
Gunung Serigala yang tadi penuh dengan hiruk pikuk akibat pertarungan Gou Long dengan Perampok tunggal, dan berakhir dengan kekalahan Sang perampok tunggal, kini menjadi sepi seperti sedia kala.
“Menarik! Sangat menarik, tidak pernah ku sangka Dunia Persilatan Zaman ini memiliki seorang bocah yang semenarik ini, he he he ... perjalananku kali ini tidak akan berakhir sia-sia.”
Ujaran samar itu diucapkan oleh sosok yang telah melihat seluruh kejadian di tempat ini dari awal sampai akhir.
Seorang kakek yang sudah sangat tua dengan setelan baju putih-putih dalam balutan jubah putih muncul dari balik pepohonan lebat di bukit itu, wajah kakek ini mencerminkan kebijaksanaan.
Tatapan matanya akan membuat orang yang melihat terpaku di tempat, penuh rasa hormat pada diri si Kakek.
Setelah berkata seperti itu, kakek tersebut menghilang seperti asap yang ditiup angin, hanya menyisakan siluet bekas warna putih pakaiannya. Tidak tampak gerakan apa yang dilakukannya, ketika dia berpindah ratusan langkah, arah yang dia tuju ke Sekte Naga Langit.
***
Empat siluet bayangan manusia dengan lincah terus bergerak indah di halaman latihan itu. Dua dari mereka, yang berjenis kelamin laki-laki berada di Ranah Langit Tahap Awal, sementara dua yang lainnya berjenis kelamin perempuan sama-sama berada di Ranah Bumi Tahap Puncak.
Keempat bayangan ini masih sangat muda, salah satu dari keempat bayangan tersebut, bahkan baru berusia enam belas tahun. Dan dialah yang paling berbakat di antara mereka semua, ini terbukti tiga bulan yang lalu gadis ini masih berada di Ranah Bumi Tahap Awal.
Dan sekarang, dia sudah menerobos dua ranah hanya dalam tiga bulan, jika dikalkulasikan dia berhasil menerobos ranah hanya dalam kurun waktu empat puluh lima hari, sementara kultivator umumnya, membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menerobos ranah.
Terlepas dari bakat gadis paling muda yang begitu mengerikan, mereka berempat memang bakat-bakat muda yang sangat jarang ada bandingannya di Dunia Persilatan.
Sudah tujuh bulan mereka berlatih dengan giat di bukit ini, di situ sebelumnya hanya ada tiga gubuk kecil. Namun, sekarang sudah berdiri satu rumah lain yang sedikit lebih besar.
__ADS_1
Di depan rumah tersebut, duduk dua orang sambil menikmati teh, Kakek Zhou dan laki-laki paruh baya. Mereka bercakap-cakap dengan asik. Namun, Sang kakek sesekali melihat ke arah empat orang anak muda yang sedang berlatih silat.
Mereka yang sedang berlatih dan si Kakek yang sedang menikmati teh adalah Penatua Zhou beserta He Fei, Ye Xuan, Murong Qiu dan Hua Mei. Sementara laki-laki misterius yang menemani Penatua Zhou minum teh itu, baru tadi pagi datang ke bukit tersebut, lalu terus bercakap-cakap dengan Penatua Zhou.
Saat itu matahari sudah mulai meninggi, ketika keempat anak muda tersebut menghentikan latihan.
“Qiu Cici, sudah tujuh bulan lebih, tapi ... Long Gege, belum juga kembali dari Hutan Seribu Ilusi, apakah Long Gege masih baik-baik saja? Aku sangat khawatir Qiu Cici.” Selesai berlatih, Hua Mei berjalan dan langsung menggandeng tangan Murong Qiu. Dia mengutarakan kekhawatiran hatinya.
Memang hubungan kedua anak gadis ini setelah sekian lama berkumpul bersama, menjadi semakin akrab.
Apalagi, Hua Mei yang semenjak kecil jarang berinteraksi dengan orang lain, dia hanya ikut Kakek Zhou, bahkan seluk beluk keluarganya sendiri dia tidak tau. Jadi, kehadiran Murong Qiu bagi Hua Mei seperti seorang kakak, tempat dia menyalurkan segala keluh kesah.
