
Eira melesat cepat dan ia berhasil mendekati bukit tersebut dengan mudah, bahkan ia bisa melihat lubang yang digali oleh kedua suku.
Ya! Daerah ini memanglah gurun pasir yang sangat tandus, dan tidak ada sesuatu yang dapat dibanggakan dari sini. Akan tetapi dengan kemunculan bukit kristal tersebut, gurun pasir ini terlihat begitu berharga sekarang.
Hua Mei dan Eira benar-benar dinaungi keberkahan tak terhingga. Saat pertama terjun langsung dianggap Dewi, dan sekarang memiliki sumber daya kultivasi yang tidak terbatas.
***
Roda perputaran kehidupan memang begitu adanya, sebagian orang dinaungi keberuntungan diluar akal sehat.
Tidak perlu berusaha keras, biaya dan sumber daya kehidupan sangat mudah untuk didapatkan. Sebagian lain bekerja siang malam, bahkan sampai gila. Namun, harta dan sumber daya yang diperoleh tidak seberapa.
Begitu juga dengan kehidupan para kultivator, nasib baik dan buruk bukan hanya karena usaha, tapi juga faktor keberuntungan bermain di dalamnya.
Di Domain Ras Peri ...
“Di mana dua orang tawanan dari Ras manusia itu?” Suara perempuan yang terdengar bernada sombong dan congkak bertanya pada penjaga penjara bawah tanah.
Wanita yang bertanya itu memang sangat lah cantik. Namun, sifat sombong dan congkak menutupi kecantikannya. Wanita itu adalah Eleanor—Saat ini penampilan manja dan sifat-sifat baik yang ia tunjukkan pada ayah dan ibunya telah hilang terbang entah ke mana.
Gadis peri ini rela bepergian jauh hanya demi dua orang tawanan baru itu.
Selama ratusan tahun ini, ia juga terkenal sangat gencar dalam mengatur para penjaga untuk terus memantau portal domain, setiap makhluk yang keluar masuk domain harus sepengetahuan gadis itu.
Sedikit berbeda dengan kebijakan Domain siluman dan iblis yang membenarkan tindakan bunuh tanpa ampun. Domain Peri, tidak membenarkan langsung bunuh, setiap pelanggaran antar Domain akan melalui proses interogasi.
__ADS_1
Cincin penyimpanan yang di sita, serta menjadi tawanan sementara. Jika memang tidak didapatkan perihal penting, mereka akan dikirim kembali ke Domain Ras Manusia.
Namun, kasus kali ini berbeda, hal ini tidak lain dan tidak bukan karena pedang khusus yang telah diwanti-wanti dan diingatkan berkali-kali oleh si nona. Sejak ia mengetahui, sang ayah membuang jiwa dari kakaknya ke dimensi dunia yang berbeda dengan sebelas pedang sebagai kunci dari portal dimensi tersebut.
Si gadis telah mempersiapkan segala antisipasi agar saat takdir kakaknya bisa kembali ke Negeri Peri ia tahu kakaknya telah kembali. Bahkan gadis ini juga memasang hawa getaran khusus dari portal domain itu. Sehingga tidak menjadi heran dia dengan cepat tahu tawanan baru dari dimensi tempat kakaknya Hauri dibuang muncul.
Dengan menghormat dan rasa takut penjaga penjara menjawab singkat, “Di dalam Putri, mari hamba antar.”
Setelah mendapatkan persetujuan, penjaga penjara memimpin Eleanor ke penjara bawah tanah ruang nomor urut enam dan tujuh.
Itu dua orang dari rombongan Gou Long yang terlempar ke dalam domain yang sama. Saat interogasi terjadi, dari dalam cincin mereka berdua ditemukan pedang kunci portal. Namun keduanya masih dilayani dengan baik oleh petugas penjara.
Saat Eleanor tiba di sana, dalam ruang nomor urut keenam ia menjumpai sosok orang tua yang terlihat bijaksana, dengan mulut yang selalu memperlihatkan senyum ramah. Dia adalah Kakek Awan Putih atau Song Bu Kek.
“Berikan cincin penyimpanan mereka yang telah kau sita! Kau, silahkan pergi!” perintah Eleanor pada penjaga penjara terdengar ketus.
Eleanor mengayunkan lengannya pelan, ia telah memasang penghalang kedap suara di sana.
