
“Apa kau mulai merasakan kelelahan? ... Ha ha ha, Akan ku perlambat kecepatan ku, apa kau mau mencoba menangkap ku?” Wanita di depan Gou Long terus mengejek dan mempermainkan Gou Long yang sedang mengejar.
Gou long, terus mengejar dan memaksakan tenaga dalam, dia tidak bisa berkata apa-apa. Sebenarnya kalau Gou Long berpikir jernih seharusnya dia akan menyadari bahwa wanita ini memang sangat kuat, ini terbukti sambil berlari dia masih sanggup berkata-kata.
Entah disengaja atau tidak pada saat itu gerakan dari wanita tersebut terlihat melambat, lalu dia menghadap ke arah Gou Long sambil meneriakkan peringatan. “Lihat Pukulan!”
Dia tiba-tiba saja memberi Gou Long seberkas pukulan tenaga dalam dahsyat, dengan jurus Telapak Arhat. Jurus yang sangat umum, akan tetapi sangat efektif ketika jurus itu digunakan dengan gabungan tenaga dalam tingkat tinggi.
Seberkas bayangan telapak tercetak di udara, tapak yang terus melesat ke arah Gou Long. Mendapatkan pukulan tiba-tiba, Gou Long tidak tinggal diam, dalam tergesa-gesa tenaga dalamnya sengaja diforsir sampai puncaknya.
Lalu Gou Long, menyambut pukulan itu dengan jurus yang sama, karena jurus ini sangat umum, maka semua pesilat bisa menggunakan jurus tersebut, termasuk Gou Long. Bayangan dari telapak Gou Long tampak seperti cahaya kebiruan.
Keras melawan keras. “Duuaaarrr!” bunyi ledakan keras, dan memekakkan telinga terdengar menggema di tempat itu, debu mengepul tinggi, menambah kegelapan malam jadi tambah gelap, wanita tersebut tampaknya terlempar tiga langkah ke belakang, dia bersalto indah di udara lalu berdiri tenang.
Sementara itu, Gou Long juga terlempar empat langkah ke belakang, masih bisa mengontrol tubuh, dia mendarat di atas tanah dan berdiri, lututnya agak sedikit goyah dengan raut wajah yang tampak memucat, lidah terasa sedikit asin serta darah mengalir di sela-sela bibir.
Organ dalam terasa bergejolak, terluka dalam! Iya! Gou Long, memang terluka dalam tapi tidak parah.
Saat itu, berjarak sepuluh tombak dari Gou Long, berdiri seorang wanita dalam balutan pakaian ringkas berwarna hitam, ini jenis pakaian para pejalan malam, yang biasa dipakai manusia-manusia sejenis pembunuh, atau pencuri di malam hari. Tidak lupa wajah yang di tutupi dengan topeng hitam berbentuk paruh elang, menambahkan kesan misterius dari penampilan itu.
__ADS_1
“He he he ... tampan! Apakah kau terluka dalam?” tanya wanita tersebut, suaranya sangat renyah dan nyaring membuat siapapun mendengar akan tergoda.
Dari suara dan bentuk kulit tangannya, Gou Long dapat mengetahui, bahwa perempuan itu adalah sosok gadis muda, tapi itu menurut Gou Long, Dunia Persilatan banyak keanehan. Fakta yang sebenarnya belum tentu seperti yang dipikirkan pemuda itu.
Sedikit menggoyangkan pinggul dan dadanya, perempuan itu mendekati Gou Long dalam gerakan indah yang sangat menggoda, lalu dia melanjutkan perkataannya, “Tampan! ... Apa tidak ada yang mengajarimu sopan santun? He he, tidak malu kah engkau mengejar-kejar wanita muda sepertiku di malam hari? Kalau orang-orang melihat kelakuanmu ini, mereka akan mengutuk sampai ke bapak dan kakek mu.”
Tertawa renyah lagi-lagi wanita itu mengolok-olok Gou Long. Gerak-geriknya yang sangat menggoda membuat hati Gou Long berdebar-debar tidak karuan. Untungnya, Gou Long masih bisa menahan diri.
Mengeraskan hati, Gou Long berkata, “Tidak usah banyak bicara mari kita bertarung saja!”
