
“Hai! ... Sepertinya daerah ini sangat familiar bagiku, Eira! Apa kau tahu kita sedang berada di daerah mana?” Gou Long bertanya memecah keheningan senja.
“Sstt! Diam lah, kau selalu menurunkan kewaspadaan, ingat! Jika kau ingin hidup lama di Dunia Persilatan, jangan pernah menurunkan kewaspadaan mu di manapun kau berada, saat ini kita berada di Lembah Gunung Petir.”
“Pantas, ini terasa sangat dekat, rupanya ini tempat tinggal ku lima tahun lalu,” ujar Gou Long sendu. Dia kembali teringat ayah bunda.
“Sstt! Perhatikan area di sekitarmu, dalam radius lima ratus tombak, telah berkumpul banyak manusia, ada yang berkelompok ada yang sendirian.” Eira memecah lamunan Gou Long, ia berbisik pelan.
Gou Long tersadar, segera memperhatikan suasana di tempat itu, tepat seperti ucapan Eira, berbagai jenis manusia sedang berkumpul di sini. Kebanyakan dari mereka merupakan pesilat Ranah Bumi, dan yang memimpin setiap kelompok dari mereka ini merupakan pesilat Ranah Langit.
Sebagian besar, Gou Long mengenal mereka, yaitu para Patriark Keluarga Utama Kota Xia Yu, Patriark Sekte Lembah Tengkorak, Kun Hong.
Gou Long yang tidak ingin bertemu dengan orang-orang yang dikenalnya, bergerak melesat ke arah pepohonan lain. Dia menyadari di situ ada dua orang yang juga sedang bersembunyi dan melihat situasi Lembah Gunung Petir.
“Tahan serangan para senior, aku tidak berniat mencari keributan, mari kita bernegosiasi.” Gou Long yang sedang bergerak, berujar dengan memancarkan suara. Hanya bisa didengar oleh kedua orang yang sedang bersembunyi.
Untuk sesaat, kedua orang itu saling menatap lalu menganggukkan kepala. Sikap garang yang tadi diperlihatkan sudah menghilang seiiring kesediaan mereka dengan negosiasi yang diajukan Gou Long.
Kedua orang itu sedikit terkejut ketika Gou Long berdiri di hadapan mereka. Sungguh tidak terpikir oleh mereka akan berjumpa dengan pemuda yang masih sangat muda tapi sudah berhasil melangkah ke Ranah Langit Tahap Awal.
Di atas bahu pemuda itu, duduk dengan anteng seekor rubah putih yang sangat imut. “Mungkin peliharaan pemuda itu,” pikir keduanya. Andai mereka tau itu adalah Siluman Rubah Ekor Sembilan kelas kesatu, bisa jadi mereka akan sangat ketakutan.
“Senior berdua, aku Gou Long, dulu sekali Gunung ini tempat tinggal ku. Dalam beberapa tahun ini aku telah berkelana ke tempat yang aku yakin tidak seorang pun ingin pergi ke sana.”
__ADS_1
“Aku tidak tau apa yang terjadi dengan Dunia Persilatan daerah Selatan, dan kenapa banyak orang berkumpul di sini? Juga mereka saling membentuk fraksi seakan-akan ingin bertarung satu dengan yang lain, maukah senior sedikit berkisah padaku?” Gou Long bertanya dengan sopan, sedikit memohon.
“Saudara Gou, aku Chung Munna dan Ini adikku Chung Bau Im. Kami dari Guild Alkemis. Kami datang ke sini hanya sekedar ingin melihat keramaian, dan sudah tentu nanti akan ada pertarungan silat sampai mati,” ucap Chung Munna. Dia terlihat sangat senang menanti kehebohan di tempat tersebut.
“Tidakkah kau tahu, bahwa daerah Selatan sedang memanas dalam beberapa bulan ini? Kematian Patriark Sun dan seluruh Keluarga Murong, merupakan awal dari segala masalah di daerah Selatan.” Chung Bau Im, menyambung ucapan kakaknya.
“Kedua Senior, Junior ini menantikan penjelasan yang menyeluruh,” pinta Gou Long.
“Saudara Gou, sejak kematian Patriark Sun, posisi penguasa Kota Xia Yu menjadi rebutan antara sesama keluarga utama. Sehingga, mereka saling berlomba untuk retreat dan memantapkan pondasi tenaga dalam.”
