
Ding Jia Li tersenyum jengah, mencoba menyembunyikan kenyataan yang terpampang di depan mata itu dari Na Hong-Hong dan Bwee Siang.
“Mereka berdua, pasti akan bertanya banyak hal terkait Long Gege padaku nantinya, apa yang harus kuceritakan? Apa kusembunyikan saja perkara ini dari mereka berdua? Tapi, kalaupun kusembunyikan, cepat atau lambat mereka berdua akan menyadarinya.” Batin Ding Jia Li.
Memegang erat lengan Ibu Guru mereka, seakan-akan meminta Ibu Guru yang memberikan penjelasan kelak pada kedua gadis tersebut.
“Subo! Mari kita masuk ke dalam! Sangat aneh bercakap-cakap di halaman berlatih.” Ajak Ding Jia Li, mengalihkan tuntutan dari Na Hong-Hong dan Bwee Siang. Ia langsung menarik lengan Sang Subo berjalan masuk ke dalam.
Tindakan itu dinilai tepat, cuaca musim salju selalu menjadi alasan agar tidak berlama-lama di halaman berlatih, kecuali bagi murid-murid yang sedang berlatih, mereka harus terus melanjutkan latihannya.
Na Hong-Hong menghadap Gou Long, “Maafkan kecerobohan kami sebelumnya Penatua Gou! Junior Na Hong-Hong, juga mewakili rekan Junior Bwee Siang yang telah salah tangan menyerang Penatua Gou secara membabi buta...”
“Mari Penatua Gou!”
Ucapan maaf dengan tulus atas kelakuan mereka sebelumnya, Na Hong-Hong mempersilahkan Gou Long agar ikut masuk ke dalam aula utama, seraya mengepalkan tangannya di depan dada.
Tindakan itu juga diikuti oleh Bwee Siang.
Keduanya terlihat canggung, berjalan di depan Gou Long, menuju aula utama. Gou Long mengikuti, berjalan perlahan menuju aula.
Ding Jia Li duduk di samping Ibu Guru, keduanya terlihat sedang bercakap-cakap, tidak banyak orang yang hadir di aula tersebut. Ini hanyalah pertemuan biasa, pertemuan yang tidak akan terjadi jika Gou Long tidak mengantar Ding Jia Li ke Sekte Teratai Biru.
Li Lan Sian meminta Pengurus Rumah Tangga Sekte, menyiapkan jamuan seadanya, arak, teh, dan buah-buahan.
__ADS_1
“Penatua Gou! Maafkan sambutan kurang hangat dari kami sebelumnya, Penatua Gou silahkan memilih tempat duduk yang sesuai selera!” Mengepalkan tangan di depan dada, Li Lan Sian mempersilahkan Gou Long, ramah.
Gou Long berjalan perlahan, memilih tempat duduk acak, terlebih dahulu mengepalkan tangan di depan dada, menghadap ke segala arah, baru ia duduk.
Menuangkan teh ke dalam cangkir. “Matriak Li! Junior ini berkesempatan dijamu oleh Matriak Li, membuat hati Junior ini sangat senang, sambutan sebelumnya, Junior tidak memasukkan ke dalam hati, bagi Junior itu bentuk pibu antara Junior dengan murid Sekte Teratai Biru...”
“Lagi pula, pada kesempatan ini juga, Junior ingin membicarakan tiga perkara penting dengan Matriak Li.” Gou Long tidak memberi penghormatan lagi, karena sudah melakukannya, sebelum ia duduk.
Li Lan Sian menganggukkan kepalanya, sebagian besar ia bisa menebak apa yang ingin dibicarakan Gou Long. Ding Jia Li menatap Gou Long kosong, keberanian pemuda itu berbicara dan bersikap apa adanya di depan Li Lan Sian, mendinginkan tengkuknya, ia takut Gurunya akan marah besar.
Bwee Siang dan Na Hong-Hong menatap kagum, tidak pernah mereka bayangkan ada orang yang seusia mereka berkata-kata, dan bersikap sangat tenang di depan Guru mereka. Pemuda itu, seperti generasi yang sama dengan Sang Guru.
Li Lan Sian meneguk teh yang telah dituangkan Ding Jia Li untuknya, dan berkata, “Penatua Gou memiliki banyak hal yang ingin disampaikan pada Matriak ini, maka, Matriak ini sudah tentu akan meluangkan waktu dengan seksama...” meneguk lagi tehnya, “Namun, Matriak ini juga memiliki beberapa hal, ingin bertanya pada Penatua Gou, bagaimana menurut Penatua Gou?”