“Ha ha ha, apakah kau tidak mengerti? Kau tidak punya sopan santun sama sekali, gadis cantik sepertiku kau ajak berkelahi, kalau aku tergores, tidak ada laki-laki yang mau menikah dengan ku kelak.”
Kemudian sekali berkelebat perempuan bertopeng itu menghilang dari hadapan Gou Long, gerakan yang diperlihatkannya ketika berkelebat tadi seperti asap yang tertiup angin, tiba-tiba menghilang begitu saja tanpa menimbulkan bunyi sedikit pun.
Gou Long terpaku di tempat, wanita misterius tadi sangatlah kuat, mungkin dia berada di Ranah Langit Tahap Puncak atau Ranah Surgawi, dengan fondasi kultivasi yang sangat dalam, seandainya wanita itu ingin membunuhnya maka akan semudah membalikan telapak tangan.
Namun, berbeda ceritanya kalau kedua makhluk yang terikat dengan Gou Long campur tangan, menyelesaikan lawan-lawan tangguh akan semudah memotong ayam, tapi Gou Long tidak mau mengekspos kedua makhluk itu terlalu jauh.
Kedua makhluk tersebut bisa dianggap kekuatan yang setara dengan Ranah Surgawi, bahkan dalam kasus Hauri atau Si Pedang Peri Ilusi, dia lebih kuat dari kultivator Ranah Surgawi.
__ADS_1
Maka dapat dibayangkan, kalau Dunia Persilatan tahu, Gou Long memiliki mereka berdua. Sudah dapat dipastikan, dia akan menjadi incaran utama dunia persilatan, baik mereka dari golongan putih maupun golongan hitam.
Siapakah di rimba hijau ini yang tidak ingin memiliki kekuatan super, dan pembantu yang sangat kuat seperti kedua makhluk yang mengikuti Gou Long. Rimba hijau ini tempat berkumpulnya orang-orang tamak akan ilmu bela diri, dan kekuatan tempur, harta, dan wanita bagi mereka tidaklah terlalu berarti.
Entah berapa banyak nyawa kultivator yang melayang secara percuma, kalau seandainya kedua makhluk itu menjadi incaran Dunia Persilatan, tidak hanya banyak nyawa yang akan menghilang, Gou Long, Eira dan Hauri pun pasti akan terluka parah malah bisa saja mereka mati.
Satu atau dua dan tiga orang kultivator Ranah Surgawi masih bisa mereka lawan kalau seandainya harus bertarung. Lantas, bagaimana kalau semua kultivator Ranah Surgawi bergabung kemudian mengeroyok mereka?
Gou Long menjadi linglung serta ngeri membayangkan itu semua, menghela nafas, dia sungguh tidak ingin hal seperti itu akan terjadi kelak. Walau dendam orang tuanya sudah dibereskan, tapi organisasi yang mengatur semua yang terjadi masihlah misteri.
Dengan kata lain, dendam orang tuanya belum sepenuhnya tertuntaskan. Kemudian, permasalahan Hauri juga. Kembali Gou Long menghela nafas, terlalu banyak hal yang harus dikerjakannya kelak, dia harus lebih giat lagi berlatih dan memperdalam ilmu bela diri.
“Kau dari tadi terus-menerus menghela nafas, dasar penakut! Hai, duduklah bersila, tenaga dalam mu perlu kau stabilkan kembali, luka dalam juga harus segera kau pulihkan.” Eira yang tiba-tiba keluar dan hinggap di bahu Gou Long memecah lamunan si Pemuda.
“Iya ... tidak perlu marah-marah begitu, kalau suka marah, cepat tua loh,” jawab Gou Long singkat dan konyol.
“Huh, kau tidak tau terima kasih, diingatkan malah ngeledek, dasar tak tahu untung!” Setelah berkata-kata, siluman rubah tersebut malah merajuk dan diam tidak berbicara apa-apa lagi, persis seperti anak gadis yang sedang ngambek.
Gou long memperhatikan area tempat itu sejenak, kemudian dia berkelebat ke arah pepohonan yang agak besar, lalu berhenti di bawahnya. Dia duduk di sana memulihkan stamina, luka dan tenaga dalamnya yang terkuras.
__ADS_1