Pendekar Pengendara Petir

Pendekar Pengendara Petir
Chapter. 160. Array Jebakan


__ADS_3

Saat Itu adalah 2 hari menjelang tertutup kembali Tanah Suci Para Pendekar, yang tewas dan mati sudah sangat banyak, yang mendapatkan manfaat tak terhingga juga tak kurang dari yang mati.


Namun ada juga jenis manusia ketiga, orang yang tidak mau bersusah payah, di saat orang lain menantang bahaya dengan mengandalkan Ilmu bela diri, Artefak Tingkat Surgawi, serta Pemahaman dan keberuntungan untuk memperoleh hasil yang memuaskan.


Maka kategori jenis ketiga ini adalah orang-orang yang ingin menikmati hasil akhir dari jerih payah orang lain, mereka memilih cara instan/cepat yang hanya membutuhkan sedikit usaha kecil serta keberuntungan.


Ya! Boleh dikatakan, manusia dengan kategori ini adalah orang malas. Sebuah pepatah mengatakan, “Jika ingin menyukseskan suatu hal/pekerjaan, maka mintalah pada orang malas untuk mengerjakannya.”


Orang malas adalah jenius yang sesungguhnya, baik itu dari segi tenaga, pemahaman, dan cara kerja. Orang malas sudah pasti tidak mau bekerja terlalu keras, namun mereka menginginkan hasil yang memuaskan. Sehingga mereka akan memikirkan cara tercepat dan terefektif untuk mendapatkannya, tentunya mereka juga butuh sedikit keberuntungan.


Itu juga terjadi di Tanah Suci Para Pendekar, di depan gerbang keluar terlihat 10 orang yang tidak pernah bergerak sama sekali di Tanah Suci Para Pendekar ini, orang-orang ini adalah murid-murid dari Sekte Phoenix Suci.


Mereka juga murid-murid paling top di Sekte Phoenix Suci, saat awal masuk ke Tanah Suci Para Pendekar jumlah mereka 20 orang. 10 orang dari mereka memilih untuk menjelajah, sedangkan 10 orang lainnya memisahkan diri dari kelompok dan kemudian bergegas menuju gerbang keluar dari Tanah Suci Para Pendekar.


Kesepuluh orang ini sudah di sana selama 27 hari, mereka berkultivasi, dan melakukan kegiatan sehari-hari lainnya yang mereka kerjakan di sana.


Bok Wan Tek, putra dari Patriak Sekte Phoenix Suci lah yang menggagas ide tersebut, anak itu memang sangat cerdas dari semenjak kecil, dia bisa saja menjadi orang pertama dari generasi muda yang berhasil menembus Ranah Surgawi.


Akan tetapi sifat yang pemalas menghambat kultivasinya, anak ini bahkan menurut tetua Sekte Phoenix Suci, memiliki kecerdasan dan bakat bawaan yang lebih baik dari pada ayahnya.


Tingkat malasnya anak itu sudah pada tahapan tertinggi, untuk masuk ke Tanah Suci Para Pendekar saja dia tidak berminat, namun Klan dan ayahnya yang terlalu memaksa, sehingga dia ikut masuk.


Ketika masuk ke Tanah Suci Para Pendekar anak ini kemudian menjelaskan teori dan pemahamannya berdasarkan sifat malas itu pada murid-murid lain. Penjelasannya sangat meyakinkan.


Pertama; Tanah Suci Para Pendekar ini tidak menerima seniman bela diri Ranah Surgawi, jadi tidak mungkin ada seniman bela diri Puncak Ranah Langit melakukan penerobosan ranah di sini.


Kedua; Kultivasi mereka sendiri sudah di Puncak Ranah Langit, kalaupun harus bertarung bisa dihitung jari seniman bela diri yang bisa mengalahkan mereka. Seandainya selama menjelajah, kemudian bisa mendapatkan item langka, item tersebut juga tidak bisa digunakan saat itu.


Ketiga; bukankah lebih enak begini, menunggu orang lemah pulang bawa barang atau biarkan saja orang lain berjuang mati-matian, kita tunggu di sini, saat mereka akan kembali, bunuh orangnya dan dapatkan jarahannya.

__ADS_1


Tiga bagian penjelasan singkat yang diberi pemahaman oleh Putra Patriak Sekte, dua bagian lagi bisa ditambahkan sendiri oleh 9 orang yang setuju dengan ide tersebut. Masing-masing dengan motivasi dan keinginan tersendiri.


Bok Wan Tek sendiri tidak peduli, dia tidak mau ambil pusing terhadap apa yang akan terjadi pada murid-murid Sekte ayahnya. Mau seniman bela diri lain menyinggungnya, mau seniman bela diri lain menghinanya, bagi Bok Wan Tek itu semua bodoh amat/masa bodo.


