
Membuyarkan pukulan yang diarahkan padanya, Gou Long tersenyum kembali menoleh pada si Gadis, “Nona melupakanku? Kita sama-sama murid Sekte Naga Langit dahulu, kemudian aku membuat kekacauan saat turnamen sekte,” ujar Gou long, tersenyum masam, malu pada kelakuannya saat itu.
Si Gadis masih coba mengingat, Gou Long menambahkan, “Itu terjadi… kurang lebih empat tahun yang lalu.”
Salah satu dari tiga orang yang berusaha melindungi si Gadis berkata, “Lien ‘er! Apa Pendekar ini, temanmu?” dia menatap Gou Long penuh harap, agar Gou Long terus membantu mereka sampai akhir.
Gadis yang disapa dengan Lien ‘er terus coba mengingat, dan akhirnya mengenali, “Ah! Kau calon suaminya Mei ‘er!” teriaknya, terkejut dengan kehadiran Gou Long, “Dia ini Pendekar Gou, juga Master dari Paviliun Gunung Teratai, setelah tiga tahun menghilang tiba-tiba saja muncul di daerah Utara.”
Gadis yang disapa Lien ‘er berteriak sekaligus memperkenalkan Gou Long
“Apa!”
Teriakan kejutan muncul hampir di semua bibir orang-orang yang ada di sana.
Raut keterkejutan sekarang muncul tidak hanya di wajah tiga orang yang terus melindungi si Gadis Lien, namun juga dari wajah orang yang menyerang Gou Long dengan kipas sebelumnya.
Memang seniman bela diri yang ada di Hutan itu, sebagian besar adalah orang-orang Daratan Tengah, hanya tiga orang yang merupakan seniman bela diri daerah Utara, yaitu mereka yang menyerang si Gadis dan tiga orang pelindungnya, juga seorang seniman bela diri yang berdiri di sisi orang pemegang kipas.
Sudah bukan rahasia, hampir semua seniman bela diri Daratan Tengah tahu nama Gou Long, walaupun mereka tidak mengenal wajah pemuda tersebut, namun kehebohan yang ia timbulkan lebih dari cukup untuk menggemparkan Daratan Tengah tiga tahun yang lalu.
“Hoo! Inikah yang dikenal dengan Master Paviliun Gunung Teratai,” orang yang memegang kipas perlihatkan wajah mengejek, bibir yang sengaja di sunggingkan, “Hanyalah anak muda bau kencur yang baru beranjak dewasa, kau pikir kesombonganmu bisa menggertakku?”
__ADS_1
Gou Long tetap mengabaikan si pemegang kipas, berbicara dengan gadis yang disapa dengan Lien ‘er, “Tepat Nona Qiau, sejujurnya aku pernah beberapa kali melihatmu bersama mendiang Cici Ranran…” Gou Long ingat bahwa gadis ini bermarga Qiau, pernah beberapa kali ia melihat si gadis di rombongan Klan Qiau.
Gou Long menjeda katanya, terlihat sedikit ragu, dia menoleh ke arah para penyerang si gadis dan tiga orang pelindungnya.
Gadis ini paham apa yang dimaksud Gou Long, “Aku Qiau Lien! Kau boleh menyapaku dengan Lien Cici,” sedikit tersipu malu, Qiau Lien melanjutkan, “Aku tahu kau ingin bertanya banyak hal, tapi membereskan mereka ini lebih baik daripada kita berbicara panjang lebar.”
Qiau Lien menunjukkan empat orang Puncak Ranah Surgawi di depannya satu persatu, yang pertama sekali ditunjuk yaitu si pemegang kipas, “Dia ini merupakan salah satu Paman dari Klan Qiau-ku, orang ini telah mengkhianati Klan, menjual informasi kepada musuh. Hanya demi kepentingan pribadi…”
“Sedangkan ketiga orang lainnya, mereka itu penduduk asli daerah Utara, orang-orang dari Sekte Racun Es daerah Utara.” Qiau Lien menatap ketiga Paman pelindungnya, anggukan kecil terlihat dari mereka, “Mereka mengincar Pedang Teratai Salju milik Klan Qiau, dengan alasan bahwa pedang tersebut lebih cocok dimiliki oleh orang-orang daerah Utara.” Qiau Lien mengakhiri penjelasan singkatnya.(Ch.74)
“Hoo! Jadi alasan dibalik penyerangan ini, rasa tamak pada harta orang lain,” tersenyum mengejek orang-orang tersebut, Gou Long melanjutkan ucapannya, “Aku terlalu sering mendapatkan perlakuan seperti ini, jadi tanpa diminta pun aku akan dengan sangat senang hati ikut campur di dalamnya.”
