
Gou Long berhenti sejenak di dalam gua, dia merentangkan kedua tangan sambil menghirup nafas dengan dalam. Perasaan yang terbawa dengan nostalgia saat dahulu masih bermain-main di air terjun. Juga, saat dahulu dia tertidur di dalam gua yang menyebabkan ayah bundanya khawatir.
Gua ini masih sama seperti dahulu, tidak ada apa-apa di dalamnya, hanyalah gua biasa yang bisa dipakai untuk bersembunyi dari kejaran musuh atau untuk mengobati luka dalam pasca pertarungan berat.
Setelah memastikan bahwa tidak ada yang luar biasa di dalam gua. Gou Long dengan santai, memecah air terjun, berjalan keluar dari gua. Siluet bayangan tubuhnya disambut oleh ratusan pasang sorot mata tajam dan menyelidik.
Suasana di sekitar Gou Long mencekam, hawa tekanan dari banyak tenaga dalam beberapa pesilat Ranah Langit, menyesakkan nafas para pesilat yang hadir di tempat itu. Dia seperti anak domba, yang bisa diterkam kapan saja oleh sekelompok singa liar.
Langit malam di Lembah Gunung Petir sangat cocok untuk melakukan pertarungan, itu tampak sangat cerah, dan bulan purnama yang bersinar terang. Area air terjun ini, terlihat sangat terang karena di sekeliling tempat, terpasang obor-obor kecil sebagai alat penerangan. Bentuk fisik dan raut wajah Gou Long bisa dilihat oleh siapapun di tempat tersebut.
Suasana yang mencekam tersebut pecah karena teriakan yang dipancarkan dengan tenaga dalam tingkat tinggi.
Itu menggema ke seluruh Lembah Gunung Petir. “Bocah! Serahkan kitab yang kau ambil di dalam gua, kami akan menjamin keselamatan jiwamu.”
Gou Long segera orang yang berteriak, dia adalah Patriark dari Keluarga Jin, yaitu; Jin Kai.
Keluarga Jin memang lebih kuat dibandingkan Keluarga Utama lain. Saat ini, dengan Ranah Langit Tahap Awal yang lebih stabil, jika dibandingkan para Patriark Keluarga Utama lainnya, wajar saja dia yang ditunjuk menjadi pemimpin di dalam persekutuan ini.
“Kitab apa? Gua ini hanya gua kosong, tidak ada apa-apa disini,” jawab Gou Long berkilah dari tuduhan Patriark Jin.
“Bocah, tidak akan ada yang percaya padamu. Semua orang melihat kau masuk dan keluar gua, sudah tentu kitab itu sekarang telah kau kantongi.”
“Patriark Jin, tidak perlu banyak omong dengan bocah itu. Biarkan aku yang mengambil kitab itu darinya!” Salah seorang pesilat Ranah Bumi Tahap Puncak, unjuk diri demi pahala dan sanjungan dari keluarga utama.
Orang itu berusia tiga puluh empat tahun, wajahnya tidak bisa dikatakan tampan juga tidak dapat dikatakan jelek. Hanya saja, penampilannya terlalu bersolek, seperti penjahat cabul.
“Saudara Feng, kau boleh mencobanya,” jawab Patriark Jin.
“Ha ha ha! Bocah cantik, serahkan kitab itu, kalau kau tidak mau mampus!” Sambil tertawa-tawa Tonghong Feng mengejek Gou Long karena wajah si pemuda yang tampan.
__ADS_1
Gou Long yang mendapat panggilan bocah cantik, darahnya mendidih. Baru hari ini, ada yang menyamakan ia seperti anak perempuan. Gou Long maju satu langkah ke depan dan menggaris di tanah dengan kaki.
Kembali mundur dia berkata, “Berani melewati garis itu satu langkah, mati!”
“Omong Kosong, serahkan kitab itu!” teriak Tonghong Feng, bergerak dengan pedang di tangan, jurus serangan yang digunakan adalah jurus yang sangat umum.
Tapi, di tengah-tengah dia menganti dengan tusukan berantai ke arah yang sangat mematikan, yang dituju jantung dan tenggorokan.
Dari gerakan ini saja, semua orang bisa menilai tingkat kelicikan Tonghong Feng. Sayang, dia bertemu Gou Long, tanpa berkata-kata, bergerak cepat lalu.
“Cess!” Suara tebasan terdengar, dan kepala Tonghong Feng menggelinding jatuh ke dalam air.
Untuk sesaat, jasad dari Tonghong Feng masih melayang, sebelum benar-benar jatuh ambruk ke atas tanah. Tidak ada yang melihat bagaimana Gou Long menebas kepala Tonghong Feng. Semua yang hadir di sana terpaku di tempat, nafas mereka seakan tertahan di dada. Baru sekarang, mereka menyadari bahwa Gou Long bukan orang yang dapat mereka remehkan.
