Pendekar Pengendara Petir

Pendekar Pengendara Petir
Chapter. 177. Hening


__ADS_3

Patriak Shi dan Tetua Asosiasi Alkemis menggelengkan kepala melihat tingkat Gou Long, satu sisi mereka memang bersyukur karena masalah Asosiasi telah diambil alih Gou Long sepenuhnya.


Akan tetapi di sisi lain, mereka juga menyayangkan sikap Gou Long yang secara tidak langsung telah mengikat permusuhan dengan pihak Sekte Awan Berkabut.


Ya! Bagaimanapun sikap yang diambil Asosiasi Alkemis selanjutnya tidak akan berpengaruh, nasi telah jadi bubur, mau mengambil alih kembali juga tidak memungkinkan, karena Gou Long juga telah menghina ketiga orang itu secara berterang.


Sementara, ketiga orang kate itu setelah puas meneliti Gou Long.


“Ha ha ha!... anak muda sombong, kuharap kesombonganmu sejalan dengan isimu!” ujar orang tua yang berdiri di sebelah kanan Tong Ko Song, dia melepaskan tekanan Domain pada Gou Long, menguji tingkat tenaga dalam Gou Long.


Gou Long sadar akan tekanan yang diberikan padanya, namun dia tidak peduli dan terus minum arak dengan anteng. Sikap yang membuat decak kagum Patriak Shi dan para Tetua Asosiasi Alkemis.


Sadar bahwa tekanan Domain yang dipusatkan pada Gou Long tidak berpengaruh, orang tua itu tidak menarik tekanannya lalu meningkatkan tenaga dalam dan menekan Gou Long lebih keras.


“Hufft! Ranah Puncak Surgawi yang tidak berisi sama sekali...” di bawah tekanan yang makin besar, bukannya menahan dan melawan, Gou Long malah mengejek lawannya lagi.


Orang tua yang diejek Gou Long tidak membalas, tapi mulutnya seperti digerak-gerakkan mengirim pesan suara tenaga dalam pada Tong Ko Song.


“Pemuda keparat! Lihat mataku!” ujar Tong Ko Song, nada suaranya seperti memerintah, dan mendatangkan aura gaib bagi orang-orang yang mendengarnya. Dia memang sejak awal sudah tidak suka terhadap cara ikut campur Gou Long, juga cara Gou Long mengejek mereka.


Mendapat bisikan agar menyerang Gou Long dengan ilusi, Tong Ko Song memeras tenaga dalamnya sampai delapan puluh persen, kemudian berkata seperti tersebut, yang membawa efek magis pada semua orang yang ada di sana.


Di saat orang-orang dengan kultivasi ranah langit akan terjebak ilusi, “Ha ha ha!...” Suara tertawa keras Gou Long menyadarkan mereka semua, dalam tawa, ia menyertakan tenaga dalamnya, “Hanya permainan anak kecil begitu apa hebatnya, sayang kau tidak menjadi muridku...” Dengan memperlihatkan senyum ejekan pada orang tua dan pemuda itu lanjutnya, “Kalau kau menjadi muridku akan kuperkenalkan dirimu pada Master Ilusi yang sesungguhnya bocah...”


Orang tua kate satu lagi, sudah sejak tadi tidak tahan dengan Gou Long, dia tidak berkata-kata, dengan licik dan tanpa peringatan melepaskan pukulan telapak tangan pada Gou Long.


“He he he!....” terkekeh setelah melepaskan pukulan, “Coba kau rasakan dulu Telapak Iblis Kate!” ujarnya.

__ADS_1


“Swooosshh!”


Gou Long sangat menyadari ada serangan gelap dari orang yang sejak tadi diam saja.


Sambil tetap duduk, cangkir teh diremasnya, sehingga arak yang masih bersisa di dalam cangkir tumpah dan membasahi baju, lalu dalam posisi masih duduk dengan menggunakan jurus ketiga dari Ilmu Pedang Angin dan Petir, Gou Long membuat gerakan tusukan.


Dari ujung jari Gou Long keluar seekor Naga kecil, melesat dan memapak pukulan Telapak Iblis Kate.


“Boooomm!”


Ledakan keras terjadi, aula pertemuan itu berderit dan bergetar hebat.


Setelah ledakan keras itu, sekarang semua orang bisa melihat dengan jelas, Tuan Muda Tong telah memucat pias, serta meludahkan seteguk darah dari dalam mulutnya.


