
“Kalau memang sudah setuju ... hi hi hi! ... Aku sarankan kalian memikirkan dengan sebaik-baiknya siapa yang akan maju pertama. Sejujurnya, teman-temanku tidak ada yang lemah.” Hua Yan Ran memperingatkan, lalu dia tertawa indah yang bisa membuat siapapun akan tergoda padanya.
“Tenang saja, kami sudah memikirkan dengan sangat matang apa yang akan kami lakukan, karena taruhan ini kita lakukan besok pagi, sebaiknya kalian memikirkan persiapan kalian sendiri,” jawab Murong Qiu ketus. Dia terlihat kesal dengan gaya menggoda yang diperlihatkan Hua Yan Ran sepanjang waktu.
“Nona terlalu ketus, jangan khawatir aku tidak akan tertarik pada Laki-laki seperti mereka berdua.” Dengan elegan Hua Yan Ran berkata seperti itu, lalu dia memerintahkan kawan-kawannya untuk segera berkultivasi menunggu pagi tiba. Dia sendiri juga melakukan hal yang sama.
He Fei dan kawan-kawannya juga segera berkultivasi di tempat itu, sambil menunggu malam berlalu.
Pagi hari pertaruhan mereka, akhirnya datang juga. Kedua belah pihak sudah bersiap-siap mengatur strategi terbaik. He Fei sudah memikirkan berulang kali, menurut apa yang diperkirakannya, kalau mereka tidak berhasil menang di babak awal, maka ini sudah dapat dipastikan kekalahan bagi mereka.
Hua Yan Ran jelas tidak akan memilih lawan yang lain, dia hanya akan melawan Hua Mei. Melihat dari besarnya rasa percaya diri yang diperlihatkan Hua Yan Ran, He Fei memperkirakan itu akan menjadi kekalahan mereka yang pertama. Karena pertimbangan tersebut, He Fei memutuskan Hua Mei akan bermain di babak terakhir.
Mereka akan mencuri kemenangan di babak pertama dan kedua, jadi pertandingan terakhir tidak perlu dimainkan lagi. Dengan pemikiran seperti itu, maka babak ini He Fei sendiri yang akan bermain.
Dari pihak Hua Yan Ran, mereka terlihat sangat optimis baik dari raut wajah maupun dari segi persiapan. Mereka tidak mengatur strategi tertentu, lagipula Hua Yan Ran sudah berpikir mereka telah menang satu babak walau belum bermain sama sekali.
Lantas, mereka mengutus Ying Susu sebagai petarung pembuka di babak ini.
Ying Susu maju, dia lalu sedikit membungkuk sebagai bentuk penghormatan pada lawan. Setelah diperhatikan dengan seksama Ying Susu ini juga termasuk gadis yang sangat cantik dan jarang ada bandingan. Andai dibandingkan dengan Hua Yan Ran, perbedaan mereka hanya satu poin.
__ADS_1
Apalagi tubuh langsing yang didukung oleh postur tinggi semampai.
Ying Susu lantas berkata, “Aku selalu bertarung dengan senjata, jikalau saudara He Fei memiliki senjata maka keluarkan saja.” Bersamaan dengan kata-kata yang keluar dari bibirnya yang merah merekah. Dia juga mengeluarkan selendang panjang yang dijahit dari kain sutra pilihan dan sangat kuat.
“Tidak perlu, aku bukan petarung yang menggunakan senjata, Nona berhati-hatilah! Tangan Pasir Besi yang aku latih sangat berbahaya,” jawab He Fei, tidak lupa dia memberi peringatan agar lawannya berhati-hati.
“Baiklah kalau begitu, aku tidak akan sungkan! Saudara juga berhati-hatilah, lihat Senjata!” teriak Yin Susu, lantas mulai mengembangkan jurus selendang dan mencari celah untuk memojokkan Hei Fei dalam waktu singkat.
Serangan selendang panjang yang dialiri tenaga dalam itu bergerak lincah seperti ular, sesekali membelit, lalu di lain saat menutuk. Satu senjata dengan banyak kegunaannya, kadang kala itu seperti jaring laba-Laba yang melebar dan siap membungkus tubuh He Fei.