Menatap Ding Jia Li sejenak, “Matriak ini, menganggap perkataan Penatua Gou tadi sebagai bentuk persetujuan, nah! Penatua Gou boleh menyampaikan hal-hal yang ingin dibicarakan dengan Matriak ini.” Li Lan Sian minta Gou Long terlebih dahulu menyampaikan apa yang ingin ia bicarakan.
Perkataan itu seperti memberi kebebasan bagi Gou Long, “Terima kasih Matriak Li!” tersenyum, menyipitkan sudut matanya, Gou Long melanjutkan, “Hal pertama yang ingin kubicarakan dengan Matriak Li...”
Kembali Gou Long menjeda kata, dan menatap Ding Jia Li sejenak, “Saat kami dalam perjalanan kemari, kami dikejar oleh Organisasi Pembunuh, ciri-ciri mereka; berpakaian kuning terang, dan memakai topeng, apa Matriak Li pernah mendengar Organisasi Pembunuh dengan ciri-ciri seperti ini?”
Kemudian Gou Long memanggil pedang, “Pedang Peri Ilusi.”
Dengan pedang di tangan, Gou Long bangkit dan berjalan menuju Matriak Li.
__ADS_1
Sesaat, Matriak Li keheranan, Ding Jia Li membisikkan beberapa patah kata padanya, keheranan itu sirna, berganti dengan raut wajah antusias.
Gou Long menyerahkan Pedang Peri Ilusi pada Matriak Li, “Coba Matriak Li perhatikan pedang itu! Bukankah itu sangat mirip dengan pedang yang Matriak Li miliki...” meminta Matriak Li meneliti Pedang Peri Ilusi.
Memperhatikan pedang dengan seksama, dua puluh tarikan nafas berlalu, Li Lan Sian menyerahkan kembali pedang tersebut pada Gou Long, “Iya! Pedang seperti ini, bukan hanya aku saja yang memilikinya, sembilan Patriak tertentu lainnya, juga memiliki pedang seperti ini.”
Mengambil dan menyimpan pedangnya, “Hemm, Ini terasa menjadi lebih mudah,” kembali ke tempat duduk semula, Gou Long melanjutkan ucapannya, “Hal ketiga akan Junior ini sampaikan nanti saja, Junior akan menuntaskan perihal kedua terlebih dahulu secara gamblang...”
Menarik nafas dalam, seperti tidak tahu harus memulai kata yang tepat, “Haaaah!” menghela nafas panjang, “Pedang tadi, adalah milik Junior ini, bukan milik sembilan Patriak tertentu lain,” Gou Long mulai bercerita.
“Pedang tersebut telah menemani Junior selama ini... Di dalam Pedang Junior, ada jiwa makhluk alam lain, ia juga yang membimbing kultivasi Junior, sejak awal junior telah berjanji akan mengantar makhluk itu kembali ke alamnya...”
“Awalnya! Junior bingung harus memulai dari mana agar bisa membawa makhluk tersebut ke sana. Kemudian, saat Tanah Suci Para Pendekar dibuka, itulah titik balik yang membuka tabir kebingungan Junior...”
Menarik nafas panjang, Gou Long melanjutkan, “Pedang yang para Patriak pakai, saat membuka Tanah Suci Para Pendekar sebagai kuncinya, menurut penjelasan makhluk tersebut, di tugu batu itu, ada lubang kesebelas tepat di puncaknya...”
“Junior telah pergi melihatnya, jelas dan pasti,” Gou Long menatap Ding Jia Li sejenak, “Murid Matriak Li, Nona Ding juga sudah melihat dan memastikannya, lubang kesebelas tepat di puncak tersebut...”
“Sepuluh pedang dimasukkan ke dalam lubangnya masing-masing, membuka portal ke Tanah Suci Para Pendekar, sedangkan ketika memasukkan pedang kesebelas pada lubang di puncak saat bersamaan, akan membuka portal ke Dunia makhluk tersebut...”
Matriak Li terus mendengarkan, wajah dan sorot matanya antusias. Belum pernah ia ceritakan pada orang lain, Matriak Li, mengetahui adanya Ranah Kultivasi di atas Ranah Surgawi, walaupun Gou Long belum menyebut sama sekali tentang Ranah Kultivasi.
Namun Matriak Li merasa tabir gelap Ranah Kultivasi yang terus berusaha dibukanya, mulai sedikit terbuka karena cerita Gou Long.
__ADS_1