Kenapa dia terluka dalam? Padahal bukan dia yang mengadu pukulan tadi.


Mendapatkan pukulan gelap, dan berhasil membalasnya, Gou Long tidak tinggal diam di tempat, dengan Teknik Memindah Jasad dia berpindah ke belakang orang yang melepaskan pukulan.


Tanpa suara, dan tanpa jejak nafas.


“Swoosshh!”


“Coba kau rasakan Pukulan Telapak Arhat milikku!” ujarnya mengejek.


“Booomm!” pukulan Gou Long dengan telak kena di punggung orang tua kate tersebut, sosok tubuh katenya terbang terbawa pukulan, dan terpelanting setelah terkena dinding aula. “Bruuukk!” dinding aula ambruk meninggalkan lubang besar di sana.


Sosok orang tua kate itu bangkit dari balik timbunan dinding yang ambruk lalu meludahkan darah kental dari mulutnya, dengan nanar melihat Gou Long yang sedang menatap mereka bertiga penuh ejekan.

__ADS_1


Sadar bahwa Gou Long bukan bocah biasa yang bisa ditindas, dan jelas bocah itu bukan tandingan mereka bertiga. Dia kemudian melesat ke sisi Tuan Muda Tong, lalu berkata, “Mari Tuan Muda, tinggalkan tempat ini! Penghinaan ini harus kita ingat selalu!” ujar orang itu lirih.


Sambil memapah Tuan Muda Tong yang terluka dia berjalan keluar dari aula, sementara orang tua kate lainnya tidak langsung keluar, dia menatap Gou Long dan berkata, “Bocah keparat! Hari ini kami mendapatkan penghinaan darimu, sebutkan namamu? Kami akan menuntut balas atas perbuatanmu hari ini!”


“Ha ha ha!... aku akan menunggu saat itu tiba, namaku Gou Long!” Jawab Gou Long setelah puas tertawa, “Oiii! Barang hantaran kalian jangan lupa dibawa pulang...” lanjut Gou Long sambil tersenyum mengejek, dia lalu menendang keluar peti-peti hantaran dari manusia-manusia kate tersebut.


Pertunjukan yang diperlihatkan Gou Long akhirnya usai, walau semua orang di aula itu melihat apa yang dia kerjakan, tidak ada yang membantah, tidak ada yang berkata-kata, dan tidak ada yang mengambil alih, semua dilakukan oleh Gou Long sendiri.


Hening...


Setelah apa yang dilakukan Gou Long, keheningan yang sangat nyata terasa di aula tersebut, Patriak Shi dan semua orang dari Asosiasi Alkemis tidak ada yang merasa senang dengan kejadian ini, walaupun tidak ada korban sama sekali.


Namun sekali lagi mereka menyadari, Gou Long telah mengambil tanggung jawab dari Asosiasi Alkemis dan meletakkan ke atas pundaknya sendiri secara menyeluruh, Patriak Shi sangat paham mengapa Gou Long tidak membunuh ketiga orang tersebut.


Apa yang dilakukan pemuda ini, walau terlihat kasar dan sangat urakan, namun itu semua sudah diperhitungkan dengan sangat matang, termasuk melukai ketiga orang kate dan tidak membunuhnya.


Patriak Shi  melihat Gou Long yang berdiri menatap kepergian ketiga orang kate tersebut, tidak terlihat senyum ejekan dari raut wajah pemuda itu, saat ini tergantikan dengan pembawaan seperti orang yang telah terlalu banyak makan asam dan garam kehidupan.


Entah apa yang dipikirkan pemuda itu saat ini, dalam diamnya yang terus menatap ke arah luar.


Hening...


“Haaaaaah!” Patriak Shi menghela nafas panjang yang memecah keheningan, dia bangkit lalu berjalan, ke tempat Gou Long berdiri.


Langkah-langkah kaki Patriak Shi yang berat tidak lantas menyadarkan Gou Long dari lamunannya.


Tepukan ringan dan lembut dari Patriak Shi hinggap di bahu Gou Long terasa nyaman, Gou Long berpaling dan menghadap menatap Patriak Shi, “Tak ada yang perlu Patriak Shi khawatirkan sekarang, semua permasalahan telah kuselesaikan.” Senyum cerah menyertai ucapan yang keluar dari mulut Gou Long pada Patriak Shi.

__ADS_1


__ADS_2