
Gou Long menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Patriark Pan, “Ahh! Akhirnya mood ku yang hampir padam karena kelamaan menunggu kembali menyala terang,” gumamnya.
“Ssstt!” siluet bayangan manusia tiba di meja mereka, tanpa disuruh orang tersebut langsung duduk di salah satu kursi kosong, dia tidak menyapa dan tidak berbasa-basi atau tata krama sopan santun.
Orang yang ditunggu oleh Patriark Pan dan Gou Long ini sangatlah unik, baik dari segi cara berpakaian ataupun bentuk tubuhnya sendiri.
Saat itu Gou Long melihat secara sempurna rupa dari orang ini, ia orang tua dengan perkiraan usia lima puluh enam tahun, mata sipit hampir tertutup, hidung besar seperti buah jambu, bentuk wajah yang kurus meruncing, melengkapi keunikannya rambut putih jarang-jarang.
Dan yang paling aneh dari penampilan orang ini adalah pakaiannya, ia memakai baju jahitan sendiri dari kulit landak salju yang di sambung-sambung.
Entah berapa landak salju telah ia bunuh hanya untuk satu setelan pakaiannya saja.
Secara keseluruhan baik penampilan maupun cara berpakaian, orang ini menasbihkan diri sebagai sosok landak. Dan memang begitulah adanya ia, di daerah Utara orang telah mengenal julukan orang ini dengan si Landak Karet Salju, nama asli orang ini yaitu Pek Cie Lam
Julukan itu menggambarkan orang ini secara keseluruhan, baik dari penampilan, struktur wajah juga kebiasaannya yang selalu terlambat datang pada janji yang ia buat sendiri.
“Saudara Pek! Kali ini, kau akan aku mintai bantuan,” Patriark Pan mengeluarkan peta lokasi Sekte Racun Utara, menyerahkan pada Pek Cie Lam.
Patriark Pan juga menuangkan arak ke dalam dua cangkir yang berbeda, satu untuk dirinya sendiri dan satu lagi untuk Pek Cie Lam, “Minumlah terlebih dahulu! Terkait perkara ini, Pendekar Gou bersedia membayar mahal atas usaha keras dari Saudara Pek bersusah payah menunjukkan arah pada kami.”
Gou Long hanya memperhatikan saja negosiasi yang jadi antara mereka, Pek Cie Lam mengambil peta dari tangan Patriark Pan, memperhatikannya sejenak, dia menggulung kembali peta tersebut. Orang tua itu ringan mengayunkan tangannya, mengambil cangkir dan meneguk seluruh arak yang ada di dalam cangkir.
__ADS_1
“Wahh! Hangatnya, rasa ini sungguh nikmat!” Pek Cie Lam memuji kenikmatan rasa dari arak yang ia minum, tersenyum menatap Gou Long, “Inikah Pendekar Gou yang kau sebut-sebut di dalam suratmu?” ia bertanya.
Gou long bangkit berdiri, mengepalkan tangannya di depan dada, “Junior Gou Long, bantuan dari senior kali ini pasti akan Junior perhitungkan dengan sebaik mungkin.” Tidak menunggu Patriark Pan menjelaskan, Gou Long memperkenalkan diri serta menjamin upah bayaran pada Pek Cie Lam.
Orang tua itu tetap duduk di tempat dia hanya mengangguk kecil, lalu berkata, “Bagus sekali! Orang tua ini rasa Pendekar muda telah diberi tahu oleh Patriark Pan, bagaimana terkait bayaran dari orang tua ini.”
“...” Gou Long juga mengangguk kecil, “Urusan bayaran tidak perlu khawatir, Junior ini bahkan akan mempersiapkan persenan lebih, saat perkara ini berakhir.” Dia memotong cepat ucapan dari Pek Cie Lam.
“Ha ha ha…” Patriark Pan tertawa keras, ujarnya, “Saudara Pek! Bukankah Pendekar ini sangat menarik, bekerja sama dengannya juga sangat menguntungkan.”
“...” Pek Cie Lam tidak menjawab, ia menuangkan arak dan hanya menikmati arak tersebut.
“Tua bangka ini benar-benar tidak memperhatikan orang lain, hanya karena dia orang yang sangat dibutuhkan saat ini, andai aku tidak butuh kepada-nya, orang seperti ini takkan pernah ku jadikan sahabat,” pikir Gou Long.