Sebelumnya, saat para penjaga penjara melakukan interogasi, kedua tahanan ini telah mereka lakukan satu teknik manipulasi bahasa dan pendengaran, sehingga setiap kata-kata yang keluar dan didengar oleh mereka akan saling dimengerti.
Gadis itu tidak berbasa-basi sama sekali, setelah memperlihatkan ekspresi penuh selidik. Ia mengeluarkan pedang kunci portal dari cincin penyimpanan Kakek Awan Putih. “Kau ingin proses yang cepat atau lambat?”
Kakek Awan Putih yang mengenal Hauri hampir saja terkecoh dengan gambaran wajah Eleanor, itu benar-benar sangat mirip dan hampir tidak ada beda sama sekali.
Melihat cara yang ditunjukkan gadis itu saja, Kakek Awan Putih segera paham, bahwa gadis yang mirip dengan Hauri ini pasti memiliki rasa tidak senang pada Hauri. Entah bentuk ketidaksenangan apa itu, hanya dia dan Hauri yang tahu.
__ADS_1
Tersenyum ramah, Kakek Awan Putih berkata simpel. “Bagaimana dengan keinginan nona?”
Tanggapan dari Kakek Awan Putih membuat Eleanor terlihat sangat marah, menurutnya orang tua itu sangat tidak tahu diri, padahal saat ini dia hanyalah seorang tahanan. “Huh, tahanan dengan kultivasi Puncak Ranah Surgawi saja sekarang sudah berani kurang ajar.”
Eleanor melanjutkan, dia ingin membungkam sifat tenang yang ditunjukkan Kakek Awan Putih. “Kau bertanya bagaimana keinginanku? Aku ingin menggampar kamu. Wajah saja tua, usia masih bocah kemaren sore, sudah berani kurang ajar pada Putri ini.”
“Plak! ... Plak! ... Plak! ... Plak! ....”
Empat kali tamparan keras terdengar di ruang penjara bawah tanah itu. Walau itu tidak menyebar keluar.
“Sekarang mari kita lihat, kau ingin cepat atau lambat?” Eleanor kembali bertanya garang.
Namun, hal yang mengejutkannya terjadi. Orang tua ini benar-benar tahan pukul, bahkan setelah dipukul keras dia masih saja terlihat ramah dalam senyuman tulus di bibir yang pecah bekas tamparan.
“Apa pun keinginan Nona, bagiku bukan suatu masalah.” Kakek Awan putih masih sangat ramah saat menjawab, tapi itu terlihat kian berwibawa.
Eleanor dibuat mati kutu olehnya, ingin rasanya menampar lagi beberapa kali, akan tetapi ruang ini hanya kedap suara dan tidak kedap dengan penglihatan. Akan sangat memalukan Putri Kaisar Peri menampar tahanan secara berkali-kali.
“Huft, sangat menyebalkan.” Eleanor menggerutu, ia memperhatikan pedang sejenak coba mencari ketenangan diri kembali. “Pedang yang sangat bagus, tapi sayang hanya Artefak setingkat ranah surgawi.”
Puas melihat pedang, Eleanor melanjutkan aksinya. “Di antara sebelas pedang seperti ini, pedang siapa yang memiliki hawa paling seram dan aroma membunuh tebal?”
Gadis itu bahkan sengaja mengesek-gesekkan mata pedang ke leher tua dari Kakek Awan Putih. Namun, begitulah adanya Kakek Awan Putih, orang yang sangat bijaksana dan memiliki ketenangan yang sangat luar biasa.
Diperlakukan seperti itu oleh Eleanor dia masih sangat tenang. “Apa yang kau bicarakan gadis muda, pedang itu hanya satu-satunya yang kumiliki, dan itu telah turun-temurun ada di gudang keluarga ku,” jawab Kakek Awan Putih seraya tersenyum. Ia berhasil menutupi kebohongannya dengan sangat sempurna dalam senyuman itu.
__ADS_1
“Ha ha ha ...” Eleanor tertawa seram, gadis peri itu berusaha menahan rasa geram yang melanda hati dalam tawanya. “Bocah berwajah tua! Kau tidak perlu membohongiku, usiaku jelas lebih banyak ratusan tahun jika dibandingkan dengan dirimu.”
“Gadis sesat kau boleh terus mencoba, akan terus aku permainkan dirimu.” Kakek Awan Putih bermonolog di dalam hati.