Pemuda itu membunuh tokoh dengan Ranah Bumi Tahap Puncak seperti menyembelih ayam saja, tanpa perlawanan dan hanya dengan satu gerakan.
Semua orang memang sejak tadi dibutakan dengan keinginan untuk memiliki kitab tanpa tanding. Sehingga, mereka lupa tentang siluman yang menjaga kitab itu.
“Ha ha ha! ... Siapa lagi yang ingin segera bertemu dengan Raja Neraka? Aku akan buka pintunya untuk kalian,” ujar Gou Long, suara yang terdengar menyeramkan di telinga para pesilat.
“Keroyok saja dia, dan rebut kitab itu!” perintah Patriark Jin.
Ia sendiri maju memimpin, diikuti oleh beberapa pengawalnya yang berada di Ranah Bumi Tahap Awal. Tidak mau ketinggalan, Kun Hong, Peng Mofan dan Zhang Sanfeng beserta beberapa pesilat yang tidak terikat oleh sekte maupun Keluarga Utama. Pesilat ini kebanyakan di Ranah Bumi Tahap Menengah.
Semua yang maju berjumlah dua puluh orang. Gou Long menatap mereka sekilas. “Kalian, mau maju sekalian atau bersepuluh. Aku sarankan secara bersamaan saja, agar hemat waktu.”
Tanpa menunggu jawaban dari lawan, Gou Long mengambil inisiatif penyerangan. Dia berteriak keras, “Lihat pukulan!” suara cicit terdengar keras, cahaya keperakan terpancarkan.
Gou Long langsung bergerak dalam jurus Pedang Petir Menebas Angin, jurus ini memang sangat efektif untuk melawan keroyokan.
__ADS_1
Dengan langkah kaki Jurus Walet Menunggang Angin, Gou Long bergerak lincah, perpaduan kedua jurus itu dalam waktu singkat memperlihatkan hasilnya. Sepuluh orang pengeroyok dari Ranah Bumi tumbang, dengan badan berlubang besar sebesar kepalan tangan.
Bau darah memenuhi udara, geraman para Patriark Keluarga Utama terdengar nyaring di telinga Gou Long.
“Hati-hati! Kekuatan tempur bocah ini setara dengan Ranah Langit Tahap Puncak,” ucap Patriark Jin, mengingatkan.
Dua puluh lawan satu, sedikit menyusahkan bagi para Patriark Keluarga Utama. Mereka tidak bisa mengeluarkan gerakan terbaik, karena area gerak yang terbatas. Saat ini, ketika sepuluh orang telah tumbang, gerakan mereka menjadi lebih lancar dan teratur.
Kembali pertarungan berlanjut, hawa tekanan tenaga dalam dan bau amis darah yang memenuhi udara sangat menyesakkan nafas para pesilat yang menonton. Saat itu, tiga puluh gerakan telah berlalu, Gou Long tetap menggunakan jurus yang sama.
Nafas Gou Long masih sangat stabil, berbeda jauh dengan lawan-lawannya yang sudah mulai kembang-kempis. Pada satu moment, Gou Long dengan sengaja sedikit menekuk lutut, seperti tersandung, tidak lupa dia membuat mimik wajah ketakutan.
Kesempatan itu dimanfaatkan oleh lawan Gou Long yang tertipu, lalu dengan sigap mereka hendak mencacah Gou Long.
Tapi niat dan nasib saling bertolak belakang, dalam satu pukulan keras pancaran tenaga dalam seperti guntur tampak keluar dari kepalan tangan Gou Long.
“Swoosshh!”
“Jeedddarrr!”
Ledakan terdengar sangat keras, lima orang pengeroyok kembali dijemput oleh Raja Neraka. Bau hangus memenuhi udara, kelima orang itu menghitam seperti disambar petir.
Para Patriark Keluarga Utama, dan Patriark Sekte, serta satu orang di Ranah Bumi yang berhasil selamat bergerak menjauh. Raut wajah mereka pucat memutih.
“Ha ha ha! ... Siapa lagi yang ingin menyusul? Pintu Neraka akan kubuka semakin lebar.” Gou Long tertawa terbahak-bahak. Wajahnya garang, hawa membunuh terlihat jelas dari sorot mata itu.
Pada hakikatnya, Gou Long tidak terlalu suka membunuh. Namun, di tempat ini, tempat ayah dan ibunya meninggal, dan juga penyebab dari kematian ayah bundanya bersumber dari kemelut Kitab Lima Yang, dia menjadi kalap. Sehingga ringan tangan dalam pembunuhan.
“Bocah! Sudah cukup, tahan dirimu! Jangan terlalu kejam dan sadis!”
__ADS_1
Pancaran suara yang menindas dan bernada lembut terdengar menggema. Suara yang sangat enak untuk didengar, sehingga Gou Long tersadar.