Dasar dari jurus selendang itu tidak jauh berbeda dengan jurus cambuk. Namun, karena jurus ini mengunakan selendang maka perubahan-perubahan pada gerakan menjadi lebih banyak, apalagi jurus ini dimainkan oleh perempuan, maka dapat dibayangkan bagaimana hebatnya.
He Fei bukanlah batang kayu kalau dalam urusan ilmu silat, dia tidak bisa dipukul begitu saja, pemahamannya tentang ilmu silat lebih matang. Awalnya, dia memang terlihat sedikit kesusahan melawan selendang yang bisa digerakkan sesuai kehendak Ying Susu. Namun, lambat laun dia mulai terbiasa.
Karena dia tidak mengunakan pedang, He Fei mengunakan lengan sebagai pedang. Dia tidak menahan diri sedikit pun, gerakan tangan He Fei seperti akan membelah selendang lawan ketika selendang itu bergerak membelit. Tangan yang dilapisi dengan Ilmu Pasir Besi sangat tajam dan keras, itu bahkan seperti pedang yang ditempa dengan meteor tingkat tinggi.
Tidak mau selendangnya terbelah robek, Ying Susu mengurangi gerakan membelit, dia memutar-mutar selendang itu dan mengaliri tenaga dalam. Sekarang, selendang itu seperti toya saja keras dan ulet. Hebatnya, Ying Susu juga mengganti jurus dasar. Sekarang, jurus yang dia mainkan adalah sebentuk jurus toya.
Dia memutar toya dari selendang itu dengan sebat. Angin tajam dari hawa murni yang dikeluarkan oleh gerakannya menerpa semua yang menonton pertarungan. Tidak salah memang perkataan Hua Yan Ran, bahwa kawan-kawannya bukanlah orang-orang lemah.
__ADS_1
Lagi-lagi He Fei menjadi terdesak, tidak mau berlama-lama dalam keadaan yang tidak menguntungkan, dia juga merubah cara bertarung. Tenaga dalam yang hebat dihamburkan, setiap pukulan dari He Fei terasa sangat berat bagi Ying Susu yang menangkis.
Telapak tangan yang memegang toya dari selendang itu terasa linu, kulit tangan bagai terkelupas paksa. Hal ini membuat dia kembali mengubah gaya bertarung seperti semula. Namun, He Fei yang sudah mengetahui kelemahan-kelemahannya tidak membiarkan Ying Susu mendapat momentum.
He Fei bergerak lincah, dia mencontoh cara Gou Long bergerak dengan ilmu meringankan tubuh. Walau jurusnya berbeda dengan Gou Long, tapi cara menyerang yang membingungkan lawan dengan bergerak cepat dari berbagai arah ini sangat efektif.
Tepat di gerakan ke seratus, pukulan He Fei dengan telak mengenai Ying Susu di tulang rusuk. Beruntung, He Fei masih mengingat mereka sama-sama dari Sekte Naga Langit sehingga dia menahan serangan saat pukulan terakhir tadi.
Yin Susu yang terkena pukulan Tangan Pasir Besi, terlempar tiga tombak ke belakang, tulang rusuk patah, darah bergerak naik dari dada terus menerobos ke dalam mulut, lalu dia memuntahkan darah sekepal tangan.
“Khuk! ...Khuk! ... Khuk! ...” Setelah terbatuk-batuk dan meludah sisa darah, dia tidak langsung bangkit berdiri. Ying Susu mengeluarkan pil penyembuh, lalu duduk berkultivasi.
“Babak ini ... aku sudah boleh menyatakan diri sebagai pemenang, kan?” tanya He Fei pada Hua Yan Ran.
“Ya! Pertarungan yang adil, terima kasih sudah menahan pukulan saat terakhir tadi yang menyelamat nyawa Susu,” jawabnya singkat.
“Gadis ini sangat jeli, dia masih bisa melihat aku menahan tenaga dalam ku saat-saat terakhir tadi,” bisik hati He Fei
“Bukankah sudah sewajarnya, sesama rekan sekte untuk tidak saling membunuh,” ujar He Fei.
__ADS_1
“Bagaimana? Apa babak kedua mau dimulai sekarang? Kalau iya, kawanku, Ye Xuan sudah gatal tangan sejak tadi,” lanjut He Fei.
Jelas sudah babak kedua dia mengajukan Ye Xuan yang akan bertanding.