“Keluar dari retreat, ranah kultivasi mereka meningkat ke Ranah Langit Tahap Awal. Tapi, ini masih permulaan. Parahnya, saat itu telah tersebar informasi tentang Kitab Lima Yang di Gunung ini, posisi kitab itu di dalam gua, itu di balik air terjun sana.” Chung Bau Im menjelaskan, sambil menunjuk ke arah air terjun.
Gou Long sadar, di belakang air terjun itu memang ada gua. Dulu dia sering berlatih di bawah tekanan air terjun, dan ketika dia merasakan kelelahan, ia akan tiduran dan berbaring di dalam gua.
“Bukan begitu permasalahanya, Saudara Gou! Menurut kabar yang beredar, kitab itu dijaga oleh Siluman Laba-laba kelas kedua. Sehingga orang yang memperoleh informasi ini tidak berani mengantongi kitab tersebut,” jawab Chung Munna, kembali menyambung cerita. Karakter Chung Munna lebih tegas jika dibandingkan dengan Chung Bau Im.
“Dengan beramai-ramai, akan lebih mudah membunuh Siluman Laba-laba kelas kedua. Hal ini, tidak dapat dipersalahkan orang yang menyebarkan informasi. Saudara Gou, bisa menghitung berapa banyak kultivator Ranah Langit di daerah Selatan? Hanya bisa dihitung jari.”
“Menurut rencana hasil dari musyawarah beberapa ketua kelompok beberapa hari yang lalu, setelah berhasil membereskan siluman itu, Kitab Lima Yang akan dilelang di rumah lelang Kota Xia Yu.”
“Agar tidak terjadi saling rebutan serta penipuan, setiap kelompok mengirim satu orang sebagai pengawal kitab itu di rumah lelang.” Chung Munna mengakhiri ceritanya.
“Omong kosong! Sejak kapan ada kitab di dalam gua itu, dan sejak kapan ada siluman yang menjaga kitab di sana?” Gou Long tidak sadar, secara spontan mengucapkan kata itu.
__ADS_1
“Tunggu Saudara Gou, maksud saudara tidak ada kitab dan juga siluman di dalam gua?” Chung Bau Im yang bertanya pada Gou Long.
“Benar! Tidak ada kedua hal itu di dalam gua tersebut,” jawab Gou Long dengan tegas, keyakinan pada diri sendiri terlihat dalam tatapan mata Gou Long.
“Rasanya tidak mungkin, lihatlah semua orang berkumpul di sini. Apa mereka bodoh semua?” Kembali Chung Munna memotong ucapan Gou Long.
“Kalian tidak percaya padaku?” Gou Long memberikan sedikit penegasan.
“Baiklah, lihat ini!” Sambil berkata, siluet bayangan Gou Long telah menghilang dari tempatnya berdiri. Tanpa pikir panjang dia melesat ke dalam gua di belakang air terjun.
“Saudara, apa yang kau lakukan!” teriak Chung Munna.
Saat itu banyak teriakan terdengar di sisi air terjun tersebut.
“Saudara sekalian! Perketat penjagaan dan kepung air terjun ini, ada yang mendahului kita masuk ke dalam gua.”
Segera saja, bayangan manusia bergerak mengelilingi dan mengepung tempat itu dengan pedang di tangan. Ada juga yang bertangan kosong, dan sebagian memakai tombak dan tongkat. Mereka menunggu dengan sabar bayangan yang masuk ke dalam gua tadi keluar.
Gou Long yang bergerak pesat ke dalam gua tiba-tiba mendengar teguran keras di telinga, yang menegur sudah tentu rubah imut di bahunya.
“Bocah bodoh, lagi-lagi kau berlaku seenak perutmu, kenapa kau tidak berpikir panjang sebelum mengambil tindakan? Kau tidak sayang nyawa apa? Aku mulai merasa sedikit menyesal mengikat kontrak jiwa denganmu.”
“Tenang saja, aku sudah berpikir ribuan kali. Sangat mudah bagiku untuk melarikan diri dari sini, kalau memang kekacauan yang timbul tidak bisa aku atasi. Lagi pula aku yakin setiap orang yang hadir di sini tidak ada yang sanggup menyaingi kecepatan ku,” jawab Gou Long sambil tersenyum nyegir.
__ADS_1