Jari-jari dinginnya mengelus lembut pipi Hua Mei dan terus bergerak ke dahinya, “Me-Mei ‘er Ma-maafkan Ci-ci!” selama mulutnya berucap dengan terbata-bata, jari telunjuknya menekan dahi Hua Mei lembut.
Itulah Teknik terakhir yang dikeluarkan Hua Yan Ran, teknik yang memperlihatkan bagian-bagian terpenting dalam hidupnya, Teknik Pemindah Ingatan.
Setelah melepaskan teknik tersebut tangannya terkulai, nyawa telah melayang dari jasadnya yang tersenyum bahagia dalam pelukan adiknya yang tercinta.
Tidak ada kata-kata penjelasan dari Hua Yan Ran, hanya kenangan ingatannya yang terproyeksi dengan jelas dalam kepala Hua Mei, itu semua penderitaan yang ditahan Cicinya selama bertahun-tahun ini. (baca chapter 120)
Dengan menahan isak tangis, jasad Cicinya dicium lembut.
“Hiks!... Hiks!... Hiks...!”
“Cici!... Cici!... Cici!... Maafkan Mei ‘er!.. Hiks!.. Mei ‘er sangat bodoh, Mei ‘er tidak tahu Cici sangat menderita... Hiks.. Cici!...”
“Hiks!...Hiks!...”
Ucapan lirih Hua Mei di sela-sela tangisan yang tidak dapat ditahannya lagi.
Ucapan yang sudah pasti tidak dapat didengar oleh Hua Yan Ran yang sudah terbujur kaku semenjak tadi.
__ADS_1
Gou Long melihat adegan menyedihkan ini terpaksa memalingkan muka, dia tahu Hua Yan Ran sangat menyayangi adiknya, sehingga ikut merasa sedih walau tidak ada cerita yang keluar dari mulut Hua Yan Ran.
Sementara, Murong Qiu setelah melihat wajah dibalik cadar tebal itu adalah wajah Hua Yan Ran, dia terkejut, namun melihat kondisi Hua Yan Ran sudah seperti itu dia tidak berkata apa-apa, hanya terus melihat tindakan kakak beradik itu.
Walaupun dia tidak tahu apa yang terjadi di antara mereka berdua, adegan kesedihan yang terpampang di depannya saat ini serta merta ikut membuatnya sedih.
Murong Qiu bergetar keras sambil berdiri, kemudian dengan menguatkan tekad dia mendekati Hua Mei dan mengelus lembut kepala Hua Mei, tak ada kata-kata dari mereka bertiga di sana. Hanya isak tangis kecil Hau Mei yang terus terdengar.
Sementara itu langit juga ikut bersedih setelah terjadi pembantaian anak manusia yang hampir mencapai 1000 orang, awan mulai menggelap, dan gelegar guntur terdengar tiada henti.
Sebagian seniman bela diri yang sedang mengambil cincin penyimpanan dari mayat-mayat yang berserakan ini, menghentikan aktivitasnya untuk sesaat, lalu kembali melanjutkan aktivitas mereka dan mengubur jasad-jasad yang telah mereka ambil jarahannya.
Di sana hanya tiga orang yang terus terpaku di tempat masing-masing, dengan pikiran dan kesedihan masing-masing.
Kemudian hujan turun deras, menyapu bersih setiap darah dan ceceran daging kecil yang tercacah kala pertempuran tadi.
Langit menangis, Hua Mei, Gou Long dan Murong Qiu juga menangis.
Setelah sekian lama dalam kondisi seperti itu, dan hujan pun telah berhenti, akhirnya Gou Long bergerak mendekati Hua Mei, “Mei ‘er! Kuatlah!... Cici Ranran sangat kuat, lihat! Ia tersenyum, bahkan saat-saat terakhirnya, Mei ‘er juga tidak boleh menyia-nyiakan apa yang telah Cici Ranran perjuangkan...”
“Sekarang tugas kita mengubur jasad Cici Ranran di sini, atau membakarnya di sini, abunya kita bawa pulang dan makamkan kembali di sana nantinya...” Ujar Gou Long lembut.
“Kita lakukan yang kedua saja, Mei ‘er akan membawa pulang dan memakamkan dengan layak di sana, setiap hari Mei ‘er juga bisa memanjatkan doa di makam Cici Ranran kelak...”
Ujar Hua Mei lirih, nada kesedihan belum hilang dari setiap kata-katanya.
_______
Jangan iris bawang yaa.. nikmati saja,
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like, komentar dan vote!