Pemuda ini mengancam keras, bahkan berkata-kata tanpa embel-embel ‘Senior-Junior,’ ia telah melihat orang tua bermarga Pek akan berleha-leha lagi.
Seorang pelayan mendatangi dan menghitung keseluruhan tagihan meja tersebut, “Itu hanya sepuluh keping perak tuan muda.”
Gou Long sengaja memberikan kepada pelayan tersebut dua keping emas, “Kelebihan dari biaya tagihan itu menjadi hadiah untuk dirimu.”
“Terima kasih Tuan Muda!” ujar pelayan tersebut senangnya tak terhingga.
__ADS_1
“Wah! Anak muda ini layaknya tambang berjalan, dua keping emas begitu mudah ia keluarkan hanya sekedar biaya makan dan minum,” batin Pek Cie Lam.
Mata orang tua itu berbinar terang saat melihat Gou Long memberi hadiah sangat banyak, dan itu tidak lepas dari tatapan mata si pemuda, “Dasar orang tua gila harta,” maki Gou Long dalam hatinya.
Patriark Pan yang tidak ingin kesempatan mendapatkan beberapa Pil kondensat Ranah Surgawi menghilang begitu saja, juga bangkit berdiri, “Iya! Patriark ini, juga setuju dengan Pendekar Gou, sebaiknya kita berangkat malam ini saja,” ujarnya.
Mau tidak mau, Pek Cie Lam mengikuti kehendak kedua orang tersebut, emas yang bersinar kekuningan terus terbayang di pelupuk matanya, juga menjadi pemicu paling ampuh, sehingga sifat suka memperlambat pekerjaan, juga hilang dari orang tersebut.
“Orang tua! Silahkan pimpin perjalanan, gunakan ilmu meringankan tubuh terbaik yang engkau miliki.” Gou Long memberi perintah, sekaligus ingin melihat kehebatan dari ilmu meringankan tubuh orang-orang daerah Utara yang selalu diagung-agungkan.
Pek Cie Lam tidak membantah, ia langsung mengembangkan ilmu meringankan tubuh yang pernah dilatih, gerakannya cepat, langkah kaki ringan, bahkan tidak meninggalkan jejak telapak kaki di atas tanah bersalju.
Patriark Pan dan Gou Long segera mengejar, dan mengikuti di kedua sisi orang bermarga Pek, setengah jam mengembangkan ilmu meringankan tubuh, perjalanan mereka terhenti karena sungai besar membentang.
Pek Cie Lam, lantas mengganti alas kakinya, itu sejenis kayu yang sangat ringan dengan tekanan udara tinggi di dalamnya, sehingga alas kaki tersebut lebih mengapung jika dibandingkan dengan alas kaki biasa.
“Orang ini benar-benar seorang penjelajah lautan dan sungai-sungai, bahkan ia tidak memerlukan perahu, dengan ide simpel seperti itu, begitu mudahnya ia bisa berlarian di atas air.” Gou Long, terkagum-kagum dengan akal simpel Pek Cie Lam.
Patriark Pan dan Gou Long tidak berbuat seperti Pek Cie Lam. Keduanya bisa terbang dengan mudah. Namun, tetap menutul di atas air agar teknik terbang mereka tidak kentara, serta Pek Cie Lam bisa terus mengimbangi kecepatan mereka berdua.
Menurut perhitungan Gou Long dan Patriark Pan, arah yang mereka tuju ini adalah sebuah pulau kecil arah timur, Pulau ini sangat tersembunyi dan dikelilingi oleh empat Gunung Es. Sangat strategis dan tidak akan ada orang yang tahu, jika tidak memiliki peta.
__ADS_1
Pek Cie Lam melesat ke Gunung Es terdekat, terus melesat ke puncaknya, ia berhenti di sana. Patriark Pan dan Gou Long juga berhenti di sisi Pek Cie Lam.
“Tempat yang ingin kalian tuju ada di sana,” ia menunjuk pulau yang terlihat oleh mereka bertiga dalam jarak lima ratus tombak pandang mata, “Sekarang tugasku hanya sampai di sini saja, serahkan upah atas jerih payahku! Perjalanan ke sana kalian tidak akan tersesat.” Tangan Pek Cie Lam yang lainnya diulurkan pada Gou Long, menuntut bayaran.