Sekarang si pemuda sudah mencapai Puncaknya Ranah Kultivasi, dan tidak ada ranah yang lebih tinggi dari itu menurut pemahaman umum. Qiau Lien tidak dapat membayangkan betapa kuatnya si pemuda sekarang.
Walau dalam hati kecil juga muncul sedikit iri, “Saat di Sekte Naga Langit, tingkat kultivasi ku lebih tinggi darinya, sekarang! Ia maju sangat jauh dan meninggalkan kami yang notabene murid-murid paling berbakat saat itu.” Qiau Lien menyayangkan ranah kultivasinya yang belum memperoleh kemajuan, dan hanya meningkat sedikit terhadap fondasi tenaga dalam.
“Ha ha ha…” Orang yang berdiri di samping si pemegang kipas tertawa keras, “Huft! Pemuda bau kencur ikut menyombongkan diri di daerah Utara ini, sungguh orang yang tidak mengenal tingginya langit dan dalamnya bumi.”
Sejak tadi orang ini memang sudah tidak tahan melihat tingkah Gou Long yang tidak melihat dan peduli pada mereka sedikit pun, padahal dalam segi ranah kultivasi, mereka sama tingkatannya.
“Saudara Qiau! Apa yang kau khawatirkan! Sejak kau membuka negosiasi dengan kami orang-orang Utara, beberapa hal sudah pasti tidak akan bisa diulang lagi. Menyesalpun telah kasih,” lanjutnya, menepuk ringan bahu orang berkipas.
__ADS_1
“He he he!” terkekeh geli, si pemegang kipas berkata, “Saudara Sun terlalu memandah rendah diriku, saat aku mengambil keputusan membocorkan tentang Pedang Teratai Salju dan keponakanku yang cantik itu pada kalian, sudah pasti aku tahu konsekuensi, bahwa aku tidak bisa kembali ke Klan Qiau…”
“Dan sekarang, jika kita harus membunuh mereka semua karena tidak mau berkerja sama, juga bukan masalah, bagiku malah lebih baik kita lenyapkan saja mereka semua agar tidak meninggalkan penyakit dikemudian hari…”
“Qiau Peng Bu! Pengkhianat busuk, Patriark Klan Qiau pasti akan mengejarmu!” teriak salah satu dari orang yang melindungi Qiau Lien, terlalu geram pada si pengkhianat.
Gou Long ikut menimpali, “Membunuh kami semua!” tangannya digerakkan dengan telunjuk diacungkan ke langit, seperti amper meter yang mengukur suhu, “Tidak semudah yang kalian bicarakan, mungkin saja kalian harus berlatih seribu tahun lagi. Itupun jikalau kalian masih hidup.”
Semua yang ada di sana mengangap apa yang diucapkan pemuda itu hanyalah bualan saja, mereka tahu nama besar Gou Long, tapi untuk kekuatan pemuda itu secara jelas tidak ada yang pernah benar-benar melihat atau bertarung dengannya.
Namun bagi Qiau Lien itu menjadi hal yang berbeda, ia tahu, apa yang diucapkan Gou Long, bukan suatu yang dapat dianggap sepele atau diremehkan.
Di balik wajah tampan, usia muda, perawakan gagah, nada bicara yang halus, ada kekuatan yang mengerikan dan kekejaman sadis dari pemuda itu.
Orang bermarga Sun, tidak menanggapi perkataan Gou Long, dia melambaikan tangan pada dua orang lainnya, gerakan minta mereka menyurut mundur, keduanya segera melesat ke sisi orang bermarga Sun.
“Tuan ada perintah apa?” suara serak, dengan nada kepatuhan mutlak di ucapkan keduanya.
Baru sekarang Gou Long meneliti dua orang lain itu, keduanya terlihat aneh, benar mereka berada pada puncak kultivasi, namun tidak ada aura kehidupan dari keduanya.
Mata mereka kosong, bagaikan laut tak bertepi, mereka terlihat seperti sangat patuh pada orang bermarga sun. Mereka seperti orang-orang yang terkena sihir atau semacam teknik pengontrol jiwa.
__ADS_1