“Tenanglah Mei ‘er! Long Gege pasti baik-baik saja, dia pasti akan kembali sebelum kompetisi Sekte di mulai. Mei ‘er jangan terlalu khawatir.” Murong Qiu menenangkan kegelisahan Hua Mei dengan kata-kata dan genggaman erat pada tangan Hua Mei.
“Qiu Cici ... Mei ‘er khawatir! Apa Qiu Cici tidak khawatir, apa Qiu Cici tidak merindukan Long Gege? Mei ‘er sangat rindu pada Long Gege.” Hua Mei kembali menyatakan kerisauannya pada Murong Qiu.
“Cici juga khawatir, Cici juga rindu, tapi Cici tidak akan bersaing denganmu dan berbagi cinta. Lagi pula, Cici ...” jawab Murong Qiu, salah menanggapi arah pembicaraan Hua Mei.
Selagi berbicara, wajah Murong Qiu memerah, sorot mata melirik ke arah He Fei. Sikap Murong Qiu ini, tidak terlepas dari pandangan mata, Hua Mei. Yang lantas kesedihan dan kerisauan hatinya, terganti dengan senyuman indah.
Lalu dia sengaja menggoda, Murong Qiu. “Cie ... cie ... Cici lagi kasmaran.” Tangan Hua Mei lincah, menggelitik perut Murong Qiu, gadis itu juga membalas kelakuan Hua Mei, setelah jeda sesaat lantas mereka sama-sama tertawa.
Memang begitulah adanya kesedihan dengan mudah dan cepat akan tergantikan dengan kegembiraan ketika kita lupa akan kesedihan itu, walau hanya sesaat.
__ADS_1
Mereka berempat sudah sampai di hadapan Penatua Zhou dan laki-laki paruh baya yang tidak mereka kenal.
“Kalian semua duduklah dahulu, coba kalian serap hawa dunia saat ini, saat matahari mulai meninggi. Hawa saat ini sangat bagus untuk meningkatkan tenaga panas dalam tubuh. Akan kubiarkan kalian merasakan sensasinya selama setengah dupa,” perintah Kakek Zhou pada mereka berempat.
“Terkhusus untuk kalian berdua, yang baru menerobos ke Ranah Bumi Tahap Puncak, kalian harus menguatkan fondasi tenaga dalam. Kompetisi kali ini, kita akan menunjukan taring pada mereka yang sering menjelek-jelekan Biro Perpustakaan,” tegas Penatua Zhou.
Sambil berkultivasi, menyerap hawa langit mereka mendengarkan nasehat dari Kakek Zhou yang diikuti dengan decak kagum dari laki-laki misterius tersebut.
“Wah! Rupanya, Sadis Tua ini sudah mulai bangun dari tidur panjang. Bahkan melatih murid yang sangat berbakat di tempat ini, jumlahnya pun bukan satu tapi empat, ya! empat orang murid yang sangat berbakat. Sadis Tua! Kenapa kau menyembunyikan murid-murid yang seharusnya menjadi murid elit sekte dari ku?”
Laki-laki misterius itu berkata dengan nada kagum dan hormat pada Penatua Zhou, dia juga menyelipkan nada penyesalan karena tidak tahu ada murid-murid yang sangat berbakat di sini.
“Ha ha ha, salahkan dirimu sendiri. Kau terlalu nyaman dengan posisi sebagai, Patriark Sekte Naga Langit, wajar saja kau tidak pernah melihat banyaknya bibit muda di dunia ini,” jawab Kakek Zhou meledek laki-laki misterius itu.
Mendengar perkataan Kakek Zhou mereka yang sedang berkultivasi sama-sama membuka mata dan hendak bangun, memberi hormat pada Patriark Sekte.
Namun Kakek Zhou, menghentikan tindakan mereka dengan ucapannya, “Siapa yang memperbolehkan kalian berhenti dari kultivasi kalian, setengah dupa ucapku, maka kalian harus berkultivasi selama setengah dupa.”
Dengan antengnya Kakek Zhou mengetuk lembut kepala mereka berempat.
Kejadian di bukit itu sungguh membawa rasa penasaran bagi yang melihat dan mengetahui bahwa laki-laki misterius itu adalah Patriark Song adanya.
Bagaimana mungkin seorang Patriark bisa begitu hormat pada seorang Kakek Zhou. Kenapa sikap Kakek Zhou tidak sopan sama sekali terhadap Patriark Sekte?
__ADS_1