Yang terpenting baginya orang lain jangan memaksakan dia untuk bergerak dari rasa malasnya. Hanya saja agar murid-murid ayahnya mau mengikuti keinginan hatinya, ia dengan terpaksa memperlihatkan mimik antusias, bahkan kali ini ikut membantu memasang Array jebakan di area gerbang tersebut, cakupan Array ini berjarak 300 meter.


Setelah menunggu dan berkultivasi selama 27 hari di sana, akhirnya ikan yang mereka jaring masuk satu persatu, tidak ada dari seniman bela diri yang datang merasa curiga pada 10 orang tersebut.


Setiap seniman bela diri yang datang dan melihat 10 murid Sekte Phoenix Suci berkultivasi di depan gerbang, mereka berpikir petualangan di Tanah Suci Para Pendekar tinggal menunggu waktu kepulangan, lantas mereka juga berkultivasi di tempat persembunyian masing-masing.


Orang-orang itu tetap saja berlaku hati-hati, agar tidak dicegat dan dirampok oleh seniman bela diri lainnya. Tanpa sadar bahwa mereka malah telah masuk dalam Pola Array Besar Segi Delapan yang telah diatur oleh murid-murid Sekte Phoenix Suci.


Sehari lagi kembali berlalu.


Seniman bela diri yang masuk ke dalam Array Besar itu sudah berjumlah 100 seniman bela diri.


Sepuluh orang murid Sekte Phoenix Suci juga menghilang, seakan-akan ada penghalang khusus antara orang yang terjebak dengan mereka yang memasang Array jebakan.


Awalnya beberapa orang berusaha memukul hancur, namun Array itu kuat dan tidak dapat ditembus dengan mudah oleh seniman bela diri Puncak Ranah Langit.


“Rekan seniman bela diri! Array itu tidak akan bisa ditembus, percuma saja kalian mencobanya, kami dan kalian 100 orang sudah kami kurung di dalam Array ini,” salah satu dari murid Sekte Phoenix Suci mulai buka suara.


Kemudian dia terus melanjutkan, “Array ini sangat khusus, kami bisa membuat blok-blok tertentu di dalam Array ini, kalian bisa kami bagi berlima, bersepuluh, atau sendirian...”


“Ha ha ha! Omong kosong! Tidak ada Master Array yang bisa memasang Array jebakan sempurna seperti itu.” Potong salah satu dari seniman bela diri yang terjebak di dalamnya.


“Kau ingin bukti? Ha ha ha...” jawab murid Sekte Phoenix Suci yang memberi pengumuman sebelumnya.


“Bersiaplah! Kaulah korban pertama!” lanjutnya.

__ADS_1


Hening sejenak...


“Boooomm!”


“Aaarrrgggghhh!”


Bunyi ledakan dan teriakan kematian terdengar susul menyusul.


Kemudian kembali hening, baik yang terjebak atau yang memasang jebakan tidak ada yang mau buka suara.


“Rekan seniman bela diri! Itu adalah contoh korban pertama, kami bisa menciptakan ilusi yang berbeda untuk setiap orang yang terjebak dalam Array ini...”


“Kalau kalian masih sayang nyawa, serahkan cincin penyimpanan kalian. Kami akan memilih barang yang cocok menurut kami...”


“Kalian merampok kami, perbuatan ini sangat mencoreng nama baik Sekte Phoenix Suci!” salah satu seniman bela diri yang terjebak kembali buka suara.


“Ha ha ha! Siapa yang peduli, Tanah Suci Para Pendekar tidak pernah ada aturan hukum, yang kuat, licik atau mau berlaku curang siapa yang berani mengatur. Salahkah diri kalian yang terjebak dalam Array kami!”


“Atau... kau boleh menyusul orang sebelumnya!” setelah berkata seperti itu, kembali hening sejenak, orang ini seperti meminta rekannya yang ahli formasi untuk membuat ilusi dan memisahkan orang yang membantah tadi dengan yang lain.


“Boooomm!”


“Aaarrrgggghhh!”


Satu nyawa lagi melayang dalam pola Array jebakan itu.


“Dua contoh sudah kami berikan, kalian boleh berdiam diri di tempat. Tapi kami tahu posisi kalian, akan kami beri waktu 1 jam untuk berpikir, kalau kalian merasa memiliki kemampuan kalian boleh coba merasakan telapakku! Ha ha ha...”


Hening, masing-masing sedang berpikir keras terhadap rencana yang harus diambil untuk 1 jam ke depan.

__ADS_1


__ADS_2